Pure Love (Takdir Cinta)

Pure Love (Takdir Cinta)
Tamu ganteng & manis di rumah.


__ADS_3

"Ra... aku ikut kamu pulang ya?" rengek Agas sambil bergelayut di lengan kanan ku.


"aku nggak mau di rumah sendirian..."


"nggak ah! nanti kamu cuma bikin repot aku sama Umma aja." jawab ku meledek.


"enggak... aku janji nggak bakalan nakal aku bakalan jadi anak baik. janji janji janji." ucapnya dengan mata yang berbinar-binar.


"iya-iya kamu boleh ikut aku pulang. tapi kamu nggak boleh nakal ya." celetuk ku sambil menahan senyum geli melihat tingkah Agas.


"asik... satu harian aku bakalan sama kamu terus..." Agas bertepuk tangan & tersenyum sangat lebar.


"Agas... Agas... 😏" aku tak bisa menahan tersenyum geli melihat tingkah konyol Agas.


saat kami berdua menunggu bus tiba-tiba Zian datang menghampiri kami, ternyata dia ngajak aku pulang bareng.


"pulang bareng aku yuk Ra." ajak Zian lalu mengandeng tangan ku.


"nggak!" ketus Agas sinis secara tiba-tiba & langsung menepis tangan Zian agar melepaskan tangan ku.


"kami mau pulang bareng aku mau main ke rumah Amara. jadi dia nggak bisa pulang sama kamu." Agas persis kayak anak kecil yang nggak rela mainannya di pinjem orang lain. 😊


"kamu mau main ke rumah Amara!?" Zian bertanya dengan ekspresi kesal.


"iya. aku mau main kerumah Amara, mungkin juga nginep kalau emang aku males pulang." ketus Agas meledek dengan wajah puas seolah dia menang.


"tapi kan..." gumam Zian semakin kesal.


aku mulai betek karna pertengkaran mereka.


"itu busnya dateng. ayo cepetan naik." aku mencubit lengan Agas & mengajaknya naik ke dalam bus.


"kami pulang duluan ya... sampai ketemu besok. bye Zian..." aku langsung bergegas masuk bus untuk menghindari pertengkaran mereka berdua.


"bye Zian... aku sama Amara pulang dulu. sampai ketemu besok... 😜" ledek Agas ke Zian sambil masuk ke dalam bus.


"tung-tunggu Ra..." teriak Zian mencoba menghentikan ku.


"huh..." aku menarik nafas lega saat bus mulai berjalan..


"untung busnya dateng tepat waktu. kalau nggak? pasti mereka bakalan makin bertengkar." gumam ku kecil sambil menyeka keringat di dahi ku.


setibanya kami di rumah. Agas dengan eksaitednya langsung berlari masuk ke dalam rumah.


"assalamu'alaikum...." Agas berteriak kencang mengucap salam sambil melepaskan sepatunya dengan tergesa-gesa.


"Agas... pelan-pelan buka sepatunya nanti kamu jatuh." teriak ku khawatir melihat tingkah polah Agas.


"wa'alaikumsalam. eh... manisnya kesayangan Umma?"


"Umma Agas laper..." rengeknya manja pada Umma sambil menyalami Umma.


"yuk kita langsung makan aja." ajak Umma sambil merangkul Agas.


"asik..."


"pantesan ada suara berisik-berisik. ternyata ada Agas." celetuk Abba yang baru keluar dari kamar mandi.


"eh ada Abba di rumah?" sapa Agas & langsung menyalami Abba.


"Abba nggak kerja?" tanya ku sambil melepas tas.


"Abba ambil libur hari ini mau santai. soalnya lagi kurang enak badan..."


"Abba sakit?" ucap ku khawatir lalu duduk di sebelah Abba.


"Abba nggak kenapa-kenapa kok. Gas langsung makan yuk Abba udah laper banget dari tadi."


"let's go..." Agas langsung berlari menuju meja makan.


"Umma?" panggil Agas.


"iya sayang" sahut Umma sambil menuangkan minum untuk kami.


"masakan Umma emang paling the best nggak ada lawan. enak buanget..." celetuk Agas dengan senyuman lebar & mulut penuh makanan.


"kalau mau nambah tinggal ambil aja! nggak usah pakek acara muji-muji masakan Umma?! ngerayu." ucap ku ketus sambil menyuapkan makanan ke mulut ku.


"ih... sirik aja sih kamu Ra!" sinis Agas langsung menatap tajam ke arah ku.


"emang masakan Umma enak kok, bahkan lebih enak dari masakan bibi di rumahnya Tante."


"dasar si tukang cari perhatian." gumam ku ketus.


"Amara..." tegur Umma sinis pada ku.


"hehehehe viss... Amara cuma bercanda doang Umma." celetuk ku sambil nyengir.


tiba-tiba handphone ku berdering & ternyata Zian yang menelpon.


KRIIIIIING.


"halo assalamu'alaikum." ucap ku dengan mulut penuh.


"wa'alaikumsalam." sahut Zian ketus.


"kenapa?" tanya ku santai sambil menyendok makanan di piring ku.


"Agas... Agas beneran jadi kerumah kamu?" Zian bertanya dengan kecut.


"jadi. ini kami lagi makan siang. kamu udah makan siang belum?" tanya ku santai.


"aku udah makan siang kok." jawab Zian singkat.


"dia... dia... mau sampai kapan di rumah kamu?! dia beneran mau nginep?!" bertanyanya dengan nada kesal.


"aku nggak tau. tapi di bus tadi emang sih dia ada bilang kalau mau nginep." jawab ku bercanda.


"emmmh... udah dulu ya aku mau istirahat!" Zian langsung memutuskan panggilan telpon.


"ni anak kenapa sih? aneh banget deh." gumam ku pelan sambil tersenyum kecil.


"Zian telpon?" tanya Agas penasaran.


"iya."


"pasti dia nanyain tentang aku kan?" ketus Agas bernada meledek.


"wih keren... kok kamu bisa tahu? anak dukun ya?" celetuk ku.


"ya tahu lah." sahutnya memasang wajah sok keren.


"dia sekarang ini pasti lagi kesel banget sama aku karna hari ini aku main kerumah kamu."


"enggak kok Gas, tadi dia tadi nelpon cuma nanya aku udah makan siang apa belum." aku mencoba mencairkan suasana.


"emmmmh..." ketus Agas sambil memalingkan wajahnya.


Agas hanya menghabiskan waktu dengan tidur di kamar ku & belajar main catur dari Abba, sore harinya Zian kembali menelpon ku. ya... masih tetap menanyakan pertanyaan yang sama pertanyaan yang super aneh bin nyebelin.


KRIIIING...


"assalamu'alaikum."


"wa'alaikumsalam." Zian menjawab salam ku dengan tergesa-gesa.


"kenapa?"


"Agas masih di rumah kamu? belum pulang juga?" Zian bertanya dengan gusar.


"belum. dia lagi tidur di kamar aku." jawab ku santai.


"kenapa memangnya?" aku mengodanya.


"dia tidur di kamar kamu!" Zian berteriak.


"iya."


"ya udah aku tutup ya telponnya." ucapnya ketus.


"tunggu... tunggu jangan di putus telponnya." rengek ku.


"kenapa?" tanyanya dengan nada sinis.


"nggak kenapa-kenapa sih... ya jangan di putus aja." jawab ku sembarang.


"emmmmh..." sahutnya ketus.


selama beberapa menit Zian hanya diam saja.


"kamu itu sebenernya kenapa sih Zian?" tanya ku gemas.


"kenapa kamu dari tadi kayak cemas terus & uring-uringan terus?"


"nggak!" jawabnya ketus.


"aku nggak kenapa-kenapa kok! aku juga nggak uring-uringan!" Zian terdengar semakin kesal.


"biasanya sih si Agas yang selalu cemburu nggak jelas & selalu uring-uringan? tapi... kenapa sekarang malah kamu yang jadinya cemburu & uring-uringan?" aku mencoba menjaili Zian.


"cemburu! siapa? aku? ya nggak lah! ngapain juga aku cemburu-cenburu aku nggak cemburu kok!" nada bicara Zian semakin terdengar kesal.


"hahahaha..." aku tertawa terbahak-bahak.


"dia udah bangun & mau pulang. itu dia lagi pamitan sama Umma sama Abba." jelas ku.


"dia udah mau pulang ya." Zian langsung senang mendengar Agas yang mau pulang.


"bagus deh kalau gitu. ya udah sampai ketemu besok." ucapnya dengan manis .

__ADS_1


"iya. sampai ketemu besok." aku pun langsung memutuskan panggilan telpon.


"Zian-Zian. ada-ada aja sih." gumam ku tersenyum geli g mengeleng-gelengkan pelan kepala ku.


"Ra aku pulang ya...?" Agas berteriak dari luar pintu.


"pulang ya tinggal pulang sana. nggak usah teriak-teriak gitu!" sahut ku sinis sambil berjalan ke arah pintu luar.


"emang kamu nggak mau lihat wajah imut ku ini dulu sebelum aku pulang. nanti kamu kangen lo?" celetuknya konyol sambil meletakan kedua tangannya di pipinya.


"apaan sih kamu!" ketus ku gemas.


"besok juga ketemu di sekolah. lagian ngapain juga aku kangen sama kamu!" sahut ku bernada judes.


"ya kali aja kan nanti malam kamu tiba-tiba ngerasa kangen sama aku. hehehehe..."


"udah pulang sana. kamu hati-hati di jalan ya." ucap ku sambil melambaikan tangan.


"ya udah aku balik dulu ya. Umma... Abba... Agas pulang ya." teriak Agas lebay sambil melambaikan tangan & masuk ke dalam mobil.


"jadi Ra kamu pilih yang mana?" tanya Umma yang tiba-tiba berdiri di belakang ku


"ayam..." aku spontan tersentak.


"Umma... ngagetin aja sih!"


"Agas atau Zian?" sambung Abba dengan senyum meledek.


"apanya yang Agas atau Zian?" aku balik bertanya sambil memutar bola mata ku & berjalan menuju ruang keluarga.


"ya yang kamu mau jadikan pacar. kamu pilih Agas atau Zian?" celetuk Umma.


"ih... Umma sama Abba apaan sih!" aku langsung jadi kesel banget gitu tau apa maksud dari kata-kata Umma & Abba. aku langsung berlari masuk ke dalam kamar.


hari ini hari minggu & biasa lah agenda ku hanya bobo sampai siang. 😂 aku bangun tidur sekitar jam 10an & aku langsung di kagetkan sama keberadaan Zian yang tiba-tiba aja udah ada di rumah.


"Umma... Amara laper." rengek ku pada Umma sambil berjalan ke meja makan.


"Amara mau sarapan..." aku makin merengek sambil mengusap-usap mata kiri ku yang masih sembab.


"Umma udah siapin sarapan kamu di atas meja Ra..." sahut Umma sedikit berteriak sambil memberikan segelas jus jeruk pada Zian yang sedang duduk di ruang tamu.


"makasih umma." ucap Zian berterimakasih pada Umma.


suara barito yang lembut milik Zian sontak membuat ku tersadar total dari kantuk ku & membuat ku terkejut bukan main. mata ku membulat sempurna & seperti tak bisa ku kedipkan.


"itu seperti suara Zian?" gumam ku dengan wajah bodoh.


"pagi Ra..." Zian menyapa ku dengan manis. aku langsung repleks melihat ke arahnya.


"kamu...!" mata ku semakin membulat sempurna gitu aku ngelihat Zian yang lagi duduk di ruang tamu.


"Zian nggak bohong kan Umma... mata Amara itu memang besar & cantik. 😊" celetuknya pada Umma.


"hahahaha..." Umma pun langsung tertawa mendenger ucapan Zian.


"Ra... itu... ada itu di situ." Zian mengoda ku dengan menunjuk sisa air liur di dekat bibir ku.


aku langsung berlari ke dalam kamar dengan perasaan malu. gila aja aku baru bangun tidur dengan rambut acak-acakan, mata sembab, belek masih nyangkut di mata & ences juga masih mulau di pipi ku terus di lihat Zian... 😱 sumpah aku malu kuadrat & aku langsung buru-buru mandi.


"kamu ngapain pagi-pagi gini ke rumah aku?" tanya ku ketus sambil mengeringkan rambut ku.


"ini udah siang kali Ra. hahaha..." ledeknya pada ku.


"aku dateng dari jam 09 tadi, tapi ternyata kamu belum bangun." ucapnya semakin meledek.


"kalau hari minggu Amara memang selalu bangun siang. tapi kalau hari-hari biasa dia selalu bangun pagi kok." celetuk Umma sambil memberi segelas susu pada ku & mengerlingkan sebelah matanya.


"ya jelas bangun pagi Umma... kan harus sekolah." Zian semakin mencoba meledek ku.


"anak perempuan nggak boleh bangun siang tau Ra. anak perempuan itu harus selalu bangun pagi buat bantu-bantu pekerjaan ruman?!" Zian menatap ku sinis.


"kerjaan di rumah nggak banyak kok Zian. jadi... Umma nggak pernah nyuruh Amara buat ngerjain pekerjaan rumah. fokus dia cuma buat belajar aja." jawab Umma sambil menyuci piring.


"kalau dia nanti berumah tangga bakalan susah dong Umma. kalau dia nggak bisa ngerjain pekerjaan rumah anak sama suaminya mau jadi apa?!" ketus Zian sambil menuju waslafel buat bantuin Umma nyuci piring.


"hahahaha... iya juga ya. Umma kok nggak kefikiran sampek situ." Umma hanya bisa tertawa malu.


"ish... kayak kamu bisa beres-beres rumah aja! 😒" sinis ku sambil meminum susu.


"di rumah yang ngerjain semua pekerjaan rumah ya aku, karna Mama harus kerja jadi Mama selalu nggak sempet buat beresin rumah. aku juga bisa masak tau." lugasnya sombong.


"cih... nggak mungkin." aku langsung mengejek & menyepelekan perkataan Zian.


"kalau kamu nggak percaya bakalan aku buktiin!" ketusnya geram menatap ku.


"siang ini Umma nggak usah masak. biar Zian aja yang masak."


"nggak perlu repot-repot sayang. Amara itu nggak usah di dengerin dia emang suka banget nyepelein orang lain." ucap Umma canggung, karna Umma juga sedikit meragukan kalau Zian itu bisa masak.


"Zian nggak suka di sepelein Umma! biar Amara tahu kalau Zian nggak pernah bohong." ketusnya sinis berapi-api.


"Umma... Amara yakin banget pasti dia nggak bisa masak deh!" celetuk ku ketus sambil melirik tajam ke arah Zian. 😒


"Umma sih mikirnya... kayaknya dia bisa masak deh Ra."


"mana mungkin." aku semakin meremehkan Zian.


"lihat aja deh. dia cekatang banget lo di dapur." Umma berbisik ke arak ku sambil rerus melihat ke arah Zian.


"mau taruhan?" ajak ku sambil menaikan sebelah alis ku.


"boleh. kalau Umma yang menang selama 1 minggu kamu harus cuci piring ya." Umma menatapi tajam ke arah ku sambil tersenyum jahat. 😏


"oke. siapa takut." aku langsung menerima tawaran Umma & kami pun bersalaman.


sekitar sejaman Zian berjibaku di dapur & aku udah mulai bosen banget nungguin masakan Zian yang nggak siap-siap itu.


"dia itu sebenernya ngapain sih di dapur?! udah sejam lo dia di sana tapi dia nggak selesai juga masaknya." ketus ku sambil melipat tangan ku.


"kamu yang sabar dong Ra. kamu kira masak itu gampang apa." gumam Umma sinis.


"tapi kita nunggunya udah lama banget Umma...!" rengek ku sebal.


"Umma selalu butuh waktu berjam-jam buat nyiapain semua masakan yang biasa Umma masak Amara. jadi kanu harus bisa lebih sabar dikit." ketus Umma.


"belain terus! belain!" ucap ku kesal sambil beranjak pergi dari dapur.


aku membaringkan tubuh ku di kursi ruang keluarga & mencoba untuk tidur sebetar. cukup lama rasanya aku memejamkan mata & akhirnya aku terbangun dengan sendirinya karna suara gaduh yang terdengar dari arah meja makan juga karna bau harum masakan yang mulai menyeruak di dalam hidung ku.


"huaaaaam..." aku menguap & melakukan sedikit peregangan.


"hemmmh... baunya enak banget?" fikir ku sambil terus mengendus-endus.


"Ra ayo sini makan sayang. semua makanannya udah siap ni." terian Umma sambil menata piring.


"wah... luar biasa. 😲" ucap ku terperanga mekihat semua hidangan di atas meja makan.


"ini kamu semua yang masak?" aku bertanya penuh kagum.


"ya iyalah." sahut Zian sombong sambil menuangkan air di dalam gelas.


"udah Ra nggak usah melotot terus. ayo cepet cobain masakannya Zian biar kita tahu siapa yang menang taruhannya?" celetuk Umma eksaited.


"Amara cobain ya." aku menyuapkan satu sendok makanan ke dalam mulut ku & beneran aja rasa masakan Zian itu enak banget. 😱


"Umma taruhan sama Amara?" tanya Zian.


"iya. Umma taruhan sama Amara soal masakan kamu kalau masakan kamu enak dia bakalan cuci piring selama 1 minggu. hihihihi..." bisik Umma pada Zian sambil cekikikan.


"emmm... Umma ini enak banget.... 😍 seriusan deh ini tu enak banget." ucap ku dengan bahagiaan sambil terus menyuapkan makanan ke dalam mulut ku & mengunyahnya dengan eksaited.


"masakan aku enak kan?" ucap Zian semakin sombong. 😏


"iya-iya aku akuin masakan kamu emang enak. enak banget malahan." ketus ku di satu sisi aku juga malu karna tadi udah ngeremehin Zian.


"aku minta maaf ya karna tadi udah nyepelein perkataan kamu." ucap ku sambil tersenyum manis ke arah Zian.


kami bertiga pun makan dengan lahapnya semua masakan Zian & tak lama kemudian Abba & mas Alkan pulang dari bekerja.


"assalamu'alaikum." Abba mengucap salam.


"wa'alaikumsalam." sahut kami serentak dari meja makan.


"ada bau yang enak banget ni Umma?" tanya mas Alkan eksaited lalu melemparkan tas kerjanya di kursi tamu & langsung mendatangi meja makan.


"Abba... mas... makan yuk." ucap Umma.


"ini semua masakan Zian. rasanya enak banget seriusan deh." ucap ku dengan semangat sambil terus makan.


"siang Abba. siang mas." sapa Zian sambil menyalami Abba & mas Alkan.


"siang... dia siapa?" tanya Mas Alkan pada ku.


"ini tu kakak kelasnya Amara lo mas. uang waktu itu pernah anterin Amara pulang pas hujan tapi nggak mampir." ledek Abba.


"oh... iya-iya mas inget. akhirnya mampir juga ya." ucap mas Alkan yang juga ikut menggoda aku & Zian


keluarga ku memang ramah & kami juga tak pernah menilai orang dari aspek apa pun. selagi orang itu terlihat baik pasti kami juga akan bersikap baik pada mereka.


"saya Zian." Zian mengenalkan diri pada Abba & mas Alkan.


"nama kamu bagus. pas buat kamu yang ganteng." celetuk Abba sambil mengacak-acak rambut Zian & langsung duduk di meja makan.


"ini semua kamu yang masak?" tanya Abba sambil mengambil satu persatu masakan Zian ke dalam piring.


"iya Abba." ucap Zian grogi & seperti kayak malu-malu gitu.


"jadi... tadi itu si Amara ngeledekin Zian terus masalah masak memasak, jadi kayaknya si Zian tersinggung & akhirnya dia nekat mau masak makan siang buat kita. katanya dia mau buktiin ke Amara kalau dia memang bisa masak & nggak bohong." Umma menceritakan semua kejadian tadi sama Abba & mas Alkan.

__ADS_1


"wah... masakan kamu enak banget Zian." ucap mas Alkan dengan bahagia sambil terus makan.


"iya lo... masakan kamu enak banget Abba suka banget sama rasa masakan kamu." ucap Abba.


"syukur deh kalau Abba sama mas Alkan ternyata suka sama masakan Zian." ucap Zian penuh bangga.


"suatu saat mamu bisa jadi chef terkenal nih Zian." celetuk Abba bercanda.


"hehehehe... aamiin." ucap Zian dengan tersipu.


kami pun makan siang dengan lahapnya karna semua masakan Zian bener-bener enak banget. selesai makan Zian memaksa untuk mencuci piring & membersihkan dapur yang sontak saja hal itu membuat aku jadi bahan olok-olokan Umma, Abba & mas Alkan.


"Umma sini biar Zian aja yang cuci semua piringnya." ucapnya sambil mengambil spons cuci piring dari tangan Umma.


"nggak usah sayang biar Umma aja." tolak Umma namun tak di hiraukan oleh Zian.


"nggak apa-apa Umma biar Zian aja yang bersihin semuanya." Zian tetap kekeh ingin membersihkan semuanya.


"kamu kan tadi udah capek masak Zian... jadi biar Umma aja yang cuci piringnya."


"Zian ngerasa nggak enak kalau habis makan tapi nggak bantuin Umma bersihin sisanya. 😊" ucapnya sambil tersenyum manis & tetap melanjutkan mencuci piring.


"ya udah deh terserah kamu aja. 😊" ucap Umma mengelus rambut Zian & pergi meninggalkan dapur.


Abba & mas Alkan yang sedang memperhatikan prilaku Zian dari ruang keluarga langsung saja mengolok-ngolok aku & membuat aku pusing. 😑


"Zian itu anaknya baik & juga rajin ya Ba. udah cocok banget jadi adik ipar mas yan kan Ba?" celetuk mas Alkan dengan konyolnya.


"iya. Abba juga suka sama sikapnya dia yang tegas tapi tetep sopan & kelihatannya dia orangnya juga penyayang apa lagi masakannya juga enak banget. hihihihi..." sambung Abba yang sama konyolnya kayak mas Alkan.


"mulai deh!" gumam ku kesal sambil melipat kedua tangan ku.


"Abba. mas Alkan Zian pamit pulang dulu ya." Zian berpamitan.


"loh kok cepet banget pulangnya?" tanya Abba.


"sebentar lagi jamnya Mama pulang kerja, Zian belum beresin rumah sama belum siapin makan malam buat Mama." ucap Zian dengan malu-malu .


"kalau gitu kamu hati-hati di jalan. jangan ngebut-ngebut bawa motornya." ucap Abba sambil menepuk pelan pundak kiri Zian.


"sering-sering main ke sini ya Zi biar mas makan enak terus..." celetuk mas Alkan sambil melirik ke arah ku dengan pandangan meledek.


"mas mulai deh!" gumam ku pelan & kesal.


"Zian... bawa ini buat Mama kamu ya." Umma datang & langsung menyodorkan bingkisan pada Zian.


"tadi Umma udah siapin beberapa lauk buat Mama kamu. semoga aja mama kamu suka ya sayang."


"makasih Umma." sahut Zian sambil mengambil bingkisan pemberian Umma.


aku pun mengantar Zian ke depan pintu.


"aku pulang dulu ya." pamit Zian pada ku.


"iya. kamu hati-hati di jalan & jangan ngebut."


"iya." ucap Zian sambil berbalik.


"tunggu." aku memberhentikan Zian saat dia ingin beranjak pergi.


"kenapa?" Zian berbalik badan.


"aku seneng hari ini kamu dateng & makasih karna udah masakin makanan enak buat aku sama keluarga ku." ucap ku sambil tersenyum.


"sama-sama, aku juga seneng banget bisa ketemu sama keluarga kamu. makasih juga karna kamu & keluarga kamu udah nyambut baik aku."


Zian pun beranjak pulang.


...


"assalamu'alaikum." Mama Zian mengucap salam.


"wa'alaikumsalam." Zian membuka pintu & menyalami Mamanya.


"wangi enak apa ini?" tanya Mama Zian sambil tersenyum manis.


"kamu masak apa sayang? baunya kok enak banget gini" ucap Mama Zian sambil berjalan ke meja makan.


"kayaknya enak-enak banget ni makanannya? tumben kamu masak banyak kayak gini nak?"


"ini bukan Zian yang masak Ma."


"terus siapa yang masak masakan sebanyak ini? kamu beli?" tanya Mama Zian.


"ini semua makanan dari Umma." jawab Zian sambil tersipu & mengambilkan makanan untuk ibunya.


"Umma?" tanya Mama Zian.


"Umma itu mamanya Amara. tadi pagi Zian main kerumah Amara terus pas pulang Umma bawain semua makanan ini, katanya buat Mama."


"wah... jadi semua ini makanan dari besannya Mama toh?!" goda Mama Zian sambil mencubit pipi Zian gemas.


"Mama apaan sih..." ucap Zian tersipu dengan pipi yang merona.


"eheeem... ternyata anak mama udah gedek sekarang. udah kasih Mama mantu."


"Mama..." rengeknya manja.


Zian & Mamanya makan malam dengan lahapnya semua masakan dari Umma. untungnya ternyata Mamnya Zian suka sama masakan Umma.


"enak banget sayang makanannya?" puji Mama Zian.


"masakan Umma emang enak Ma. tadi pagi aja pas sarapan Zian nambah sampek 2 piring. 😍"


"ih... kamu malu-maluin Mama aja nih. masak kamu makan di rumah mertua sampek nambah-nambah gitu." celetuk Mama Zian bercanda.


"abisnya masakan Umma enak. nggak kalah enak sama masakan Mama yang selalu bikin Zian nambah kalau makan." ucap Zian dengan senyum lebar.


"kamu ini..." ucap Mama Zian sambil mengelus lembut rambut Zian.


keesokah harinya saat di sekolah pagi-pagi Zian udah nemuin aku & ngajak aku buat ketemu sama Mamanya yang sontak bikin aku jadi salah tingkah sendiri.


"pagi Amara." sapa Zian sangat manis dengan pipi yang merona.


"pagi Zian."


"kamu kenapa? kamu lagi sakit?" tanya ku sedikti khawatir karna melihat wajah Zian yang agak merah.


"aku nggak sakit aku baik-baik aja?"


"terus pipi kamu kenapa tu?"


"kenapa emangnya pipi aku?" ucapnya sambil menyentuh pipi kanannya.


"pipi kamu warnanya merah kayak tomat mateng. kamu demam Zi?" ucap ku sedikit meledek.


"hehehehe... masak sih pipi aku merah. ☺" bawab Zian sok imut sambil menutupi kedua pipinya dengan tangannya yang besar & lentik itu.


"kamu apaan sih?!" teriak ku histeris begitu melihat kelakuan Zian yang aneh itu.


"nggak usah sok imut gitu deh. aku geli tau lihatnya" ketus ku sambil bergidik & berlalu pergi.


"tungguin aku Ra.." Zian teriak & menyusul langkah ku.


"oh iya Ra. tadi malam Mama minta aku buat ajak kamu main kerumah hari ini." celetuk Zian tiba-tiba.


"APA..." Aku terperanjak kaget mendengar ajakan Zian untuk bertemu Mamanya.


mata ku langsung membulat besar & seketika entah kenapa jantung ku inj tiba-tiba saja berdegub dengan begitu kencangnya & rasanya seperti ingin meledak.


"Ra... Amara." Zian memanggil ku bebrapa kali.


"hadeuh kamu ya di ajak ngomong malah melotot gitu! kamu mau nggak nanti siang ketemu Mama aku?"


"a-a-aku? main ke rumah kamu?" tanya ku dengan terbata-bata.


"iya Amara... hari ini tu Mama lagi dapet libur kerja, jadi... tadi malam Mama bilang kalau pengen banget bisa ketemu sama kamu."


"kenapa?" gumam ku linglung.


"kata Mama sih Mama mau bilang makasih buat makanan titipan Umma tadi malam."


"makanan?" aku ngebug karna ngerasa grogi parah.


"Mama aku suka banget sama masakan Umma & Mama juga seneng banget bisa makan masakan Umma." ucap Zian penuh bahagia.


"e... e... gimana ya Zi..." aku berusaha buat coba terus mengalihkan pembicaraan & mengganti topik.


"ayo lah Ra... mau dong. Mama aku jarang banget lo bisa dapet libur kerja kayak hari ini, jadi ini kesempatan langka & paling pas buat ngenalin kamu sama Mama." Zian memohon sambil merengek.


"tapi... aku-aku anu. itu..." aku bingun harus ngomong apa. 😵


"Ra..." rengek Zian semakin menjadi-jadi


"tap-tapi. buat... buat apa kamu mau ngenalin aku sama mama kamu?" aku makin gerogi nggak jelas & makin bingung harus gimana.


"ya buat kasih tau ke Mama kalau aku punya temen kamu." jawabnya asal.


"hah..." aku makin bingung.


"sebenernya... kamu itu temen pertama yang aku punya setelah aku masuk SMA, karna selama ini aku selalu nutup diri & nggak pernah mau coba buat bergaul sama orang-orang." Zian mulai membuka dirinya.


"kenapa...?


"karna semenjak Papa meninggal & kehidupan kami jadi berubah sulit aku juga jadi nggak percaya diri buat beteman atau bersosialisasi sama orang lain. tapi setelah ketemu kamu aku jadi ngerasain perasaan nyaman & aman."


"aku mau kerumah kamu." ucap ku. setelah mendengar cerita dia barusan tiba-tiba aja aku jadi nggak mau ngecewain dia & nggak mau lihat dia sedih.


"yang bener Ra..." ucapnya senang.

__ADS_1


__ADS_2