
"hehehehe..." aku nyengir dengan cara yang aneh sangking senengnya.
"kalian berdua ini kenapa sih? ini sebenernya ada apa? kenapa aku ngerasa jadi kayak orang bodoh yang lagi nggak tau apa-apa." tanya Dea sinis penuh kebingungan
"nggak ada apa-apa kok Deol..." sahut Agas sambil mencubit pipi Dea.
"sakit Agas... kalian berdua nggak lagi nyembunyiin sesuatu dari aku kak?" Dea menelisik sambil mengelus-elus pipinya yang tadi di cubit Agas.
"nggak kok my princess... kami nggak nyembunyiin apapun dari kamu." jawab ku menggoda sambil mengelang-gelengkan kepala ku.
"kalian berdua itu aneh banget sih. kalian juga mencurigakan!" Dea semakin sinis lalu melengos pergi sambil melipat kedua tangannya.
"jangan ngambek dong ibu negara. nggak ada yang kami lagi sembunyiin dari kamu kok." tegas Agas sambil merangkul Dea dari samping & berjalan beriringan dengan Dea.
saat sedang jam istirahat aku, Dea, Lily, Nuna & Aya asik berbincang & bercanda gurau di bangku taman sekolah, tiba-tiba aja salah satu teman kelas ku datang menghampiri ku & memberi kabar yang kurang enak tentang Zian.
"Amara... Amara..." teriak Tari kencang sambil berlari ke arah ku.
"kamu kenapa Tari kok lari-larian gitu?" tanya ku bingung saat melihat dia berlari sambil memanggil nama ku.
"hah... hah... hah..." Tari sedang berusaha mengatur nafasnya sambil bersandar di pundak kanan ku.
"Zian..." ucapnya dengam suara yang ngos-ngosan.
"kenapa Zian?" tanya Nuna penasaran.
"si-si Zian... masuk... ruang... U-KS." ucap Tari terbata-bata & dengan nafas terengah-engah.
"APA...!" teriak ku histeris & aku pun langsung spontan berlari menuju ruang UKS.
GEREBUUUK.
aku yang cemas langsung mendorong & membuka pintu, aku langsung membuka tirai satu persatu untuk menemukan Zian. di tirak ke 4 baru ku lihat dia yang sedang berbaring di ranjang rawat.
"kamu kenapa?" tanya ku langsung penuh dengan kekhawatiran.
"Amara?" sahutnya yang terkejut melihat kedatangan ku.
"kamu kenapa!" ku ulangi pertanyaan ku yang tadi namun dengan nada yang sedikit lebih keras.
"aku nggak apa-apa kok Ra." jawabnya pelan sambil tersenyum manis.
"terus... kenapa kamu di ruang UKS kalau emang nggak apa-apa?!" ketus ku sambil menelisik.
"tadi aku jatuh pas main basket & kayaknya tangan kiri aku terkilir deh. heheheh..." jawabnya santai sambil tertawa kecil.
"kamu itu ceroboh banget sih!" pekik ku kesal.
"bisa sampek jatuh & jadi kayak gini!" aku langsung ngoceh-ngoceh.
"sakit ya...?" tanya ku dengan polosnya sambil mengelus-elus rambut gondrong yang sedikit ikal milik Zian.
"aku baru di ruang UKS 5 menit tapi kamu udah langsung dateng." ucapnya menggoda sambil mengambil tangan ku yang sedang mengelus rambutnya.
"segitu khawatirnya kamu sama aku Ra?" godanya sambil meremat-remat & memainkan jemari tangan ku.
"ih... Zian! apaan sih nggak lucu tau!" jawab ku kesal sambil memukul pundaknya.
"aduh. sakiiiit Ra..." rengeknya manja sambil mengelus-elus pundak kirinya yang barusan aku pukul.
"ya udah kalau memang kamu nggak apa-apa. aku mau balik ke kelas dulu, kamu istirahat di sini aja." aku pun hendak beranjak.
"Ra..." rengeknya manja sambil menarik tangan ku.
"kamu nggak bisa di sini aja nemeni aku? aku nggak mau sendirian?" Zian bicara tak ubahnya seperti anak kecil yang sedang ingin di temani ibunya, sontak hal itu membuat ku tersenyum geli.
"apaan sih Zian?! kamu kok jadi sok manja." ketus ku sambil menahan tawa.
"ku kan harus balik ke kelas." ketus ku sambil beranjak pergi.
"Amara..." Zian terus merengek tapi aku tak menghiraukannya.
Aku pun akhirnya kembali di kelas.
"Zian kenapa Ra?" tanya Dea penasaran.
"katanya tangannya patah ya?" sambung Lily.
"hah... patah! kasihan banget dia..." Aya histeris.
"dia nggak kenapa-kenapa kok! Tari aja tu yang lebay banget ngasih taunya." aku menatap sinis ke arah Tari.
"ye... tadi kan aku lihatnya dia di bopong sama Rudi, Angga & Bima. jadi ya aku kira dia kenapa-kenapa." ketus Tari sambil melipat tangannya.
"emangnya Zian kenapa Ra?" Dea bertanya semakin penasaran.
"parah nggak lukannya?" sambug Nuna.
"Zian tadi cuma pingsan sebentar, terus... tangannya sih kayaknya cuma terkilir deh bukannya patah. 🤔" jawab ku yang sambil menerka-nerka.
"ih... bocah itu! bikin orang khawatir aja sih!" ketus Dea gemas.
"hah... aku kira kenapa? rupanya cuma jatuh terus terkilir." ucap ku sedikit kesal.
"kamu aja yang lebay Ra..." ketus Nuna menatap ku sinis.
"ho oh lebay banget malahan. ngapain kamu gitu tau si Zian cedera terus di bawa ke UKS kamu langsung lari-lari ke sana cuma buat nemuin dia. kenapa kamu sampek segitunya ke Zian? suka iya...?" ucap Agas kesal & sinis.
"apaan sih kamu Gas! jangan ngomong yang enggak-enggak deh!" ketus ku memekik pada Agas.
"kamu tu ya jangan suka bikin gosip yang enggak-enggak deh. bikin temen-temen pada salah paham aja! nyebelin banget sih...!" ucap ku gemas sambil mencubit kuat-kuat pipinya.
"aw-aw-aw... sakit Ra..." teriaknya mencoba melepaskan cubitan tangan ku dari pipinya.
keesokan harinya saat jam istirahat seperti biasanya kami bertiga makan di kantin, tiba-tiba saja Zian datang & bergabung untuk makan bersama kami sontak hal itu membuat aku senang, Dea bingung & Agas kesal. 😁
"hai semua..." Zian menyapa dengan manis.
"hai..." sahut ku dengan senyum yang lebar.
"hai..." sahut Dea dengan wajah kebingungan.
"kamu nggak jajan?" tanya Zian pada ku sambil duduk di sebelah ku.
"nggak. aku bawa bekal dari rumah karna Umma nggak ngasih aku jajan di kantin lagi gara-gara sakit kemarin. hehehehe..." jawab ku sedikit malu karna kamu membahas bekal yang identik dengan anak kecil.
"bilang sama Umma ya aku juga mau di bawain bekal dari Umma. jadi besok mintta porsi doble hehehe..." ucap Zian manja sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"hahahaha. oke-oke besok aku sampaiin ke Umma." sahut ku sambil tertawa geli.
"kamu ngapain ke sini!" ucap Agas tiba-tiba dengan nada sinis.
"mau makan bareng kalian." jawab Zian santai.
"kamu nggak boleh makan bareng kita!" sinis Agas.
"kenapa?" tanya Zian ketus.
"di sini cuma boleh ada 1 cowok ya itu aku & cuma boleh aku yang paling ganteng." ketus Agas menjadi-jadi.
"wah... berarti aku ganteng dong makannya kamu sampek takut tersaingi." Zian semakin memanas-manasi Agas.
"gila apa! ya jelas gantengan aku lah. aku ini belasteran Turki." Agas kumat kePDannya.
"iya-iya kamu yang paling ganteng, aku ini indo tulen mana bisa di banding-bandingi sama kamu. bulek, putih & berbadan bagus." sinis Zian sambil menyendok makanan di piring ku & langsung melahapnya.
"bulek-bulek! emangnya aku bulek mu apa! jangan pernah panggil aku bulek ya! aku bukan bulek mu! aku belasteran bukan bulek PAHAM!" pekik Agas sambil melotot ke arah Zian.
"iya-iya mister bulek..." goda Zian pada Agas.
"hah..." aku menghela nafas panjang sementara Dea hanya bisa geleng-geleng saat kami melihat perkelahian mereka berdua yang seperti perkelahian anak kecil.
"lagian ya Amara lo yang minta & nyuruh aku buat gabung sama kalian, Amara juga nyuruh aku buat ikut kemana pun kalian pergi. ya kan Ra?" jawab Zian seolah meledek Agas sambil terus memakan bekal ku.
"APA! Amara yang nyuruh kamu buat ikut kemana pun kami pergi?!" Agas memasang ekspresi terkejut yang terlihat sangat menggemaskan 😱.
"iya aku yang suruh Zian buat ikut gabung sama kita. biar kita makin rame & makin seru kalau kumpul." jawab ku mencoba mencairkan suasana.
"aku sih nggak ada masalah." ucap Dea sambil meminum jus mangganya.
"Dea..." rengek Agas yang seolah tak terima akan hal ini.
"makasih Dea. ☺" ucap Zian yang merasa senang.
"aku nggak mau dia gabung sama kita! titik no debat! aku sangat keberatan!" ucap Agas ngotot sambil melipat tangannya & membuang pandangan dari kami bertiga.
"keberatan di tolak!" jawab ku sambil mencubit gemas hidung Agas.
"sakit Ra..." rengek Agas manja sambil mengelus-elus hidung mancung khas orang Turkinya itu.
"tapi aku nggak suka sama dia!" ketusnya semakin sinis.
__ADS_1
"Agas...! kamu nggak boleh kayak anak kecil gitu ah!" celetus Dea kesal sambil menjewer kuping Agas gemas.
"sakit Dea... iya-iya terserah kalian aja deh ah! sebel aku!" ucapnya kesal tapi penuh dengan kepasrahan.
semenjak saat itu kami jadi semakin dekat dengan Zian & kemana-mana selalu berempat, ternyata Zian anaknya seru banget buat di ajak main setelah kenal lebih jauh sama dia, dia juga ternyata nggak sekaku & sengebosenin yang kami kira selama ini.
dia anaknya cukup lucu, nyambung di ajak ngomong, manis & ramah. beda banget dari diri dia yang pertama kali aku kenal dulu yang cuek parah dan dingin abis. Aku sih seneng bisa lihat sisi lain dari Zian yang cukup menarik & unik, tapi aku & Dea juga jadi sering pusing karna kelakuan mereka yang setiap ketemu pasti selalu bertengkar & sinis-sinisan.
...
"temen-temen. pulang sekolah makan ice cream yuk? aku lagi pengen banget ni makan ice cream." ajak ku eksaited.
"aku nggak bisa Ra sorry banget ya. soalnya tadi pagi aku udah ada janji sama Mami mau ikut Mami jemput temennya di bandara." jawab Dea yang terlihat menyesal.
"yah... nggak seru dong kalau kamu nggak ikut Dea. 😔" jawab ku sedikit kecewa.
"maaf banget ya Ra."
"whait baby girl. kan masih ada aku." celetuk Agas sambil merangkul ku dari samping & mendekatkan wajahnya ke wajah ku.
"aku juga mau kok nemeni kamu." sahut Zian sambil menepis tangan Agas dari pundak ku yang seolah kayak nggak mau kalah.
"hah..." aku menghela nafas panjang.
"pasti acara makan ice creamnya bakalan jadi kacau bin berantakan. 😖" gumam ku yang langsung stres.
jelas aja aku bakalan stres karna tau sendiri kan kalau mereka berdua ink selalu... aja bertengkar setiap kali ketemu. dengan bimbangnya akhirnya kami pun pergi ke toko ice cream untuk makan sekalian santai karna kami juga udah lama nggak hangout ke luar.
"mbak..." aku memanggil pelayan.
"saya mau pesen ice cream rasa coklat combi blueberry ya. kalian mau pesen rasa apa?"
"aku mau rasa vanila mbak toping kissmis ya." ice crema pesanan Agas.
"saya mau rasa durian combi vanila." ice cream pesanan Zian.
"iti aja?" tanya pelayan untuk memastikan pesanan kami.
"oh satu lagi mbak. saya juga mau cemilannya saya minta biskuit chees ya." ucap ku kembali
"siap mbak. di tunggu pesanannya ya." ucap pelayan sambil beranjak pergi.
"kenapa kamu pesan yang rasa vanila juga hah!" tanya Agas kesal sambil memicingkan matanya.
"emang ada larangannya kalau aku nggak boleh pesen yang vanila?" jawab Zian ketus.
"ya kenapa harus vanila?! kan masih banyak rasa yang lain!"
"memangnya ada masalah! terus memangnya yang boleh makan ice cream rasa vanila cuma kamu doang!" sinis Zian menjadi-jadi karna kesal dengan sikap kekenak-kanakannya Agas.
"tapi kan aku yang pesan duluan!" pekik Agas dengan imutnya.
"kalian berdua! bisa nggak sih sehari aja nggak berantem kalau lagi ketemu! kalian bisa tenang & akur nggak sih!" bentak ku kesal pada mereka, karna jujur aku udah depresi berat sama kelakuan bocah dua ini. 😫
"dia tu yang ikut-ikutan aja!" jawab Agas dengan nada yang konyol.
"kok aku! lah apa aku salah kalau aku mau pesan ice cream rasa vanila?" ketus Zian kesal yang seolah tak mau kalah dari Agas.
"ya Allah... aku bisa gila lama-lama ngadepin tingkah konyol kalian berdua ini." celetuk ku kesal sambil mengacah-acak ponny ku.
"denger ya! kalau kalian berdua nggak bisa akur & baikan kita nggak jadi makan ice creamnya! mendingan kita pulang aja sekarang!" aku bicara dengan nada keras agar mereka mau memdengarkan.
aku mengancam keras mereka kali ini biar mereka bisa sedikit tenang & mulai belajar akur. seriusan deh temen-temen aku tu malu banget karna di lihatin terus sama pengunjung lainnya, aku itu seolah-olah kayak emak-emak yang lagi ajak jajan anak laki-lakinya tapi ngomel mulu karna anak-anaknya berantem terus. 😭
"jangan-jangan-jangan!? aku nggak mau pulang Ra... aku mau makan ice cream..." rengek Agas manja sambil memasang wajah sok imut.
"jangan pulang! aku juga mau makan ice cream." pekik Zian histeris.
"aku janji bakalan diem. tapi kita jangan batalin makan ice creamnya ya Ra?" ucap Zian sambil menunduk & menempelkan jari kelingkingnya dengan kelingking ku.
kelakuan mereka berdua bener-bener ngegemesin. 😍 sumpah aku gemes banget pengen nyetotin pipi mereke & useg-useg muka mereka sampek puas, aku juga nggak bisa berhenti tersenyum geli setiap lihat Zian yang nunduk sambil diem aja & lihat Agas yang melongoh mulu karna bosen harus diem padahal dia tu anaknya hiper altif banget. 😅
"ya udah kalau gitu kalian berdua harus tenang & nggak boleh berantem lagi. Paham!" ucap ku sambil mengelus-elus kepala mereka berdua secara bersamaan.
"elus kepala aku aja Ra jangan kepala dia." ketus Agas sambil menatap tajam ke arah Zian.
"Agas..." aku melototi Agas.
"tapi aku nggak suka kalau kamu elus-elus dia!" gumam Agas pelan.
"diem kamu!" ketus Zian yang mulai kesal.
"kamu yang diem!" Agas tak mau kalah.
"Agas dulu. baru Zian." protes Agas.
"hah..." aku menghela napas berat sambil memijat-mijat pelipis mata ku.
setelah terjadi perdebatan sengit yang membuat depresi akhirnya pesanan kami pun datang & aku langsung menyambutnya dengan senyuman yang lebar & perasaan yang sangan bahagia. 😍 begitu juga Zian & Agas yang terlihat tak sabar ingin menyantap ice cream pesanan mereka.
"ini pesanannya." ucap pelayan toko sambil menurun-nurunkan pesanan kami dari nampan yang ia bawa.
"wah... ice cream... terimakasih mbak." jawab ku bahagia sambil menerima mangkuk berisi ice cream pesanan ku.
"terimakasih." ucap Zian senang dengan mata berbinar-binar sambil menerima mangkuk ice cream pesanannya.
"ice cream- ice cream..." Agas bersenandung sambil menerima ice cream pesanannya demgan raut wajah yang sangan bahagia.
"enak banget... 😍" teriak ku bahagia di sendokan pertama.
"aku mau nyobain ice cream kamu boleh?" pinta Zian manja sambil membuka mulutnya.
"kamu mau coba?" jawab ku sambil menyuapkan sesendok Ice cream milik ku kemulutnya.
"enak... apalagi karna kamu yang nyuapain" celetuknya dengan ekspresi yang sangat manis sambil mengunyah.
"aku juga mau...!" teriak Agas histeris sambil membuka mulutnya lebar-lebar dengan ekpsresi yang aneh.
"kamu juga mau?" tanya ku bingung dengan kelakuan Agas.
"iya aku juga mau. aaaaak... suapin!" Agas bertingkah sok imut & super manja.
"tapi kan... kamu nggak suka ice cream rasa coklat Gas?" tanya ku yang semakin bingung.
"nggak! siapa bialng! aku suka kok suka banget malahan." jawabnya ngotot.
"ya udah kalau emang kamu mau. ni..." sahut ku dengan perasaan bingung sambil menyuapkan ice cream ku ke mulut Agas.
wajah Agas langsung berubah ekpresi jadi aneh begitu ia mulai merasakan rasa ice cream coklat ku di mulutnya. Agas emang nggak suka banget sama coklat makannya aku jadi bingung waktu tadi dia ngotot pengen nyobain ice cream coklat pesenan ku.
"sa-satu... satu suap lagi!?" pintanya manja tapi masih dengan ekpresi yang aneh. aku ya nyuapin aja orang emang dia yang minta kan.
"Ra. kamu mau cobain ice cream punya aku nggak?" Zian menawarkan ice creamnya sambil menyodorkan satu sendok ke arah mulut ku.
"mau..." jawab ku eksaited sambil membuka mulut ku lebar-lebar, tapi tiba-tiba malah Ice cream Agas yang masuk ke dalam mulut ku.
"gimana? enak kan Ra rasa ice cream aku?" Agas bertanya dengan muka puas yang udah ngerasa menang dari Zian.
"uhuk-uhuk." aku keselek karna ice cream Agas masuk ke mulut ku secara tiba-tiba.
"en-enak kok enak." aku enjawab dengan raut wajah yang bingung.
"kamu nggak apa-apa Ra?" tanya Zian panik sambil mengelus-elus lembut punggung ku.
"aku nggak apa-apa kok. aku tadi cuma kaget aja karna sendok ice creamnya masuk tiba-tiba gitu." jawab ku pelan sambil mengelapi mulut ku.
"kamu itu apa-apaan sih Gas! kenapa main suapin paksa gitu aja?! Amara jadi keselek kan!" pekik Zian pada Agas dengan nada yang penuh amarah.
"apaan sih kamu! aku kan cuma mau suapin Amara biar dia ngerasain ice cream punya aku." ketus Agas dengan nada meledek.
"kamu ya!" kekesalan Zian semakin memuncak, Zian langsung ingin menarik kerah baju Agas.
"cukup! kalian berdua mulai lagi kan!" aku marah karna mulai kesal.
"dia duluan yang mulai tu." jawab Agas santai sambil menunjuk ke arah Zian.
"kamu yang mulai duluan! kamu udah bikin Amara sampai keselek! aku nggak suka sama tingkah kami tau!" sinis Zian yang semakin menjadi-jadi.
"STPO! kalau kalian kayak gini terus aku nggak mau lagi jalan bareng kalian!" ucap ku penuh amarah sambil meletakan uang di atas meja & aku langsung beranjak pergi meninggalkan mereka.
"taxi." aku pun berteriak untuk memberhentikan taxi & pulang sendirian. semua ini aku lakukan buat ngasih pelajaran ke mereka berdua.
di dalam taxi aku terus aja ngedumel.
"mereka itu bener-bener nyebelin banget sih! selalu aja berantem kayak kucing sama tikus! nggak pernah bisa akur."
"emangnya aku ini ibu mereka apa! yang harus selalu jagain mereka & marah-marah ke mereka kalau mereka lagi bertengkar!" gumam ku kesal sambil *******-***** tangan ku.
"mereka tu sehari aja nggak bertengkar apa nggak bisa sih?! heran ah hobby banget ribut! nyebelin banget sih!!!"
malam harinya saat aku ingin tidur tiba-tiba aja Zian menelpon, palingan juga buat meminta maaf masalah tadi siang. awalnya aku nggak mau angkat telpon dari dia karna lagi nggak mood tapi aku takut bikin dia sedih lagi.
__ADS_1
KRIIIIIING.
"halo asalamu'alaikum."
"wa'alaikumsalam. malam Amara kamu lagi apa?" tanya Zian basa-basi.
"mau tidur." jawab ku singkat.
"oh... ya udah deh kalau emang kamu mau tidur. aku... aku cuma mau bilang maaf soal tadi karna aku tadi udah nakal & bikin kamu marah." ucapnya pelan. denger nada bicara dia bikin aku nggak bisa nahan senyum.
"ya... aku nggak marah kok sama kamu. jadi kamu nggak perlu minta maaf ke aku."
"beneran kamu nggak marah sama aku Ra?" tanyanya dengan eksaited.
"iya Zian... tapi aku minta kamu jangan berantem terus sama Agas ya. aku pusing kalau lihat kalian berantem terus."
"iya. aku janji nggak akan bikin kamu kesel lagi & nggak akan berantem sama Agas lagi. im promise." ucapnya dengan nada yang manis banget
"aku pegang ya janji kamu. awas aja kalau kamu ingkar janji aku bakalan ngambek & marah beneran lo ya." ancam ku.
"siap mrs. boss... ya udah kamu tidur sana, selamat malam Amara nice dream." ucapnya manis & langsung memutuskan panggilan telpon.
"ada apa sih sebenernya di siri Zian? kenapa kayaknya banyak banget hal luar biasa yang selalu dia lakuin yang bisa bikin aku nggak bisa bergenti mikirin dia." gumam ku sambil terus tersenyum kecil & menutupi wajah ku dengan bantal karna pipiku udah mulai merona.
...
"pagi Umma." sapa ku si pagi hari pada Umma.
"pagi sayang... sarapan nak."
"wah... kayaknya enak-enak banget menu pagi ini Umma?" ucap ku eksaited melihat menu sarapan pagi ini sambil duduk & mengambil makanan satu persatu.
"assalamu'alaikum. Amara..." teriak Agas dari luar rumah.
mendengar samar-samar suara Agas yang memanggil aku & Umma pun langsung menoleh ke arah pintu depan. Umma langsung membukakan pintu.
"wa'alaikumsalam. eh Agas." ucap Umma.
"ngapain sih bocah itu pagi-pagi kemari!" gumam ku pelan sambil terus mengunyak.
"pagi Umma cantik..." goda Agas.
"pagi manisnya Umma. ayo Gas ikut sarapan yuk nak." ajak Umma sambil berjalan masuk yang di ikuti Agas.
"Umma cantiknya Agas tahu aja ni ah sama niat Agas pagi-pagi dateng kemari." Agas menjawab dengan memasang muka sok imutnya itu & langsung duduk di sebelah ku untuk ikut sarapan juga.
"tau dong. ini kan Umma." sahut Umma bercanda.
"ngapain kamu pagi-pagi kesini?!" tanya ku ketus.
"mau makan sarapan buatan Umma lah. emangnya mau apa lagi? ya kali mau lihat kamu PDan banget sih." sahutnya ketus & meledek.
"emmmh..." gumam ku pelan lalu memutar bola mata ku.
"aku juga sekalian mau minta maaf soal masalah di toko ice cream kemarin, aku tahu aku salah karna udah selalu memulai pertengkaran sama Zian"
"aku benar-benar minta maaf Ra. aku nggak mau kamu marah sama aku sampek pulang sendirian kayak kemarin. aku cemas aku takut kamu kenapa-kenapa di jalan" ucapnya dengan rasa bersalah sambil menunduk.
"aku nggak marah sama kamu kok." jawab ku sambil tersenyum & mencubit gemas pipi Agas.
"beneran kamu maafin aku & kamu udah nggak marah lagi sama aku?" ucapnya senang.
"iya Agas... ayo sarapan dulu habis itu kita berangkat." ucap ku sambil mengambilkan makan untuk Agas.
setibanya aku & Agas di sekolah, kami berjalan santai menuju kelas sambil ngobrol-ngobrol.
"ya Allah... baru sadar aku Dea kemana?" tanya ku pada Agas histeris.
"nggak usah nyariin Dea Ra dia lagi enak lagi liburan pergi keluar kota sama Tante!? dia juga udah izin kemarin buat cuti 1 minggu." ketus Agas betek.
"enak banget ya si Dea..." celetuk ku iri.
"pagi..." Zian menyapa sambil nyolek pipi kiri ku.
"pagi." sahut ku sambil menoleh ke arah Zian.
"aku duluan ya Ra aku mau ke ruang olah raga. bye..." Agas melengos pergi.
"Gas kamu mau..." teriak ku kencang tapi tak di hiraukan oleh Agas.
"hemmmmh..." aku menggeleng sambil menghela nafas pelan.
"moment yang sangat pas!?" celetuk Zian sambil menggandeng tangan ku & mengajak aku berjalan menuju taman.
"moment pas kenapa?" tanya ku bingung yang sambil terus mengikuti langkah Zian.
"momen pas buat kita berduaan. jad... aku juga lebih leluasa lihat wajah, senyum sama mata besar kamu itu." goda Zian yang langsung membuat pipi ku merona.
"apaan sih kamu!" ketus ku dengan wajah yang merina.
"mata besar- mata besat! kenapa kamu tu masih suka banget manggil aku pakek sebutan itu sih?" aku langsung manyun.
"ya... karna mata kamu emang besar kan? mata kamu juga cantik." ucapnya polos sambil tersenyum ke arah ku.
"stop ngegombal Zian!" jawab ku ketus sambil mendudukan diri ku di kursi taman & langsung melipat tangan ku.
"ucapan kamu itu jadi bikin aku salah tingkah tau..." gumam ku dalam hati sambil menahan senyum.
"aku nggak gombalin kamu kok. aku cuma ngomong apa yang aku lihat tentang kamu."
"Zian stop! aku jadi malu kalau kamu ngomong kay..." ucap ku & langsung menutup mulut ku setelah sadar kalau aku keceplosan.
"apa Ra? kamu barusan ngomong apa? kamu malu...?" tanya Zian menelisik sambil mendekatkan wajahnya ke wajah ku.
wajah kami saling berhadapan & berjarak sangat dekat sontak itu membuat wajah ku makin merona & aku jadi semakin kuat menutup mulut ku sangkin groginya.
"kalian ternyata di sini." Agas datang & langsung memecah keheningan.
"aku masuk kelas duluan ya soalnya mau tanya tugas sama Aya." aku langsung berlari meninggalkan dua laki-laki itu dengan wajah yang masih merona & terasa panas.
"tugas..." gumam Agas pelan & bingung.
"kita nggak ada tugas hari ini Ra..." teriak Agas kuat ke arah ku.
"aku minta maaf karna udah sering berlaku nggak baik ke kamu." ucap Zian dingin yang sontak membuat Agas tergelonjat kanget & langsung menatap ke arah Zian.
"santai... aku juga minta maaf karna selama ini sensi terus sama kamu." sahut Agas sambil menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan.
"iya. demi Amara kita harus akur biar dia nggak sedih terus." ucap Zian menyambut jabatan tangan Agas.
saat jam istirahat kami bertiga pergi untuk makan di kantin.
"Ra..." Agas mencoba memulai pembicaraan.
"aku & Zian udah mutusin buat temenan. kami juga nggak akan beranteng lagi." Agas tersenyum lebar.
"syukurlah kalau kayak gitu, aku seneng banget kalau kalian akhirnya bisa berteman." ucap ku sambil memegang tangan mereka berdua. "kenapa wajah mu jadi memerah gitu!" celetuk Agas kesal sambil menunjuk wajah Zian yang lagi merona.
"apa! nggak kok! enggak! wajah ku nggak merah." bantah Zian yang langsung mengalihkan wajahnya dari kami.
"wajah mu merah! kenapa hah!?" desak Agas ngotot.
"apaan sih!" ketus Zian.
"hah..." aku menghela nafas berat.
"mereka mulai lagi." gumam ku kesal sambil memijit-mijit pelipis kiri mata ku.
"kami nggak berantem kok Ra..." histersi Agas begitu mendengar gumaman ku.
"ya kan Zian? hahahaha." sambung Agas konyol langsung merangkul Zian dengan sok akrabnya.
"iya-iya kami nggak berantem kok. hehehehe." sahut Zian nggak kalah konyolnya dari Agas.
"hah..." aku menghela nafas pelan & menunduk.
"aku bisa tua lama-lama ngadepin kelakuan kalian berdua."
karna kesal aku langsung masuk kelas meninggalkan Agas & Zian di kantin. nafsu makan ku hilang karna kelakuan konyol mereka berdua yang aku yakin nggak bakalan bisa akur sampai kapan pun. 😫
"gara-gara kamu Amara jadi marah lagi kan! 😠" ketus Zian kesal.
"enak aja kamu nyalahin aku!" sahut Agas sinis.
"ya emang salah kamu kan! lagian kenapa sih kamu tu suka banget memulai pertengkaran sama aku?!" Zian mulai berapi-apai lagi.
"itu karna Amara lebih perhatian sama kamu di banding sama aku! puas!" jawab Agas sinis sambil memalingkan wajah dari Zian.
"jadi ceritanya selma ini tu kamu cemburu ke aku, karna aku lebih di sayang sama Amara?" ledek Zian pada Agas. kayaknya Zian mulai kumat lagi jailnya.
"ngapain aku cemburu ke kamu! nggak ada untungnya juga kan!" ucap Agas sinis lalu berjalan pergi.
__ADS_1
"sebenernya kamu itu orangnya baik Gas. cuma aja sifat cemburuan kamu itu suka berlebihan & bikin kamu jadi bersikap aneh." gumam Zian tentang Agas sambil tersenyum kecil.