
(assalamu'alaikum.)
cukup lama Zian baru bales pesan aku.
(wa'alaikumsalam.)
(kok lama balesnya. 😡)
(maaf... aku tadi lagi mandi.)
(oh...)
(kenapa Ra?)
(hari ini aku pulang.)
(kamu beneran jadi pulang hari ini. 😔)
(iya. karna lusa kan udah masuk sekolah.)
(padahal aku mau ketemu kamu lagi & ajak kamu jalan.)
(anda belum beruntung. 😂)
(ih... ni anak malah ngeledek. 😒)
(hehehehe.)
(kamu lagi di mana?)
(di mobil mau ke bandara.)
(aku pasti kangen banget sama kamu.)
(aku juga pasti kangen banget sama kamu.)
(do'ain aku cepet kelar ya studynya. biar bisa balik ke Indonesia & langsung nikahin kamu.)
(aamiin. 😁)
(ya udah nanti kalau udah sampek rumah kabarain aku ya.)
(iya. 😊)
(aku mau ke perpustakaan. nanti aku chat lagi.)
(iya. kamu hati-hati.)
(kamu juga. assalamu'alaikum.)
(wa'alaikumsalam.)
(aku sayang kamu.)
(😊)
"lagi chatan sama siapa?" tanya Dea.
"Zian."
"oh..."
"kemarin gimana ketemu sama dia?" Dea bertanya.
"ya gitu." aku sedikit kecewa.
"gitu gimana? 😕"
"bentar doang."
"why?"
"dia tiba-tiba aja ada keperluan mendadak tentang kuliahnya jadi ya harus pergi. 😔"
"uluh kasihannya sayang aku..." Dea memeluk ku.
"mana si Agas ngambek tiba-tiba, ketemu Zian cuma sebentar. kesel abnget deh. 😫"
"hahahaha... ujian cinta segitiga emang gitu. 😝"
"😑" aku menatap kesal ke arah Dea.
"mending si Amara ngalami cinta segitiga seru manis-manis asem nano-nano, lah kamu apaan sampek sekarang masih jomblo. 😒" celetuk Maminya Dea.
"HAHAHA..." Tante Winata terbahak.
"cantik-cantik kok jomblo." ledek Tante Winata.
"ih... kayak Tante nggak jomblo aja." peki Dea kesel.
"waduh kenak mental guys. 😵" celetuk Tante Winata.
"Mami apaan sih! 😡" Dea marah.
"faktanya emang gitu kan. 😏" goda Mamainya Dea.
"ya karna emang nggak ada yang cocok aja di hati Dea! kalau yang naksir Dea itu banyak kali. 😡" Dea semakin berapi-api.
"emang iya Ra?" tanya Maminya Dea.
"emmmmh... 🤔 seumur-umur Amara belum pernah lihat ada cowo yang deketin Dea Bukde." ledek ku.
"Amara..." peki Dea kesal.
"hahahaha..." aku, Maminya Dea & Tante Winata tertawa puas karna sukses bully Dea.
"awas aja ya semuanya! aku aduin ke Papi nanti! 😭" Dea ngambek.
...
"Tante kami pulang ya." Dea memeluk Tante Winata.
"semoga selamat sampek tujuan ya sayang." sahut Tante Winata.
"Tante Amara pulang." aku berpamitan.
"nanti main ke sini lagi ya." Tante Winata mencium pipi ku.
"siap boss..." aku memberi gerakan hormat.
"kami pulang." ucap Maminya Dea.
"kalau udah sampek jangan lupa kabarin ya kak." titah Tante Winata.
"iya..."
aku, Dea & Maminya Dea berjalan masuk ke dalam bandara & melakukan chek in lalu menunggu take out selama beberapa jam.
singkat cerita kami sudah sampai di Indonesia & dalam perjalan ke rumah ku naik taxi, awalnya aku berniat mau nginep di rumah Dea tapi baru inget kalau lusa udah masuk sekolah sementara belum ada persiapan apa-apa jadinya ya langsung pulang aja ke rumah.
...
"asalamu'alaikum." aku berteriak mengucapkan salam.
"wa'alaikumsalam..." Umma menjawab dengan gembira.
"anak gadis Umma udah pulang."
"Amara kangen sama Umma..." aku langsung memeluk Umma erat-erat.
"Umma juga kangen banget sama kamu nak." Umma membalas pelukan ku tak kalah erat.
"Umma..." teriak Maminya Dea.
"mbak nggak bisa turun soalnya mau jemput Papinya Dea di bengkel. tadi nelpon katanya mobilnya mogok." teriak Maminya Dea.
"nggak apa-apa mbak... makasih ya udah anterin Amara pulang." sahut Umma.
"iya, nanti kita ketemu lagi ya... mbak pamit dulu assalamu'alaikum."
"wa'alaikumsalam. hati-hati mbak."
"bye Umma..." Dea melambaikan tangan.
"bye sayang..." Umma balas melambai.
"Umma... Amara laper..." rengek ku.
"oh... ayo-ayo kita masuk Umma masakain makanan kesukaan kamu."
kami pun masuk ke dalam rumah untuk makan siang & beresin koper. iya aku pulang bawa koper padahal perginya cuma bawa ransel semua karna oleh-oleh & belanjaan yang di beliin Maminya Dea sampek penuh 1 koper ukuran cukup besar sangking banyaknya.
"banyak banget Ra barang-barangnya?" tanya Umma sembari membuka koper.
"iya Umma, Bukde yang beliin semuanya."
"ya Allah... perginya cuma bawa seransel ya Ra, tapi pulangnya bawa sekoper besar." Umma geleng-geleng.
"itu aja Amara banyak nolak baju sama tas yang di tawarin sama Bukde Umma, kalau n&gak udah pasti bawa dua koper deh pulangnya." aku menepuk dahi ku pelan.
"baik banget ya Ra keluarganya Dea sama kita."
"iya Umma, kayaknya semua jasa-jasa mereka nggak akan bisa kita bales."
"lagi pada ngapain?" tanya Abba.
"Abba... kangetin aja sih." aku terkejut.
__ADS_1
"salamnya mana Abba. 🙄" ketus Umma.
"mas sama Abba udah ucapin salam tapi nggak ada yang jawab. 😒" ketus mas Alkan.
"hehehehe... berarti kita yang nggak denger." celetuk Umma.
"emangnya lagi ngapain sih? kok kayaknya seru banget. sampek nggak denger salam dari mas sama Abba." tanya mas Alkan.
"lagi buka koper Amara." sahut Umma.
"wih... pulangnya bawa koper cuy. banyak ni pasti bawa oleh-olehnya." celetuk mas Alkan.
"banyak banget malahan." sahut Umma.
"banyak banget Ra bawaannya?" tanya Abba lalu duduk di kursi ruang keluarga.
"Bukde yang beliin Ba, Amara nggak enak kalau nolak takut kecewaiin Bukde." sahut ku.
"peluk Abba dulu. kangen tau." gumam Abba.
"hehehehe... iya sampek lupa salaman. 😁" aku salaman sama Abba & memeluk Abba erat-erat.
"kangen sama bau kecutnya anak gadis Abba ini." celetuk Abba lalu mencium ku.
"Amara juga kangen sama bau keteknya Abba. 😂" celetuk ku.
"hahahaha..." Abba tertawa.
"sama bau keteknya mas nggak kangen? 😒" celetuk mas Alkan.
"kangen dong... udah berapa hari nggak di jailin mas nggak di ketekin mas." ucap ku lalu beranjak ke tempat mas Alkan berdiri.
"ya udah ini mas ketekin." mas Alkan pun langsung memiting kepala ku di bawah ketiaknya.
"udah-udah jangan pada bercanda terus, bersih-bersih habis itu kita makan malam." titah Umma.
selesai makan malam & beresin koper aku langsung masuk ke kamar buat chat Agas & Zian, buat kabarin mereka kalau aku udah sampek.
(Assalamu'alaikum.)
nggak lama Agas lansung video call.
"hai..." sapa ku.
"kok baru ngabarin sih. 😡" kesal Agas.
"tadi masih sibuk beres-beres koper."
"aku kangen." rengek Agas.
"apaan sih. 😄" sahut ku meledek.
"ih... aku beneran kangen tau sama kamu..." kesal Agas.
"iya-iya, aku juga kangen sama kamu."
"😁" Agas nyengir.
"kamu kenpa kok nyengir-nyengir gitu."
"seneng aja. 😁"
"kenapa?"
"karna kamu bilang kangen sama aku." celetuk Agas.
"apaan sih kamu." wajah ku mulai merona.
"capek ya?" tanya Agas.
"sedikit."
"ya udah istirahat sana. aku juga masih ada tugas."
"iya... good night."
"to... aku sayang kamu."
"🙂" aku hanya bisa tersenyum simpul.
Agas pun memutuskan panggilan teleponnya, setelah itu aku chat Zian buat kasih tau kalau aku udah sampek Indonesia.
(assalamu'alaikum.)
(wa'alaikumsalam. kok lama banget baru kasih kabar Ra.)
(maaf, tadi masih sibuk beresin koper.)
(dari siang aku nungguin chat dari kamu, aku kira ada apa-apa.)
(ya udah nggak apa-apa yang penting kamu baik-baik aja.)
(iya. 😊)
(I miss U.)
(I miss U to. kamu lagi apa.)
(lagi di perpustakaan.)
(kamu sibuk banget sih. 😔)
(ini semua kan demi kamu, demi masa depan kita. aku harus berjuang keras biar bisa jadi orang sukses & bahagian kamu.)
(😊)
(cantik banget pacar aku kakau senyum gitu.)
(idih... apaan sih. aku belum jadi pacar kamu ya. 🙄)
(emang iya. 🤔)
(iya lah. kita masih sahabat tau. 🙄)
(i'ts okay no problem karna cepat atau lambat kamu pasti bakalan jadi milik aku. 😉)
(masak.)
(iya lah. kamu itu kan takdir aku.)
(emang iya?)
(iya dong, kamu nggak usah meragukan itu lagi Ra. karna aku yakin 1000000% kalau kamu itu takdir aku. 🤗)
(ih... gombal. 😂)
(aku nggak gombal Ra...)
(ya udah aku mau tidur, kamu fokus aja sama belajar kamu nggak usah mikir yang aneh-eneh terus. 😁)
(iya-iya.)
(bye Zi...)
(bye Ra... nice dream)
(to...)
aku menyudahi chat kami & pergi tidur, karna jujur aja aku capek banget & badan aku rasanya sakit semua.
...
"Ra udah siang nak, bangun." Umma membangunkan ku sembari membuka hordek jendela ku.
"jam berapa Umma?" aku bertanya dengan suara serak tapi masih memejamkan mata.
"jam 10."
"Amara capek banget Umma..." rengek ku.
"males banget rasanya mau bangun. Amara mau tidur aja."
"kamu belum sarapan lo nak."
"nggak selera." sahut ku.
"kamu juga harus makan siang kan Ra... nanti magh kamu kumat lo kalau kamu telat makan."
"nanti Amara bangun terus makan, janji."
"ya udah terserah kamu, oh iya Umma sama Abba mau pergi kondangan pulangnya malem deh kayaknya. nanti kalau mas kamu pulang angetin sayur di kulkas ya." titah Umma.
"iya..." sahut ku malas-malasan.
"makan siang kamu ada di meja Umma tutupin pakek tudung saji."
"iya ratu ku."
Umma keluar dari kamar ku & aku menajut kan tidur ku. lagi enak-enak tidur tiba-tiba handphone aku berdering & aku langsung aja angkat.
"masih tidur Ra?" terdengar suara barito khas laki-laki di ujung sana.
"iya." gumam ku yang masih belum fokus.
"bangun Ra... udah siang." suara itu terdengar nggak asing.
aku menatap layar ponsel ku & seketika mata ku langsung membulat sempurna gitu tau kalau Zian melakukan panggilan video sementara aku masih tidur & muka juga absurd banget bentukannya.
__ADS_1
"ZIAN... 😲" pekik ku histeris.
"saya..." sahut Zian meledek.
"kamu ngapain pagi-pagi video call aku!" ketus ku & langsung menyembunyikan wajah ku di balik guling.
"emangnya aku nggak boleh video call kamu? lagian juga ini udah siang kali Ra. 😏"
"tau ah... 😫" sumpah tensi banget aku.
"ya aku kira kamu tu udah bangun... udah mandi... udah cantik... makannya aku video call kamu. 😄" ledek Zian.
"ih...! nyebelin banget sih!" kesal ku.
"bangun tidur aja secantik ini, gimana kalau udah mandi sama dandan? nggak kebayang cantiknya gimana."
"gombal..." wajah ku langsung merona.
"aku nggak gombal kok."
"aku mau mandi." ketus ku.
"ya udah."
aku langsung memutuskan panggilan & bersiap mandi. selesai mandi aku keluar kamar buat makan siang & siapin makanan buat mas Alkan.
"gila..." pekik ku saat mlihat jam.
"pantesan aja Zian bilang ini udah siang & suruh aku bangun, rupanya udah jam 02." aku nepok jidat.
"rekor banget kamu Ra, hampir seharian nggak keluar kamar. 👍 pantesan aja aku laper banget ternyata udah mau sore. 😵"
"makanannya juga udah dingin, aku panasin dulu deh." aku beranjak mau ke dapur buat manasin makanan.
"Assalamu'alaikum." terdengar suara orang ngucapin salam.
"wa'alaikumsalam." sahut ku lalu menolahe ke arah pintu.
"kok sepi?" tanya mas Alkan.
"loh mas, kok udah pulang?"
"mas lagi nggak enak badan jadi minta pulang cepet."
"mas kenapa?" tanya ku sedikit khawatir.
"kecapean doang kok dek, 4 hari ini mas lembur terus."
"ya udah mas bersih-bersih dulu habis itu istirahat, nanti kalau udah jam makan malam Amara bangunin."
"iya..."
"mas mau di bikinin apa?"
"mas mau teh jahe dong dek, jahenya yang banyak gulanya sedikit aja."
"iya nanti Amara bikinin terus Amara anter ke kamar mas."
"makasih adik ku tersayang. 😙" mas Alkan mencium pipi kiri ku.
...
"mas ini tehnya."
"taruh di atas meja aja dek, badan mas lemes banget rasanya. 🤒"
"badan mas anget." ucap ku setelah mengecek suhu tubuh mas Alkan.
"mau Amara pijetin?"
"boleh, kepala mas cenut-cenut dek."
"ya udah sini Amara pijetin." aku lalu memijat kepala mas Alkan.
"Umma sama Abba kemana?"
"pergi kondangan."
"kemana?"
"nggak tau, Umma nggak bilang."
"udah lama?"
"dari tadi pagi. katanya malam baru pulang."
"emmmmh..."
"mas kok bisa kecapean? selama mas kerja mas itu nggak pernah sampek sakit kayak gini lo."
"ada nasabah mas yang lagi kenak kasus hukum, jadi mas sama direktur cabang harus ngurus masalah pinjaman dia ke kantor pusat."
"oh..."
"pinjaman dia banyak banget takut ngerugiin Bank, jadi mas harus urus semuanya biar Bank nggak rugi & nggak keseret sama masalah hukum dia."
"jadi pekerja itu susah ya mas?" tanya ku polos.
"jadi orang dewasa itu nggak mudah dek, waktu kita masih anak-anak & masih usia sekolah kita nggak perlu mikirin apapun kita hanya tau seneng-seneng, makan, tidur, main & belajar karna semua urusan udah di handel sama orang tua. tapi setelah kita jadi dewa semuanya bakalan terasa berat karna kita harus memikirkan hal-hal seperti percintaan, masa depan, keluarga, keinginan pribadi & untuk kehidupan sehari-hari semua akan terasa jadu beben di pundak kita."
"kenapa gitu mas? 😕"
"ya karna semua masalah-msalah itu udah nggak di urus sama orang tua kita lagi, karna kita udah dewasa jadi beban hidup kita ya harus kita yang tanggung dong. bahkan kalau anak yang tau balas budi & sayang sama orang tuanya dia bakalan berusaha buat tanggung beban orang tuanya walaupun beban dia sendiri juga sebenernya berat banget."
"susah ya mas ternyata jadi orang dewasa. 😞"
"makannya kamu harus sekolah yang rajin & serius buat gapai cita-cita kamu, biar kamu bisa jadi orang sukses nantinya & beban kamu bakalan jadi nggak terlalu berat plus kamu bisa bikin bangga & bahagia Umma, Abba & mas. 😊" ucap mas Alkan sembari mengelus lembut rambut ku.
"Amara janji bakalan jadi anak baik, belajar dengan giat, berusaha terus & gapai cita-cita Amara buat bikin mas bangga. 😊"
"mas selalu bangga sama adik mas yang paling cantik & paling mas sayang ini, karna dia gadis baik, penurut, nggak bikin susah orang tua & selalu baik sama siapa aja."
"Amara jadi malu. pipi Amara jadi merah ni..." celetuk ku.
"hemmmh... dasar pelawak. 😒" ketus mas Alkan.
"mas?"
"apa?"
"kalau Amara pacaran boleh nggak?"
"apa..." pekik maa Alkan.
"mas jangan marah. Amara kan cuma tanya doang?" gumam ku ketakutan.
"mas nggak marah kok. mas tadi cuma kaget aja karna kamu tiba-tiba tanya kayak gitu. 😅"
"mas nggak marah. 😃" pekik ku semangat.
"berarti boleh dong. 😁"
"boleh aja, asal nggak ganggu belajar kamu & nggak bikin kamu lupa waktu."
"tapi..." gumam ku.
"tapi apa?"
"Umma sama Abba pasti nggak bolehin. 😔"
"ya... kalau itu mas juga nggak tau." mas Alkan menaikan pundaknya.
"emangnya kamu mau pacaran sama siapa? 😏" celetuk mas Alkan.
"nggak sama siapa-siapa." aku langsung panik.
"Agas atau Zian?" goda mas Alkan.
"ih... mas apaan sih." kesal ku lalu melipat tangan ku & manyun.
"kenapa bawa-bawa mereka berdua coba. 😣"
"ya karna kan mas taunya cuma mereka berdua laki-laki yang deket sama kamu. lagian kan mereka terang-terangan suka sama kamu."
"ya... Amara kan nggak ada bilang kalau mau pacaran sama mereka mas..." kesal ku.
"tadi Amara cuma iseng-iseng tanya doang kali! 😤"
"ya kalau beneran juga nggak apa-apa kali Ra... Zian ganteng, pinter, jago masak, & manly banget kalau Agas bule, lucu, perhatian & penyayang lagi & yang paling penting itu mereka berdua adalah laki-laki baik. 😉" goda mas Alkan.
"ih... mas ngomong apaan sih nggak jelas banget deh! mas aja sana yang pacaran sama mereka kalau emang menurut mas mereka anak baik. 😤" aku lalu keluar dari kamar mas Alkan sambil marah-marah.
"jeruk makan jeruk dong Ra kalau mas pacaran sama mereka..." teriak mas Alkan bercanda.
"mas nggak jelas..." pekik ku makin kesal.
"jadi Agas atau Zian Ra..." teriak mas Alkan.
"Bejo..." sahut ku juga berteriak.
"lah kok malah milih pak Bejo sih Ra..." teriak mas Alkan.
"au ah gelap..." pekik ku makin kesal.
"Amara... Amara... segitu bingungnya kamu di bikin mereka berdua, sampek kamu ggak bisa nentuin perasaan kamu." gumam mas Alkan.
"apaan sih mas Alkan! GAJE banget deh. 😤" gumam ku kesal lalu masuk kamar.
__ADS_1