
aku membuka mata ku perlahan & mendapati Dea di samping ku.
"Dea..." gumam ku dengan suara serak.
"bukannya tadi malam aku tidur di lantai sama Agas? kenapa aku bisa di tempat tidur?" gumam ku dalam hati.
"oh my god. 😱" pekik ku yang langsung bangun dari tidur ku.
"apa-apa? kenapa?" teriak Dea karna terkejut dengan wajah bingung.
"why?" Dea langsung duduk & celingukan.
"gila! ini nggak mungkin?! 😨" teriak ku.
"why? apa yang nggak mungkin?" tanya Dea yang masih dalam kebingungan.
"Agas gendong aku gitu?! terus pindahin aku ke atas tempat tidur? no no no! nggak mungkin." bantah ku dengan perasaan campur aduk.
"astaga Amara... please deh kamu teriak-teriak cuma gara-gara masalah itu. kamu bikin aku kaget tau!" kesal Dea.
"tap-tapi..."
"hah..." Dea menghela nafas panjang.
"tadi malam pas aku masuk kamar aku lihat kamu sama Agas tidur di lantai, ya aku bangunin kalian karna aku takut kalian sakit karna masuk angin terus kamunya susah banget di banguninnya ngebo amat tidurnya. jadi ya Agas gendong kamu & pindahin kamu ke tempat tidur." Dea menjelaskan.
"what. 😨" pekik ku histeris.
"malu banget sumpah... 😫" gumam ku sambil ngacak-ngacak rambut ku.
"kata Agas kamu berat. 😁" gode Dea.
"Dea..." rengek ku.
"ya udah bangun yuk kita siap-siap."
"iya." sahut ku dengan nada lesu.
...
"morning all." sapa Dea.
"pagi..." sapa ku.
"morning sayang." sahut Maminya Agas.
"morning..." sahut Ara & Maminya Dea serentak.
"wah anak gadis cantik-cantik amat. pada mau kemana?" tanya Maminya Agas.
"Amara mau ketemu sama temen Tante." sahut ku.
"loh kamu punya temen di sini Ra?" tanya Maminya Agas.
"lebih tepatnya belahan jiwa ya kan Ra. 😏" goda Dea.
"Dea..." gumam ku gemas.
"pacar Ra." tanya Maminya Agas semakin penasaran.
"bukan Tante cuma temen kok. omongannya Dea nggak usah di dengerin Tante dia mah suka banget asal jeplak aja. 😒" aku melirik ke arah Dea.
"ayo buruan sarapan biar nggak telat." ucap Dea.
"yes. nanti takutnya tiket zoonya habis." celetuk Ara.
"Ara... tiket zoonya nggak bakalan habis." sahut Maminya Dea.
"oh iya sayang kamu pergi nemuin temen kamu sama siapa? kamu berani pergi sendiri?" tanya Maminya Dea.
"rencananya Amara mau pergi sendiri Bukde, tapi Agas maksa buat anterin." sahut ku.
"bagus dong sayang kalau Agas mau anterin kamu. Tante juga nggak akan izinin kamu pergi sendirian." ucap Maminya Agas.
"🙂" aku hanya bisa tersenyum.
"ya udah kita sarapan dulu biar nggak kesiangan & nggak kenak macet." ucap Maminya Agas.
"Mommy... nanti pulang dari zoo kita makan ice cream ya." rengek Ara.
"okay baby." sahut Mami Agas.
singkat cerita selesai sarapan Dea, Maminya, Mami Agas & Ara langsung berangkat pergi buat jalan-jalan ke zoo. waktu aku lagi beresin dapur tiba-tiba aja Agas udah ada di dapur & dia baru bangun tidur.
"kamu lagi apa?" tanyanya tiba-tiba.
"ayam..." pekik ku karna terkejut & aku hampir aja jatuhin piring.
"ih...! Agas! ngagetin aja sih!" kesal ku.
"apaan sih. perasaan aku ngomongnya pelan & nggak teriak-teriak deh kenapa kamu kaget. 😕" celetuknya.
"ya karna kamu ngomongnya tiba-tiba gitu! aku kan lagi fokus cuci piring makannya kaget. hampir aja aku jatuhin piringnya." ketus ku.
"hehehehe... ya maaf. 😅"
"hah..." aku menghela nafas panjang & memejamkan mata ku agar kembali rileks.
"kamu cantik banget? mau kemana?" tanya Agas sambil minum.
"hah..." aku menghela nafas panjang.
"kamu lupa ya? hari ini aku kan mau ketemu sama Zian."
"masak. 😟"
"ih... iya Agas... kamu juga bilang mau anterin aku kan?"
"emang iya? 🤔"
"iya Agas..."
"berarti aku lupa kali ya? 😕"
"hemmmh..." sahut ku gemas.
"kalau gitu nggak usah ketemu sama Zian aja. lagian aku juga lupa kalau mau anterin kamu."
"ih... Agas apan sih..." kesal ku.
"ya kan aku lupa. 😐"
"ya tapi kan ini aku udah ingetin... jadi udah inget & bisa pergi!" geram ku.
"ya tapi kan aku lupa Amara..." goda Agas.
"tau ah gelap!" pekik ku kesal lalu menaruh piring dengan suara agak kuat.
"kalau kamu nggak mau anterin aku ya udah! kalau kamu lupa ya loss situ! lagian aku bisa pergi sendiri kok! aku bisa pakek Google translate!" aku kesal lalu beranjak ke ruang tengah.
"kamu mau kemana Ra." Agas mulai panik & mengejar aku.
"mau pergi..." sahut ku santai lalu memakai tas ku.
"iya-iya aku anterin, nggak usah ngambek kali. gitu aja ngambek. 😒"
"abisnya kamu nyebelin banget tau! 😤" ketus ku.
"ya udah aku sarapan dulu terus siap-siap, kamu tunggu di sini." ucap Agas.
"kamu nggak usah sarapan." titah ku.
"astaga Amara... sarapan aja kagak di bolehin. nanti aku bisa kenak lambung kalau nggak sarapan Amara." rengek Agas.
"nggak usah mendramatisir. 😒 maksud aku itu kamu nggak usah sarapan di rumah tapi di taxi aja."
"hah. 😕" Agas bingung.
"aku udah siapin sandwhich buat kamu makan di taxi nanti."
"serius buatan kamu. 😍"
"iya Agas. made in Amara anggraini. 😒 bawel banget sih."
"ya udah kalau gitu aku mandi dulu ya." Agas langsung berlari ke kamarnya.
"cepetan jangan lama-lama..." teriak ku.
__ADS_1
"siap my angel..." teriak Agas.
setelah Agas bersiap kami pun langsung pergi naik taxi ke Sydney, di dalam mobil kami berantem mulu karna kelakuan Agas yang absurd banget.
"enak?" tanya ku saat melihat dia makan.
"enak banget. 😍"
"seriusly?"
"yap... bikinan calon istri mah pasti enak. 😍" gombal Agas.
"please deh Agas. 🙄"
"ih beneran tau... ini tu enak banget. apalagi kalau kamu suapin pasti rasanya bakalan makin-makin enak. 😁"
"Agas..." aku mencubit gemas perut Agas.
"aw... sakit Amara..." pekik Agas kesakitan.
"biarin aja. habisnya kamu nakal sih." gumam ku kesal.
"your girlfriend?" tanya supir taxi.
"yes..." jawab Agas spontan.
"no...!" bantah ku.
"kok no sih Ra?" tanya Agas kesal.
"ya karna kita sahabatan kan?" jawab ku santai.
"emmmh..." gumam Agas sambil melipat tangannya & langsung manyun.
"kok manyun?" tanya ku gemas.
"suka-suka aku. 😒" sinis Agas.
"ih... kok sinis gitu?" goda ku.
"nggak ah. biasa aja!" ketus Agas.
"kamu kenapa? kok tiba-tiba jadi judes gini?!" aku bertanya sambil menusuk-nusuk pipi tembam Agas dengan telunjuk ku.
"nggak kenapa-kenapa." ketus Agas.
"hahahaha... 😂" aku tertawa.
"kenapa kamu ketawa! 😒" ketua Agas melirik ke arah ku.
"aku nggak ketawa." ucap ku lalu menutupi mulut ku dengan kedua tangan ku.
"nggak usah senyum-senyum gitu! jelek tau."
"masak sih senyum aku jelek. 😕" goda ku sambil menekan-nekan pipi ku dengan kedua telapak tangan ku.
"nggak usah sok imut. 😒"
"emang aku nggak imut ya." ku imut-imutkan wajah ku buat goda Agas.
"ih... kamu gemesin banget Ra..." pekik Agas lalu menangkup wajah ku dengan kedua tangannya.
"sumpah aku nggak bisa tahan buat nggak cium kamu Ra." Agas mendekatkan bibirnya ke bibir ku.
"Agas..." pekik ku histeris lalu mendorong Agas kuat-kuat.
"siapa suruh mancing-mancing aku. 😏" celetuk Agas.
"si-siapa yang pancing-pancing kamu." ucap ku terbata-bata.
"😏" Agas hanya tersenyum licik.
TLING...
pesan masuk ke handphone ku.
(assalamu'alaikum.)
(wa'alaikumsakam.)
(kamu di mana?)
(masih lama?)
"Agas..."
"iya."
"kira-kira masih lama nggak kita sampeknya?"
"kurang lebih sejaman lagi."
(kata Agas sejaman lagi.)
(oh ya udah kalau gitu aku ini berangkat, biar nanti kamu nggak nungguin aku kelamaan.)
(ya udah. sampai ketemu.)
(bye hati-hati ya.)
(bye... iya.)
"Zian?" tanya Agas.
"iya. dia tanya udah sampek mana."
"emmmmh..."
...
"thank sir?" ucap Agas setelah membayar taxi.
"sure." sahut supir taxi.
"Zian mana ya?" gumam ku sambil celingukan & mengambil handphone ku.
(kamu di mana? aku udah sampek.)
(aku di depan toko bunga xxxxxx.)
aku celingukan mencari keberadaan Zian & nggak lama lihat Zian berdiri celingukan di depan toko bunga.
"ZIAN..." aku berteriak memanggil Zian & langsung berlari menghampirinya.
"Amara." Zian melambaikan tangan.
"aku kangen kamu." ucap ku yang langsung memeluk Zian.
"aku juga kangen kamu." Zian membalas pelukan ku dengan erat.
"aku lebih kangen sama kamu." aku menangis & semakin erat memeluk Zian.
"aku lebih berkali-kali lipat kangen sama kamu Ra." ucap Zian sambil mencium puncak kepala ku berkali-kali.
"kamu emang nggak mau kalah." celetuk ku.
"aku emang nggak pernah kalah." celetuk Zian.
"ini kan baju yang aku beliin buat kamu? kamu pakek." ucap Zian sembari mengelus-elus punggung ku.
"iya aku sengaja pakek karna mau ketemu kamu. 😁"
"kamu cantik."
"aku emang cantik." celetuk ku.
"aku salah ngomong. 😑" celetuk Zian.
"nggak kok kamu nggak salah ngomong. 😁" celetuk ku.
"Ra..." panggil Zian dengan suara lembut.
"iya." sahut ku pelan.
"kita di lihatin orang lo." gumam Zian.
"biarin aja aku nggak perduli, aku masih mau peluk kamu sampek kangen aku hilang."
__ADS_1
"segitu kangennya sama aku." ucap Zian lalu menangkup wajah ku dengan kedua tangannya yang besar.
"iya..." aku mengangguk.
"berarti aku harus makin lama tinggal di sini."
"kenapa?" aku panik denger ucapan Zian.
"ya biar makin lama juga di peluk sama kamu. 😊"
"Zian..." rengek ku manja.
"I miss you so much Amara..." Zian mengecup kening ku cuku lama.
"I miss u to so much." sahut ku yang mulai memejamkan mata.
"can't you give me your kiss?" ucap Zian.
"Zian..." gumam ku dengan wajah merona.
"kalau gitu... can't I kiss you?"
"Zian..." gumam ku dengan suara yang mulai bergetar.
satu kecupan dari bibir Zian mendarat di pipi kanan ku begitu lama & hangatnya. tiba-tiba aja aku langsung merasakan perasaan aneh di dalam hati antara senang, takut, marah, sedih, bimbang & lainnya persisi kayak rasa permen nano-nano.
"I love you Amara."
"I love you to Zian." tanpa sadar bibir ini mengucapkan balasan cinta ke Zian.
"apa ini tandanya kamu nerima aku." tanya Zian penuh harap.
"maaf Zi, tapi... aku belum." aku langsung mengalihkan pandangan dari Zian.
"it's okay nggak masalah kok, aku bakalan nunggu sampai kamu siap & datang ke pelukan ku tanpa perasaan ragu lagi." ucap Zian lalu mengelus rambut ku.
"makasih Zian karna kamu udah mau ngertiin aku." ucap ku pelan lalau memeluk erat Zian.
"sampai kapan pun cinta ini tetep milik kamu Ra." ucap Zian.
denger ucapan Zian yang sama persis kayak ucapan Agas kemarin malam sontak bikin hati ku bimbang lagi, padahal awalnya aku mau sedikit buka hati ke Zian & masuk lebih dalam ke hidupnya tapi semua buyar karna kejadian kemarin malam yang akhirnya bikin aku bimbang lagi.
aku & Zian masih terus berpelukan melepaskan rindu tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di sekitar kami, tanpa aku sadari dari tadi Agas lihat semua kejadian itu & akhirnya bikin dia marah.
"Ra..."
"iya..." sahut ku yang masih memejamkan mata dalam pelukan Zian.
"aku harus pergi."
"apa." pekik ku lalu menatap tajam ke Zian.
"tapi kita udah janji mau habisin waktu seharian ini kan." kesal ku.
"maaf banget Ra, tadi sebelum kamu sampek tiba-tiba aja aku dapet telpon & harus pergi buat urus masalah riset." Zian coba menjelaskan.
"tapi aku masih kangen sama kamu, aku juga mau makan siang & jalan-jalan sama kamu. 😔" mata ku mulai berkaca-kaca.
"aku juga masih kangen banget sama kamu & masih pengen habisin waktu bareng kamu, tapi aku beneran harus pergi karna ini menyangkut masalah kuliah."
"aku..." tangis ku makin pecah.
"jangan nangis Amara... aku nggak bisa ninghalin kamu kalau kamu nangis gini." Zian memeluk ku.
"tapi aku masih kangen sama kamu. 😭"
"aku juga masih kangen sama kamu tapi aku beneran harus pergi, maafin aku ya Ra... aku belum bisa nepati janji-janji aku ke kamu. bahkan cuma janji buat habisin waktu sama kamu aja aku nggak bisa tepati." ucap Zian penuh rasa bersalah.
"kamu jangan sedih, aku nggak nangis lagi jadi kamu bisa pergi." aku mencoba menghapus air mata ku karna nggak mau Zian juga sedih.
"kamu jangan nangis lagi, aku pergi ya." Zian menyeka air mata ku dengan lembut.
"iya... kamu hati-hati."
"kamu juga pulangnya hati-hati. I love you." Zian mengecup pipi kanan ku.
"I love you to." aku balas mengecup pipi kiri Zian & ini adalah ciuman pertama ku, mungkin... 😁
Zian pun pergi & aku cuma bisa mandangin punggung Zian yang perlahan menghilang, setelah Zian pergi aku baru sadar tentang Agas & mulai cari Dia.
"Agas di mana?" aku mulai panik & celingkukan.
"AGAS..." aku teriak-teriak manggil Agas.
"Agas..."
"Agas kamu di mana?" aku mulai nangis karna ketakutan.
"aku di sini." suara dingin Agas tiba-tiba muncul & aku refleks lihat ke arah suara itu.
"kamu tadi kemana?" aku langsung berlari ke Agas.
"aku dari tadi di sini, dari awal kita dateng." Agas bicara dengan dingin.
"tapi tadi aku nggak lihat kamu." aku mulai nangis & meluk Agas.
"aku kira kamu ninggalin aku tadi, aku takut kalau nggak bisa pulang."
"karna kamu terlalu fokus sama Zian makannya kamu nggak lihat aku." gumam Agas pelan terus langsung lepasin pelukan aku & jalan pergi gitu aja.
"kita makam siang dulu yuk." ajak ku.
"makan di rumah aja."
"ya udah." aku langsung ngikutin langkah Agas.
"taxi." Agas manggil taxi.
kami naik taxi & pulang, tapi anehnya di sepanjang perjalanan pulang Agas cuma diem aja & nggak gubris semua omongan aku.
"nanti beli oleh-oleh kering buat Umma ya? takutnya besok nggak sempet."
"Agas..." panggil ku manja.
"kok kamu diem aja? aku lagi ngomong lo. Agas..."
"Agas..." pekik ku kesal.
"kamu kenapa sih kok diem aja!? aku ajakin ngomong juga nggak jawab. Agas..."
"aku mau tidur." Agas langsung merebahkan tubuhnya ke belakang & memejamkan mata.
"Agas... aku kan masih ngomong kok kamu malah tidur sih..." gumam ku kesal.
"Agas..."
"Agas!"
"Agas."
"AGAS..."
akhirnya aku mulai dongkol & merajuk, karna kesel sama tingkah Agas yang tiba-tiba jadi aneh aku juga milih diem aja sepanjang perjalanan & fokus nikmati pemandangan yang ada di luar.
"kenapa sih dia? tiba-tiba diem gitu?" gumam ku dalam hati.
"perasaan tadi pas pergi dia ngelawak mulu, terus aku juga kayaknya nggak ada bikin salah ke dia? karna kan dari tadi aku sama Zian."
"apa dia marah karna aku cuekin ya?" tanya ku dalam hati.
"aaa... iya kali dia merajuk gara-gara tadi aku cuekin soalnya aku asik sama Zian terus, ih jahat banget si kamu Ra nyuekin anak orang smapek ngambek gitu. pasti tadi dia kepanasan sama kehausan deh gara-gara nungguin aku."
"Agas..." aku memanggil Agas tapi tak di gubris.
"kamu ngambek ya? kamu marah sama aku karna tadi aku cuekin kamu & asik sama Zian terus, ya maaf... habisnya aku kangen banget sama dia jadi kebawa suasana deh. 😁"
"maafin aku ya... kamu jangan marah lagi. jangan ngambek ya..." pujuk ku.
"kamu bisa diem nggak! aku mau tidur!" ketus Agas."
"Agas..." gumam ku dengan suara yang mulai bergetar karna menahan tangis.
"nggak usah nangis, berisik aku mau tidur." Agas makin ketus.
dengan sekuat tenaga aku menahan tangis ku, aku kepal kuat tangan ku, aku tahan suara ku & gigit bibir ku sendiri biar suara apapun nghak keluar. aku nggak sadar kalau bibir ku sampek luka karna aku gigit demi nahan tangis ku.
perasaan di hati ku berkecamuk, aku yang nggak pernah di marah sama siapapun selama ini tiba-tiba harus mendengar ucapan menyakitkan dari orang yang paling aku sayang. sontak itu bikin aku ngerasain rasa sakit di hati yang sumpah rasanya tu sakit banget & belum pernah aku rasain.
__ADS_1
dalam diam aku tahan tangis ku biar nggak pecah tapi apa daya aku nggak bisa akhirnya tangis ku tumpah tanpa suara, segukan ku semakin menjadi-jadi & air mata ku makin nggak bisa di bendung lagi. dalam diam aku nangis & masih nyoba buat nahan tangis dengan perasaan yang kacau & aku baru tau ternyata gini rasa nggak enaknya sakit hati. 😔