
"emmmh... enak banget. 😍" ucap ku bahagia saat makan jajanan yang di beli Agas.
"enak ya? 🙂" tanya Agas sambil tersenyum melihat ku.
"he em... enak banget."
"maafin aku." ucap Agas tiba-tiba.
"hemmm..." aku langsung menoleh ke arah Agas.
"maaf? maaf buat apa?" sambung ku & aku terus aja makan.
"karna aku kamu jadi kayak gini. 🙁"
"maksudnya. 😕"
"ya karna aku tadi cemburu terus cuekin kamu jadinya kaki kamu sakit karna maksa jalan ngikutin aku."
"kamu cemburu? 😟" bingung ku.
"iya... 😞"
"kamu cemburu kenapa? 😟" aku makin bingung sama ucapan Agas.
"ya karna kamu tadi bilang lihat Zian!" pekik Agas dengan wajah manyun.
"selalu aja Zian! apa-apa Zian! kemana-mana Zian! lagi sama aku pun kamu masih... aja mikirin Zian! aku nggak suka. 😤" rengek Agas penuh amarah.
"😐" aku hanya bisa diem lihat tingkah menggemaskan Agas.
"aku nggak suka kamu selalu mikirin Zian! terus kamu malah bilang kalau besok kamu mau ketemuan sama Zian."
"ada hal penting yang harus aku bicarain sama Zian Gas..." aku coba menjelaskan.
"kalau gitu besok aku mau ikut kamu!" ucap Agas tiba-tiba.
"aku nggak bisa ajak kamu. aku nggak mau kamu sama Zian perang dingin lagi." tolak ku.
"pokoknya aku tetep mau ikut kamu! aku yg bakalan anterin kamu buat ketemu sama Zian besok!" kekeh Agas.
"terserah kamu aja lah." aku mulai pusing.
KRIIIING...
Dea menelpon Agas.
"kalian dimana?" tanya Dea langsung.
"salam dulu kali. 🙄" ketus Agas.
"hehehehe... lupa. assalamu'alaikum."
"wa'alaikumsalam. kami di depan toko xxxxx."
"oh oke. aku ke sana."
"iya."
tak lama Dea datang.
"temen-temen..." teriak Dea sambil berlari kecil ke arak aku & Agas duduk.
"lama banget?!" ketus Agas.
"rame banget gila... sakit sampekan kaki aku berdiri lama. 😫" keluh Dea.
"kamu nggak apa-apa?" tanya ku sedikit khawatir.
"i'ts okay I'm fine. 😊"
"kan aku udah bilang kamu nggak usah antri nanti yang ada kaki kamu sakit, tapi kamu nggak mau dengerin aku! bandel banget!" ketus ku kesal.
"hehehehe... aku nggak apa-apa kok tenang aja... ini burgernya." Dea membagikan burger ke aku & Agas.
"eh pas banget cuy udah ada minuman sama cemilannya. siapa yang beli?" Dea menatap ke arah ku lalu ganti menatap ke arah Agas.
"aku yang beli, sekalian tadi beli obat buat kakinya Amara." ucap Agas.
"emangnya kaki kamu kenapa Ra?" tanya Dea dengan mulut penuh makanan lalu melihat ke arah kaki ku.
"nggak apa-apa kok. kaki aku cuma keram aja karna dari tadi keasikan jalan terus. 😁" sahut ku santai biar Dea nggak cemas.
"mana sini aku lihat..." ucap Dea sedikit khawatir lalu melihat ke bawah kaki ku & menyentuhnya pelan.
"ya ampun Amara... 😱" pekik Dea.
"kaki kamu kok bisa bengkak gitu? emangnya kamu sama Agas jalan kemana aja sempek bisa bengkak gini." marah Dea sembari menyentuh-nyentuh kaki ku.
"aw..." pekik ku tertahan.
"sakit banget ya?"
"enggak kok Dea. cuma keram doang bentar lagi juga enakan. 🙂"
"nggak usah mau coba-coba buat ngibulin aku ya Amara. aku tau ini tu pasti sakit banget kan. 🙁"
"nggak Dea..." aku coba meyakinkan Dea kalau aku baik-baik aja.
"ya udah kita pulang aja yuk, nggak jadi aja belanjanya kapan-kapan aja kalau kondisi kamu udah membaik." ucap Dea lalu merapikan pelastik makanan kami.
"aku nggak apa-apa kok Dea aku masih sanggup buat jalan & temenin kamu belanja, lagian kita nanti nggak ada waktu lagi buat belanja besok aku mau ketemu Zian lusanya kita mau ke Zoo habis itu pulang. jadi cuma ini waktu kita buat jalan-jalan."
"kamu yakin nggak apa-apa?" gumam Dea.
"nanti kaki kamu makin bengkak lo Ra kalau kamu maksain buat jalan." sambung Agas.
"tenang aja nanti kalau udah sampek di rumah kakinya aku rendem pakek air hangat sama rempah." aku coba menenangkan Dea & Agas.
"ya udah, tapi kalau nanti kaki kamu kerasa sakit bilang sama aku biar kita istirahat." ucap Dea.
"iya kesayangan ku." sahut ku lalu mencubit gemas pipi Dea.
kami bertiga pun pergi kepusat perbelanjaan yg ada di sekitaran jalan kota buat beli & cari beberapa oleh-oleh buat di bawa pulang sama beberapa baju buat di pakai di sini. susah payah aku coba buat jalan & nemenin Dea belanja karna aku nggak mau bikin Dea sedih & kehilangan semangat liburannya.
setelah puas belanja kami pun pulang, gitu sampek di rumah Agas aku mutusin buat langsung ke kamar & istirahat karna selain capek kaki aku juga masih kerasa agak nggak nyaman & sedikit sakit.
...
"aku mau langsung ke kamar ya." ucap ku.
"kenapa?" tanya Dea dengan nada khawatir.
"nggak apa-apa kok aku cuma mau istirahat aja sekalian pijetin kaki aku."
"makan dulu Ra." ajak Agas.
"nggak usah nanti aja." aku berjalan pelan-pelan menuju kamar.
"kamu beneran nggak apa-apa kan Ra... kaki kamu sakit nggak...?" Dea berteriak.
"aku nggak apa-apa kok Dea. nanti kalau udah enakan aku turun." sahut ku sedikit berteriak.
CEKREAK...
aku membuka pintu kamar, masuk kedalam kamar & langsung merebahkan tubuh ku di atas kasur.
"hah... 😩" aku menghela nafas pelan.
"capek banget... tulang aku rasanya remuk semua mana ni kaki dari tadi cenut-cenut mulu rasanya. 😔" gumam ku sambil mecari handpone ku di dalam tas.
"ih... mana ya HP aku?" gumam ku sedikit kesal.
"susah amat di ambilnya sih! mana ya? perasaan ada di dalam tas deh."
"oh ini dia..." aku menemukan handphone ku & langsung buka APL Whatshap buat chat Zian.
(assalamu'alaikum.)
cukup lama aku nunggu sampai akhirnya di balas sama Zian.
(wa'alaikumsalam.)
__ADS_1
(kamu lagi apa?)
(santai. baru siap masak buat makan malam nanti.)
(oh...)
(kenapa Ra? tumben sore-sore gini udah chat aku.)
(emangnya kalau sore aku nggak boleh chat kamu ya. 😤)
(hahahaha... nggak gitu Ra. ya tumben aja kamu sore-sore gini chat aku.)
(aku lagi di Australia. 😊)
(really?)
(iya... aku ikut Dea liburan ke rumah Agas. 😊)
(oh...)
(iya.)
(jadi ini kamu lagi di rumah Agas?)
(iya.)
(emmmmh.)
(besok ketemu yuk. 😊)
(maksudnya. 🤔)
(kita ketemu.)
(kamu serius Ra. 😊)
(iya aku serius.)
(mau ketemu di mana?)
(di Syndey aja. tadi aku juga barusan ke Sydney sama Dea sama Agas.)
(kenapa nggak bilang sama aku kalau kamu ke Sydney tadi.)
(tadi itu metimenya Dea jadi aku mau satu harian tentang kesukaan dia semua.)
(oh... emangnya kamu ini di mana?)
(apa ya namanya aku lupa. 🤔 Wangga warga? Waga waga? aku lupa namanya. 😁)
(Wagga wagga Ra...)
(iya kali ya. 😁)
(ya udah kalau gitu besok kita ketemuan di taman pusat kota. nanti aku kabarin kamu lagi.)
(ya udah, aku mau istirahat dulu. night Zian.)
(to Amara... nice dream.)
selesai chatan sama Zian aku mutusin buat tidur sebentar baru bersih-bersih & turun buat makan.
"Amara kok nggak turun-turun?" ucap Dea.
"dia pasti kecapean & kakinya juga pasti masih sakit." sahut Agas sambil coba buat nelpon Maminya.
"..."
"wa'alaikumsalam. Mami sama Tante kemana? kok pada belum pulang?"
"..."
"oh ya udah kalau kayak gitu." Agas memustus panggilan telepon.
"why?" tanya Dea sambil menatap Agas.
"Mami bilang mereka pulang malam karna lagi macet terus mau makan di luar, kamu di suruh panasin makanan."
"iya."
"ya udah aku mau panasin makanan dulu." Dea mempersiapkan peralatan.
"Amara nggak usah di bangunin nanti biar aku yang anterin makanannya ke atas sekalian bantu dia buat obatin kakinya." saran Agas.
"oke... oh iya aku pinjem laptop kamu ya buat kirim Email ke Papi."
"iya."
selesai makan Dea langsung ke kamar Agas buat pakai laptop Agas & Agas langsung bawain makanan ke kamar Dea buat aku.
"Ra..." panggil Agas pelan.
"dia tidur." Agas masuk ke dalam kamar perlahan & meletakan nampan di atas meja.
"kamu pasti capek banget ya Ra? sampek dengkur gitu tidurnya. 🙂" gumam Agas.
"Ra bangun. makan dulu yuk." ucap Agas pelan sembari membelai lembut rambut ku.
"emmmh..." aku menggeliat kecil & mulai membuka mata perlahan.
baru buka mata sedikit aku langsung kaget gara-gara muka Agas deket banget sama muka aku, dia duduk di lantai pas di sebelah kepala aku & gitu aku buka mata langsung natap mata besar dia.
"😳"
"makan dulu." ucap Agas santai.
"kamu ngapain di sini." tanya ku bingung lalu sedikit menarik kepala ku buat menjauh dari wajah Agas.
"bangunin kamu." sahut Agas santai lalu mendekatkan wajahnya lebih dekat ke wajah ku.
"Agas..." pekik ku ketakutan lalu beranjak bangun.
"🙂" Agas hanya tersenyum simpul.
"makanan kamu ada di meja kamu makan dulu, aku mau siapain air hangat buat kamu." Agas beranjak pergi.
"iya." aku langsung duduk di dekat meja & niat mau makan.
"oh... aku lupa." ucap Agas dengan suara kuat lalu berbalik.
"😐" aku memutar kepala ku kebelakang buat lihat Agas yang berdiri di belakang ku.
"rempah apa aja yang harus aku masukin ke dalam airnya?" tanya Agas yang berjongkok di samping ku & langsung mendekatkan wajahnya ke wajah ku.
hidung kami bersentuhan & kami bisa mendengar suara nafas satu sama lain, pipi ku langsung merona & rasanya jantung ku mau meledak. sedikit demi sedikit Agas mulai memiringkan kepalanya & memejamkan matanya seperti berniat mencium bibir ku.
"ja-jahe. 😳" ucap ku tebata-bata dengan mata yang melotot.
"terus?" ucap Agas dengan suara lembut.
"se-sereh." gumam ku pelan dengan mata yang perlahan ikut mulai tertutup juga.
"terus?" tanya Agas makin mendekatkan wajahnya.
"je-jeruk nipis." gumam ku dengan suara yg sedikit bergetar & aku meremat kuat kain ambal yang sedang aku duduki.
"terus." Agas makin mendekatkan bibirnya ke bibir ku.
"u-u-udah..." suara ku makin bergetar & aku takut banget buat gerakin bibir ku.
"kalau gitu kamu tunggu sebentar." Agas pun berlalu pergi.
kepergian Agas sontak buat aku langsung membuka mata & memasang raut wajah kecewa. rasanya aneh di satu sisi aku takut di cium Agas tapi di sisi lain hati ku kayak menginginkan ciuman itu.
ampun Amara... apa sih sebenrnya yang lagi ada di otak kamu & apa sebenernya yang lagi kamu lakuin ini! kamu itu plin plan banget tau nggak sih & kamu itu kayak nggak bisa ngarahin hati kamu sendiri. 😫
"nyebelin banget sih!" gumam ku kesal sambil makan dengan lahapnya.
"nggak jelas banget sih! mau apa dia tadi coba kayak gitu! aneh emang!" aku marah-marah dengan mulut penuh makanan.
"lagian kamu ini sebenernya kenapa sih Amara nggak jelas juga deh! ngapain juga kamu berharap tentang hal-hal yang nggak masuk akal kayak gitu?! dapet fikiran dari mana coba kamu Amara sampek otak kamu jadi mesum banget gini!" aku ngomelin diriku sendiri & beberapa kali mukul kepala ku pelan sambil tetep makan.
__ADS_1
"kamu kenapa ngomong sendirian kayak gitu?" tanya Agas yang tiba-tiba aja dateng bawa baskom berisi air hangat & rempah-rempah.
"siapa yang ngomong sendirian?!" ketus ku.
"kamu."
"aku nggak ngomong sendirian kok!" aku makin ketus.
"lah terus kamu ngomong sama siapa Amara... orang kamu cuma sendirian di kamar ini. 😕" bingung Agas.
"aku nggak ngomong sendirian tau! orang aku lagi ngomong sama sendok ini kok." ngasal jawab karna kesel.
"ya ampun Amara... 😱" pekik Agas.
"lah kan yang lagi sakit itu kaki kamu kenapa otak kamu juga jadi eror gitu Ra..."
"apaan sih kamu!" pekik ku kesal.
"udah-udah sana pergi! keluar! aku mau makan habis itu tidur! 😡" usir ku penuh emosi.
"loh. kok kamu malah usir aku?"
"suka-suka aku dong!" ketus ku.
"aku kesini kan buat obatin kaki kamu, buat bantuin kamu lo Ra. kenapa malah tiba-tiba kamu usir sih." keluh Agas.
"lagian kenapa kamu tiba-tiba jadi marah gini ke aku?" tanya Agas yang makin bingung.
"udah sana kamu keluar! aku bisa obatin kaki aku sendiri kok! lagian juga aku lagi nggak mau lihat kamu! 😤" ketus ku semakin kesal.
"lah kenapa? why? 😕" tanya Agas.
"nggak ada alesan! cuma lagi nggak pengen lihat kamu aja!" ketus ku.
"oh come on Amara."
"udah ah sana keluar!" aku mendorong-dorong punggung Agas & mengusirnya.
"No! aku nggak mau keluar." kekeh Agas sambil mempertahankan tubuhnya agar tak bergeser.
"out..." pekik ku makin kesal.
"NO!" pekik Agas membantah.
"whait Amara." ucap Agas lalu memegang kuat pergegalangan tangan ku & menghentikan pergerakan ku.
"apa. 😡" sinis ku sambil melotot.
"jangan-jangan... kamu tiba-tiba jadi marah gini karna tadi nggak jadi aku cium ya?" celetuk Agas dengan konyolnya.
"ih...! apaan sih!" pekik ku dengan wajah merona lalu mendorong tubuh Agas sampai dia tergeletak di lantai.
GEREBUK...
Agas terbanting di atas lantai.
"aw..." pekik Agas kesakitan.
"Agas..." pekik ku khawatir.
"sakit Amara..." rengeknya.
"kamu nggak apa-apa? maaf aku nggak sengaja tadi..." ucap ku khawatir lalu mendekati Agas.
"are you okay?" aku kembali bertanya.
"I'm okay. sini berbaring di sebelah aku." ucap Agas sambil menepuk-nepuk lengan atasnya.
"apa. 😨" aku sontak terkejut.
"sini... tidur di sebelah aku."
"nggak mau." tolak ku langsung.
"aku nggak bakalan apa-apain kamu kok Ra. aku cuma mau ngomong sama kamu."
"tap-tapi..."
"ya udah kalau kamu nggak mau. aku keluar aja." Agas mau beranjak.
"jangan..." aku langsung merebahkan tubuh ku di sebelah Agas & bantalan di tangannya Agas.
"good girl."
"🙂" aku tersenyum kecil dengan wajah yang merona & terasa panas.
"Ra..." panggil Agas.
"iya."
"kamu tau nggak."
"apa."
"tadi itu aku beneran mau cium kamu tau." ucap Agas dengan santainya.
"hah. 😳" aku langsung melotot & menatap ke arah Agas.
"pasti sekarang ini di dalam hati kamu lagi bertanya-tanya kenapa aku nggak cium kamu kalau emang aku tadi niat mau cium kamu." ucap Agas.
"nggak kok." aku ngeles & langsung mengalihkan pandangan dari Agas.
"kamu mau tau nggak alesan kenapa aku nggak jadi cium kamu padahal aku mau cium kamu." pancing Agas.
"nggak." sinis ku.
"yakin..." goda Agas.
"iya." sinis ku.
"kamu tau nggak Ra?" Agas membuka topik.
"tau apa?" sahut ku sedikit penasaran.
"waktu ketemu kamu kemarin setelah sekian lama kita nggak ketemu tiba-tiba aja aku langsung punya perasaan pengen banget bisa peluk kamu erat-erat,cium kamu & bibir kamu."
"Agas..." gumam ku salah tingkah.
"tapi aku takut Ra, aku takut kalau nanti kamu bakalan jadi marah & benci sama aku karna aku udah ambil ciuman kamu tanpa seizin dari kamu. makannya aku cuma berani buat ngecup kening kamu doang & simpen perasaan ini sendiri aja karna aku mau kamu sendiri yang kasih itu semua buat aku."
"tapi aku..." gumam ku.
"aku tau Ra, aku tau kamu nggak akan bisa kasih itu semua ke aku karna hati kamu lebih milih Zian di bandingkan aku. aku tau tentang semua itu Ra." ucap Agas dengan senyum kecut.
"kamu salah Gas." gumam ku pelan.
"hah..." gumam Agas.
"hati aku juga milik kamu Agas." ucap ku langsung memeluk erat Agas dari samping & memejamkan mata.
"Amara..." gumam Agas.
"itulah yang selama ini selalu bikin aku bingung & bimbang setiap waktu antara kamu & Zian karna jujur aja hati aku menginginkan kalian berdua. aku sadar ini semua terdengar egois & aku kayak perempuan jahat & serakah yang nggak bisa nentuin hatinya sendiri & malah mau dua-duanya tapi emang ini kenyataannya karna hati aku nggak bisa nentuin harus berlabuh sama siapa." keluh ku dengan mata berkaca-kaca.
"aku bahkan sempet mutusin buat jaga hati Zian, tapi aku juga nggak bisa lepasin kamu aku nggak mau kehilangan & hidup tanpa kamu Agas. aku selalu ngerasa takut setiap waktu karna kalau nantinya setelah aku jaga hati Zian akhirnya aku bakalan kehilangan kamu." tangis ku pun pecah.
"Amara..." Agas memeluk ku dengan erat.
"aku sayang kamu Agas... tapi aku juga sayang Zian... aku harus gimana? aku nggak bisa hidup tanpa kalian berdua. 😭" tangis ku semakin pecah.
"cup Amara... udah jangan nangis lagi." pujuk Agas sembari mengelus lembut rambut ku.
"aku janji demi hidup aku kalau aku nggak bakalan ninggalin kamu apapun yang terjadi. walaupun pada akhirnya kamu sama Zian nantinya aku bakalan tetap selalu ada di hati kamu & nggak ada satu orang pun yang bisa bikin aku jauh dari kamu." ucap Agas penuh makna.
"Agas..." gumam ku sambil menatap dalam ke mata Agas.
"cinta ini sampai kapan pun hanya untuk kamu Amara anggraini. walaupun kamu nggak milih aku tapi cinta aku bakalan selalu milih kamu & jadi milik kamu selamanya."
"aku sayang kamu." ucap ku dengan suara bergetar lalu memeluk erar Agas.
"aku juga sayang kamu Amara." Agas balas memeluk ku & mengecup lama puncak kepala ku.
__ADS_1
cukup lama kami dalam posisi itu & hanya saling diam, satu sama lain seolah berada di dunia masing-masing & dalam lamunan masing-masing sampai akhirnya tanpa sadar aku tertidur lelap. saat aku bangun pagi harinya tiba-tiba aja aku udah ada di atas tempat tidur di sebelah Dea.