Pure Love (Takdir Cinta)

Pure Love (Takdir Cinta)
Kecemburuan yang berapi-api.


__ADS_3

biasanya Agas bakalan langsung panik kalau lihat aku nangis apa terluka, tapi kali ini kayaknya enggak deh. soalnya dia masih aja diem & mejemin matanya tanpa menggubris kehadiran ku & suara isakan tangis ku.


...


"thanks." Agas turun & membayar taxi.


"sure." ucap supir taxi.


dalam tangis aku turun perlahan dari taxi & coba mengejar Agas untuk bicara sama dia tentang sifat aneh dia hari ini.


"Agas..." panggil ku sambil berlari namun di acuh kan Agas.


"Agas tunggu..." aku menarik tangan Agas.


"apa." ketus Agas.


"kamu. kenapa? kenapa tiba-tiba. marah sama. aku." tanya ku sambil terisak.


"aku nggak marah sama kamu & berhenti nangis! aku nggak mau yang lain nanti salah paham karna lihat kamu nangis." Agas masih aja ketus.


"aku nggak bakalan nangis kalau kamu nggak diemin & marahin aku." kesal ku.


"kenapa kamu marah! harusnya yang marah itu aku!" sinis Agas lalu dia berjalan masuk ke rumah.


"Agas tunggu..." aku menarik tangan Agas.


"kalau emang kamu marah sama aku ngomong tapi jangan diem aja kayak gini. aku nggak bisa kamu diemin gini." tangis ku makin pecah.


"percuma aku ngomong! kamu nggak akan paham!" bentak Agas.


"Agas..." aku sontak langsung terdiam & terduduk lemas di lantai karna bentakan Agas.


"jangan ganggu aku!" ketus Agas berlalu pergi.


"Amara..." pekik Dea saat melihat ku duduk di lantai & menangis.


"kamu kenapa Ra?" Dea langsung menghampiri ku.


"Dea..." tangis ku pun makin pecah.


"bibir kamu kenapa bedarah?" tanya Dea khawatir.


"Mi... ambilin kotak obat Amara luka." teriak Dea ke Maminya.


"Amara kenapa Dea..." tanya Maminya Dea berlari ke arah ruang depan di ikuti Maminya Agas.


"Agas... Amara kenapa?" tanya Maminya Agas yang langsung menghentikan langkah Agas.


"Agas nggak tau." ketus Agas.


"gimana bisa kamu nggak tau, kalian kan pergi berdua tadi. kamu gimana sih Gas Mami suruh jagain Amara tapi malah Amaranya luka gini." marah Maminya Agas.


"itu cuma luka kecil kenapa harus di ributkan!" Agas makin ketus.


"luka kecil kata kamu! bibir Amara robek & darahnya banyak banget Agas!" pekik Dea dengan marah.


"apa." mata Agas langsung membulat & sekektika berbalik untuk melihat ku.


aku sendiri juga nggak sadar seberapa lebar & dalam luka di bibir ku karna seolah aku nggak bisa ngerasain rasa sakit selain yang terasa di hati ku. Agas langsung berlari & berlutut di depan ku buat lihat luka ku.


"Amara... kenapa bisa sampai kayak gini!" marah Agas dengan panik.


"ambilin kotak obat cepetan! darahnya banyak banget ini!" pekik Agas kebingungan.


"jangan sentuh aku!" pekik ku marah lalu mendorong tubuh Agas.


"Amara..." gumam Agas.


"luka ini nggak sesakit hati aku!" gumam ku.


"maafin aku. aku... aku tadi bener-bener nggak bisa kendaliin emosi aku Ra." ucap Agas dengan wajah bingung & bersalah.


"jangan sentuh aku!" aku makin marah.


"Dea... aku mau pulang..." tangis ku makin pecah.


"ada apa ini sebenernya?" tanya Maminya Dea.


"ayo kita pulang... sekarang..." rengek ku sambil memeluk Dea.


"Amara..." Dea coba menenangkan ku.


"jangan gini Amara... please jangan kayak gini. jangan bikin aku ngerasa bersalah." gumam Agas.


"Amara mau pulang Bukde... ayo kita pulang sekarang..." aku makin menangis.


"kalian ini kenapa sebenernya? ada apa sampek kalian berantem kayak gini?" tanya Maminya Agas.


"maafin aku Ra... aku tau aku salah aku udah marah-marah ke kamu bahkan bentak kamu & udah lukain hati kamu, tapi tolong jangan tinggalin aku dalam keadaan kayak gini." Agas meminta maaf & menggenggam erat tangan ku.


"Aku mau pulang..." rengek ku dalam tangis.


"jangan Ra jangan kayak gini tolong." keluh Agas.


"aku akuin aku salah, aku marah, aku udah lukain hati kamu. tapi tolong jangan tinggalin aku dalam kondisi kayak gini." Agas bangkit & berdiri.


"rasanya sakit Gas! bentakan kamu, diemnya kamu, marahnya kamu itu lukai hati aku." keluh ku.


"cukup Amara! cukup!" bentak Agas.


"kamu kira hati aku nggak sakit! aku nggak terluka?! aku harus lihat kamu pelukan seerat itu sama Zian & lihat dia bolak-balik cium kamu! aku juga lihat kamu cium dia dengan penuh cinta! kamu kura aku nggak sakit!" amarah Agas pecah.


"aku mudah cemburu aku akuin itu, tapi kali ini yang aku rasain bukan cuma cemburu Amara anggraini. tapi hancur! aku hancur lihat itu semua Ra...! aku hancur lihat orang yang paling aku cintai ada di dalam pelukan orang lain & bahagia di sana!"


"rasanya di saat itu juga aku pengen banget bunuh Zian & bawa kamu pergi! aku selalu ngerasa kamu nggak bahagia kalau sama aku & kamu bahagia kalau sama Zian. aku selalu ngerasa gagal buat bahagiain kamu Ra..." tangis Agas pecah.


"kamu salah Gas." gumam ku pelan.


"aku selalu ngerasa lebih bahagia kalau di deket kamu, senyum sama tawa aku lebih lepas kalau aku lagi sama kamu & aku selalu ngerasa bahagia kalau di deket kamu." ucap ku lirih.


"Amara..." gumam Agas dengan suara yang bergetar.


"aku mau ke kamar. 😔" aku langsung beranjak ke kamar.


"Ra... luka kamu aku obatin dulu." teriak Dea.


"aku mau sendiri." sahut ku yang terus berjalan ke kamar.


aku masuk ke dalam kamar & membaringkan tubuh ku lalu mencoba untuk tidur. rasanya cukup lama aku tidur sampai aku tiba-tiba terbangun karna mendengar samar-samar seperti ada suara orang yang sedang bicara.


"aku sayang banget sama kamu Ra." ucap Agas sembari mengelus lembut wajah ku.


"aku cemburu lihat kamu sama Zian Ra, hati aku meronta karna nggak rela kamu bahagia di dalam pelukannya Zian! aku mau cuma aku satu-satunya orang yang bahagiain kamu & kamu bahagia cuma di pelukan ku. aku nggak rela ciuman kamu kamu kasih ke orang lain Ra."


"hati aku hancur Ra!" keluh Agas.


"kamu mau apa ke sini." gumam ku lalu membuka mata.


"kamu udah bangun? aku ke sini mau lihat kamu." ucap Agas lembut.


"tapi aku nggak mau lihat kamu. 😒" sinis ku lalu aku membalik badan & memunggungi Agas.


"ganti baju sana, baju kamu ada noda darahnya. habis itu nanti aku obatin luka kamu." titah Agas.


"nggak mau!" bantah ku.

__ADS_1


"jangan membantah & jangan bandel. nanti luka kamu bisa infeksi."


"biarin aja! aku nggak perduli!" ketus ku.


"ya udah kalau emang kamu kekeh nggak mau! aku pergi aja." Agas mau beranjak.


"kamu mau kemana?" aku bertanya dengan perasaan malu.


"mau pergi."


"kemana?"


"emmmm... 🤔 ke motel mungkin."


"kenapa kamu mau pergi ke motel?"


"ya karna kamu tadi bilang nggak mau lihat aku. ya udah aku ke motel aja."


"ya udah pergi sana." ketus ku.


"ya udah aku pergi. besok kalau kamu pulang kamu hati-hati ya."


"jangan pergi..." rengek ku.


"aku nggak pergi kok... ya udah ganti baju dulu sana aku mau ambil makanan sama kotak obat.


Agas turun buat ngambil makanan sama kotak obat sementara aku ganti baju & bersih-bersih.


...


"obatin dulu lukanya baru makan." titah Agas.


"iya."


"aw..." pekik ku saat Agas membersihkan luka di bibir ku.


"sakit ya?" tanya Agas khawatir.


"iya..." rengek ku.


"lukannya kok bisa sampek sebesar ini si Ra? emangnya pas kamu gigit sendiri nggak sakit apa?" tanya Agas sambil membersihkan luka ku.


"sakit sih... tapi nggak terlalu kalau di bandingkan sakit di sini." aku memegang dada kiri atas ku.


"maafin aku. 😔"


"aku udah maafin kamu kok. 😊"


"beneran kamu udah maafin aku. 😊" Agas terlihat bahagia.


"iya..."


"syukur lah kalau gitu, sekarang aku tenang karna kamu udah nggak marah lagi sama aku." ucap Agas lega.


"Ra-Ra... kan mendingan aku yang gigit bibir kamu. pasti rasanya nggak sakit & nggak bakalan sampek berdarah kayak gini. 😏" celetuk Agas.


"apaan sih!" marah ku lalu mukul pundak kanan Agas.


"aw... sakit Ra..." rengek Agas.


"makannya kamu tu jangan ngomong yang enggak-enggak kalau nggak mau di pukul! 😒" ketus ku.


"ya kan omongan aku nggak salah sih." ledek Agas.


"AGAS...!" pekik ku makin kesal.


"Ra..."


"iya..."


"aku cinta kamu."


rasanya aku nggak bisa buat bilang kalau aku juga cinta sama Agas karna tadi aku udah bilang cinta ke Zian. rasanya aku takut buat menghianati ucapan cinta aku ke Zian & aku ngerasa nggak berani buat ngucapin itu.


"cinta kamu udah kamu utarain ke Zian ya?" ketus Agas.


"..." aku masih hanya bisa diam.


"aku ngerti keadaan ini kok."


"ngerti apa?"


"aku ngerti kalau emang bener hati kamu buat Zian itu lebih dalam di bandingkan buat aku. aku sadar emang mungkin aku belum beruntung kali ini & masih jauh dari hati kamu."


"Agas..." gumam ku.


"tapi tolong Ra, tolong jangan pernah minta aku buat berhenti perjuangin cinta ini & berhenti berusaha buat dapetin hati kamu. karna sampek kapan pun aku nggak bakalan berhenti buat perjuangin cinta aku ke kamu sampek aku bisa dapetin kamu."


"Agas..."


"iya."


"biarin semua mengalir kayak gimana mestinya, kalau emang takdir kita berdua pasti kita akan bersatu. tapi tolong jangan paksain diri kamu buat berjuang kalau akhirnya nanti kamu bakalan terluka. aku mau kita ngikutin alurnya & berjalan kayak gimana mestinya karna aku nggak mau maksain hal yang nggak semestinya terjadi." ucap ku.


"aku nggak mau ngikuti alur yang nantinya bakalan nuntun kamu sama orang lain, aku cuma bakalan kecewa lihat cerita itu. aku mau buat jalan aku sendiri Ra, jalan yang bisa bikin aku nemuin kamu." ucap Agas penuh makna.


"maaf Ra kali ini aku terpaksa ngelakuin ini walaupun tanpa izin dari kamu. karna aku nggak mau orang lain yang dapetin itu sebelum aku." ucap Agas tiba-tiba.


"maksudnya. 😕" bingung ku.


sepersekian detik tanpa aba-aba bibir Agas udah nempel di bibir ku, mata ku langsung membuka lebar & otak ku seketika blank. perasaan ku jadi campur aduk antara mau marah tapi ngerasa nyaman di sisi lainnya.


ciuman itu terasa hangat, bibir tebal & hangat milik Agas seolah menyihir ku dalam membawa ku merasakan perasaan luar biasa yang aku sendiri nggak bisa jelaskan. mata ku perlahan menutup seirama dengan bibir kami yang terus menempel & merasakan kehangatan satu sama lain.


"aku cinta kamu." hembusan nafas Agas seolah menyihir ku dalam diam.


"jangan pernah pergi dari aku walaupun kamu memilih orang lain. tetap lah jadi Amara ku yang selalu bisa aku peluk & pandang kapan pun."


"jangan pernah tinggalin aku walaupun aku jadi milik orang lain, mungkin ini terdengar egois & jahat tapi aku bener-bener nggak bisa kalau harus kehilangan kamu. aku memang belum bisa bilang cinta & lainnya tapi kamu pasti tau hati aku juga punya kamu." ucap ku penuh makna.


"I love you Amara. I love you." Agas memeluk ku erat & aku juga membalas pelukannya.


"maafin aku karna tadi aku udah marah-marah bahkan bentak kamu, tapi aku bener-bener nggak ada niat buat ngelakuin itu ke kamu. semua itu karna aku cemburu & nggak bisa kendaliin emosi aku. aku bener-bener minta maaf Ra..." Agas meminta maaf dengan penuh penyesalan.


"aku udah maafin kamu." aku menepuk-nepuk punggung Agas lembut.


"aku boleh cium kamu lagi?" Agas bertanya dengan polosnya.


"jangan coba-coba ambil kesempatan ya Gas. 😒" ketus ku.


"hah..." Agas menghela nafas panjang.


"tau gitu tadi ciumannya aku lamain. 😒"


"Agas..." pekik ku dengan wajah merona.


"pergi tidur sana, kamu besok kan mau pergi jalan-jalan." titah Agas lalu dia beranjak.


"kamu besok ikut kan?" tanya ku manja sambil menarik lengan Agas.


"aku nggak bisa ikut kamu jalan-jalan besok." Agas jongkok di depan ku.


"kenapa...?" kecewa ku.


"besok aku ada urusan penting."

__ADS_1


"urusan apa? emangnya nggak bisa di tunda urusannya? 😔" aku makin kecewa.


"maaf ya kesayangan ku, aku nggak bisa nunda urusan ini karna ini masalah kerjaan Papi." Agas meminta maaf.


"tapi aku mau habisin waktu sama kamu sebelum pulang." rengek ku.


"ya udah kalau gitu malam ini aku temenin kamu sampek kamu tidur. kita habisin waktu berdua mau?"


"mau..." aku langsung mengangguk senang karna ngerasa udah nggak ada pilihan lain.


kami berdua banyak ngobrol & entah tentang apa aja sangking banyaknya topik, sepanjang malam cuma suara tawa yang terdengar dari kami berdua & sepanjang ngobrol isi obrolan kami cuma candaan aja. nggak tau sampek jam berapa akhirnya aku tidur & nggak tau kapan Agas gendong aku lagi buat pindahin aku ketempat tidur.


kita singkat aja ceritanya jadi 2 hari setelahnya di mana hari itu kami pulang ke Indonesia karna libur sekolah kami hampir selesai.


...


"pagi..." sapa Agas yang tiba-tiba nongol di depan pintu kamar.


"pagi." sapa ku balik.


"udah siapa semua?"


"udah tinggal berangkat. 🙂"


"kamu beneran mau pulang? 😞" Agas bertanya dengan wajah sedih.


"iya... soalnya aku udah kangen banget sama masakan Umma. 😍"


"kamu yakin nggak mau tinggal di sini aja sama aku." celetuk Agas.


"😅 apaan sih kamu."


"aku nggak mau jauh dari kamu lagi..." rengek Agas manja sambil memeluk ku.


"uluh uluh uluh... bayi besar ku..." celetuk ku.


"jangan pulang..." rengek Agas.


"aku harus pulang Agas... kamu masih aja ya manja kayak bayi. 😁"


"cuma sama kamu aku manja & ngerasa kayak bayi." celetuk Agas.


"hahahaha..." aku terbahak.


"kita kan masih bisa ketemu waktu liburan, jadi jangan manja gini & bikin aku susah buat tinggalin kamu." aku menangkup wajah tembam Agas.


"cium..." rengeknya.


"hah... 😨" aku terkejut.


"cium...! kayak kamu cium Zian kemarin!" rengeknya memaksa.


"tap-tapi..." aku gugup.


"CIUM!!!"


"ssstt... jangan kuat-kuat nanti yang lain denger. nanti di kira apaan." aku panik.


"biarin aja! pokoknya aku mau cium...!"


akhirnya dengan terpaksa walaupun nggak keberatan aku mencium pipi kiri Agas biar dia nggak berisik minta cium terus & bikin orang salah paham nantinya.


"yang kanan." ucap Agas tiba-tiba.


"nggak mau!" bantah ku.


"kemarin aku cuma cium pipi Zian sebelah doang jadi ya pipi kamu juga sebelah doang."


"nggak mau! kalau kamu cium Zian cuma sebelah doang kalau aku mau dua-duanya." semakin memaksa.


"tapi..."


"CIUM..." rengekan Agas makin menjadi-jadi.


"Agas... jangan kuat-kuat ngomongnya nanti yang lain denger. kalau yang lain nanti salah paham gimana." marah ku.


"CIUM..."


"astaga Agas..."


dengan terpaksa & keberatan akhirnya aku mencium pipi Agas yang sebelah lagi supaya dia berhenti merengek.


"puas..." ketus ku.


"😁"


"cengengesan terus... 😒" ketus ku lagi.


"aku sayang kamu." Agas mencium bibir ku sekilas lalu berlari pergi.


"AGAS..." pekik ku kesal.


"cepetan turun yang lain udah pada nunggu..." teriak Agas sambil berlari turun.


"astaga anak itu..." aku geleng-geleng.


...


"Tante Amara pamit." ucap ku lalu bersalaman sama Maminya Agas.


"mudah-mudahan perjalanannya lancar sampek di Indonesia nanti." Mami Agas memeluk ku.


"aamiin..." sahut ku.


"nanti main kemari lagi ya." Mami Agas mencium pipi ku.


"iya Tante... 😊"


"kami pulang ya." ucap Maminya Dea lalu mereka berpelukan.


"kabarin kalau udah sampek rumah ya kak."


"iya sayang." sahut Maminya Dea.


"sehat-sehat ya semuanya." ucap Dea setelah memeluk Ara & Agas.


"kalian hati-hati di jalan ya... nanti liburan kemari lagi." ucap Ara.


"iya Ara. do'ain kakak banyak rezeki biar bisa ke sini lagi." sahut ku.


"aamiin." ucap Ara.


"gemes..." aku mencubit gemas pipi tembam Ara.


"kabarin aku kalau udah sampek rumah." titah Agas sembari memeluk ku.


"iya..." sahut ku.


"jangan sampek lupa."


"iya bawel..." aku mencubit gemas pipi Agas.


"aku sayang kamu." bisik Agas.


"😊" aku hanya bisa tersenyum.

__ADS_1


kami di antar sama Tante Winata ke bandara.


__ADS_2