Pure Love (Takdir Cinta)

Pure Love (Takdir Cinta)
Perasaan aneh lainnya.


__ADS_3

...


"Bukde..." panggil ku sambil berlari kecil ke arah Maminya Dea.


"lo Ra kok kamu sendiri? Dea sama Agas ke mana?" tanya Mami Dea sambil celingukan.


"nggak tau." sahut ku sambil menaikan bahu.


"tadi katanya Dea mau belanja di toko langgannannya terus ajakin Agas. Amara tadi ketemu Zian sama Mamanya jadi ikut belanja sama mereka." ucap ku.


"jadi kalian misah?"


"iya Bukde. soalnya Mamanya Zian ngajak Amara belanja bareng."


"terus kamu belanja apa aja sayang?" tanya Maminya Dea sambil mengajak ku duduk.


"hehehehe... baru dapet baju buat mas Alkan. 😅" ucap ku konyol.


"lah... jadi baju kamu, Umma sama Abba belum beli?" tanya Mami Dea dengan perasaan lucu.


"hehehe... 😅 belum Bukde." sahut ku malu.


"Amara... Amara... kamu tu ya sayang lucu banget sih." ucap Mami Dea lalu mencubit gemas pipi kiri ku.


"ya udah yuk Mami temenin kamu belanja habis itu baru kita telpon Dea & ajak pulang." ajak Mami Dea lalu beranjak pergi.


kami berkeliling mall cukup lama sampai malam baru pulang stelah mendapatkan barang-barang yang kami mau.


aku menginap di rumah Dea kurang lebih 4 hari lalu pulang karna harus sekolah buat ujian, padahal sebenernya masih mau nginep lama di sana. kami udah mulai ujian buat kenaikan kelas seharusnya aku fokus belajar tapi... aku malah terus-terusan di hadapkan dengan masalah-masalah nyebelin yang bikin fokus ku terbagi & aku jadi moodian. 😩


KRIIIING...


telpon ku berbunyi & itu panggilan dari Zian.


"assalamu'alaikum." aku mengucap salam.


"wa'alaikumsalam." sahut Zian.


"lagi ngapain Ra?"


"mau tidur. 🙂"


"kok cepet banget? masih jam 20 lo?"


"besok aku ujian."


"oh... udah belajar?"


"udah. dari sore belajarnya?"


"cie... yang mau jadi kakak kelas. 😏" ledeknya.


"iya dong... aku berharap banget nanti adik-adik kelas banyak yang cakep. 😍" celetuk ku.


"terus! 😒" ketus Zian.


"ya nggak terus-terus." ledek ku.


"hemmmmh..."


"hahahaha..." aku terbahak.


"nanti jangan genit-genit sama kakak atau adik kelas cowok ya Ra!" ancamnya.


"kenapa...?" sahut ku jail.


"aku cemburu Ra! masih nanyak lagi kenapa!" Zian ngegass 😆"


"terus..." ledek ku semakin menjadi-jadi.


"tau ah! kamu nyebelin!" Zian bicara persis kayak aku 😂"


"ya udah kalau kamu mau tidur, aku juga mau tidur. aku pegel hati sama kamu." celetuknya.


"good night Zi..."


"to." Zian langsung memutuskan panggilan.


"hahahaha... dasar aneh." gumam ku lalu pergi tidur.


...


"libur berapa hari Ra." tanya Umma.


"2 hari Umma." sahut ku sambil makan roti.


"nangung babget Ra." ucap mas Alkan.


"nggak tau tu mas. ujiannya 9 hari tapi malah tiba-tiba libur gini. 😑" kesal ku.


"kenapa libur Ra?" tanya Umma.


"karna pengawas ujiannya ada yang harus pergi seminar ke Medan. jadi mau nggak mau ujiannya harus libur 2 hari."


"kalau gini kapan mau selesainya tu ujian?! belum lagi libur hari minggu. is...! makin lama dong Amara ujiannya!" ketus ku kesal lalu melipat kedua tangan ku.


"Umma..." tiba-tiba terdengar suara barito manis Agas.


"kayaknya Umma kenal sama suara itu. 🤔" celetuk Umma.


"itu mah suara Agas Umma..." sahut ku sambil makan.


"assalamu'alaikum." Agas mengucap salam sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


"Wa'alaikumsalam." sahut kami sekeluarga serentak.


"Gas... sarapan." ajak Abba.


"Agas udah sarapan kok Ba." sahut Agas sambil menyalami Abba, Umma & mas Alkan.


"mau ajak Amara main kemana?" celetuk mas Alkan.


"hehehehe... mas tau aja niat & tujuan Agas kemari. 😅" sahut Agas konyol.


"mau ngapain kamu kemari?!" ketus ku.


"santai dong Ra." sahutnya sebal.


"aku mau ajak kamu ke taman buat jalan santai." ajaknya.


"males ah... aku lagi mager." sahut ku santai lalu meminum susu.


"ayolah Ra..." rengeknya manja.


"dari pada kamu bosen di rumah mendingan kita jalan-jalan ke taman. sekalian refreshing." rayunya.


"hah..." aku menghela nafas berat.


"ya udah. tunggu sebentar aku ganti baju."


"asiiiiik..." teriaknya sambil bertepuk tangan.


"dasar bayi besar manja." gumam ku sambil beranjak pergi.


kami pun berjalan santai ke taman deket komplek rumah ku, suasananya cukup sepi karna ini bukan hari libur cuma ada ibu-ibu yang lagi ajak anak kecilnya & balitanya main sama beberapa orang yang lagi ajak hewan peliharaannya jalan-jalan. kalau hari libur taman ini bakalan rame karna ada 5 komplek yang mengapit taman ini.


"duduk di sana yuk Ra." ajak Agas menarik tangan ku.


"Gas... jangan lari-lari." pekik ku.


"di sini aja kita duduknya." ucapnya sambil duduk.

__ADS_1


"sini Ra..." Agas menepuk-nepuk bangku di sebelahnya & menyuruh aku duduk di sana.


"hah..." aku & Agas menarik nafas dalam & panjang serentak.


"ih sok kompak banget deh." ucap kami serentak lagi sambil saling tatap.


"hahahaha... 😂" lalu kami pun tertawa.


"udaranya seger banget ya Ra." Agas memecah suasana.


"iya... jarang banget bisa nikmati waktu-waktu kayak gini. soalnya kalau hari minggu taman ini ramai penuh sesak." ucap ku sambil memejamkan mata.


"kamu cantik banget Ra kalau lagi kayak gini" gumam Agas dalam hati.


"tumben banget Gas kamu ngajak aku ke sini?" aku memecah keheningan di antara kami.


"emmmh..." Agas menggumam pelan.


"aku..."


"iya." sahut ku pelan.


"aku..." ucap Agas lagi.


"kamu apa?" tanya ku lagi penasaran.


"aku mau ngomong sesuatu ke kamu." Agas bicara dengan cepat.


"uhuk uhuk uhuk..." aku langsung batuk karna kaget denger omongan Agas & juga karna perasaan ku yang tiba-tiba jadi nggak menentu.


"kamu kenapa Ra?" tanya Agas khawatir sambil mengelus lembut punggung ku.


"tunggu bentar aku mau cari minum dulu." ucap Agas sambil beranjak.


"i-iya..." jawab ku sambil menahan batuk.


"kamu tunggu di sini. jangan kemana-mana." Agas berlari pergi untuk mencari minuman.


"duh... kenapa aku tiba-tiba jadi deg-degan gini ya? 😖 aku ini kenapa sih sebenernya?" aku bergumam sambil mengelus-elus dada ku.


"ya kali masak iya aku jadi deg-degan gini cuma gara-gara Agas tadi bilang dia mau ngomong sesuatu sama aku?" gumam ku sambil coba menenangkan diri.


"apa jangan-jangan... dia mau nyatain cinta lagi ke aku? 😱 ah gila kamu Ra! ya nggak mungkin lah..."


"ahahaha... 😅 bener banget itu nggak mungkin! & nggak akan mungikin! gila aja nggak mungkin Agas nyatain cintanya lagi ke aku. karna kan dulu dia pernah bilang kalau dia nggak mau ngerusak persahabatan kami & mau semuanya berjalan kayak gimana harusnya aja." aku terus berperang dengan perasaan & prasangka ku di dalam hati.


"ini minumannya Ra." ucap Agas sambil memberika sebotol minuman.


"ayam!" pekik ku karna terkejut.


"ma-makasih." sahut ku dengan terbata-bata lalu mengambil minumannya dari tangan Agas.


GLEEEEK GLEEEEK GLEEEEK.


suara tegukan Agas saat minum.


mendengar suara itu ku langsung repleks melirik ke arah Agas & tak sengaja aku melihat jakun serta leher besar Agas yang sedang menenggak minuman. mata ku langsung membesar & membulat lebar seketika 😳.


DEEG...


jantung ku tiba-tiba berdetak dengan kencangnya.


"astaga jantung aku kenapa?! 😱" pekik ku dalam hati


"kenapa rasanya jantung ku ini kayak mau meledak! 😨" auto panik.


"calm down Amara calm down... kamu harus tenang jangan mikirin yang nggak-nggak." gumam ku coba menenangkan perasaan ku yang rasanya kayak permen nano-nano, aku terus-terusan memegang kuat dada ku untuk mengontrol detakan jantung ku.


"Ra..." panggil Agas.


"Ra... Amara..." teriak Agas yang langsung menyadarkan ku dari lamunan ku.


"hah... Iya? kenapa?" jawab ku kaget & linglung.


"eee... aku... aku nggak... nggak apa-apa kok." jawab ku terbata-bata & dengan wajah yang merona.


"kenapa pipi kamu jadi merah gitu?" celetuk agas sambil menyentuh pipi ku lembut.


"panas... 😳" gumam ku pelan & pipi ku makin merona.


"apanya yang panas." tanya Agas yang langsung memecah lamunan ku.


"panas... apanya yang panas..." ucap ku panik.


"ya aku nggak tau. kan kamu yang bilang panas tadi." sahut Agas sambil menaikan pundaknya.


"aku... bilang panas? emang iya?" tanya ku yang makin grogi.


"iya."


"oh. ini minumannya panas." celetuk ku asal sambil menunjukan botol minuman milik ku.


"Ra... are you okay?" tanya Agas.


"iya."


"ini minuman dingin Ra baru keluar dari kulkas. lah kenapa kamu bilang panas?" ledek Agas.


"nggak tau ah." ketus ku lalu mengalihkan pandangan dari Agas.


"Amara... Amara..." gumamnya sambil menggeleng pelan.


"udaranya seger banget ya Ra? tempat ini cocok banget buat piknik atau kencan." ucap Agas sambil memejamkan mata & beberapa kali menghela nafas dalam.


"kenapa Agas kelihatan manis banget kalau lagi mejemin mata kayak gitu? 😳" gumam ku dalam hati.


"leher... lehernya ternyata besar & sexy. padahal kan Agas itu cowok absurd yang nggak ada bagus-bagusnya kalau di lihat dari sisi manapun? kenapa hari ini dia jadi kelihatan manis & sexy. 😳" aku terus bergumam dalam hati.


(lah... ni kenapa si Amara jadi mikir gitu ya tentang si Agas? padahal kalian tahu sendirikan Agas itu kayak gimana konyolnya jadi cowok. absurdnya juga parah banget. 🤔 lah terus kenapa sekarang si Amara malah jadi terAgas-Agas gini ya. 😱 heran Lisa sama perasaan si Amara.)


"hmmmm... Gas." aku memecah keheningan & coba menjernihkan fikiran ku dengan ngobrol.


"iya." sahut Agas yang masih mejemin mata & menikmati segarnya udara.


"katanya... kamu... kamu mau ngomongin sesuatu? mau-mau ngomong apa emangnya?" tanya ku dengan gugup.


"oh itu. eee... gimana ya cara aku bilangnya ke kamu?" sahut Agas seperti bingung.


"eee... aku juga bingung bangey harus mulai ngomongnya dari mana Ra."


"ngomong... ngomong aja sih Gas. kamu nggak usah bingung harus mulai dari mana kita kan sahabatan jadi aku bakalan dengerin semua cerita kamu." jawab ku dengan sok bijaknya, padahal mah aslinya aku penasaran banget sama apa yang mau Agas omongin. 😂


"aku... aku..."


"kamu apa?" aku langsung mendesak Agas sangking penasarannya.


"aku... duh gimana ya Ra." bingungnya.


"udah... cerita aja Gas aku siap dengerin apapun cerita kamu kok." aku coba meyakinkan Agas.


"aku Ra... sebenernya aku... aku mau balik ke Australian & sekolah di sana lagi."


"😳" seketika aku mematung & cukup lama terdiam.


"Ra..." panggil Agas.


"kamu... kamu mau balik ke Australia?" tanya ku yang masih seperti setengah sadar.


"iya Ra." sahut Agas lesu.


"tap-tap. tapi kenapa...?" tanya ku lagi dengan perasaan yang tak menentu.

__ADS_1


"Papi dapet proyek besar di China & itu makan waktu kurang lebih 2 tahunan, sementara Mami nggak bisa ikut Papi pindah ke China karna Ara nggak bisa pindah sekolah."


"di Australia semua baru mau mulai ujian, sementara Papi lusa udah pindah ke China. jadi Papi minta aku buat balik ke Australia untuk nemeni & jaga Mami sama Ara." Agas bercerita dengan wajah murung.


aku hanya terdiam mematung & membisu, aku juga semakin kalut mendengar ucapan Agas karna aku langsung membayangkan sedihnya saat harus di tinggalkan olehnya & juga Zian. aku ngggak bayangin gimana hidup aku tanpa mereka berdua yang udah setahun ini jadi bagian cerita hidup ku.


"kamu jaga diri baik-baik di sini ya Ra." ucap Agas sambil mengelus lembut rambut ku.


"kok kamu ngomongnya gitu sih! kayak bakalan pergi sekarang aja!" jawab ku kesal sambil memalingkan wajah.


"aku... aku berangkat besok pagi Ra." jawabnya sambil menangkup wajah ku dengan tangan lembutnya.


"apa!" pekik ku terkejut.


"besok pagi! kamu jangan bercanda deh Gas..." kesal ku makin menjadi-jadi.


"aku nggak bercanda Ra. surat pindah aku juga udah selesai kemarin & aku bakalan pindah sekolah di tahun ajaran baru."


"kenapa kemarin kamu nggak bilang mau pergi! kalau emang kamu udah urus surat pindahnya." pekik ku kesal dengan mata yang berkaca-kaca.


"aku bingung buat ngomongnya ke kamu."


"kenapa cepet banget sih?" gumam ku pelan.


"sekolah di Australia di mulai lebih cepet dari di sini. jadi aku juga harus persiapan buat tahun ajaran baru di sana nanti."


"emmmh..." gumam ku pelan. aku kehabisan kata-kata karna jujur aku ngerasa sedih banget bayangin harus jauh dari Agas. 😭


"maafin aku Ra... sebenernya udah seminggu ini aku berencana pulang & siapin semuanya buat kepulangan aku, aku nggak bisa bilang ke kamu kemarin karna aku nggak mau kamu nantinya sedih makannya aku juga minta Tante sama Dea buat ngerahasian ini dulu dari kamu. sampai aku bener-bener siap buat ngomong langsung ke kamu & hari ini aku kerumah kamu niatnya buat pamitan ke kamu sama keluarga kamu."


"aku cuma mau pesen ke kamu sekarang kan kamu udah kelas 12 jadi kamu harus makin semangat belajarnya biar kamu bisa nyusul Zian kuliah di luar negri. kali aja kan kita jodoh terus kamu di terima di universitas Australia & sekampus sama aku." ucap Agas yang masih sempet-sempetnya bercanda.


"aku nggak mau kamu pergi Gas..." tangisku pecah aku langsung memeluk Agas dengan erat.


"maafin aku ya Ra. bukannya bikin kamu seneng & bahagia terus aku malah bikin kamu sedih." ucap Agas sambil membalas pelukan ku & mengecup lembut puncak kepala ku.


"nanti... kalau kamu pergi... siapa... yang bakalan... gangguin aku?" ucap ku dengan tersedu-sedu.


"terus... siapa.. yang bakalan nyapa aku...tiap pagi..? siapa... yang bakalan bikin aku kesel lagi...?" aku makin tersedu-sedu.


"aku bakalan selalu kasih kabar ke kamu kok, jadi kamu tenang aja & nggak usah takut karna aku bakalan tambah sering gangguin kamu lewat telepon. 😁 kalau nanti aku liburan terus kemari orang pertama yang aku temuin itu adalah kamu." Agas mencoba membuat ku tenang.


"aku... aku..." tangis ku makin pecah.


"cup ah kamu jangan nangis lagi, kamu cukup baik-baik di sini sehat & bahagia. kamu juga harus janji sama aku kalau kamu nggak bakalan jatuh hati sama laki-laki lain sampai aku nemuin kamu lagi & ngelamar kamu. janji ya." celetuk Agas sambil menyeka air mata ku.


"Ra... aku harus cepet pulang buat siapin barang-barang & beli tiket, aku pamit ya... oh iya ucapin salam pamit aku juga buat keluarga kamu bilang maaf dari aku karna aku nggak bisa pamit langsung karna waktunya mepet. aku sayang banget sama kamu Ra kamu jaga diri baik-baik buat aku ya..." ucap Agas lembut sambil memeluk ku & mengusap lembut rambut ku.


Agas pun beranjak pergi meninggalkan ku, berat banget buat tangan ini ngelepas tangannya & biarin dia pergi tapi aku juga nggak berdaya. dengan mata yang masih sayup & basah aku terus saja memandang lekat punggung Agas yang semakin menjauh & menghilang dari pandangan ku.


tangis ku pun semakin pecah & dalam dengan semakin menjauhnya bayangan Agas dari pandangan mata ku & meninggalkan berjuta perasaan tak karuan di hati ku. aku berlari pulang dengan air mata yang terus menetes tanpa henti.


...


"Umma..." teriak ku dalam tangisan.


"Amara... kamu kenapa dek? kok pulang-pulang nangis" tanya mas Alkan khawatir.


"Agas..." ucap ku sendu.


"kenapa Agas? kamu di apain sama dia?" tanya mas Alkan sedikit marah.


"Agas mas... dia... dia..." tangis ku makin pecah.


"dia jahatin kamu atau gimana? kamu kenapa Ra? kamu di apain sama Agas?!" tanya mas Alkan yang makin marah.


"Agas pergi ninggalin Amara mas..." jawab ku tersedu-sedu & langsung memeluk erat mas Alkan yang memiliki tubuh besar & kekar itu.


"Agas ninggalin kamu?"


"iya mas..."


"cup cup cup... udah kamu jangan sedih lagi. cerita sama mas emangnya Agas mau pergi kemana?" tanya mas Alkan sambil menyeka air mata ku.


"kamu kenapa sayang? kok kamu nangis?" tanya Umma khawatir saat melihat ku menangis.


"katanya Amara Agas mau pergi ninggalin dia. makanya dia jadi sedih gini." jawab mas Alkan yang terus memeluk & coba menenagkan ku.


"Agas mau pulang ke Australia! sementara Zian juga mau kuliah di luar negri! kenapa mereka jahat banget ninggalin Amara sendirian di sini?!" pekik ku marah dalam tangis.


"merekakan memang harus pergi sayang." ucap Umma sambil mengelus lembut rambut ku.


"biarin aja mereka pergi Amara nggak perduli!" ucap ku marah & langsung masuk ke dalam kamar mengurung diri.


"cantiknya Umma... sayang jangan gitu dong nak." teriak Umma yang ingin coba menghentikan ku.


"jangan Umma..." Abba langsung menarik tangan Umma.


"kasih waktu buat Amara sendiri dulu. biar dianya juga bisa tenang sedikit."


"iya Umma. besok kalau Amara udah sedikit tenang baru kita coba bicara sama dia." sambung mas Alkan.


di dalam kamar aku hanya menangis sambil ngomel-ngomel nggak jelas sendirian dengan perasaan kesal & marah. aku coba buat ngeluapin kesedihan ku dengan nangis & marah-marah buat tenangin hati.


"pergi aja semua! pergi sana kalian! aku nggak perduli!"


"jahat banget sih mereka! tega banget mereka ninggalin aku sendirian di sini! kalau nggak ada mereka aku harus gimana?!" gumam ku dalam tangis.


"tapi ngapain juga aku mikirin mereka! toh dulu ya aku sendirian! lagian ada atau nggak ada mereka biasa aja tuh buat aku!" aku mencoba keras menenangkan hati ku dengan menyombongkan diri.


"tapi kan... setahun belakangan ini hari-hari ku selalu di isi sama mereka? kalau mereka nggak ada di samping ku apa yang harus aku lakuin." gumam ku dalam hati & aku down lagi makin menangis.


cukup lama aku nangis & akhirnya aku pun mulai kelelahan, tanpa sadar aku tertidur & tak mengingat apapun lagi. keesokan harinya aku masih enggan untuk keluar kamar & memilih menenangkan diri di kamar.


"sayang makan sama Umma yuk?" pujuk Umma.


"nggak mau!" sahut ku ketus.


"kalau gitu Umma bawaain makananya ke kamar Amara aja ya?"


"nggak usah Umma! Amara kan bilang nggak mau makan!" bentak ku pada Umma.


"sayang kenapa bentak Umma? 😔" ucap Umma sedih.


"maafin Amara Umma." aku langsung berlari menghampiri Umma yang sedang berdiri di depan pintu kamar ku & langsung memeluk erat Umma.


"tapi Amara bener-bener nggak mau makan Umma. tolong jangan paksa Amara buat makan" guman ku pelan dalam pelukan Umma.


"nanti kamu sakit sayang?" ucap Umma sembari mengelus lembut rambut ku.


"biar aja Amara sakit? Amara nggak perduli!" ketus ku kesal.


"Umma... Amara lagi pengen sendiri. tolong kasih Amara waktu." ucap ku pelan lalu menutup pintu kamar ku & kembali berbaring.


"Amara... sayang..." panggil Umma sambil mengetuk-ngetuk pintu.


"jangan kayak gini dong nak."


"Umma tolong... Amara nggak mau apa-apa!" pekik ku kesal.


"Amara cuma mau sendiri Amara mau nenangin fikiran sama hati Amara. tolong jangan bikin Amara tambah ngerasa penuh sesak Umma." tangis ku pecah lagi.


"sayang... ayo cerita ke Umma jangan kamu pendem sendiri semuanya nak."


"Amara mau sendiri Umma." pekik ku terisak.


"nak jangan gini dong ke Umma. Umma nggak bisa lihat kamu kayak gini Amara."


"maafin Amara Umma, tapi Amara bener-bener lagi bingung sama perasaan Amara sendiri rasanya sakit banget di sini Umma Amara nggak tahan nahan sakitnya." gumam ku dalam tangis.


aku terus saja menekan kuat pada jantung ku karna ku rasankan rasa sakit yang teramat sakit di sana. aku masih takut kalau harus membayangkan jauh dari Zian & juga Agas saat mendengar mereka akan pergi seolah-olah separuh jiwa ku juga bakalan pergi.

__ADS_1


nggak tau kenapa aku nggak rela banget harus ngelepas Agas pergi karna aku ngerasa hidup ku bakalan sepi kalau nggak ada dia & aku bakalan hancur tanpa dia. rasa sakitnya bahkan lebih sakit dari pada waktu Zian bilang mau kuliah di luar negri. 😭


sampai sekarang aku juga bingung sama perasaan ku sendiri. 😖 aku sayang sama Agas tapi aku suka sama Zian, aku cinta sama Zian tapi aku nyaman sama Agas, aku juga nggak bisa kehilangan mereka dalam ikatan apapun mau itu sahabat atau pacar atau bahkan saudara. aku juga nggak tau sebenernya aku ini kenapa. 😔


__ADS_2