
"kenapa kamu tiba-tiba punya niat buat kuliah di Australia?" tanya Dea penasaran.
"ya... karna Agas & Zian ada di sana. 😊" celetuk ku.
"ye... ngatain aku kuliah di Korsel cuma buat oppa-oppa lah kamunya juga niat kuliah di Australia cuma biar bisa ketemu curut dua itu. 😒" sinis Dea.
"biarin aja. 😋" ledek ku.
"tapi Ra... kuliah ke dokteran di luar negri itu nggak gampang lo." ucap Dea.
"aku juga kalau punya cita-cita buat jadi dokter bakalan lebih milih kuliah di jakarta atau di kota-kota besar di Indonesia aja, karna semua prosesnya gampang."
"iya juga ya Dea." sahut ku.
"kenapa kamu nggak kuliah di UI aja sih?" saran Dea.
"Jakarta ke Jogja juga nggak jauh-jauh amat, nggak sejauh kalau harus kuliah di luar negri & susah buat pulang karna kamu kan statusnya pelajar." timpal Dea.
"hah..." aku menarik nafas panjang.
"kita lihat nanti aja deh. lagian kan kita masih harus sekolah 4 bulanan lagi masih banyak waktu buat persiapin semuanya." ucap ku.
singkat cerita beberapa bulan telah berlalu, hari ini aku beserta teman-teman sekelas ku mengikuti & melaksankan ujian untuk kelulusan kami.
"Umma..." teriak ku kuat.
"iya sayang..." sahut Umma yang juga sedikit berteriak.
"kaos kaki Amara yang satunya lagi kemana...?" tanya ku dari dalam kamar sambil menarik resreting rok sekolah ku.
"Umma nggak tau sayang..." sahut Umma.
"emangnya kamu taruh di mana Ra...?" timpal Umma sedikit kesal.
"di sini." sahut ku.
"di sini di mana sayang..."
"ih... Umma...!" pekik ku sedikit kesal.
"di sini di kamar... tadi malam semua udah Amara siapin, semuanya udah Amara taruh dengan rapi jadi satu di atas meja belajar." ucap ku sedikit kesal.
"tapi kenapa sekarang kaus kakinya tinggal sebelah doang?!" pekik ku kesal sambil menyisir rambut panjang & ikal ku.
"cari di bawah meja nak kali aja jatuh." saran Umma.
"Umma... tolong cariin dong Amara udah telat banget ni..." tengek ku manja.
"ya udah Umma cari dulu, kamu sarapan dulu sana." ucap Umma sambil berjalan ke kamar ku.
"udah tau hari ini ujian. harusnya kamu bangunnya lebih pagi lagi dong Ra... 🙄" marah mas Alkan yang lagi sarapan.
"Amara tadi malam tidurnya ke malaman karna belajar mas..." rengek ku membantah sambil menuju meja makan.
"Ra-Ra." gumam mas Alkan.
"mas tolong bantu cariin kaos kakinya Amara dong...!" perintah ku sambil makan roti.
"enak aja." ledek mas Alkan menolak.
"ih... mas...!" pekik ku kesal lalu mengambil tas ku dari bangku meja makan.
"Amara-Amara... kamu tu hobby banget sih bikin Umma mu keter setiap kamu lagi ujian. 😐" ketus Abba sambil mengeleng pelan.
"ini kaos kakinya sayang." ucap Umma.
"mana...?" pekik ku senang.
"ini." Umma memberikan kaos kaki ku.
"tadi Umma nemuin itu ada di belakang pintu kamar kamu. 😒" ketus Umma.
"makasih Umma cantik. 😘" aku langsung mengecup pipi Umma.
"ya udah Amara berangkat dulu ya..." aku berpamitan setelah memakai sepatu ku.
"assalamu'alaikum..." aku mengucap salam sambil berlari.
"wa'alaikumsalam." sahut Umma, Abba & mas Alkan serentak.
"jangan lari-lari Ra nanti kamu jatuh..." teriak Umma mengingatkan ku.
"sukses buat ujiannya ya dek..." sambung mas Alkan menyemangati ku.
aku berlari kencang ke tempat pemberhentian bus & langsung naik kedalam bus.
"hah... hah... hah..." aku coba mengatur nafas ku yang terengah-engah.
"untung aja... aku... nggak ketinggalan bus. hah... hah... hah..." gumam ku dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"kalau sampek aku ketinggalan bus tadi... habis lah aku... 😱" celetuk ku lalu duduk.
tak seperti biasanya hari ini bus sangat penuh sesak dengan siswa/sisiwi SMA yang ingin berangkat ke sekolah untuk ujian juga di hari ini. karna sangat lelah & ngantuk aku sempat memejamkan mata beberapa saat sambil mendengarkan musik di handphone ku dengan menggunakan headshet.
...
"permisi pak... 😁" aku berlari menerobos gerbang yang hampir menutup rapat.
"itukan nak Amara?" tanya satpam 1.
"iya." jawab satpam 2.
"aku heran toh sama dia. kalau hari-hari biasa dia itu kan ndak pernah telat dateng ke sekolahnya? lah tapi kenapa ya dia itu selalu aja kesiangan datengnya setiap lagi ujian & di hari pertama loh heh... udah kayak kebiasaan jadinya." gumam satpam 1.
"eh... jangan salah kamu Tejo. si Amara itu dulu pernah telat sama si Agas waktu mereka masih kelas 10." sahut satpam 2 sambil melirik ke arah ku yang sedang berlari.
"masak sih. 😲 kok aku ndak tahu ya...?" tanya satpam 1.
"lah terus kamu kasih izin Di buat mereka masuk?"
"ya ndak lah!" ketus satpam 2.
"enak aja meraka kan telat! aku itu nggak sebaik kamu Jo. aku langsung kunci gerbang terus nyuruh mereka pulang biarereka tau rasa. 😏"
"oalah Di... Di. kamu kok ya kejem banget gitu sih." gumam satpam 1 sambil menyeruput kopinya.
"biarin aja! biar mereka takut buat telat lagi." ketus satpam 2.
...
"morning a..." aku yang terkejut saat melihat ada wali kelas ku langsung mengepit bibir ku rapat.
"Amara!" marah wali kelas ku.
"kamu datangnya kesiangan kalau masuk itu yang tenang sedikit! jangan malah teriak-teriak kayak gitu! kamu lupa kalau hari ini lagi ujian hah?!" marah wali kelas ku makin-makin.
"maaf pak... lagian Amara nggak telat kok, ya... cuma agak lama aja datengnya." celetuk ku.
"bapak aja yang datengnya kecepetan jadi kelihatannya Amara deh yanh telat. 😁"
mendengar ucapan ku itu sontak teman-teman sekelas ku langsung tertawa terbahak-bahak.
"diam!" bentak wali kelas ku.
"Amara!? kamu itu udah telat bukannya minta maaf malah ngomong yang enggak-enggak!" marah wali kelas ku.
"tadi kan Amara udah minta maaf pak." bantah ku.
"kamu mau saya keluarkan dari kelas & nggak bisa ikut ujian! 😡"
"jangan pak... jangan-jangan. 😨" aku langsung panik.
"iya-iya... iya Amara minta maaf." aku meminta maaf dengan tulus.
"cepet duduk di bangku kamu sana!" perintah wali kelas ku.
"terimakasih pak." ucap ku lalu pergi ke bangku ku.
"kamu kenapa bisa telat?" bisik Dea bertanya.
"aku tadi bangunnya kesiangan, karna tadi malam kelamaan belajarnya." sahut ku yang juga berbisik.
"kamu ni ya Ra ada-ada aja deh. setiap lagi ujian pasti selalu telat di hari pertama?! 🙄"
"aku juga nggak tau kenapa aku bisa kayak gitu. 🤔" celetuk ku.
"Amara... Dea...! kerjain ulangan kalian! malah ngobrol!" bentak wali kelas ku yang sontak membuat aku & Dea langsung terdiam.
di kantin.
"Zian ada ngubungin kamu Ra?" tanya Dea penasaran.
"nggak ada... 🙁" sahut ku lesu.
"kenapa?"
"katanya dia lagi sibuk banget. aku beberapa kali chat dia tapi sampai sekarang belum di bales. 😔" gumam ku dengan perasaan sedikit kecewa.
__ADS_1
"Agas juga belum ada ngubungin aku lagi semenjak telpon yang terakhir kemarin." timpal ku.
"mungkin mereka lagi sibuk kali Ra." ucap Dea coba menenangkan ku.
"hah..." aku menarik nafas panjang & dalam.
"gimana? kamu udah nentiun mau lanjut kuliah di mana?" tanya Dea.
"belum..." sahut ku lesu.
"kenapa belum? kita tinggal nunggu hari lo Ra buat lulus & persiapin diri buat kuliah?"
"aku bingung Dea... mau lanjut ke luar negri, di luar kota atau di sini aja." sahut ku bimbang.
"kalau kamu mau lanjut kuliah di mana?" tanya ku.
"aku mau kuliah Desain di Busan karna di sana ada Tante Nana, kamu inget Tante Nana kan? adiknya Mami yang paling kecil."
"inget dong... dulu Tante Nana kan selalu ajakin kita beli coklat di mall yang akhirnya bikin Bukde marah karna tau kita jajan coklat. 😅" sahut ku sambil tertawa kecil.
"iya Ra... kamu masih inget aja sih. 😄" sahut Dea yang juga tertawa kecil.
"bukannya Tante Nana tinggal & kerja di Jerman?" tanya ku.
"dulu iya, tapi udah hampir 2 tahun ini Tante di tugaskan di Busan Korsel. jadi Tante minta aku buat tinggal sama dia gitu tau aku mau kuliah di Korsel." Dea bercerita.
"oh..."
"cepet putusin buat masa depan kamu Ra. jadi kita bisa siapin segalanya mulai dari sekarang." saran Dea.
"kamu bener juga Dea." gumam ku mengiyakan.
"ya udah nanti aku coba buat minta saran sama Umma, Abba & mas Alkan."
kita singkat aja ceritanya, nggak kerasa selama 5 hari kami udah melangsungkan ujian & kami di berikan libur selama 1 minggu.
...
"assalamu'alaikum." Dea mengucapkan salam lalu masuk ke dalam rumah ku.
"Umma..." Dea berteriak memanggil Umma.
"wa'alaikumsalam... eh ada cantiknya Umma." ucap Umma senang lalu memeluk erat Dea.
"kok baru main ke sini lagi Dea?" tanya Umma.
"maaf Umma. kemarin Dea lagi sibuk banget ngurusin persiapan buat ujian & kuliah jadinya nggak ada kesempatan buat kemari." ucap Dea manja sambil mengelayuti tangan Umma.
"Umma kangen tau sama kamu." ucap Umma lalu mencubit gemas hidung mancung Dea.
"Dea juga kangen banget sama Umma..." manja Dea.
"apalagi sama masakan Umma..."
"caper... 😒" ketus ku yang baru keluar kamar.
"sirik aja sih. 😒" ucal Dea tak kalah ketus.
"ngapain kamu pagi-pagi kemari? tumben banget." ketus ku.
"ih... srik aja sih..." sahut Dea sinis.
"suka-suka aku dong mau kemari kapan aja?! lagian aku mau ketemu sama Umma aku. jadi nggak ada urusan sama kamu. 😒" sinis Dea.
"kalau orang lain yang lihat tingkah kalain berdua ini. mereka pasti ngira kalau kalian itu musuhan & bukan temen. 🙄" ucap Umma.
"HAHAHAHAHA... 😂" aku & Dea tertawa terbahak-bahak mendengar celetukan Umma.
"aku kangen banget sama kamu Dea..." aku langsung berlari & memeluk erat Dea.
"aku juga kangen banget sama kamu Ra..." sahut Dea balas memeluk ku tak kalah erat.
"udah 2 hari kita nggak ketemu... 😭" celetuk Dea mendramatisir.
"lebay ah. 🙄" celetuk mas Alkan.
"pagi mas..." sapa Dea
"pagi sayang." sahut mas Alkan.
"tumben kamu pagi-pagi udah ke sini?" tanya mas Alkan sambil berjalan ke meja makan.
"sarapan dulu yuk?" ajak Umma.
kami pun duduk di meja makan & mulai sarapan.
"liburan... 😕" bingun ku.
"iya..."
"liburan ke mana Dea?" tanya Abba yang baru sampai di meja makan.
"ke Australia." sahut Dea
"Australia... 😲" pekik ku terkejut.
"iya... ke rumahnya Agas."
"ke rumah Agas. 😲" pekik ku lagi.
"Amara...! jangan teriak-teriak dong! kuping aku sakit..." marah Dea sambil mengusap-usap kuping kirinya.
"tap-tapi... ucap ku terbata-bata.
"nggak usah tapi-tapian pokoknya kamu tenang aja semua udah di ataur sama Mami, kamu cukup ikut aja." ucap Dea santai sambil terus makan.
"tapi aku..."
"Maminya Agas nelpon Mami & nyuruh kita semua buat liburan sekolah di Australia aja."
"tapi... aku..."
"kenapa Ra? kamu nggak mau ikut?" tanya mas Alkan.
"Amara..." sahut ku masih ngebug.
"kalau kamu nggak mau ikut mas siap kok buat gantiin kamu. 😜" celetuk mas Alkan.
"ih... mas apaan sih. 😒" ketus Dea.
"aku... takut." ucap ku.
"takut kenapa? takut karna ini pengalaman kamu pertama kali naik pesawat? 😏" ledek Dea.
"iya... 😔" aku mengangguk pelan.
"ya ampun Ra... kamu tenang aja kan ada aku sama Mami." Dea coba meyakinkan ku.
"ayolah Ra... emangnya kamu nggak mau ketemu Agas sama keluarganya? lagian juga kalau jaraknya deket kita bisa sekalian nemuin Zian nanti, kita kan 3 hari di sana jadi bakalan ada banyak waktu buat jalan-jalan. 😊" pujuk Dea.
"tapi aku..." gumam ku sambil menatap ke arah keluarga ku.
"Umma, Abba sama mas Alkan pasti kasih izin kok. ya kan? 😉" celetuk Dea.
"kalau kamu mau ya udah." ucap Abba.
"Amara boleh pergi...? 😃" ucap ku dengan senyum mengembang.
"boleh..." sahut Abba sambil mengelus rambut ku.
"asik..." ucap Dea langsung berdiri & dengan girangnya melompat-lompat.
"kalau gitu habis sarapan kita urus pasport kamu & langsung beli tiketnya. terus besok pagi kita berangkat." ucap Dea semangat.
"besok. 😲" pekik ku terkejut.
"tapi aku belum nyiapain apapun Dea." aku langsung panik.
"kalian pergi aja. biar nanti Umma yang siapin semua keperluan kamu." ucap Umma.
"makasih Umma cantik... 😍" ucap ku & Dea serentak, kami pun langsung memeluk Umma dari kanan & kiri.
singkat cerita aku telah membuat pasport & kami juga udah membeli tiket untuk pergi besok.
di bandara.
"titip Amara ya mbak?" ucap Umma.
"tenang aja Umma, tanpa Umma minta aku pasti jagain Amara kok. 🙂" sahut Maminya Dea.
"Umma tenang aja, Mami pasti bakalan jagain Amara & lindungi Amara. karna Mami kan sayang banget sama Amara bahkan lebih sayang di bandingkan sama Dea. 😩" celetuk Dea sok sedih lalu memeluk erat lengan kanan Umma.
"masak sih. 😏" goda Umma.
"ya nggak lah." bantah Maminya Dea.
"Mami tu sayang banget sama ke dua princess Mami ini." sambung Mami Dea sambil mengelus lembut rambut ku.
__ADS_1
"iya... tapi Mami lebih sayang sama Amara. 😒" ketus Dea.
"😝" aku langsung meledek Dea.
"tu kan Umma... 😭" rengek Dea.
"Amara ledekin Dea gitu..." Dea sok mendramatisir.
"stop my drama queen." celetuk Papinya Dea.
"udahan drama-drama kalian berdua yang nggak jelas ini." ketus Papinya Dea lalu menjewer gemas kuping ku & Dea.
"gemesin banget sih." gemas Papi Dea.
"kalian baik-baik di sana, terutama kamu Amara. jangan bikin susah Bukde mu ya." pesan Abba sambil mengelus lembut rambut ku.
"iya Abba." sahut ku.
"Abba mau oleh-oleh apa?" celetuk Dea bertanya sambil menggandeng manja tangan Abba.
"apapun yang anak gadis Abba beliin. Abba pasti suka." sahut Abba lalu mengelus lembut rambut Dea.
"ya udah kalau gitu kami berangkat." ucap Maminya Dea lalu menggeret kopernya & berjalan menuju tempat chek in.
"Amara pergi dulu ya Abba, Umma, Pakde." ucap ku lalu mengangkat tas ku mengikuti langkah Maminya Dea.
"kami berangkat... I love U all..." teriak Dea sambil melambaikan tangannya & berlari kecil mengejar ku.
...
"kamu takut ya?" tanya Dea.
"aku deg-degan banget. 😫" sahut ku sambil meremas tangan Dea kuat.
"kamu nggak perlu takut sayang... kan ada Mami sama Dea." ucap Mami Dea yang coba menenangkan ku.
"semua bakalan baik-baik aja kok." sambung Dea.
"bismillah..." ucap ku coba menenangkan hati.
"Ra lihat itu." ucap Dea sambil menunjuk ke arah pramugari.
"cantik banget mbaknya. 😮" ucap ku.
"dia lagi ngapain Ra? 😕" tanya ku.
"dia lagi nerangin apa-apa aja yang harus kita lakuin selama di perjalanan, siapin diri buat kalau terjadi apa-apa nantinya." jelas Dea.
"hah... 😨 emangnya bakalan terjadi apa?" pekik ku yang mulai panik lagi.
"Dea..." panggil Maminya Dea sesikit kesal.
"kamu nggak perlu takut sayang insyaallah nggak akan tejadi apa-apa."
"Bukde... Amara beneran takut banget..." rengek ku.
"kamu si Dea! pakek cerita yang nggak-nggak ke Amara. kan kasihan dia jadi takut lagi." marah Maminya Dea.
"ya kan Dea cuma mau jelasin apa yang lagi pramugari itu lakuin Mi..." katus Dea lalu memalingkan wajah & melipat tangannya demgan wajah cemberut.
"ih... princessnya Mami kalau lagi cemberut gitu gemesin banget sih..." gumam Maminya Dea lalu mencubit gemas pipi Dea.
"aw..." pekik Dea...
"sakit Mami..." rengek Dea manja.
"silahkan menggunakan & mengencangkan sabuk pengaman karna kita akan take out sebentar lagi." terdengar suara pramugari.
"sini aku bantu." ucap Dea lalu membantu ku memasang sabuk pengaman.
"bismillah ya Allah..." ucap ku pelan dengan perasaan tak menentu.
pesawat pun mulai berjalan & perasaan ku makin tak karuan aja, sekuat-kuatnya aku menggenggam tangan Dea & memejamkan mata berusaha sekuat tenaga untuk tetap tenang & enggak teriak. namun saat pesawat mulai menjauh dari tanah/landasan jantung ku semakin berdegup dengan kencang & keringat dingin terus bercucuran aku juga memejamkan mata lebih kuat dari sebelumnya & merapatkan mulutku dalam-dalam.
dalam diam aku terus mencoba menenangkan diri ku di antara getaran-getaran badan pesawat yang menghantam udara yang membuat sensasi mengerikan di otak ku. begitu ku rasakan badan pesawat mulai stabil aku pun pelan-pelan membuka mata ku menormalkan bibir ku & merenggangkan gengaman tangan ku dari Dea.
"kamu baik-baik aja kan Ra?" tanya Dea sambil mengelus punggung tangan ku perlahan.
"aku... aku... baik-baik. aja..." sahut ku yang masih sedikit shock.
"kamu ada pwrasaan pusing atau mual sayang?" tanya Mami Dea sambil meletakan tangannya di dahi ku untuk mengecek suhu tubuh ku.
"nggak..." sahut ku singkat.
"suhu badan kamu juga normal, walaupun sedikit dingin & wajah kamu pucat. tapi itu normal buat orang yang pertama kali naik pesawat di usia matang." gumam Mami Dea sambil mencari sesuatu di dalam tasnya.
"Mami cariin apa?" tanya Dea penasaran.
"Mami lagi cari permen coklat buat bikin mood Amara biar baik lagi." sahut Maminya Dea yang masih sibuk mencari.
"Dea juga mau..." pinta Dea.
"oh ini Dia..." ucap Maminya Dea lalu mengeluarkan sekotak kecil permen coklat.
"ambil satu sayang." menyodorkan kotak coklat di depan ku.
"Dea mau yang ini." Dea cepat mengambil permen coklat kesukaannya.
"makasih Bukde." ucap ku yang juga mengambil salah satu permen coklat.
...
"Bukde..." rengek ku.
"kenapa sayang?" sahut Maminya Dea lalu menatap ke arah ku.
"permenya kok nggak ada rasanya...? nggak manis kayak peemen coklat yang lain." gumam ku sebal.
"karna kita lagi di ketinggian jadi indra perasa kita juga kurang baik, semua makanan yang kita makan jadi terasa sedikit hambar & kurang enak." jelas Maminya Dea.
"oh... 😮" sahut ku.
"kamu kalau capek & ngantuk tidur aja Ra, nanti aku bangunin kalau kita Udah landing. biar perasaan kamu juga enakan & nggak mikir ke yang aneh-aneh terus." saran Dea.
aku pun memejamkan mata & mencoba untuk tidur di tengah perasaan ku yang tak menentu ini. setelah berusaha sekuat tenaga & sekian lama akhirnya tanpa sadar aku tidur.
"Amara pasti grogi banget ya Mi... 😅" ledek Dea sambil menatap ku.
"Dea... kamu ini ya hobby banget jailin Amara." marah Maminya Dea.
"ini kan pengalaman baru buat dia jadi wajar kalau dia grogi gitu, Mami juga yakin walaupun dia lagi cemas pasti di dalam hati dia juga bahagia karna bisa ngerasain naik pesawat & liburan keluar negri." ucap Maminya Dea sambil mengelus lembut rambut ku.
"dia pasti lebih bahagia lagi kalau nanti udah lihat mukanya si Agus & si Agus bakalan lebih seneng lagi kalau tahu dapet kejutan kedatangan Amara. 😄" gumam Dea.
"kenapa gitu?" tanya Maminya Dea penasaran.
"si Agas kan suka sama Amara..." celetus Dea.
"what... 😱" pekik Maminya Dea tertahan.
"seriusly..."z
"yes Mami..."
"bagus dong?" ucap Mami Dea semangat.
"bagusnya?" tanya Dea bingung.
"ya kalau Amara beneran jodoh sama si Agas kan keluarga kita jadi makin erat Dea." semangat Maminya Dea.
"Mami jangan terlalu berharap dulu deh. 🙄" ketus Dea.
"why?"
"karna Amara itu lebih pro ke Zian di bandingkan ke Agas. 🙁"
"Zian...? siapa Zian?" tanya Maminya Dea semakin penasaran.
"Zian itu kakak kelas kami di SMA. kayaknya Zian sama Amara itu udah di takdirin buat berjodoh deh Mi." ucap Dea.
"sok tau kamu. 😒" sinis Maminya Dea seolah tak terima.
"emangnya kamu tau dari mana Dea... kalau Amara sama si... siapa tadi. 🤔 oh si Zian-Zian itu jodoh?" kesal Maminya Dea.
"kelihatan Mi dari aura mereka." sahut Dea dengan santainya.
"aura siapa? Aura kasih hoh..." celetuk Maminya Dea.
"hah..." Dea menghela nafas panjang lalu melirik ke arah Maminya.
"pokoknya Mami pro ke Agas! Mami bakalan berusaha sekuat tenaga buat bikin Amara & Agas jadian." celetuk Maminya Dea berapi-api.
"terserah Mami aja deh. 🙄" ucap Dea lalu memejamkan mata & tidur.
"pokoknya di Australia nanti Agas sama Amara harus jadian! harus..." gumam Maminya Dea dalam hati debgan berapi-api.
"aku bakalan jadiin Amara mantu ku! gimana pun caranya biar Amara lebih deket sama kami semua."
__ADS_1