Pure Love (Takdir Cinta)

Pure Love (Takdir Cinta)
Bertemu Mama Zian.


__ADS_3

"duh... gimana ini..."


"aku harus gimana & harus apa kalau nanti ketemu sama Mamanya Zian... 😖" gumam ku pelan dengan wajah panik & bingung.


"kamu kenapa Ra?" tanya Zian saat dia melihat ku sedang bergumam.


"hah!?" aku terkejut mendengar suaranya.


"kamu kenapa...? kok kayak lagi bingungan gitu?"


"enggak kok. aku nggak lagi bingung." jawab ku dengan bicara cepat lalu mengalihkan pandangan dari Zian.


"ngapain kalian berduaan di sini hah!" ketus Agas sambil menghampiri aku & Zian.


"kata pak ustad laki-laki & perempuan yang bukan mahrom nggak boleh berduaan! nanti ada yang ketiga yaitu setan!" sinis Agas menatap tajam ke arah Zian.


"kepo." ketus Zian.


"Ra... pulang sekolah nanti temeni aku belanja bulanan dong." pinta Agas sambil menarik-narik jari kelingking ku.


"belanja bulanan?" sahut ku dengan sedikit heran.


"buat apa kamu belanja bulanan segala Gas?" tanya ku lagi.


"persediaan cemilan sama kamar mandi di rumah udah pada habis semua. kemarin waktu Tante mau pergi kayaknya belum belanja bulanan deh, jadi... cemilan sama perlengkapan kamar mandi di rumah udah nggak ada. 😭" Gumamnya sedikit kesal.


"maaf Gas. aku nggak bisa nemenin kamu belanja."


"kenapa Ra? aku nggak mau belanja sendirian..." rengeknya manja.


"aku mau kerumah Zian buat ketemu sama Mamanya hari ini."


"WHAT! 😱 seriusly." pekik Agas.


"kamu mau kerumah Zian! mau ketemu sama Mamanya?!" Agas histeris sambil melotot.


"Agas... mata kamu nanti bisa copot kalau di buka selebar itu." ucap ku takut sambil menutup bagian mata Agas dengan tangan kanan ku & menutup separuh wajah ku dengan tangan kiri ku.


"kemarin dia yang ke rumah kamu! terus sekarang kamu yang mau ke rumah dia!" Agas makin histeris.


"kalian berdua ini apa-apaan sih! 😡" keluhnya semakin meledek-ledak.


"Agas... kenapa kamu marah?" aku yang bingung sama kelakuan aneh Agas.


"aku kan cuma mau main kerumah Zian & ketemu Mamanya doang." aku mengerutkan dahi.


"terserah." ketusnya sambil melipat tangan & mengalihkan pandangan dari ku.


"minggu depan Mommy pulang dari Australia. jadi kamu juga harus ketemu sama mommy! titik nggak pakek koma!" memaksa & langsung memanyunkan bibir tebalnya kedepan.


"hah... 😯" seru ku kebingungan.


"nggak mau kalah banget sih!" ketus Zian.


"tau ah gelap! aku mau ke kelas! aku jadi kesal banget kalau lihat kalian berduaan kayak gini!" gumam ku kesal sambil berjalan ke kelas.


"sampai pulang sekolah Ra..." teriak Zian pada ku dengan niat meledek Agas.


"nyebelin banget sih!" ketus Agas sini lalu pergi menyusul ku.


Agas berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya dengan kuat di lantai sekolah & terus saja bergumam kesal pada Zian.


"Hah..." aku menghela nafas dengan gusar.


"mereka berdua emang nggak akan pernah bisa akur deh kayaknya. 😔" gumam ku kesal sambil terus berjalan.


saat sudah jam pulang sekolah Zian yang keluar lebih dulu menunggu ku di depan pintu kelas ku. setelah wali kelas ku keluar dari dalam kelas dia langsung di kejutkan dengan keberadaan Zian yang berdiri tegak di sebelah daun pintu bagian kiri.


"siang pak..." Zian menyapa wali kelas ku.


"siang... loh Zian kamu ngapain berdiri di depan ruang kelas 10?" tanya wali kelas ku padanya.


"mau jemput Amara pak. buat pulang bareng pak. hehehehe... 😁" jawabnya polos.


"aaa... I see. I see." celetuk wali kelas ku sambil menepuk pundak Zian & berlalu pergi.


"Amara..." Zian memanggil ku & berjalan ke arah ku.


"kita pulang." ajaknya sambil menyodorkan telapak tangannya yang besar, lentik, kuat & hangat itu.


"let's go... 😊" jawab ku sambil menerima uluran tangan besarnya itu.


"aduuuuh..." tiba-tiba Agas berteriak histeris yang langsung membuat kami terkejut.


"kamu kenapa Gas?" tanya ku sambil menghampiri Agas.


Zian pun kesal karna aku langsung melepaskan pegangan tangan kami. mendengar tariakan Agas ya aku langsung ke mejanya untuk memastikan kondisinya.


"perut aku tiba-tiba sakit Ra. 😫" Agas mendramatisir & memegang kuat perutnya sendiri.


"barusan kamu baik-baik aja deh Gas. kenapa sekarang tiba-tiba perut kamu bisa jadi sakit gitu?" ketus Nuna.


"lagi akting kali si Agas." sambung Didi.


"paling juga mau ngalang-ngalangi Amara sama kak Zian buat pulang bareng." sinis Lily sambil menatap tajam ke arah Agas.


"perut aku sakit beneran tau! aduh... perut aku sakit banget Ra. 😭 sakit..." rengek Agas manja sambil menarik-narik tangan kiri ku untuk duduk di sebelahnya.


"udah ayo kita pulang Ra." ajak Zian kesal.


"dia cuma pura-pura sakit biar kamu nggak jadi pergi sama aku." ucap Zian sinis karna udah nggak bisa nahan kesel lagi ke Agas.


"perut aku beneran sakit Ra. 😭" Agas semakin merengek.


"nggak usah mendramatisir deh Gas!" sinis Zian.


"kalau kamu emang beneran sakit perut kamu cepetan ke ruang UKS biar di obati!" Zian semakin kesal & langsung menarik paksa aku pergi.


"Amara..." teriak Agas histeris.


"Amara... 😭" Agas yang terus menerus berusaha memanggil ku.


"kamu cepetan pulang makan terus istirahat... biar sakit perutnya cepet baikan... nanti aku telpon..." teriak ku kuat sambil terus berjalan mengikuti tarikan Zian & melambai-lambai ke arah Agas.


"AMARA! gila Zian nyebelin banget sih!" ketus Agas kesal sambil membereskan tasnya kemudian beranjak pulang dengan wajah super betek.


setibanya kami berdua di rumah Zian.


"assalamu'alaikum." Zian mengucapkan salam. "Ma... Mama?" Zian memanggil Mamanya.


"wa'alaikumsalam. Eh sayangnya Mama udah pulang?" Mama Zian langsung memeluk & mencium pipi Zian.


"siang Tante?" sapa ku dengan grogi sambil menyalami Mamanya Zian.


"ini Amara ya?" tanya Mama Zian dengan senyum lembut & ramah.


"iya Tante." jawab ku pelan.


"cantik banget Zian... kecil & manis." puji Mama Zian sambil mengelus rambut ku.


"kayak mochi kan Ma?" celetuk Zian sambil berjalan masuk ke rumah.


pipi ku rasanya panas & pasti warnanya merah banget kayak tomat mateng. aku makin grogi karna mendengar semua pujian dari Mamanya Zian.


"hemmmh... pasti kamu seneng banget kan Ra di puji-puji sama Mama aku kayak gitu" gumam Zian meledek.


"Zian..." pekik ku tertahan & aku refleks mencubit perut Zian dengan gemas.


"aduh..." pekik Zian kuat sambil memegangi perutnya yang tadi ku cubit.


"sakit Amara." .


"wah... kayaknya tipe-tipe idealnya Zian banget ni..." goda Mama Zian sambil mencubit gemas pipi ku.


"Mama...apaan sih." ucap Zian malu & pipinya jadi merah juga kayak pipi aku. 😂


"ya udah kita makan siang dulu yuk kalian pasti laper." ajak Mama Zian menarik tangan ku.


"Mama tau aja kalau Zian laper banget. hehehehe..." celetuk Zian manja langsung merangkul Mamanya.


...


"gimana Amara? suka nggak sama makanannya?" tanya Mama Zian pada ku.


"suka Tante, masakan Tante enak banget. apalagi ayam bakarnya. 💜" jawab ku sambil terus makan dengan lahapnya.


"Amara itu emang doyan banget makan Ma. jadi semua makanan pasti dia bilang enak. 😋" ledek Zian.


"Zian... jangan ngeledekin Amara terus dong." seru Mama Zian.


"Zian emang selalu kayak gitu Tante. suka... nanget jailin Amara!?" ucap ku sinis sambil menatap tajam ke arah Zian.


"kalau Amara suka nggak sama Zian?" goda Mama Zian.


mendengar perkataan Mamanya Zian aku sontak langsung tersedak & terbatuk-batuk. sementara Zian langsung melongoh & seketika berhenti mengunyak makan yang ada di mulutnya.

__ADS_1


"uhuk... uhuk...uhuk..." suara batuk ku.


"ini minumnya sayang." ucap Mama Zian panik & ngerasa bersalah karna udah bikin aku tersedak.


"maaf ya sayang, Tante tadi cuma bercanda doang kok."


aku langsung mengambil gelas yang di berikan Mamanya Zian & langsung meminumnya sekali teguk.


"Tante nggak nyangna kalau respon kamu bakalan sampai kayak gini? maafin Tabte ya Ra." tetep aja Mamanya Zian masih berusaha menggoda ku.


"Mama. kasihan kan Amara sampek keselek gitu." ketus Zian sambil geleng-geleng.


"Amara nggak apa-apa kok Tante. tadi cuma kaget aja karna denger Tante tiba-tiba nanyak kayak gitu, hehehe..." aku coba mencairkan suasana.


"maafin Tante ya sayang, Tante keburu-buru gitu ke kamu." ucap Mama Zian dengan bahasa yang sulit buat aku artikan.


"soalnya... Tante seneng aja karna akhirnya Zian punya temen setelah sekian lama kami pindak ke sini. mana temennya cantik lagi."


"jadinya Tante terlalu eksaited." ucap Mama Zian.


"Tante bisa aja." ucap ku tersipu malu.


selesai makan siang aku & Mamanya Zian ngobrol santai di balkon rumah Zian sambil nyemil kue buatan Mamanya Zian.


"pemandangan di apartemen Tante bagus banget. cocok buat santai sore-sore kayak gini." ucap ku sambil memejamkan mata ku.


"kalau suka sering-sering main ke sini. kalau bisa sih setiap Tante libur Amara bisa nemenin Tante."


"hehehehe..." aku hanya bisa tertawa kecil & terus tersipu malu. aku juga nggak tau kenapa aku selalu grogi & malu kalau lagi di depan Mamanya Zian. 🤔


"senyum kamu itu manis banget Ra" celetuk Mamanya Zian.


"kagi ngomongin apa sih kok kelihatannya seru banget?" tanya Zian sambil merangkul Mamanya dari belakang & mencium pipi tirus Mamanya.


"ikutan dong?" pintanya sok imut.


"nggak boleh!" ketus ku.


"ini itu pembicaraan antar wanita kamu nggak akan paham." celetuk ku sambil mencubit gemas pipi kiri Zian.


"sakit Ra..." pekik Zian.


"kamu pelit banget sih Ra" ketus Zian sambil menarik hidung ku gemas.


"sakit Zian..." teriak ku sambil mengelus-elus hidung pesek ku.


"eee... Tante, kayanya Amara harus pulang deh. soalnya udah sore juga takutnya Abba udah pulang dari bengkel terus jadi khawatir karna Amara belum pulang." ucap ku ragu-ragu.


"kamu mau pulang? kok cepet banget sih Ra? padahal Tannte masih mau banyak ngobrol sama kamu lo." keluh Mama Zian.


"nanti kalau ada waktu Amara pasti nemuin Tante lagi. Amara janji. 😊"


"janji ya Ra... bakalan sering-sering main ke sini." pinta Mama Zian sambil mengacungkan jentiknya ke arah ku.


"iya Tante. Insyaallah Amara bakalan sering nemuin sama Tante." aku menyambut uluran jentik Mamanya Zian & kami pun membuat sombol janji khas anak kecil.


"Zian anterin Amara pulang." titah Mama Zian.


"siap boss." sahut Zian sambil memberi gerakan hormat & tersenyum lebar.


"Amara pulang dulu ya Tante?" aku menyalami Mama Zian.


"Amara pamit assalamu'alaikum."


"wa'alaikumsalam sayang. hati-hati di jalan ya." sahut Mama Zian sambil membelai lembut rambut ku.


Zian pun mengantar ku pulang, sangking ngantuk & capeknya tanpa sadar aku malah ketiduran di boncengan. setelah cukup lama naik motor akhirnya kami sampai juga di rumah ku.


"makasih udah nganterin aku pulang." ucap ku sambil mengusap-usap mata kiri ku yang sedikit sembab.


"sama-sama. kamu capek ya?" ucapnya sambil mengelus lembut rambut ku.


"sedikit. 😁" jawab ku sambil nyengir.


"ya udah masuk terus istirahat. aku pulang ya."


"nggak mampir dulu Zi?" teriak Umma tiba-tiba dari depan pintu rumah.


"nggak Umma... udah mau ashar lain kali aja Zian mampirnya. Zian pamit Umma assalamu'alaikum." sahut Zian sedikit berteriak dari depan gerbang.


"wa'alaikumsalam. hati-hati di jalan ya ganteng aik motornya pelan-pelan aja." ucap Umma yang juga sedikit berteriak sambil melambaikan tangan beberapa kali.


"aku pulang. sampai ketemu besok."


"kamu hati-hati." sahut ku sambil melambaikan tangan.


"assalamu'alaikum." aku mengucap salam dengan lesu.


"wa'alaikumsalam. mau ngeteh sayang?" tanya Umma pelan.


"mau Umma. teh melati ya..." pinta ku pada Umma. aku langsung merebahkan tubuh ku di sopa ruang keluarga & langsung menyalakan TV.


"ini tehnya Ra." Umma memberikan secangkir teh & sepiring keripik pisang kesukaan ku.


SLUUUURP...


aku menyeruput teh sambil memejamkan mata ku untuk lebih menghayati keenakan rasa tehnya.


"hemmmh. enak banget & langsung bikin rileks." gumam ku pelan.


"gimana tadi acara makan siang bareng calon besannya Umma. seru nggak?" ledek Umma gemas.


"Umma... jangan mulai deh!" ketus ku sambil menaruh cangkir teh ku di atas meja.


"Umma-Umma... Umma tau nggak? Mamanya Zian itu cantik & baik banget lo. 😁" aku bercerita pada Umma tentang Mama Zian sambil terus tersenyum dengan lebar.


"oh ya... kalau sama Umma lebih cantik yang mana? 🤔" tanya Umma dengan niat meledek.


"dua-duanya cantik kok." ucap ku santai.


"tapi... tetep masih cantikan Amara. 😝 karna Amara masih muda. hahaha..." aku terkekeh puas.


"Umma juga awet muda kok Ra... lihat aja muka Umma masih mulus belum ada keriputnya. 😜"


"ih... Umma centil..." celetuk ku sambil mencubit gemas pipi kiri Umma.


"terus ya Umma dari Amara baru dateng sampek Amara mau pulang Mamanya Zian terus... aja muji-muji Amara & nggak berhenti bilang kalau Amara itu cantik, manis, lucu & baik. ☺" aku bercerita panjang lebar tentang pengalaman seru ku saat ketemu Mamanya Zian.


"wah... berarti udah dapet lampu hijau ni anak gadis Umma dari calon mertuanya. bakalan jadi ni kayaknya." ucap Umma meledek sambil memencet hidung ku gemas.


"ih... Umma mulai deh ah jailnya!?" gumam ku sambil beranjak masuk kamar.


di dalam kamar aku terus saja memikirkan tentang perasaan aneh yang aku rasakan waktu datang ke rumah Zian. entah kenapa ada rasa bahagia saat aku bertemu & banyak bicara sama Mamanya Zian, aku juga ngerasa nyaman di rumahnya seolah nggak mau pulang ke rumah lagi terus menetap aja di sana. 😅


"kenapa tadi aku grogi terus ya? aneh? apa lagi kalau di sayang-sayang sama Mamanya Zian rasanya jantung aku pengen meledak. 😱 aku nggak pernah ngerasa kayak gini sebelumnya?" fikiran ku terus liar & menerka-nerka.


"apa... jangan-jangan tanpa sadari selama ini aku tu suka sama Zian! 😱 makannya tadi aku jadi grogi banget pas ketemu sama Mamanya?"


"nggak-nggak-nggak Amara! ih aku ini mikirin apaan sih..." aku sontak terperanjak.


aku langsung memukul-mukul pelan kepala ku buat menghilangkan semua fikiran-fikiran aneh itu dari dalam kepala ku & coba menyadarkan diri ku.


"ayo sadar Amara sadar! kamu jangan mikir aneh-aneh tentang Zian. ih... ni otak makin lama mikirnya makin liar & aneh-aneh aja sih...!"


"mana mungkin aku suka sama Zian. kita kan bersahabat?! lagian juga aku harus fokus sama misi ku buat jadi orang sukses & bahagian Umma, Abba & mas Alkan."


"jadi stop buat mikirin hal yang nggak penting Amara! kamu harus fokus sekolah & rajin belajar. 💪"


...


"Amara mana?" tanya Abba.


"tidur kayaknya Ba."


"tidur... 😕 jam segini dia udah tidur?" tanya mas Alkan heran.


"kayaknya dia kecapean." sahut Umma.


"kenapa? emangnya dia ngapain aja hari ini?" tanya Abba penasaran.


"dia tadi siang habis main ke rumah Zian buat ketemu sama Mamanya Zian. permintaan dari Mamanya Zian." sambung Umma sambil menyiapkan makanan untuk Abba & Mas Alkan.


"hahahaha jadi tadi adek gadis mas ketemu sama calon mertuanya toh." ledek mas Alkan sambil tertawa puas.


"si Amara seneng banget tau Ba karna habis ketemu sama Mamanya Zian. katanya Mamanya Zian sayang banget sama dia & nggak berhenti-berhentinya muji dia terus." Umma menceritakan semuanya ke Abba & mas Alkan.


"bagus dong. berarti nanti kalau dia beneran jodoh sama Zian hidup Amara nggak akan kesusahan karna di kasih mertua yang sayang ke dia." celetuk Abba spontan.


"tapi... Agas juga anaknya baik kok Ba." sahut Umma.


"cie... di pihak Agas ni kayaknya? jadi Umma itu sebenernya suka sama yang mana Agas atau Zian?" mas Alkan malah mengoda Umma.


"kalau Umma yang di suruh milih sih... Umma milihnya Agas. karna selain baik dia juga manis & lucu Umma selalu seneng kalau lagi sama dia. 😊" celetuk Umma.


"ini sebenernya yang mau pacaran Umma atau Amara sih!" caletuk Abba sambil melipat tangannya.

__ADS_1


"cie... Abba cemburu ya." Umma manggoda Abba dengan gaya centil.


"mas. lihat Umma mu itu kayaknya puber yang ke dua kali deh." ketus Abba.


"Umma lagi berasa kayak jaman pacaran dulu kali Ba. hahaha... 😂" celetuk mas Alkan.


"Umma sama Abba tu mana pacar-pacaran gitu. orang pas pertama kali ketemu di layar tancep besoknya Abba mu langsung ngelamar Umma." ledek Umma.


di singkat aja ya ceritanya soalnya keluarga ku emang heboh-heboh orangnya. 😁 pagi hari di sekolah aku yang baru sampai ngeliat Agas lagi jalan sendirian, aku langsung aja nyamperin Agas & ngerangkul Agas dari samping.


"pagi Agus..." sapa ku sambil nongilin kepala ku dari sela-sela ketiak Agas.


"nama ku Agas bukan Agus! 😒" sahutnya dengan sinis.


"iya-iya Agas... sensi banget sih. 🙄" celetuk ku sebal.


"pulang sekolah makan ice cream yuk?" ajak ku dengan manja & langsung memperkuat sangkulan ku.


"males!" jawabnya ketus.


"kalau emang kamu mau makan ice cream pergi sama Zian aja sana!" ketusnya semakin menjadi-jadi.


"ih... kok kamu ngomongnya gitu sih. 😔" gumam ku kecewa lalu melepaskan rangkulan ku darinya.


"kamu kan lebih suka pergi sama Zian?! jadi ya pergi sama dia aja sana!" Agas langsung meninggalkan ku.


di dalam kelas aku & Agas seperti orang yang tak saling mengenal, Agas tak menatap ku sama sekali & dia terus aja asik bicara dengan teman-teman prianya. aku yang kesal memilih menidurkan kepala ku di atas meja & menatap jauh ke arah jendela.


ternyata nggak enak ya rasanya di deimin, aku rasa begini perasaan Agas & Zian waktu aku menghindari mereka dulu. terbiasa dengan ocehan aneh Agas & kejailan dia sekarang rasanya aku sedih banget nggak denger suara manisnya Agas.


"kamu kenapa?" tanya Agas saat dia melihat gerak-gerik aneh ku.


"kamu marah sama aku?" ucapnya pelan sambil duduk di bangku Dea yang sudah beberapa hari ini kosong.


"bukannya kamu yang lagi marah sama aku?" ketus ku pelan dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"iya. aku memang lagi marah sama kamu! marah banget malahan!" sinisnya pelan sambil menopang dagunya & menatap tajam ke arah ku..


"aku tau." ucap ku pelan lalu mengalihkan pandangan ku darinya & menyeka air mata ku yang seperti mau jatuh.


KRIIIING.


bell jam istirahat berbunyi semua teman sekelas ku keluar, Agas juga langsung berdiri & berniat untuk keluar kelas. tiba-tiba dia mengulurkan tangan putih & tembamnya itu ke arah ku.


"ayo keluar?!" ajaknya dengan nada sedikit sinis.


"enggak." sahut ku singkat. aku menunduk & menyeka air mataku yang akhirnya tak bisa ku tahan untuk jatuh.


"hey kamu kenapa Ra?" Agas mencoba mendongakan wajah ku.


"kamu kenapa nangis?" ucapnya lembut sambil menyeka air mata ku.


"aku nggak suka kamu marah..." tangis ku pun pecah.


"hahahaha..." Agas tertawa sambil terus menyeka air mata ku.


"cengeng banget sih kamu Ra. masa cuma karna aku cuekin kamu jadi nangis gini?" ledeknya sambil mengelus lembut rambut ku.


"aku. aku. nggak. suka. kalau. kamu cuekin. aku. sedih..." ucap ku terbata-bata karna sesegukan.


saat Zian melihat aku menangis dia pun langsung menghampiri ku karna khawatir.


"kamu kenapa Ra...?" pekiknya sambil berjalan ke meja ku.


"kenapa kamu nangis? apa ada yang sakit?" ucapnya khawatir sambil berlutut di depan ku & memunggungi Agas.


"Amara nggak sakit kok?! dia nangis karna dari tadi pagi aku cuekin." ketus Agas seperti merasa puas.


"bener itu Ra?" tanya Zian kepada ku sambil mengenggam erat kedua tangan ku.


"iya..." aku mengangguk sambil menahan tangis.


"ya ampun Ra... aku kira kamu nangis karena apa." ucap Zian lembut sambil tersenyum kecil.


"cup... aku mau latihan basket dulu. kamu jangan nangis lagi." ucap Zian sambil mencubit kecil pipi ku.


"aku titip Amara. jangan jailin dia terus!" ketus Zian pada Agas sambil menepuk pundak Agas.


Agas langsung melongoh sambil terus ngelihatin Zian yang berjalan keluar. Zian kasih waktu untuk kami berdua buat baikan lagi makannya dia milih main basket dari pada ajak aku ke kantin kayak biasanya.


"udah ya jangan nangis lagi." ucap Agas sambil berjongkok di depan ku & mendekatkan dahinya dengan dahi ku sambil mengelus rambut ku.


"aku nggak marah kok sama kamu. jadi kamu nggak boleh nangis lagi ya..."


"iya..." aku tersenyum lebar & langsung berhenti menangis.


"ke kantin yuk? aku laper banget ni..." rengek Agas manja sambil menggelayut di tangan kiri ku.


"nggak mau!" aku menggelengkan kepala ku kuat-kuat.


"mata aku bengkak karna tadi nangis, nanti pasti aku di ledekin sama temen-temen." ucap ku sambil mengalihkan pandangan dari Agas.


"ya udah kalau kamu nggak mau keluar, aku ke kantin dulu kamu tunggu di sini. oke?"


"oke...👍" sahut ku sambil memberikan simbol dua jempol ke arah Agas.


Agas pun keluar untuk membeli makanan di kantin. sangking lamanya aku nungguin dia aku sampek nggak sadar ketiduran karna efek habis nangis.


"Amar... lah ni bocah malah tidur." gumamnya sambil berjalan ke meja ku.


"di tinggal bentar doang malah tidur. Ra-Ra..." sambungnya sambil menaruh makanan di mejanya.


"kamu tambah manis kalau lagi tidur, apa lagi waktu kamu nangis kamu jadi makin imut & bikin aku nggak tahan buat meluk & cium kamu." gumam Agas sambil terus memandangi ku & mengelus pipi ku.


"aku sayang banget sama kamu Ra. aku nggak bisa lihat kamu sama orang lain termaksud Zian! rasanya hati aku hancur & perih setiap lihat kamu ketawa bahagia sama Zian. aku mau kamu bahagia, seneng & ketawa cuma sama aku nggak sama yang lain Ra... aku nggak bisa kalau lihat kamu di sayang & di sentuh orang lain!"


ternyata Zian mendengar semua yang di katakan Agas. Zian pun langsung marah & mengepalkan tangannya dengan kuat lalu beranjak pergi.


KRIIIING.


bell masuk berbunyi.


"bangun Ra." Agas mencoba membangunkan ku.


"emmmh..." aku bangun dengan perasaan malas.


"kenapa?"


"udah bell masuk Ra. liat rambut kamu berantakan jadinya." ucap Agas pelan sambil merapihkan rambut ku.


"sebenernya kamu itu pacaran sama siapa sih Ra? sama kak Zian atau sama Agas?" teriak Aya dengan suara menggelegar di seluruh ruang kelas.


"ya sama aku lah. 😜" celetuk Agas dengan konyolnya.


"apaan sih!" pekik ku kesal.


"nanti jadi makan ice cream?" tanya Aga spelan sambil mengelus rambut ku.


"kamu mau?" tanya ku eksaited dengan mata berbinar-binar.


"iya."


"jadi dong. 😁" teriak ku senang


"manis banget sih..." ucap Agas sambil memencet hidung ku gemas.


KRIIIING.


bell pulang sekolah pun berbunyi. di depan pintu kelas aku celingukan mencari keberadaan Zian untuk mengajaknya makan ice cream.


"Zian mana ya?" gumam ku sambil celingukan.


"itu dia." tunjuk Agas ke arah Zian berdiri.


"Zian..." aku berteriak kencang sambil berlari ke arah Zian.


GEDEBUUUUK.


biasalah aku kan suka jatuh orangnya. 😂


"Amara..." teriak Zian & Agas serentak.


"aduh..." pekik ku terkejut karna jatuh.


"Amara! berapa kali aku bilang ke kamu jangan suka lari-larian kayak anak TK gini!" Zian marah sambil membantu ku bangun lalu membersihkan lutut ku yang kotor & sedikit licet.


"aw..." aku berteriak saat Zian menyentuh lutut ku yang licet.


"lihat ni lutut kamu jadi memar sama licet gini!" ucap Zian marah.


"aku... aku nggak apa-apa kok." sahut ku ketakutan karna amarah Zian.


"aku mau ajak kamu makan ice cream." ucap ku sambil nyengir nahan sakit.


"kamu pergi sama Agas aja! aku nggak bisa ikut karna aku udah ada janji!" ketus Zian dengan wajah masam.

__ADS_1


"tapi aku maunya kita pergi bertiga..." rengek ku manja.


"aku beneran nggak bisa ikut. lain kali ya." ucapnya pelan lalu menepuk kepala ku dua kali & langsung pergi.


__ADS_2