Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Amarah Yang Meluap


__ADS_3

Hika pulang ke rumah dengan membawa amarah dalam dirinya. Gara-gara Qiya kini hubungannya dengan Zahira harus berakhir.


Setelah sampai di halaman rumah, ia turun dari mobilnya dan masuk ke dalam rumah dengan langkah tergesa. Napasnya terdengar memburu, kedua tangannya mengepal, matanya merah menahan amarah.


"QIYAAAA ...!!" teriak Hika dengan amarah yang meluap-luap.


Begitu sampai di ruang tamu, emosinya seketika mereda saat kedua matanya mendapati sosok bundanya berada di sana bersama Qiya.


"Hika .. Biasakan mengucap salam kalau masuk ke dalam rumah itu," ucap Bunda Yasmin mengingatkan.


Hika menarik napas panjang, ia hembuskan secara perlahan.


"Assalamu'alaikum .."


"Walaikumussalaam .."


Kemudian ia menghampiri bunda nya untuk mencium punggung tangan wanita tersebut. Di susul oleh Qiya yang segera meraih buah tangan Hika, kemudian di ciumnya punggung tangan suaminya itu.


"Kenapa datang-datang teriak-teriak, Hika? Gak boleh seperti itu lagi, kamu harus bersikap lembut sama Qiya. Qiya ini kan istri kamu," kata Bunda Yasmin.


Hika melirik Qiya dengan tatajam tidak suka. Andai Bunda Yasmin tidak ada di sana, mungkin ia sudah meluapkan amarahnya.


"Iya, Bun. Maaf," ucap Hika.

__ADS_1


"Minta maaf nya sama Qiya, bukan ke Bunda. Ayo!"


Hika membelakakn matanya, jika bukan permintaan Bunda, mungkin ia tidak akan melakukannya.


"Iya, maaf .."


"Iya, mas. Gak apa-apa."


Qiya merasa senang bunda Yasmin ada di sana. Mertuanya itu sangat baik, bunda Yasmin memperlukannya seperti anak sendiri. Padahal mereka belum begitu dekat.


"Oh ya, kok bunda datang gak bilang-bilang?" tanya Hika kemudian.


"Memangnya bunda kalau mau datang harus minta izin dulu, ya?"


"Iya, lain kali bunda bilang dulu sama kamu kalau mau datang ke sini," ujar wanita itu.


"Ayah gak ikut, Bun?" tanya Hika lagi.


"Ayah tadi cuma nganterin aja. Ayah kan gak bisa ninggalin bisnisnya. Kamu juga tahu sendiri kan ayah gimana?"


"Iya, Bun."


Mereka melanjutkan obrolan kecilnya. Bunda Yasmin senang jika hubungan Hika dan Qiya baik-baik saja, dan akan tetap baik-baik saja seterusnya.

__ADS_1


***


Sorenya, Bunda Yasmin baru dapat kabar kalau ayah Hika akan menginap untuk urusan bisnisnya. Sebab sedang ada masalah kecil yang harus segera di selesaikan. Maka dari itu, Bunda Yasmin pun memutuskan untuk menginap di rumah Hika.


Hika jadi merasa gelisah dengan keputusan bundanya yang akan menginap. Itu artinya, terpaksa malam ini Qiya harus tidur di kamarnya.


Sementara perempuan itu sudah tidak sabar untuk tidur bersama sang suami. Meski dalam hati ia juga merasa sedikit canggung. Tapi ini kesempatan baginya untuk kembali memperjuangkan rumah tangganya, agar Hika bisa secepatnya membuka hati untuknya.


Sementara di tempat lain, ibu Zainab yang merupakan ibunda dari Qiya terlihat sedang berbincang-bincang dengan suaminya, pak Zainudin.


"Ayah, ibu kangen sekali sama Qiya. Bagaimana kalau misalnya besok kita rumahnya?"


"Tapi kan kita gak tahu alamat rumahnya dimana, Bu," sahut pak Zainudin.


"Nanti ibu bisa tanyakan dulu sama Qiya lewat telepon. Kira-kira kita bawa apa ya kesana?"


"Ibu sekalian tanya aja sama Qiya, Hika sukanya apa? Biar nanti jelas kita bawa apa ke sana," saran pak Zainudin.


"Oh iya, ya. Ya udah, kalau begitu ibu mau telepon Qiya nya dulu ya, yah. Ibu ke kamar dulu sebentar, ambil hp nya."


"Iya .."


Bu Zainab pun beranjak dari sana. Sementara pak Zainudin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Ia menghembuskan napas panjang. Entah kenapa, perasaannya merasa kalau putrinya tidak baik-baik saja di sana. Sebab pernikahan yang terjadi pada putrinya tanpa di dasari oleh rasa cinta.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2