Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Mengakhiri Hubungan


__ADS_3

"Sekarang coba jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" tanya pak Ando mengawali pembicaraan.


Keadaan cukup menegangkan, semua wajah orang yang ada di sana terlihat cukup serius.


Hika terdengar menarik napas panjang. Ia berharap Zahira akan menerima dan mengerti dengan penjelasan yang akan ia berikan.


"Abi, Umi .. Seminggu lalu Zahira menanyakan tentang keseriusan hubungan kami. Zahira bilang, Abi yang meminta Zahira untuk menanyakan hal tersebut sama aku. Aku belum bisa memberi keputusan pada Zahira waktu itu, lalu aku meminta waktu pada Zahira untuk memikirkan hal tersebut."


Hika kembali menarik napas panjang, menghemuskannya secara perlahan. Ia berusaha mencari kata yang tepat agar Zahira maupun pak Ando serta umi Afifah dapat mencerna dengan baik penjelasannya.


"Dan tadi, Zahira datang ke rumah untuk menanyakan jawaban dari aku mengenai keputusan itu. Tapi .."


"Tapi alasan dia tidak bisa memberi keputusan karena dia saat ini berstatus suami orang, umi, Abi .." pangkas Zahira.


Umi Afifah bersama pak Ando betul-betul terkejut dengan apa yang baru saja Zahira katakan.


"Ternyata selama ini Zahira berhubungan dengan laki-laki yang sudah menikah. Zahira merasa Zahira adalah orang ketiga di antara hubungan mereka Umi, Abi .." lanjut Zahira di iringi isak tangis.


Hika menunduk, ia merasa sangat bersalah sekali karena sudah melukai hati perempuan yang sangat ia cintai.

__ADS_1


"Kenapa itu bisa terjadi, Hika? Tolong jelaskan pada kami!" pinta pak Ando.


Hika kembali mendongakan wajahnya. Ia harus menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada Zahira dan juga pada dua orang yang ada di hadapannya.


"Jadi begini ceritanya Abi, Umi, Za. Sebulan yang lalu, keadaan Bunda cukup buruk. Bunda membutuhkan donor ginjal untuk hari itu juga. Kemudian ada seseorang yang bersedia yang mendonorkan satu ginjalnya untuk Bunda, yaitu ibunya Qiya. Setelah keadaan Bunda cukup membaik, Bunda meminta aku untuk menikah dengan putri dari ibu yang mendonorkan ginjal tersebut pada Bunda, yaitu Qiya. Bunda bilang, ibu itu memberi tahu kalau Qiya mengagumi aku. Maka dari itu, karena Bunda merasa berhutang budi, akhirnya Bunda meminta aku untuk menikahi Qiya sebagai tanda balas budi. Dan aku orang yang tidak akan bisa membantah permintaan Bunda," jelas Hika panjang lebar.


"Za, aku harap kamu paham dengan situasi ini. Aku harap kamu mengerti dengan apa yang saat ini aku alami. Sebab perasaan aku sepenuh masih menjadi milik kamu," imbuh Hika.


Berat, rasanya sangat berat menerima kenyataan pahit ini. Zahira yang selama ini menjaga perasaannya untuk Hika seorang, tapi ternyata takdir tidak berpihak padanya.


Sekuat apapun ia menggenggam, ternyata jika itu bukan miliknya, maka ia harus ikhlas melepaskan Hika dari genggaman tangannya.


Zahira menyeka air matanya. Ia berusaha untuk tegar dan ikhlas menerima semua ini. Ia beranikan diri untuk menatap wajah Hika.


"Tapi, Za. Aku cuma mencintai kamu, bukan Qiya," seru Hika, ia tidak terima jika hubungannya dengan Zahira berakhir.


"Enggak bisa, Ka. Kalau begitu, kamu akan menyakiti dua perempuan sekaligus dalam satu waktu. Sekarang kamu sudah menjadi suami Qiya, dan Qiya adalah istri kamu. Kamu harus bisa menerima takdir ini, begitupula dengan aku. Kamu harus lupain aku, Ka. Kamu harus membuka hati kamu untuk Qiya, bagaimanapun Qiya itu istri kamu. Kamu tidak boleh menyakiti hatinya. Demikian, aku juga akan lupain kamu. Meski aku tahu kalau itu sangatlah sulit."


"Tapi, Za .."

__ADS_1


"Sekarang kamu pulang, ya. Temui istri kamu, dia lah satu-satunya perempuan yang berhak atas kamu."


Kedua mata Hika berkaca-kaca. Ia sangat sedih dengan situasi ini. Itulah yang membuat Hika semakin jatuh cinta pada Zahira, kedewasaan Zahira, keikhlasan perempuan itu yang sangat luar biasa.


Ia tahu Zahira kecewa berat padanya, tapi Zahira masih bisa berusaha tegar dan sekuat itu. Bahkan Zahira mau berlapang dada.


Zahira sudah tidak kuat menahan air matanya yang mulai berdesakan untuk keluar. Ia lekas pergi dari sana, kembali meniti anak tangga menuju kamarnya.


"Za .. Za .." teriak Hika.


Pak Ando dan Umi Afifah paham dengan situasi yang saat ini di jalani Hika. Tapi ia tidak bisa berbuat apapun, lantaran saat ini Hika sudah memiliki kehidupan rumah tangga bersama perempuan pilihan bundanya.


"Nak Hika, umi tahu ini cukup berat buat kamu maupun Zahira. Tapi umi sarankan, kamu harus fokus pada rumah tangga kamu. Lupakan Zahira. Umi percaya kamu akan bahagia dengan perempuan pilihan bunda kamu. Takdir Allah tidak akan pernah salah, nak Hika. Mungkin kalian tidak di takdirkan untuk berjodoh, tapi pastinya ada hikmah besar di balik semua ini," tutur Umi Afifah.


"Iya, umi benar, nak Hika. Setelah ini, kamu mungkin harus melupakan Zahira, putri saya. Tapi untuk sekedar berteman, saya tidak akan pernah melarang," tambah pak Ando.


"Iya, umi, Abi. Aku minta maaf, aku gagal menjadi laki-laki yang akan menjaga Zahira. Aku minta maaf .." ucap Hika.


"Tidak perlu meminta maaf. Kamu tidak salah di sini. Ini semua karena takdir Allah."

__ADS_1


Tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka, sampai akhirnya Hika pamit untuk pulang.


_Bersambung_


__ADS_2