
Usai mendapat telepon dari bunda Yasmin, Hika segera menyusul langkah Qiya menuju dapur. Akan tetapi ia tidak menemukan sosok yang saat ini ia cari. Ia mendapati bi Iyam yang tengah merebus mie instant.
"Bi, Qiya mana?" tanya Hika pada bi Iyam.
Wanita paruh baya itu menoleh. "Non Qiya? Bukannya barusan udah balik lagi ke kamar?" bi Iyam malah balik bertanya.
"Enggak, bi. Justru aku cari ke dapur karena Qiya bawa-bawa gelas tadi."
"Gelas itu?" tunjuk bi Iyam pada gelas yang tergeletak di atas meja makan.
Pandangan Hika mengikuti arah telunjuk bi Iyam pada gelas tersebut.
"Aku pikir dia mau ambil minum, soalnya aku sering lihat Qiya sering bawa minum ke kamarnya kalau malam."
Bi Iyam memicingkan kedua matanya, menatap Hika dengan tatapan selidik.
"Cie .. berarti Den Hika selama ini perhatiin non Qiya juga ternyata," goda bi Iyam.
"Enggak lah, buat apa."
"Itu, Den Hika tahu rutinitasnya non Qiya."
"Udah ah, bi. Aku mau cari Qiya dulu," pamit Hika sembari melipir dari sana.
__ADS_1
Sementara bi Iyam senyum-senyum, ikut senang jika pada akhirnya Hika sudah membuka hati untuk Qiya.
Hika mencari Qiya ke kamar, tetapi perempuan itu tidak ada. Hingga ia memutuskan untuk pergi ke lantai dua, menuju balkon. Ia mendapati sosok yang ia cari di sana. Qiya tengah berdiri di balkon dengan kedua tangan memegangi pagar besi sebagai pembatas.
Tiba-tiba pikiran buruk terlintas dalam kepala Hika.
"Jangaaan ..!!" terika Hika sambil berlari dan menarik tangan Qiya, hingga perempuan itu kini berlabuh ke dalam dekapannya.
Qiya sangat terkejut dengan aksi Hika, ia baru sadar jika saat ini ia berada dalam pelukan suaminya.
"Kamu mau ngapain? Mau loncat? Bunuh diri, hah?" cecar Hika usai melepaskan pelukannya.
Qiya mengernyit. "Siapa yang mau bunuh diri?"
"Enggak ada yang mau bunuh diri, aku cuma nyari angin," jawab Qiya datar.
Hika menghela napas lega, ia pikir Qiya ada niatan untuk bunuh diri lantaran terlalu kecewa dengannya.
"Aku pikir kamu mau bunuh diri," ucap Hika sedikit merasa malu.
Qiya tak lagi merespon, ia kembali menatap bulan sabit yang menerangi gelapnya langit malam. Sementara Hika mulai menyusun kata agar Qiya mau memaafkannya dan bersedia ikut dengannya besok ke rumah bunda Yasmin.
"Qi .." panggil Hika lirih dan terdengar begitu hati-hati.
__ADS_1
"Aku benar-benar minta maaf sama kamu, aku menyesal udah nyakitin hati kamu, Qi. Aku akui, aku salah. Aku terlalu kasar sama kamu. Sekarang, terserah kamu mau ngelakuin apa aja sama aku, asal kamu mau maafin aku," ucap Hika dengan serius.
Qiya menoleh pada laki-laki yang berdiri di sampingnya itu. Sepertinya Hika sungguh-sungguh menyesali perbuatannya. Perminta maafkan Hika terdengar tulus. Dosa baginya jika tidak mau juga memaafkan kesalahan Hika, suaminya.
Qiya menarik napas panjang, menghembuskannya secara perlahan. Meski ia akui masih sangat sakit hati dengan ucapan Hika, tetapi Hika sudah mengakui kesalahannya. Hika pantas ia beri maaf.
"Iya, mas. Aku maafin," ucap Qiya lirih nyaris tak terdengar.
Hika mengangkat kedua sudut bibirnya, entah kenapa ia senang sekali Qiya mau memaafkannya.
"Serius?" tanya Hika memastikan.
Qiya mengangguk membenarkan. "Iya, mas. Memangnya aku terdengar bercanda?"
"Enggak, bukan begitu."
"Jangan di ulangi ya, mas .." pinta Qiya.
Hika mengangguk. "Iya. Makasih udah maafin."
"Sama-sama, mas."
Mereka saling melemparkan tatapan satu sama lain. Baru kali ini Qiya melihat Hika tersenyum seperti sekarang. Dan entah kenapa, Hika merasa jika tatapan dan senyuman Qiya terasa meneduhkan.
__ADS_1
_Bersambung_