Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Memberi Penjelasan


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang, air mata Zahira kian mengalir deras. Ia betul-betul kecewa pada Hika. Laki-laki yang dua tahun ini ia kenal dengan baik, ternyata mengecewakannya.


"Hika .. Rasanya aku masih tidak percaya dengan ini semua .." ucap Zahira lirih di antara Isak tangisnya.


Supir pribadinya yang sedari tadi melihat dari kaca spion yang menggantung di depan, ikut khawatir dengan keadaan putri dari sang majikannya itu. Tetapi ia memilih untuk diam, tak berani untuk bertanya. Ia juga melihat mobil milik Hika membuntuti sejak tadi.


Sampai di rumah, Zahira bergegas turun dari mobil kemudian lari masuk ke rumahnya. Pak Ando yang melihat putrinya menangis langsung khawatir dan menanyakan keadaannya.


"Za .. Kamu kenapa, nak?"


Zahira menghentikan langkahnya, tapi ia tak berani menoleh. Ia tidak ingin membuat Abi nya tahu dengan keadaan yang sebenarnya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk mengabaikan pertanyaan Abi nya lalu meniti anak tangga menuju ke kamar.


"Za ..!" panggil pak Ando sekali lagi.


"Ada apa ini?" gumam pak Ando, perasaannya jadi tidak enak.


"Kenapa, bi?" tanya seorang wanita yang merupakan umi dari Zahira, sebut saja Umi Afifah.


"Umi, Zahira pulang nangis-nangis. Abi khawatir terjadi sesuatu dengan Zahira," jelas pak Ando.


Umi Afifah ikut khawatir mendengar penjelasan suaminya. Tadi Zahira pergi dengan membawa rantang susuun usai memasak pagi-pagi, Umi Afifah berpikir jika Zahira jika putrinya dari rumah Hika.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu biar Umi yang tanya sama Zahira nya, ya."


"Iya, umi. Abi khawatir terjadi sesuatu buruk pada Zahira."


"Hush .. Gak boleh berpikiran buruk, bi," kata Umi Afifah mengingatkan.


"Iya, umi. Maaf."


Umi Afifah menghela napas panjang. Lalu berniat untuk menghampiri putrinya. Tetapi suara salam seseorang menghentikan langkah Umi Afifah, mereka menoleh seraya menjawab salam tersebut.


"Assalamu'alaikum .."


"Nak Hika?"


Hika menghampiri kedua orang tua Zahira lalu menyalami mereka secara bergantian.


"Umi, Abi, boleh aku bertemu dengan Zahira? Ada sesuatu yang harus aku jelaskan pada Zahira, umi, Abi. Aku mohon, Zahira harus mendengar penjelasan aku." Hika menelungkupkan tangannya di depan dada, memohon agar mereka mengizinkannya bertemu dengan Zahira.


Umi Afifah dan pak Ando saling memandang, sepertinya memang benar, kalau apa yang terjadi pada Zahira ada kaitannya dengan Hika.


"Memangnya apa yang sudah kamu lakukan, sampai membuat Zahira menangis?"

__ADS_1


"Itu dia, Abi. Aku harus menjelaskan semuanya pada Zahira. Aku mohon ..!"


Umi Afifah menghela napas panjang. Rupanya terjadi masalah serius antara Hika dan putrinya. Supaya tidak terjadi kesalah pahaman, mungkin ada baiknya Hika dan Zahira harus menyelesaikan masalahnya.


"Za .. Turun dulu, ya. Hika menunggu kamu di bawah, nak. Umi tidak tahu apa yang terjadi antara kalian, tapi semuanya harus di selesaikan secara baik-baik," bujuk umi Afifah untuk kesekian kalinya.


Zahira pun mengangguk setuju. "Iya, umi."


Zahira menyeka air mata yang sialnya tidak mau berhenti. Begitu sampai tangga, sepasang mata Zahira dan Hika bertemu. Ia segera menundukan wajahnya, ia masih kecewa dengan laki-laki itu.


"Ayo, Za!" ajak Umi Afifah.


Zahira melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga, lalu duduk bergabung bersama Abi nya dan juga Hika di sana.


Zahira menundukkan wajahnya, ia tak berani menatap wajah itu lagi.


"Sekarang coba jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" tanya pak Ando mengawali pembicaraan.


Keadaan cukup menegangkan, semua wajah orang yang ada di sana terlihat cukup serius.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2