Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Qiya Hamil


__ADS_3

Klek ..


Pintu kamar seketika terbuka dengan lebar, Qiya menoleh dan mendapati suaminya berdiri di sana.


"Mas .. Kamu mau mandi sekarang? Aku udah siapin air hangat buat kamu," ucap Qiya dengan lembut.


"Gak usah!" tolak Hika.


Seketika Qiya terkejut, wajah Hika terlihat sangat serius. Sebenarnya apa yang terjadi dengan pria itu, kenapa cepat sekali berubah?


Qiya bangkit berdiri, menunda sebentar pakaian yang selesai di lipat.


"Kamu kenapa, mas?" tanya Qiya dengan hati-hati.


Hika melangkah dan berhenti tepat di hadapannya. Ekspresi Hika sangat serius. Qiya cemas terjadi sesuatu dengan suaminya.


"Mulai hari ini, kamu gak perlu siapin air hangat untuk aku mandi, siapin sarapan, dan mengerjakan tugas yang lain!"


Kedua bola mata Qiya membulat sempurna, perasaannya mulai tidak enak. Ada apa dengan Hika sebenarnya.


"K-kenapa, mas?" tanya Qiya dengan bibir gemetar, kedua matanya mulai memupuk cairan putih bening yang siap jatuh kapan saja.


Tangan Hika memegang kedua sisi bahu Qiya. "Kamu lagi hamil kan, sayang?"

__ADS_1


Napas Qiya tertahan sejenak, sebelum akhirnya Hika melanjutkan kalimatnya.


"Barusan bunda telepon, bunda bilang kalau kamu lagi hamil. Itu benar?"


Qiya masih diam. Rencananya memberi kejutan pada suaminya ternyata gagal. Jika sudah tahu kehamilannya dari bunda. Salah ia sendiri juga, tidak mewanti-wanti agar bunda tidak kasih tahu soal kehamilannya pada Hika.


Qiya mengangguk. "Iya, mas. Aku hamil."


Mendengar pengakuan Qiya, Hika langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukan.


"Alhamdulillaah .." ucap Hika penuh rasa syukur.


Tidak lama, ia melepaskan kembali pelukannya. Ia tatap wajah Qiya.


"M-maaf, mas. Niatnya aku mau kasih kamu kejutan, tapi lupa kasih tahu bunda untuk tidak tidak kasih tahu kamu dulu."


Hika mengulas senyum. "Gak perlu minta maaf, aku enggak marah, kok. Justru aku senang dengan kabar baik ini."


Qiya yang semula menunduk kini mulai memberanikan diri membalas tatapan suaminya.


"Kamu beneran gak marah sama aku, mas?"


"Ya enggak lah. Buat apa aku marah? Pokoknya mulai sekarang kamu gak usah melakukan tugas rumah, apalagi yang berat-berat. Biar semuanya sama bi Iyam aja. Kamu harus jaga kandungan kamu baik-baik. Nanti siang kita ke Dokter, ya. Kita cek kandungannya."

__ADS_1


Qiya mengangguk setuju. "Iya, mas."


Hika kembali merangkul tubuh istrinya, mulutnya tak henti-hentinya mengucapkan rasa syukur lantaran Allah sudah memberinya sebuah kepercayaan berupa momongan.


Hika melepaskan pelukannya. "Sekarang kamu istirahat aja, biar aku yang lanjutin melipat bajunya."


Hika mendudukan Qiya di atas tempat tidur, ia menumpuk beberapa bantal untuk di jadikan sandaran.


"Tapi, mas-"


"Udah, nurut aja sama suami, ya. Aku bisa kok kalau cuma lipat baju doang."


"Iya, mas. Tapi kan-"


"Udah, ya. Biar aku aja," pangkas Hika lagi.


Pria itu melanjutkan melipat pakaian Qiya yang baru akan di pindahkan ke lemari kamarnya. Sebab mereka sudah satu kamar.


Awalnya Hika kelihatan kebingungan untuk melipat pakaian gamis, tapi pria itu berusaha terus agar lipatannya terlihat rapi, meski tidak serapi lipatannya.


Qiya mengulas senyum penuh syukur, betapa bahagianya ia memiliki suami seperti Hika. Ia sangat beruntung sekali. Dan ini semua tidak terlepas dari takdir Allah yang Maha Baik.


"Terima kasih Yaa Allah, sudah hadirkan mas Hika di hidupku."

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2