Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Kebahagiaan Luar Biasa


__ADS_3

Semburat kebahagiaan terpancar di wajah Hika begitu melihat pemandangan luar biasa di hadapan matanya. Ia mendapati Qiya tengah melakukan percobaan untuk menyusui, di bantu oleh Dokter.


"Assalamu'alaikum .." ucap Hika dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Qiya menoleh, seulas senyum menyambut kedatangan sang suami.


"Mas ..." ucap Qiya lirih.


Hika mempercepat langkahnya dan berhenti tepat di samping istrinya. Kedua mata tertuju pada wajah bayi sang putri.


Air mata Hika luruh begitu melihat bayi yang selama sembilan bulan ini ia nantikan.


"Cantik," satu kata berupa pujian keluar dari mulut Hika dengan nada terdengar gemetar.


Qiya pun ikut terharu dengan reaksi suaminya, sebahagia itu suaminya menyambut lahirnya sang putri.


"Kalau begitu, saya tinggal keluar dulu ya, pak, Bu. Dan jangan lupa nanti bayinya di adzanin," pesan Dokter sebelum akhirnya pergi keluar dari sana.


"Baik, Dok," jawab Hika.


Kini hanya ada Hika, Qiya, serta bayinya di sana. Tangis Hika semakin pecah, sebahagia itu ia sekarang. Ia mengambil alih bayinya dari pangkuan Qiya. Ia menimang pelan bayinya tersebut.


"Cantik sekali kamu, nak. Jadi anak Sholehah ya, sayang .."


Hika mendaratkan kecupan lembut di kening sang putri, kecupan penuh kasih sayang sebagai orang tua.


Sungguh pemandangan luar biasa bagi Qiya, ia tak henti-hentinya mengucap rasa syukur terhadap Allah SWT karena telah menghadirkan seorang anak sebagai pelengkap kebahagiaan mereka. Terlebih saat suaminya mulai mengumandangkan adzan tepat di telinganya putrinya.


Usai mengumandangkan adzan, Hika kembali memberi kecupan di kening putrinya. Ia memberikan kembali bayinya kepada istrinya untuk di beri ASI.


"Terima kasih, sayang. Terima kasih kamu sudah menjadi istri dan ibu yang hebat anak kita. Terima kasih, sayang .." ucap Hika di akhiri dengan kecupan singkat di puncak kepala Qiya.


"Iya, mas. Kamu juga suami yang hebat, ayah yang hebat untuk anak kita," balas Qiya.


"Iya, sayang .. Oh ya, bunda, ibu, sama ayah ada di luar. Mereka ada di sini," ucap Hika memberi tahu.

__ADS_1


"Iya, mas. Pasti bunda, ibu, sama ayah juga sudah tidak sabar buat ketemu sama anak kita, cucu mereka."


"Iya, cuma suster nya tadi belum memperbolehkan mereka untuk masuk. Cuma aku dulu yang boleh masuk."


"Iya, mas. Mmm .. Ngomong-ngomong, kita beri nama siapa anak kita, mas?" tanya Qiya kemudian.


Hika tampak berpikir sejenak. Memikirkan nama apa yang bagus untuk putrinya.


Sementara di luar, bunda Yasmin dan ayahnya Hika, serta Bu Zain dan pak Zain sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucunya. Namun adzan subuh terdengar berkumandang, mereka memutuskan untuk shalat subuh terlebih dahulu, seraya memanjatkan rasa syukur atas kelahiran cucu pertama mereka yang sudah lahir dengan selamat.


"Sayang .. Aku mau shalat subuh dulu, ya," pamit Hika begitu mendengar adzan subuh berkumandang.


"Iya, mas."


Hika mencium kening Qiya dan putrinya, sebelum kemudian ia beranjak pergi dari sana.


Sementara di rumah, bi Iyam usai menunaikan shalat subuh. Ia berdo'a untuk keselamatan Qiya dan bayinya.


"Ya Allah .. Lancarkan dan selamatkan lah non Qiya dan bayinya. Berikanlah mereka keselamatan serta kebahagiaan atas hadirnya sang buat hati. Aamiin .."


Di mushala rumah sakit, pak Zain yang menjadi imam shalat subuh. Selepas shalat mereka berdo'a bersama. Rasa syukur tak henti-hentinya mereka ucapkan.


"Ya Allah, terima kasih karena engkau telah menghadirkan seorang anak di antara pernikahan hamba dan Qiya. Terima kasih karena engkau telah memberi keselamatan untuk istri dan putri hamba. Terima kasih telah memberi kebahagiaan yang tak terhingga ini, Ya Allah. Sungguh, tidak ada kata yang bisa hamba ucapkan selain rasa syukur atas nikmat yang telah engkau berikan. Aamiin .." Hika mengusap wajahnya.


Usai berdo'a di hati masing-masing, mereka kembali ke ruangan dimana Qiya berada. Usai meminta izin pada Dokter, akhirnya semuanya bisa masuk ke ruangan tersebut.


"Assalamu'alaikum .." ucap bunda Yasmin, Hika, Bu Zain, dan yang lainnya.


"Walaikumussalaam .." jawab Qiya.


Wanita itu segera menyudahi memberikan ASI nya, sebab bayinya pun kini sudah tertidur.


"Masya Allah .. Cucu bunda cantik sekali .." puji bunda Yasmin, beliau segera mengambil alih bayi tersebut ke dalam pangkuannya.


"Selamat ya, nak. Anak ibu sekarang sudah menjadi seorang ibu," ucap Bu Zain.

__ADS_1


"Makasih, Bu," balas Qiya seraya membalas pelukan sang ibu.


"Selamat juga buat kamu, nak Hika. Kamu sekarang sudah menjadi seorang ayah," ucap pak Zain.


"Terima kasih, ayah," balas Hika.


"Selamat buat kalian, sekarang kalian sudah menjadi orang tua," ucap ayah Hika.


"Terima kasih, ayah," ucap Hika dan Qiya secara bersamaan.


Kebahagiaan kini tengah menyelimuti mereka. Berharap kebahagiaan itu akan menetap dan tidak cepat berlalu.


"Cucu bunda yang cantik ini siapa namanya?" tanya bunda setelah beberapa detik semuanya terdiam.


Hika menoleh ke arah Qiya. Wanita itu menganggukan kepalanya sebagai kode jika dia menyerahkan nama putrinya padanya.


Hika menghela napas panjang. Ia berharap semuanya akan suka dengan nama yang ia berikan untuk putrinya.


"Adiba Afsheen Myesha."


"Nama yang cantik, sama seperti bayinya," puji bunda Yasmin.


"Iya, nama yang bagus," sahut Bu Zain.


Qiya meneteskan air mata penuh rasa bahagia, penuh haru.


"Adiba Afsheen Myesha, semoga kamu tumbuh menjadi anak yang baik, shalehah, dan berbakti kepada orang tua ya, sayang .." ucap Qiya.


"Aamiin .."


Semua orang yang ada di sana mengaamiinkan ucapan Qiya. Senyuman terukir di wajah Qiya dan juga Hika. Semburat kebahagiaan tergambar nyata di wajah mereka.


"Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan? Terima kasih Allah, terima kasih."


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2