Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Mual dan Muntah


__ADS_3

Pukul dua dini hari, tiba-tiba saja Qiya bangun dan merasa mual. Ia bangun dari tempat duduknya dan berlari kecil menuju kamar mandi yang terdapat di kamar tersebut.


"Hoeks .. hoeks .."


Mual itu berubah jadi muntah, entah apa penyebabnya, yang pasti ia merasa mual sekarang.


"Hoeks .. hoeks .. hoeks .."


Sayup-sayup terdengar suara tersebut menusuk telinga Hika. Pria itu mengerjakan matanya dan perlahan terbuka. Begitu menoleh ke arah samping, sisi tersebut sudah kosong. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari sosok Qiya.


Hika bangun, ia menyisir ruangan dan pandangannya terhenti pada pintu kamar mandi yang terbuka.


"Hoeks .. hoeks .."


Suara Qiya muntah jelas terdengar, Hika langsung beranjak dari tempat tidurnya dengan perasaan khawatir.


"Sayang .. kamu kenapa?" tanya Hika dengan memburu.


Qiya menggeleng. Ia memutar keran air untuk membersihkan muntahannya. Tapi mual itu belum juga hilang, ia kembali memuntahkan cairan bening.


"Hoeks .."


Hika buru-buru memijat bagian pundak Qiya. Ia sangat khawatir dengan keadaan istrinya.


"Qiya, kita ke rumah sakit sekarang, ya," ajak Hika namun Qiya lagi-lagi menggeleng.


"Enggak, mas. Aku enggak apa-apa, kok," tolak wanita itu.

__ADS_1


"Tapi ini kamu muntah-muntah, aku takut kamu kenapa-kenapa," ungkap Hika.


Qiya memutar badannya menghadap sang suami. Ia berusaha meyakinkan Hika jika dirinya memang baik-baik saja.


"Aku baik-baik aja kok, mas. Mungkin ini aku mual bawaan bayi. Ibu sama bunda juga udah pernah bilang kalau hamil muda akan mengalami mual dan muntah kayak gini."


"Tapi yakin kamu enggak apa-apa?" tanya Hika memastikan.


"Iya, mas. Aku baik-baik aja, kok."


Hika menghela napas lega, syukurlah kalau Qiya memang baik-baik saja. Jujur, ia sangat khawatir begitu mendengar istrinya muntah-muntah. Terlebih ini tengah malam.


"Ya udah, kita balik ke tempat tidur, ya," ajak Hika mendapat anggukan dari Qiya.


Hika merengkuh kedua bahu Qiya, membantu wanita itu berjalan sampai tempat tidur. Ia tahu pasti Qiya lemas usai muntah terus menerus.


Pria itupun membuka laci nakas tempat ia menyimpan minyak angin. Ia memberikan minyak angin tersebut pada Qiya supaya di hirup. Bukan hanya itu, Hika juga menggosokkan minyak angin tersebut pada beberapa bagian tubuh Qiya.


"Aku kecilin AC nya, ya. Takutnya kamu mual karena masuk angin juga."


"Iya, mas."


Hika pun berjalan ke dekat pintu untuk menekan tombol di remot yang menempel di dinding. Usai mengecilkan suhu ruangan, Hika pamit sebentar untuk ke dapur.


Tidak sampai satu menit, Hika sudah kembali dengan membawakan segelas air di tangannya.


"Kamu minum dulu, ya. Ini air hangat supaya kamu gak mual-mual."

__ADS_1


Qiya menganggukan kepalanya lagi. Kemudian Hika membantu istrinya untuk minum.


"Yang banyak!" pinta Hika.


Akan tetapi Qiya hanya meminumnya sedikit, ia takut jadi muntah lagi. Hika menaruh gelas tersebut di atas nakas.


"Masih mual, gak?" tanya Hika memastikan.


"Masih, cuma dikit."


"Ya udah kalau begitu kita ke rumah sakit aja, ya," ajak pria itu lagi.


"Enggak perlu, mas. Aku beneran enggak apa-apa, kok. Kamu enggak usah khawatir, ya!"


Dengan berat hati, Hika menganggup. Sebenarnya ia cemas sekali dengan kondisi Qiya, tetapi wanita itu tetap mengatakan baik-baik saja.


"Iya. Sekarang kamu tidur lagi, ya. Istirahat. Kesehatan kamu harus benar-benar di jaga."


"Iya, mas. Maaf ya aku udah buat kamu terbangun gara-gara aku," ucap Qiya.


Hika menggeleng. "Enggak, enggak. Kamu enggak salah. Gak perlu minta maaf. Aku kan suami kamu, kamu istri kamu dan kamu lagi hamil. Aku harus jadi suami siaga buat kamu."


Qiya mengulas senyum. "Makasih ya, mas. Makasih udah mau jadi suami aku."


Hika mengusap pipi Qiya dengan lembut. "Iya, sayang .."


Qiya menghambur ke dalam pelukan Hika, pria itu membalas pelukan istrinya dengan penuh kasih.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2