Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Rasa Kecewa Zahira


__ADS_3

"Ngapain kamu pulang? Aku kan udah bilang jangan pulang sebelum Zahira pergi!" seru Hika, tanpa ia sadari ucapannya justru membuat Zahira di buat bertanya-tanya.


Zahira ikut bangun dari tempat duduknya, menghampiri Hika dan juga perempuan yang tidak ia kenal.


"Ka, maksud kamu apa?" tanya Zahira.


Hika menoleh, ia terlihat kebingungan sekarang.


"Kenapa dia gak boleh pulang sebelum aku pergi, Ka? Maksud 'pulang' di sini apa? Dia siapa, Ka?"


Mulut Hika serasa di kunci, ingin bicara namun sulit. Ia bingung harus menjelaskan apa pada Zahira.


Qiya tiba-tiba mengulurkan tangannya pada Zahira. "Aku Qiya, mbak. Orang yang bicara dengan mbak melalui telepon mas Hika di malam pertama pernikahan kami."


Seketika sekujur tubuh Zahira terasa lemas, lututnya seakan tidak mampu menopang beban tubuhnya. Kedua matanya membulat sempurna, napasnya tertahan.


Hika mengusap wajahnya mendengar pengakuan Qiya di hadapan Zahira. Ingin rasanya ia marah dan meluapkan segala kemarahannya pada Qiya. Tapi berusaha ia tahan di depan Zahira. Sebab bukan waktunya ia marah pada Qiya, namun ia harus memikirkan penjelasan seperti apa yang akan di berikan pada Zahira.

__ADS_1


Kedua mata Zahira mulai memupuk cairan bening di balik pelupuk matanya. Ia membungkam mulutnya merasa tidak percaya.


"Ka, semua yang di katakan oleh Qiya ini benar?" tanya Zahira dengan bibir gemetar.


"Za, aku bisa jelaskan semuanya sama kamu. Please ..!"


"Jadi ini alasan kenapa kamu tidak mampu memberi kepastian atas hubungan yang sudah kita jalani selama hampir dua tahun ini, Ka?"


"Za, za. Tolong jangan buat kesimpulan apapun tentang aku! Aku bisa jelaskan semuanya sama kamu, ok?!"


Zahira menggelengkan kepalanya. Air matanya mulai mengalir dan kian menderas.


Zahira menyeka air matanya, ia berusaha untuk tidak terlihat lemah. Ia memutuskan pergi dari sana, tapi sebelum itu ia sempat menghentikan langkahnya tepat di depan Qiya. Ia menatap perempuan yang saat ini sudah menjadi istri Hika.


"Kamu beruntung," ucapnya kemudian pergi.


"Za, tolong dengar dulu penjelasan aku, Za! Zahira ...!!"

__ADS_1


Hika menyusul langkah Zahira, tapi perempuan itu bergegas pergi bersama mobil yang di kemudikan oleh supir pribadi.


Hika kembali pada Qiya. Kedua mata Hika menyala merah menahan amarah. Kedua tangannya mengepal, kemudian ia memukul tembok yang ada di samping tempat berdiri Qiya.


Bugh ...


Qiya memejamkan kedua matanya. Tubuhnya terlonjak kaget. Ternyata Hika semarah itu padanya.


"PUAS KAMU SEKARANG ..?? PUAS ..???" teriak Hika membuat Qiya sedikit ketakutan.


Setelah itu Hika pergi, memutuskan mengejar Zahira untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


Air mata kembali menetes dari kedua mata Qiya. Ia pikir ia tidak akan menangis lagi dan membuang air matanya demi Hika. Tapi ternyata, itu terjadi lagi sekarang.


"Maaf, mas. Aku hanya berusaha menjaga marwah kamu sebagai suami aku. Aku tidak mau berkelanjutan berhubungan dengan Zahira, perempuan yang bukan muhrim kamu. Aku perempuan yang berhak atas kamu, mas. Hanya aku, istri kamu."


Qiya mengusap air matanya. Ia janji, ini adalah air mata rasa sakit yang terakhir yang mengalir dari matanya. Tidak akan ia biarkan air matanya kembali menetes kecuali air mata kebahagiaan.

__ADS_1


Bi Iyam yang sedari tadi mengintip lewat tembok, cukup simpati dengan apa yang terjadi di antara hubungan Hika, Qiya, juga Zahira. Beliau berharap tidak terjadi apapun di antara mereka. Bi Iyam berharap hubungan rumah tangga Hika dan Qiya akan baik-baik saja, dan hubungan antara Hika, Qiya, dan Zahira juga baik-baik saja. Semoga mereka bisa berteman setelah ini.


_Bersambung_


__ADS_2