Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Ujung Aksara


__ADS_3

"Diba .. Jangan lari-lari, sayang .." panggil Qiya setengah berteriak.


Bocah yang baru genap dua tahun itu menghentikan langkah dan berjalan menghampiri sang ibunya.


"Atu kejal tucing, Buda .." jawab Diba yang belum lancar bicara.


"Kejar kucing?"


"Iya, buda .. Tucing lali ke cana .." tunjuk Diba.


"Ya udah, enggak apa-apa enggak usah di kejar ya, sayang. Nanti kucingnya pasti ke sini lagi, main lagi sama Diba," ucap Qiya seraya membelai lembut rambut sang putri.


"Iya, Buda .."


"Kalau begitu, Diba mandi dulu, ya. Udah sore, nanti kalau ayah pulang Diba masih bau acem, Diba enggak ayah gendong," bujuk Qiya.


"Iya, Buda. Atu mau madi .."


"Iya, ayo .."


Qiya menuntun sang anak masuk ke dalam rumah. Sebelumnya ia sudah menyiapkan air hangat untuk putrinya mandi.


"Gosok gigi, ya .. Biar giginya putih dan sehat, Diba kan suka makan coklat. Kalau enggak gosok gigi nanti giginya apa?"


"Olong, Buda .." sahutnya.


"Iya, nanti giginya bolong, berlubang. Diba enggak mau kan giginya sampai bolong?"


Bocah itu menggelengkan kepalanya.


"Nah .. Makanya harus rajin sikat gigi, ya."


"Iya, Buda .."


Qiya bersyukur sekali, putrinya tumbuh menjadi anak yang penurut. Apapun yang dia katakan, Diba selalu menyimak dengan baik. Di usia yang masih dua tahun, dan tergolong masih dini, Qiya belajar menanamkan kebaikan pada putrinya. Mulai dari penampilan Diba yang sudah berhijab, sampai mengajarinya bacaan shalat serta Al-Qur'an. Beruntungnya, Diba anak yang cepat tanggap. Serta memiliki daya ingat yang cukup kuat. Sehingga, apa yang ia ajarkan hari ini, mampu di ingat sampai hari-hari berikutnya.


"Assalamu'alaikum .."


Ucapan salam yang berasal dari ayahnya membuat Diba ingin cepat-cepat selesai mandi.


"Buda .. Ayah tatang .." ucap Diba dengan girang.


"Iya, sayang. Ayah sudah datang. Tapi Diba harus pakai bakai baju dulu, ya. Baru bertemu dengan ayah."


"Iya, Buda .."


Usai memandikan, Qiya juga memakaikan baju putrinya. Tidak hanya sekedar memakaikan, Qiya juga sambil mengajarkan putrinya cara memakai baju sendiri agar Diba tumbuh menjadi anak yang mandiri.


Setelah di beri wewangian, barulah Diba keluar kamar dan menemui ayahnya yang saat ini duduk di ruang tamu.


"Ayaaaahhh ..." panggil Diba kemudian menghambur ke dalam pelukan ayahnya.


"Anak ayah wangi sekali .. Diba sudah mandi?" tanya Hika dan bocah itu mengangguk.


"Iya, ayah. Atu cudah madi .."

__ADS_1


"Pinternya anak ayah," Hika memberi beberapa kecupan di bagian pipi serta kening putrinya.


"Mas, kamu juga mandi dulu, ya. Nanti aku siapin makan buat kita makan nanti."


"Iya." jawab Hika, kemudian ia beralih pada putrinya yang ada di dalam pangkuan. "Sayang .. ayah mandi dulu, ya. Biar wangi kayak Diba."


Diba mengangguk. "Iya, ayah. Nati ayah main cama atu ya .." pinta bocah itu.


"Iya, sayang .. Nanti ayah main sama Diba."


"Iya, ayah .."


Hika mengecup kening putrinya, kemudian beralih mengecup kening istrinya.


"Aku mandi dulu ya, sayang .."


"Iya, mas."


Hika pun beranjak dari sana, kini hanya ada Qiya dan putrinya saja.


"Diba, sayang .. Bunda mau masak dulu sebentar, ya. Diba main dulu di kamar sambil tunggu ayah selesai mandi, ya."


Diba menganggukan kepalanya. "Iya, Buda .."


Qiya mengusap puncak kepala putrinya dengan gemas, sebelum kemudian putrinya pergi menuju kamar.


***


Di ruang makan dapur, bi Iyam membantu Qiya memasak. Sebenarnya Qiya sudah melarang bi Iyam, meminta wanita paruh baya yang masih setia kerja di sana untuk beristirahat. Akan tetapi bi Iyam tetap kukuh dan bersikeras untuk membantunya.


"Iya, bi. Tapi bibi kan pasti cape seharian kerja terus."


"Ya enggak apa-apa, non. Bibi kan udah biasa, justru bibi segan kalau membiarkan non masak sendiri, sementara bibi leha-leha tiduran di kamar."


Qiya menghela napas, bi Iyam memang wanita paruh baya yang ia kenal dengan sangat baik selama menjadi asisten rumah tangga di rumahnya.


Begitu masakan sudah matang dan siap untuk di hidangkan, Hika dan putrinya muncul.


"Buda .. Atu lapey .." ujar bocah itu seraya menepuk bagian perutnya yang gembul.


Hal tersebut tentu saja mengundang tawa Qiya dan juga bi Iyam. Wanita paruh baya sampai mencubit pipi Diba dengan gemas saking lucunya.


"Diba laper?" ulang Qiya.


Diba menganggukan kepalanya. "Iya, Buda .."


"Ya sudah, kita makan sama-sama, ya."


"Iya, Buda .." jawab bocah itu.


"Bi Iyam juga makan bareng kita, ya," ajak Hika, namun wanita paruh baya itu menolak.


"Bibi nanti aja, Den."


"Nanti kapan, bi? Ayo kita makan bareng aja."

__ADS_1


"Nanti aja ya, Den. Bibi belum lapar, biar Den Hika sama non Qiya, juga sama non Diba aja aja duluan. Kasihan, non Diba udah laper katanya. Kalau begitu, bibi mau ke kamar dulu senbentar, mau rebahan, hehe .."


Wanita paruh baya itu melipir dari sana, meski Hika sudah berkali-kali mengajaknya untuk makan bersama.


"Ayo kita makan, sayang .." Hika mendudukan Diba di salah satu kursi khusus anak balita.


"Ayo, ayah .."


Selain di ajarkan ilmu agama seperti shalat dan mengaji, Diba juga sudah Qiya ajarkan bagaimana cara untuk makan yang baik dan benar. Sebelum makan, mereka berdo'a bersama. Setelah itu, barulah mereka makan. Diba makan dengan lauk pauk yang Qiya buatkan khusus.


Usai makan, adzan magrib berkumandang. Hika mengajak putrinya untuk bersiap-siap menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, sementara Qiya membereskan dulu bekas makan mereka sejenak.


Jika harus mencuci piring terlebih dahulu, maka akan lama. Waktu shalat magrib juga hanya sebentar. Ia putuskan untuk segera menyusul suami dan putrinya yang sudah menunggunya.


Setelah mengambil wudhu, Qiya ikut bergabung dengan memakai mukena berwarna ungu polos hadiah dari Hika atas usia pernikahan mereka.


Dengan ucapan basmalah, Hika memulai shalat magrib berjama'ah.


Sementara Diba mengikuti setiap gerakan yang di lakukan oleh ayah dan bundanya. Ayah dan bundanya ruku', ia mengikuti, dan begitu ayah dan bundanya sujud, ia pun mengikutinya bahkan lebih lama.


Hingga di rakaat terakhir, Hika mengucap salam sembari menoleh ke kanan dan ke kiri. Di ikuti oleh Qiya sebagai makmum, dan di ikuti pula oleh Diba.


"Assalamu'alaikum warrahmatullah .." salam ke arah kanan.


"Assalamu'alaikum warrahmatullah .." salam ke arah kiri.


Hika mengusap wajahnya menandakan shalat telah selesai. Kini masing-masing kedua tangan mereka menengadah, menandakan jika mereka mulai berdo'a.


"Yaa Allah .. Tuhan semesta alam. Ampunilah dosa-dosa hamba dan dosa-dosa orang tua hamba. Yaa Allah .. Tak henti-hentinya hamba mengucapkan rasa syukur atas nikmat yang selama ini engkau berikan kepada kami. Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai orang tua untuk putri kecil kami. Jadikanlah putri hamba anak yang shalehah juga berbakti kepada kami sebagai orang tuanya. Hamba memohon perlindungan padamu untuk keluarga kecil ini, Ya Allah .. Aamiin .." ucap Hika dan di aamiinkan olehnya juga di ikuti oleh Qiya dari belakang.


Hika menoleh, kemudian Qiya menyalaminya. Di susul oleh Diba yang ikut menyalami sang ayah.


Hika menggeser posisi duduknya lebih dekat dengan istri dan anaknya. Setelah dekat, ia memeluk mereka.


"Aku beruntung memiliki kalian," ucap Hika.


"Aku juga, mas .."


"Atu cayang ayah dan buda .." ucap Diba di tengah-tengah dekapan mereka.


"Bunda juga sama sayang sama kamu, putri bunda."


"Ayah juga, jauh lebih sayang sama kamu, nak. Sama bunda juga."


Begitu menghangatkan. Entah harus dengan kata apa lagi untuk Qiya mengungkapkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan padanya.


"Terima kasih Ya Allah ..Terima kasih atas pelangi yang telah engkau hadiahkan usai hujan dan badai berlalu. Perjuanganku tidak sia-sia. Hari demi hari yang aku lalui di iringi dengan air mata dan luka, kini sudah berubah menjadi hari penuh tawa dan bahagia. Dinginnya mas Hika kini telah berubah menghangatkan. Rasa benci yang mas Hika punya, telah berubah menjadi rasa cinta. Bahkan sesuatu yang awalnya aku anggap mustahil, kini telah terjadi. Mas Hika sudah menempatkan aku satu-satunya wanita di hatinya. Bahkan sekarang kita sudah memiliki malaikat kecil sebagai pelengkap kebahagiaan kami. Terima kasih juga untuk bunda Yasmin yang sudah membuat keputusan agar Hika menikahi aku. Meski sebetulnya aku tahu kalau apa yang di lakukan bunda Yasmin adalah bentuk balas budinya atas kebaikan ibu. Dan terima kasih aku ucapkan karena engkau selalu memberi ibu kesehatan serta kekuatan untuk ibu yang saat ini hidup dengan satu ginjal. Panjangkanlah usia mereka, Yaa Allah. Dan semoga kebahagiaan ini terus menetap dan tidak cepat berlalu. Aamiin .."


_TAMAT_


Hallo semuaaa .. Terima kasih juga buat kalian yang mengikuti cerita ini, semoga selalu di beri kesehatan oleh Allah SWT. Terima kasih sudah menjadi saksi cinta antara Hika dan Qiya. Selamat bertemu di kisah couple selanjutnya. Jangan lupa untuk follow akun media sosialku di Instagram @wind.rahma agar kalian dapat update novel terbaru yang akan segera rilis. See you🤗❤️


Salam hangat,


Wind Rahma

__ADS_1


__ADS_2