
Tidak terasa, pernikahan Qiya dan Hika sudah genap tiga bulan. Perempuan itu sangat bersyukur, lantaran do'a nya begitu cepat Allah ijabah. Semakin hari sikap Hika semakin manis padanya. Bahkan pria itu tidak lagi terdengar menyebut nama Zahira dari mulut nya. Qiya berharap suaminya itu memang sudah move on dari Zahira, berharap perasaan suaminya terhadap Zahira sudah habis terkikis dan di gantikan oleh nya.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" tanya Hika membuat Qiya terlonjak kaget.
"Enggak kok, mas. Aku gak apa-apa," jawab Qiya sembari melanjutkan melipat pakaian di tepi ranjang.
"Itu senyum-senyum, mikirin apa?"
Qiya diam sejenak, ia jadi salah tingkah saat Hika duduk di sampingnya. Perasaannya berdebar tidak karuan, padahal ia sudah beberapa kali melakukan hubungan kewajiban suami istri dengan pria tersebut.
"Aku bahagia, mas. Akhirnya kamu bisa membuka hati buat aku. Dan sekarang, usia pernikahan kita tepat yang ketiga bulan."
Hika mengangkat kedua alisnya, ia memang tidak terlalu mengingat tanggal pernikahannya.
"Oh ya?"
Qiya mengangguk membenarkan.
"Selamat tiga bulan pernikahan," ucap Hika.
Qiya mengulas senyum, tidak menyangka jika Hika akan memberi ucapan.
"Selamat tiga bulan pernikahan juga, mas," balas Qiya.
Hika meraih buah tangan Qiya, ia menatap istrinya lekat-lekat.
"Pernikahan ini bukan lagi aku sama kamu, tapi kita, Qiya."
Ucapan sederhana namun cukup membuat Qiya cukup terharu mendengarnya. Kalimat 'kita' merupakan sebuah pantangan bagi Hika untuk menyebut antara dia dan dirinya. Namun kali ini tidak ada lagi jarak di antara mereka.
Qiya menghambur ke dalam pelukan Hika, pria itu membalas pelukannya cukup erat.
"Makasih ya, mas. Makasih udah terima aku jadi istri kamu," ucap Qiya sambil terisak, menangis haru.
__ADS_1
"Aku yang seharusnya berterima kasih, terima kasih sudah menerima semua sikap aku yang dulu."
Qiya melepaskan pelukannya, berganti menatap wajah suaminya cukup dalam.
"Jangan di bahas lagi ya, mas. Seharusnya itu menjadi masa lalu yang tidak perlu kita ingat lagi, sekarang kita fokus saja menatap masa depan."
Hika mengangguk. "Iya, sayang."
Qiya membulatkan matanya sempurna, wajahnya seketika menegang, napasnya tertahan. Mendengar panggilan baru berupa kata 'sayang' membuat degup jantung Qiya berpacu di atas normal.
Hika tersenyum, ia gemas melihat ekspresi wajah Qiya.
"Kenapa? Gak suka ya aku panggil kamu sayang?"
"S-suka, m-mas. Aku s-suka, kok," jawab Qiya gugup.
"Mulai hari ini, kamu juga harus panggil aku sayang, ya. Sayang kita kan halal," pintanya.
Qiya mengangguk kaku. "I-iya, mas."
"M-maksud aku .. I-iya, s-sayang .."
Hika terkekeh sekaligus senang mendengar Qiya pun memanggilnya dengan sebutan yang sama.
Hika bangkit berdiri, ia mengusap puncak kepala Qiya dan meninggalkan sebuah kecupan di kening.
"Aku ke luar sebentar, ya. Kamu lanjut lagi melipat bajunya," pamit Hika.
"Iya, sayang," jawab Qiya, kemudian ia segera menutup mulutnya tidak sangka akan lancar mengucapkannya.
Hika mengangkat sebelah sudut bibirnya sebelum kemudian pergi dari sana.
Qiya memejamkan kedua matanya, rasanya begitu mendebarkan. Maklum, ia belum pernah mengalami fase pacaran. Meski demikian, ia tahu menjadi seorang istri yang memiliki tugas melayani seorang suami.
__ADS_1
Sementara di teras, Hika tengah menikmati udara segar pagi ini. Ia memutuskan untuk tidak masuk kerja saat ini. Sesekali, ia ingin menikmati waktu berdua dengan istrinya, Qiya.
Ponselnya seketika berdering mendapati panggilan masuk, Hika merogoh ponselnya dan tertera nama bunda Yasmin di sana. Tanpa pikir panjang, ia segera menjawab teleponnya.
"Assalamu'alaikum, Bun .."
"Walaikumussalaam .. Hika, selamat atas pernikahan kalian yang ketiga bulan, ya," ucap bunda Yasmin seketika menciptakan senyum di bibir Hika.
"Iya, bunda. Makasih, ternyata bukan cuma Qiya yang ingat tanggalnya, bunda juga."
"Mana ada bunda lupa."
"Iya, Bun. Makasih, ya .."
"Iya, sayang. Oh ya, gimana perkembangan kehamilan Qiya sekarang?"
Pertanyaan bunda Yasmin seketika mengerutkan kening Hika.
"Kehamilan?"
"Iya, Minggu lalu Qiya bilang sama bunda kalau dia garis dua. Memangnya kamu belum di kasih tahu?"
Hika bergeming. Minggu lalu? Qiya hamil? Bunda tahu tapi dia? Tanpa mematikan telepon, Hika langsung berdiri dan beranjak dari tempat duduknya.
"Hika .. Hika .." panggil bunda, namun tidak ada jawaban.
Bunda Yasmin pun mematikan sambungan.
"Apa Hika belum tahu ya kehamilan Qiya?" pikir bunda Yasmin.
"Yaa Allah.. Gimana kalau niat Qiya tidak memberi tahu ini untuk surprise? Gimana kalau Hika marah karena Qiya tidak beri tahu kabar sebesar ini?"
Bunda Yasmin berharap tidak terjadi perdebatan di antara rumah tangga putranya. Beliau berharap semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
_Bersambung_