
Usai makan malam, pak Zain dan bu Zain memutuskan untuk pulang. Awalnya mereka berniat untuk menginap, akan tetapi setelah di pikir-pikir lagi, lebih baik pulang saja.
"Yahh .. kok gak jadi yah, Bu, nginapnya?" ujar Qiya yang sudah terlanjur berharap.
"Iya, Bu. Kenapa gak jadi? Ini sudah malam, lebih baik ayah sama ibu menginap saja,", usul Hika.
"Maunya sih begitu, tapi ayah lupa kalau besok subuh ayah harus sudah berangkat kerja," sahut pak Zain.
"Kenapa harus subuh-subuh, yah?" tanya Qiya merasa heran.
"Biar rezekinya gak di patok ayam," jawab pria paruh baya itu bercanda.
"Ih, ayaaahh .. Aku pikir apa," kata Qiya.
"Ya sudah, kalau begitu ibu sama ayah pamit pulang, ya. Besok-besok ibu sama ayah ke sini lagi, mau di bawain apa?" tanya ibu Zain.
"Gak usah repot-repot, Bu. Kalau aku mau apa-apa, aku bisa minta ke mas Hika aja. Iya kan, mas?"
Hika mengangguk. "Iya."
"Kalau ibu sama ayah besok-besok ke sini, harus nginap, ya," pinta Qiya di angguki oleh kedua orang tuanya.
"Iya .. ibu sama ayah janji, besok-besok nginap."
"Bener ya, Bu?"
"Iya, nak. Kalau begitu ibu sama ayah pulang, ya," pamit Bu Zain lagi.
"Iya, Bu."
__ADS_1
Qiya dan Hika menyalami pak Zain dan Bu Zain secara bergantian.
"Assalamu'alaikum .." ucap pak Zain dan istrinya secara bersamaan.
"Walaikumussalaam .." jawab Qiya dan Hika.
"Hati-hati, yah, Bu .."
"Iyaa .."
Qiya dan Hika mengantar mereka sampai depan rumah, setelah kendaraan yang di tumpangi oleh kedua orang tuanya pergi, Hika mengajak Qiya untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Lagi hamil, gak baik di luar rumah kalau malam," ucap Hika mengingatkan.
"Iya, mas," jawab Qiya patuh.
Hika merengkuh bahu istrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Gak boleh begadang, ya. Kamu jam delapan udah harus tidur, paling malam jam sembilan."
"Iya, mas. Tapi masalahnya, aku belum juga ngantuk. Biasanya aku tidur jam sepuluh, mana bisa aku tidur jam delapan," protes Qiya.
"Makanya mulai dari sekarang jangan di biasakan. Sekarang keadaannya udah beda, ada calon anak kita yang harus di jaga."
Qiya mengembangkan senyum. Ia senang sekali mendapat perhatian seperti itu dari Hika. Meski perhatiannya terdengar sedikit posesif, tapi itu semua demi kebaikan ia dan calon bayinya juga.
"Iya, mas. Ya udah, aku tidur, ya."
"Iya."
__ADS_1
"Kamu juga."
"Kamu aja, aku nanti, mastiin kamu tidur apa enggak."
"Harus di pastiin juga?"
"Iya, takutnya kamu pura-pura tidur."
Qiya menggeleng-gelengkan kepala. Sebegitu posesifnya Jika sekarang. Tapi tak apa, ia sangat suka dengan cara Hika.
"Iya, mas, iya .."
Qiya membaringkan tubuhnya, ia hendak menarik selimut, tetapi Hika lebih dulu mengambil selimutnya.
"Tidur, ya .." ucap Hika sembari menyelimuti tubuh Qiya sampai bagian leher.
Qiya mengangguk sekaligus merasa senang. "Iya, mas."
"Jangan lupa berdo'a!"
"Iyaa .." jawab Qiya menurut.
Wanita itu membaca do'a lewat hati, kemudian mulai memejamkan kedua matanya.
Sementara Hika duduk di tepi ranjang sambil terus memandangi wajah Qiya. Ia akan betul-betul memastikan Qiya sampai tidur.
Cukup lama memandang wajah Qiya, hingga wanita itu benar-benar terlelap. Qiya tampak lebih cantik dan elegan jika di lihat dalam keadaan sedang tertidur seperti sekarang.
Hika mengusap perut datar istrinya, lalu ia meninggalkan sebuah kecupan singkat di sana.
__ADS_1
"Sehat-sehat di rahim ibumu, nak," bisik Hika tepat di bagian perut Qiya.
_Bersambung_