Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Cilung


__ADS_3

"Assalamu'alaikum ..."


Ucapan salam dari ibu Zainab dan pak Zainudin membuat bi Iyam yang sedang membersihkan bagian ruang tengah beranjak untuk membukakan pintu.


"Walaikum salaam .." jawab bi Iyam.


"Qiya nya ada?" tanya Bu Zain kemudian.


"Ada, ada. Silahkan masuk!"


Bi Iyam mempersilahkan kedua orang tua Qiya untuk masuk dan duduk menunggu di sofa ruang tamu.


"Sebentar, saya panggilkan non Qiya dan Den Hika nya dulu," pamit bi Iyam.


"Iya, terima kasih," ucap Bu Zain.


Pak Zain mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan. Ternyata rumah yang di tinggali oleh putrinya cukup besar. Beliau sangat bersyukur jika putrinya memiliki kehidupan yang lebih.


Tidak berapa lama, Qiya dan Hika muncul.


"Ayah .. ibu .." ucap Qiya kemudian menyalami kedua orang tuanya.


Di susul oleh Hika yang kemudian mereka duduk di sofa yang masih kosong.


"Ayah sama ibu apa kabar?" tanya Hika kemudian.


"Alhamdulillaah .. sehat. Nak Hika sendiri?"


"Alhamdulillaah .. sehat juga."


Mereka saling melempar senyum penuh syukur atas nikmat sehat yang di berikan oleh Allah SWT.


"Oh ya, nak. Ini ibu belikan cilung nya," Bu Zain memberikan kantong plastik bening yang sebelumnya beliau letakan di atas meja.


"Makasih ya, Bu. Maaf udah bikin ayah sama ibu jadi repot," ucap Qiya sembari menerima kantong kresek berisi cilung tersebut.


"Sama-sama."


"Mana ada ayah repot, apalagi ini buat calon cucu ayah," sahut pak Zain.


"Iya, makasih, ayah .."


"Sama-sama, nak," balas pak Zain.

__ADS_1


Qiya membuka kantong plastik tersebut, terdapat sepuluh tusuk cilung di dalamnya.


"Mau coba, mas?" tawar Qiya.


"Itu kan papeda?" tebak Hika.


"Iya, sebenarnya sama. Cuma aku menyebutnya ini dengan cilung. Mau?"


Hika mengangguk. "Boleh."


Qiya memberikan kantong plastik tersebut, Hika mengambilnya setusuk. Cilung nya masih hangat, jadi cita rasa dari aci tersebut masih sangat enak.


"Enak kan, mas?"


"Iya, aku juga sering beli yang ginian waktu masih sekolah dasar. Sekarang baru nyoba lagi."


"Beneran kamu suka beli juga?"


Hika mengangguk. "Iya, aku serius."


Qiya mengulas senyum, tidak menyangka jika Hika pun menyukai street food tersebut.


"Ibu sama ayah harus coba juga," pinta Qiya.


"Emangnya enak?" tanya pak Zain penasaran.


"Enak, ayah. Coba, deh. Ibu juga, ya!"


Pak Zain mengambi satu tusuk, begitu juga dengan Bu Zain yang Qiya paksa. Begitu masuk mulut, ternyata memang enak rasanya.


"Emm .. tahu gini ayah beli dua puluh tusuk tadi," kata pak Zain.


"Enak kan?"


"Enak banget."


"Mau lagi?"


"Enggak, ini masih ada."


"Ya udah."


Keempat orang tersebut menikmati cilung atau papeda yang di beli di pinggir jalan tadi. Rasanya memang enak, gurih, dan bikin nagih. Sepuluh tusuk pun habis. Qiya memakan lima tusuk, Jika dua tusuk, pak Zain dua tusuk, sementara ibu Zain hanya satu tusuk saja.

__ADS_1


"Kalo kamu masih mau, nanti aku beliin lagi," tawar Hika.


"Enggak usah, mas. Udah cukup, kok."


"Serius?"


"Iya."


"Ya udah, kalau kamu nanti mau apa-apa, bilang aja, ya."


"Iya, mas."


Bu Zain beserta suaminya senang dan merasa adem melihat Qiya yang akur seperti ini dengan Hika.


"Oh ya, ibu boleh pegang cucu ibu?" tanya Bu Zain mengalihkan suasana.


"Iya, ibu. Boleh," jawab Qiya.


Bu Zain menoleh ke arah menantunya. "Nak Hika, boleh?"


"Boleh, Bu. Boleh banget," jawab Hika.


Bu Zain pun menggeser posisi duduknya lebih dekat lagi dengan Qiya. Wanita paruh baya itu memegang perut datar putrinya. Beliau mencium perut Qiya dengan kasih sayang penuh, serta tak lupa ucapan rasa syukur lantaran Allah sudah mengaruniainya seorang cucu, meski belum terlahir ke dunia.


"Jaga baik-baik titipan Allah, nak," pesan Bu Zain.


Qiya mengangguk. "Iya, Bu."


Bu Zain membelai lembut kepala Qiya yang tertutup oleh hijab instant. Kemudian beliau memeluknya. Setelah itu beliau juga meninggalkan sebuah kecupan hangat di bagian kening putrinya.


"Nak, Hika. Jaga Qiya baik-baik, ya," pesan Bu Zain pada menantunya.


"Baik, Bu. Pasti," jawab Hika.


"Jaga dia, lindungi dia," tambah pak Zain.


"Pasti, ayah. Aku pasti akan melakukan semuanya sebagai bentuk tanggung jawab aku sebagai seorang suami."


"Bagus, ayah percayakan semuanya sama kamu "


"Baik, ayah," jawab Hika mantap.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2