
Detik berganti menit, menit berganti jam, berganti hari, Minggu, dan berganti bulan. Tidak terasa, usai kehamilan Qiya sudah memasuki trimester tiga dan sudah berusia genap sembilan bulan. Menanti kehadiran sang buah hati sudah tidak lagi sabar. Apapun jenis kelaminnya, tidak masalah. Yang terpenting nantinya Qiya dan juga bayi nya lahir dengan selamat.
Usai membeli perlengkapan bayi, Hika mengajak Qiya untuk makan siang ke sebuah restoran terdekat. Jaraknya tidak hanya sekitar tiga kilo meteran saja. Kini mereka sudah sampai di sana.
"Hati-hati," ucap Hika sembari membantu istrinya turun dari mobil.
"Iya, mas. Aku bisa, kok," jawab Qiya.
Hika menutup kembali pintu mobilnya, mereka melangkah untuk masuk ke dalam restoran tersebut. Begitu sampai pintu, mereka berpapasan dengan Zahira.
Hika sedikit terkejut, lantaran setelah hari itu ia baru bertemu lagi dengan Zahira.
"Za .." ucap Hika lirih.
Hika terpaku pada wajah Zahira. Wanita itu berbeda sekali dengan Zahira yang ia kenal dulu, lebih dari sebelumnya. Hika tidak menyangka akan bertemu lagi dengan wanita yang pernah mengisi hatinya selama dua tahun. Tapi bagaimana pun Zahira sekarang, perasaannya sudah berbeda. Sepenuhnya hatinya sudah milik Qiya.
Qiya bisa merasakan bagaimana perasaan suaminya sekarang saat di pertemukan lagi dengan Zahira. Ia berharap suaminya tidak akan mengharapkan lagi Zahira.
Zahira membalasnya dengan seulas senyum. Perhatiannya tertuju pada perut Qiya yang menonjol besar.
"Maaf, kamu sedang hamil?" tanya Zahira kemudian.
Qiya mengangguk. "Iya," jawabnya.
"Oh. Selamat, ya."
"Terima kasih," ucap Qiya sementara Hika hanya diam.
"Gimana kabar kamu, Za?" tanya Hika, sebenarnya ia ingin menahan pertanyaan itu.
__ADS_1
"Jauh lebih baik dari apa yang kamu pikirkan," jawab Zahira seketika membuat Hika teringat rasa bersalahnya.
"Syukurlah kalau begitu."
"Iya. Sepertinya kalian juga begitu bahagia, apalagi kebahagiaan kalian akan terasa lebih lengkap dengan kehadiran seorang anak."
Qiya dan Hika hanya merespon dengan senyuman. Sampai akhirnya, seorang pria keluar dan berdiri di samping Zahira.
"Za, kok masih di sini?" tanya pria itu mengalihkan perhatian Hika dan juga Qiya.
"Iya, mas. Ini aku gak sengaja ketemu sama teman lama aku."
Pria itu memandang ke arah Hika dan Qiya. Kemudian Zahira memperkenalkan mereka.
"Ka, Qi, kenalin ini mas Gara, tunangan aku."
"Hai .." sapa Gara.
"Hai," balas Hika dan Qiya hampir bersamaan.
"Oh ya, kalau begitu aku sama mas Gara permisi duluan, ya. Assalamu'alaikum .."
"Kami duluan," pamit Gara.
"Walaikumussalaam .."
Zahira pergi dari hadapan Hika dan Qiya bersama dengan Gara. Hika memandang punggung kepergian mereka untuk beberapa saat. Mungkin inilah takdir kehidupan, seberapa lama kita menjalin hubungan jika itu bukan takdir jalan kita, maka Allah akan memberi takdir lain yang lebih baik lagi. Dan takdir baik Hika adalah Qiya, istrinya.
Hika menoleh ke arah istrinya. Ia tidak ingin membuat Qiya berpikir yang macam-macam atas pertemuan kembalinya dengan Zahira. Ia segera menggandeng lengan istrinya dan membawanya masuk ke restoran tersebut.
__ADS_1
"Ayo, sayang. Kamu pasti udah lapar kan?"
Qiya tersenyum. "Iya, mas."
***
Malam ini Hika dan Qiya bersiap-siap untuk tidur. Qiya pikir, setelah pertemuan suaminya tadi dengan sang mantan kekasih akan menggoyahkan hati Hika. Tetapi ternyata perkiraannya salah. Hika sama sekali tidak terpengaruh oleh pertemuan tadi. Dan tidak mengurangi perhatian pria itu terhadapnya.
Seperti sekarang ini, Qiya tidur dengan lengan Jika sebagai bantalannya. Suaminya terus membelai kepalanya dengan sesekali mendaratkan ciuman di bagian kening.
"Aku sayang sama kamu, mas. Aku enggak mau kehilangan kamu," ungkap Qiya tiba-tiba.
Hika menatap wajah istrinya, sepertinya Qiya kepikiran soal pertemuan kembalinya tadi bersama Zahira. Maka dari itu Qiya mengungkapkan hal demikian.
"Aku jauh lebih sayang sama kamu, Qi. Enggak usah khawatir, aku enggak bakalan kemana-mana. Aku akan tetap ada buat kamu, aku sedang berusaha menjadi suami terbaik buat kamu."
"Makasih ya, mas. Makasih udah pilih aku," ucap Qiya dan mendapat anggukan dari Hika.
"Iya .. Sekarang kamu tidur, ya. Enggak usah mikir yang macam-macam. Kamu enggak boleh stress, sebentar lagi kan kamu udah mau melahirkan."
Qiya mengangguk. "Iya, mas. Kamu juga tidur, ya.."
"Iya. Selamat tidur, mimpi indah, sayang."
"Selamat tidur juga. Mimpi indah suamiku."
Qiya mendaratkan satu kecupan singkat di pipi suaminya, dan mendapat kecupan hangat kembali dari Hika. Seteleha itu, mereka memejamkan mata usai membaca do'a di hati masing-masing.
_Bersambung_
__ADS_1