
Hari ini Qiya sudah siap berangkat ke rumah bunda Yasmin, katanya Hika sudah menunggunya di mobil. Tapi tiba-tiba aja ia mendapat sebuah telepon dari ibunya, jika ayahnya sedang sakit.
Qiya buru-buru memberi tahu hal tersebut pada Hika, ia bergegas menyusul suaminya di mobil.
"Mas, kayaknya aku gak bisa ikut ke rumah bunda Yasmin," ujar Qiya.
"Kenapa?"
"Ayah aku sakit, mas. Aku harus segera ke sana sekarang," jelas Qiya sedikit khawatir.
"Ya udah, kamu masuk aja. Sekarang ke rumah orang tua kamu dulu, nanti aku kabarin sama bunda."
Qiya mengangguk. "Iya, mas. Makasih."
"Hm."
Qiya pun masuk ke bagian samping kemudi. Hika segera mengemudikan mobilnya keluar dari halaman rumah.
Di perjalanan, Qiya tampak cemas sekali. Sesekali Hika menoleh ke arah Qiya, perempuan itu terus saja meremas ujung bajunya.
"Gak usah panik, sebentar lagi sampai."
Qiya menoleh, kemudian mengangguk. "Iya, mas."
Qiya menarik napas panjang, dalam hati ia terus merapalkan do'a dan harapan agar tidak terjadi sesuatu yang buruk.
Kini mobil Hika memasuki pekarangan rumah ibunda Zainab dan pak Zainudin, orang tua Qiya. Qiya bergegas turun dari mobilnya menuju rumah tersebut dengan langkah tergesa.
"Assalamu'alaikum ... Bu .." salam serta panggil Qiya seraya mengetuk pintu depan rumah.
"Walaikumussalaam .. Masuk, Qi ..!" jawab ibu Zainab dari dalam rumah.
Qiya pun membuka pintunya, mendapati kedua orang tuanya tengah duduk di ruang tengah. Ia segera menyalami kedua orang tuanya tersebut.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum .." salam dari Hika.
"Walaikumussalaam .."
Hika melangkah untuk menyalami kedua mertuanya.
"Silahkan duduk, nak!" ujar Bu Zainab mempersilahkan putri dan menantunya untuk duduk.
"Iya, Bu."
Qiya dan Hika pun duduk bersampingan.
"Ayah sakit apa, Bu?" tanya Qiya kemudian, melihat beberapa koyo cabe tertempel di bagian tubuh pak Zainudin.
"Biasa, masuk angin. Maaf ya, kalau ibu bikin kamu cemas karena minta datang ke sini, ayah yang minta."
Qiya menghela napas lega, bersyukur jika ayahnya tidak sakit serius.
Mendengar ucapan Qiya, Hika yang jadi merasa bersalah. Mengingat sikapnya sebelumnya yang keterlaluan.
"Iya, ibu paham. Kalian ini kan pengantin baru, hehe .."
Qiya dan Hika saling memandang, terlebih semalam mereka baru saja melakukan kewajiban sebagaimana sepasang suami dan istri.
"Ibumu ini, Qi. Ngomong terus mau cepat-cepat punya cucu. Padahal udah ayah ingetin, jangan dulu terlalu berharap, biarkan kamu sama Hika saling mengenal satu sama lain dulu. Mengingat bagaimana pernikahan kalian," timpal pak Zainudin.
Qiya dan Hika kembali bertatapan.
"Tapi berharap itu boleh-boleh aja, ayah."
"Iya, tapi kan jangan terlalu. Takutnya kecewa jika apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan keinginan."
Bu Zainab terdengar menghela napas.
__ADS_1
"Do'ain aja ya, yah, Bu. Masih proses, mudah-mudahan segera membuahkan hasil," sahut Hika.
Kini Bu Zainab dan pak Zainudin yang di buat saling memandang, Qiya juga tak menyangka Hika akan berbicara demikian.
"Aamiin .. Aamiin .." jawab Bu Zainab dan pak Zainudin secara bersamaan.
"Mudah-mudahan apa yang selama ini ibu harapkan terkabul," kata ibu Zainab lagi.
Qiya memandang suaminya terkagum-kagum, akhirnya Hika mau membuka hati juga untuknya.
"Oh ya, ibu sama ayah mau minta maaf, karena ibu sama ayah gak jadi ke rumah waktu kemarin-kemarin. Maaf, ya," ucap ibu Zainab.
Hika menoleh pada Qiya sekilas. "Memangnya ibu sama ayah ada rencana mau datang ke rumah?"
"Iya, nak Hika. Memangnya Qiya gak kasih tahu?" Bu Zainab balik bertanya.
Hika menggeleng. Ia menatap ke arah Qiya, mungkin Qiya sengaja tidak kasih tahu perihal tersebut lantaran sikapnya sebelumnya. Hika paham.
"Qiya kasih tahu kok, Bu. Mungkin aku nya yang waktu itu gak fokus, jadi lupa kalau Qiya ngasih tahu soal rencana ibu sama ayah datang ke rumah atau enggak," jawab Hika bohong, sengaja tidak ingin membuat orang tua Qiya curiga.
"Oh, begitu."
"Iya, Bu."
Setelah itu mereka melanjutkan obrolannya, kemudian Hika membisikan sesuatu pada Qiya usai mendapat pesan masuk.
"Kata bunda gak apa-apa kalau gak jadi ke sana, kan bisa besok atau lusa."
Qiya mengangguk. "Iya, mas."
Kemudian mereka kembali melanjutkan obrolan berempat. Dari sana, Qiya merasa setitik kebahagiaan berpihak padanya. Tidak sia-sia do'anya selama ini akhirnya terkabul. Melihat Hika bisa berkomunikasi baik seperti sekarang, merupakan pemandangan indah baginya.
_Bersambung_
__ADS_1