Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Kontraksi dan Melahirkan


__ADS_3

Pukul tiga dini hari, Hika di buat panik oleh Qiya yang tiba-tiba mengeluh kesakitan.


"Sayang .. kamu kenapa?" tanya Hika khawatir.


Qiya memegang perutnya sambil meringis. "Mas, perut aku sakit banget. Aku enggak tahu ini kontraksi atau bukan, tapi ini sakit banget, mas," jawab Qiya dengan bibir gemetar.


"Ya udah kalau begitu kita ke rumah sakit sekarang, ya," ajak Hika dan mendapat anggukan dari istrinya.


Hika memapah istrinya berjalan, di ruang tamu ia berpapasan dengan bi Iyam yang hendak pergi menuju dapur untuk mengambil minum. Wanita paruh baya itu ikut panik.


"Den Hika, non Qiya kenapa?"


"Qiya mau melahirkan, bi," jawab Hika tanpa menghentikan langkahnya.


"Terus sekarang mau ke rumah sakit, Den?"


"Iya."


"Semoga lancar ya non Qiya," ucap bi Iyam.


Qiya yang mau melahirkan, tapi bi Iyam yang bercucuran keringat. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Bi Iyam menyusul langkah mereka dan membantu membukakan pintu mobil untuk Qiya.


"Makasih ya, bi," ucap Hika.


"Iya, Den. Sama-sama. Hati-hati, ya, Den. Jangan ngebut-ngebut!"


"Iya .."


Bi Iyam meremas jemarinya, ia berharap Qiya melahirkan dengan lancar dan selamat. Lalu tiba-tiba saja bi Iyam kepikiran tentang ibunda dari Hika, yaitu bunda Yasmin.


"Saya harus kasih tahu ibu Yasmin sekarang juga," ujar bi Iyam kemudian masuk ke dalam rumahnya.


Di perjalanan menuju rumah sakit, Hika tidak tega melihat Qiya kesakitan seperti sekarang. Wajah Qiya pucat sekali, keringat dingin sudah bercucuran di pelipisnya.


"Bertahan ya, sayang .. sebentar lagi kita akan sampai," ucap Hika.


"Sakit, mas .." rintih Qiya.


"Iya, sayang .. Sabar, ya. Aku percaya kamu pasti kuat. Sabar, ya. Bertahan, sayang .."


Qiya meremas ujung kain bajunya. Jujur, sakitnya begitu luar biasa. Antara sakit dan mulas ia rasakan secara bersamaan.


Kepanikannya kian bertambah begitu cairan bening mengalir di kakinya.


"Mas .. ketubannya pecah," rintih Qiya.

__ADS_1


Hika tidak dapat melihat cairan tersebut, sebab tertutup oleh gamis hitam yang di kenakan oleh istrinya. Saat ini, ia hanya bisa pasrah dan memohon keselamatan serta kelancaran pada Allah SWT.


"Ya Allah, lindungilah istriku. Selamatkan dia dan juga bayi kami .." ucap Hika dalam hati.


Hika menambah laju kecepatannya. Sebab ia tidak tega melihat istrinya yang tampak begitu kesakitan. Wajah Qiya semakin pucat seakan darah telah habis terhisap oleh tenaganya.


Lima belas menit berikutnya, mobil yang di kemudika oleh Hika sudah sampai di rumah sakit. Hika berteriak meminta bantuan pada suster maupun perawat yang ada di sana.


"Tolooong ... Tolooong ..." teriak Hika.


Seorang suster datang menghampiri. "Ada yang bisa di bantu?" tanya suster tersebut.


"Sus .. suster, tolong saya. Istri saya mau melahirkan, sus," ujar Hika panik.


"Iya, pak. Tunggu sebentar, ya."


Suster itu pergi dan kembali bersama dua orang perawat dengan membawa brangkar pasien.


Hika membuka pintu mobil dan membopong tubuh Qiya, lalu ia baringkan di atas brangkar pasien tersebut.


"Tolong, ya. Istri saya mau melahirkan!" ucap Hika.


Kedua perawat bersama suster tersebut segera membawa Qiya menuju ruang persalinan dengan langkah tergesa. Jika mengikuti langkah mereka, namun sayangnya Hika tidak di perbolehkan masuk.


"Tapi saya mau mendampingi istri saya," kata Hika memaksa ingin masuk.


Tidak lama kemudian, seorang Dokter datang dan masuk ke dalam ruang persalinan. Hika hendak menyelinap untuk masuk, namun sayangnya suster tersebut berhasil mencegah.


"Maaf ya, pak. Anda tidak boleh masuk!" ujar suster dengan tegas.


Suster tersebut menutup pintu ruang persalinan, terdengar suara rintihan Qiya dari dalam. Membuat Hika kian panik dan khawatir.


"Ya Allah .. selamatkan istriku dan bayinya, Ya Allah .."


Hika tidak bisa tenang, ia berjalan mondar-mandir kesana kemari di depan ruangan tersebut. Tidak lupa memanjatkan do'a untuk keselamatan istri dan anaknya.


Dari dalam ruangan tersebut, kembali terdengar suara jeritan Qiya. Hika kembali di buat panik, tetapi ia tidak bisa masuk dan mendampingi sang istri.


Suara jeritan itu sebenarnya Qiya sedang mengejan. Sebab kontraksi sudah memasuki pembukaan sepuluh. Jadi Dokter memberi instruksi agar Qiya mulai untuk mengejan, mendorong bayinya untuk keluar.


Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Qiya kembali mengejan. "Mmmmmm ...."


"Dorong, Bu. Dorong terus, ya," kata Dokter.


Tubuh Qiya terasa sangat lemas, bahkan ia nyaris tak sanggup untuk melanjutkannya. Akan tetapi bayang-bayang wajah bayi terlintas di kepalanya, menjadikan semangatnya kembali bangkit.

__ADS_1


"Dorong sekali lagi, Bu. Sudah hampir keluar," pinta Dokter.


Qiya menarik napas panjang, ia berusaha mengumpulkan sisa-sisa tenaganya. Usai mengumpulkan keyakinannya jika ia bisa, Qiya mulai lagi mengejan.


"Mmmmmmmmm ...."


"Oek .. oek ..."


Penglihatan yang mulai gelap, seketika jelas kembali usai mendengar tangisan bayi yang selama ini sudah ia nantikan kehadirannya.


"Selamat ya, Bu. Bayinya lahir dengan selamat dan sempurna. Jenis kelaminnya perempuan, cantik," puji Dokter.


"Alhamdulillaah Ya Allah .." Qiya menyebut nama Allah dengan banyak rasa syukur, tangisnya seketika pecah, tangis haru tangis penuh kebahagiaan.


Begipula dengan Hika yang langsung melakukan sujud syukur begitu mendengar suara tangisan sang bayi.


"Alhamdulillaah .. Terima kasih ya Allah .." ucap Hika dalam sujud syukurnya.


Empat orang yang berjalan dengan langkah tergesa segera menghampiri Hika. Mereka tidak lain merupakan bunda Yasmin beserta suaminya, dan juga orang tua Qiya.


"Hika, sayang. Tadi bunda dapat telepon dari bi Iyam, katanya Qiya mau melahirkan. Bunda langsung datang ke rumah sakit ini karena ini rumah sakit yang terdekat. Dan ternyata benar kamu ada di sini. Gimana Qiya?" tanya bunda Yasmin kemudian.


Alih-alih menjawab pertanyaan bunda Yasmin, Hika menghambur ke dalam pelukan bundanya. Ia menangis haru dalam pelukan bundanya.


"Alhamdulillaah, Bun. Anak aku sudah lahir ke dunia," ujar Hika di antara tangis harunya.


"Alhamdulillaah .." ucap mereka serempak.


Bu Zain langsung sujud syukur. Mereka semua mengucapkan syukur yang sebesar-besarnya atas kelahiran anak Hika dan Qiya.


Seorang suster keluar dari ruangan tersebut.


"Alhamdulillaah, ibu dan bayi nya selamat," kata suster memberi tahu.


"Alhamdulillaah .." ucap mereka.


"Oh ya, untuk jenis kelamin bayinya perempuan ya, pak, Bu," tambah suster itu.


Apapun jenis kelaminnya, mereka tidak mempermasalahkan. Yang terpenting bayi dan ibunya selamat.


"Sus, apa sekarang saya sudah boleh masuk?" tanya Hika dengan sedikit memohon.


"Silahkan, pak. Tapi untuk bapak dan ibu yang lainnya, tunggu di sini, ya."


"Baik, sus. Terima kasih."

__ADS_1


Hika pun masuk ke dalam ruangan tersebut, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan bayinya, darah dagingnya.


_Bersambung_


__ADS_2