
"Qi .." panggil Hika lagi.
"Iya, mas."
Hika mengetuk-ngetuk jemarinya ke atas pagar pembatas balkon. Ia bingung harus menyampaikan permintaan bunda tadi di telepon. Hika takut jika Qiya akan berpikir kalau dirinya meminta maaf untuk hal yang lain, bukan tulus dari hatinya.
"Enggak, enggak apa-apa," jawab Hika di akhiri dengan ulasan senyum.
Sepertinya ini bukan waktu yang pas untuk menyampaikan permintaan bunda Yasmin, ia akan menyampaikannya besok pagi saja sebelum berangkat.
Namun Qiya bisa melihat dari raut wajah Hika, ada sesuatu yang ingin Hika sampaikan padanya.
"Bilang aja, mas. Ada apa?"
Hika menggeleng. "Enggak, kok. Enggak ada apa-apa."
"Yakin?"
"Iya."
Qiya memicingkan matanya, entah kenapa ia yakin sekali ada sesuatu yang ingin Hika bicarakan padanya. Tapi apa?
"Oh ya, kalo gitu kamu tidur sana. Istirahat. Udah malem."
Qiya mengangkat sebelah alisnya, ia juga memastikan pendengarannya sekali lagi.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu perhatian sama aku, mas?"
Mendengar pertanyaan Qiya, Jika kelihatan gugup dan salah tingkah. Apa ia salah bicara?
"Ak-aku .."
"Makasih ya, mas. Sekecil apapun perhatian kamu, berharga buat aku," ucap Qiya dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Hika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia jadi bingung, kenapa ia yang jadi gugup seperti itu?
"I-iya, Qiya."
Hika berusaha mengalihkan pandangannya, saat Qiya terus mengembangkan senyum untuknya. Perasaan sebelum-sebelumnya ia tidak pernah segugup ini.
Hika melirik sekilas, sebelum kemudian ia memandang ke arah lain.
"A-apa?"
Qiya mengulum senyum. Meski ia tidak yakin Hika akan mengabulkan permintaannya, tapi apa salahnya jika ia coba ungkapkan keinginannya itu.
"Enggak jadi ah, aku takut kamu marah dan kembali lagi jadi monster."
"Hah, monster?"
Qiya tertawa kecil. "Iya, mas. Kamu kalau marah itu nakutin, kayak monster," cetus Qiya.
__ADS_1
Hika menelan salivanya dengan susah payah. Ia terima apa yang di katakan Qiya barusan, sebab sebelumnya ia memang tidak pernah semarah itu pada orang.
"Ya udah, sekarang kamu bilang, apa mau kamu?" tanya Hika kemudian.
Alih-alih menjawab, Qiya malah melangkah lebih dekat dengannya. Hika di buat semakin gugup tidak karuan. Ia tidak pernah merasakan hal seperti ini saat bersama Zahira.
"Mari kita tunaikan lagi kewajiban kita sebagai suami istri," bisik Qiya lirih tepat di telinga Hika, terdengar menggelitik ke bagian sekujur tubuh.
Wajah Hika menegang, napasnya tertahan. Untuk menelan saliva saja rasanya sangat sulit, tapi Jika berusaha untuk mengontrol napas dan mengendalikan diri.
Qiya mengangkat kedua alisnya beberapa kali, sebagai tanda permintaan jawaban atas ajakannya.
"Ok, siapa takut," jawab Hika di luar dugaan.
Setelah itu Hika membungkukan badannya, kemudian ia mengangkat tubuh Qiya membopongnya menuju kamar.
"Mas ..!" Qiya memekik terkejut.
Hika tak merespon, pria itu terus berjalan meniti anak tangga dan membawa Qiya masuk ke kamarnya.
Hika menurunkan Qiya di atas tempat tidur, setelah itu berjalan beberapa langkah untuk mematikan kontak lampu. Hanya ada sinar cahaya dari luar jendela saja yang menyelinap menerangi wajah Qiya.
Mendapat permintaan Qiya, Hika merasa tertantang. Ia berjalan ke arah ranjang tempat tidur, tangannya mulai bergerak mengusap lembut pipi Qiya. Hingga terjadilah berbagai sentuhan di antara keduanya sebagaimana kewajiban seorang suami terhadap sang istri.
_Bersambung_
__ADS_1