Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Tunaikan Kewajiban


__ADS_3

Suasana makan malam di rumah Hika begitu hening, sebab Bunda Yasmin tidak menyukai obrolan saat makan sedang berlangsung.


Setelah selesai makan, barulah mereka mengobrol di ruang keluarga. Sementara bi Iyam yang membersihkan bekas makan malam mereka.


Sejak tadi, bunda Yasmin melihat raut wajah Hika tidak seperti biasanya. Sesekali putranya terlihat murung, entah apa yang mengganggu pikiran Hika.


"Hika, Qiya, kalau bisa bunda ingin kalian cepat-cepat punya momongan," ujar bunda Yasmin tiba-tiba.


Kedua mata Qiya seketika membulat, bagaimana ia bisa hamil sementara Hika tidak ingin menyentuhnya. Qiya melirik pada Hika yang duduk di sofa single, pria itu tampak tidak mendengar permintaan bunda Yasmin. Hika terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Hika .." bunda Yasmin menyentuh punggung tangan putranya.


"Hm? Iya, bunda, ada apa?" tanyanya sedikit terkejut.


"Kamu kenapa? Bunda lihat kamu melamun sejak tadi, ada apa? Cerita sama bunda!" tanya serta bujuk bunda Yasmin.


"Enggak ada apa-apa, bunda. Kalau begitu, aku duluan ke kamar, ya. Bunda sama Qiya aja gak apa-apa kan?"


Hika beranjak dari tempat duduknya. Bunda Yasmin semakin di buat heran dengan sikap putranya.


"Qi .. kamu susul Hika ke kamar, ya," pinta bunda Yasmin kemudian.


"Tapi, Bun-"

__ADS_1


"Udah, susul aja .."


"Iya, Bun."


Qiya beranjak menyusul langkah Hika ke kamar, meski ia sebetulnya khawatir jika suaminya itu tidak akan mengizinkannya untuk masuk ke kamarnya.


"Mas .." panggil Qiya lirih seraya mengetuk pintu kamar Hika.


Tidak ada respon, Qiya memanggil sembari mengetuk pintunya lagi. Tetapi tetap tidak ada respon. Akhirnya ia beranikan diri untuk memutar knop pintu, dan ternyata tidak di kunci. Sebelum melangkah masuk, Qiya menarik napas panjang. Mengumpulkan keberanian menghadap suaminya.


Begitu pintu terbuka, ia mendapati suaminya tengah berbaring di atas tempat tidur dalam keadaan tubuh yang tertutup selimut sekujur tubuh. Kini memberanikan diri untuk melangkah masuk lebih dalam, lalu ia duduk di tepi ranjang samping suaminya.


"Mas .." panggil Qiya lagi lirih seraya menyentuh bagian betis pria itu.


Hika menghunuskan tatapan tajam pada Qiya. "Ngapain kamu pegang-pegang aku, hah?"


"Emang kenapa, mas? Aku kan istri kamu. Sah-sah aja kan?"


"Ya tapi kan aku udah bilang sama kamu, aku gak mau bersentuhan sama kamu!"


"Itu kan kamu, mas. Kamu gak mau nyentuh aku, tapi kalau aku mau sentuh aku."


Qiya kembali menyentuh bagian tubuh Hika yang tadi, pria segera menjauh.

__ADS_1


"Aku bilang jangan pegang-pegang, Qiya! Gatel banget sih jadi perempuan!" seru pria itu seraya membungkus tubuhnya menggunakan selimut.


Qiya menyunggingkan senyum. "Kamu lucu deh, mas. Harusnya aku yang ketakutan, kok malah kamu, sih. Mas Hika, kita ini suami istri, mas. Kita berhak bersentuhan."


"Enggak!"


"Mari kita tunaikan kewajiban kita sebagai suami istri, mas."


"Enggak!"


Qiya maju lebih dekat, sementara Hika mundur. Ia tetap kukuh pada pendiriannya yaitu tidak ingin mengkhianati Zahira meski hubungannya sudah berakhir.


"Pergi, Qiya! Pergi!" usir Hika seraya menggeleng.


Qiya berjalan ke arah pintu untuk mengunci pintu tersebut. Kemudian ia kembali menghampiri Hika dengan membuka ikat rambut dari dalam hijabnya, barulah ia membuka hijab instannya di depan pria itu.


Hika menatap Qiya tanpa berkedip, ternyata Qiya terlihat cantik menawan jika tidak menggunakan hijab. Ia menelan salivanya dengan susah payah.


Qiya tersenyum semanis mungkin, ia harus bisa meluluhkan hati suaminya. Ia berharap dengan ia memenuhi kewajibannya sebagai istri, Hika tumbuh perasaan terhadap dirinya.


"Mas .. Mari kita tunaikan kewajiban kita sebagai istri," ucap Qiya seraya membungkukkan tubuhnya di depan Hika.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2