
Hari-hari berikutnya, Qiya tampak berbeda dari sebelumnya. Qiya memang masih beraktivitas seperti menyiapkan sarapan dan juga makan malam untuknya, tapi Hika merasa ada hilang dari diri Qiya.
Qiya tidak lagi mengajaknya bicara bahkan sekedar menyapa. Qiya tidak lagi menanyakan apakah ia suka dengan masakannya atau tidak. Qiya tidak lagi menemaninya makan. Bahkan saat mereka bertemu berpapasan, Qiya terlihat menghindar.
Hika menghela napas panjang. "Apa aku udah keterlaluan ya sama Qiya?" gumamnya.
Hika memandang ke arah pintu kamar Qiya. Tidak terdengar suara apapun dari dalam kamar perempuan itu. Apa mungkin Qiya sudah tidur?
Perlahan Hika menggerakan tangannya untuk mengetuk pintu kamar Qiya. Rasanya ia harus meminta maaf pada Qiya, sebab ia merasa sikapnya sudah benar-benar keterlaluan.
"Minta maaf ga, ya?" pikirnya lagi, ia merasa masih ragu untuk mengetuk pintu kamar tersebut.
Setelah meyakinkan diri dan membulatkan niatnya, Hika pun memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Qiya. Baru akan di ketuk, pintu tersebut terbuka dan muncul Qiya dari balik pintu. Hika langsung menarik tangannya.
Sementara Qiya tidak begitu memperdulikan keberadaan Hika, ia melipir pergi dari sana guna mengambil air putih di dapur.
Langkahnya terhenti begitu Qiya menarik pergelangan tangannya.
"Qiya, tunggu!" cegah Hika.
Qiya menoleh, kedua matanya kini tertuju pada tangan Hika yang memegangi pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Ngapain pegang-pegang aku, mas? Bukannya kamu ji jik sama aku?" tanya Qiya dengan nada dingin.
Mendengar Qiya bicara seperti itu, Hika merasa semakin bersalah.
"Qiya, Qiya, aku minta maaf sama kamu. Aku sama sekali gak bermaksud bicara seperti itu sama kamu. Aku minta maaf, ya!"
Qiya melepaskan tangannya yang masih di pegang oleh Hika. "Kamu udah biasa nyakitin aku, mas. Jadi, mungkin akunya yang harus biasa dan menyesuaikan diri dengan sikap kamu itu."
Qiya melipir dari sana menuju dapur. Sementara Hika masih mematung di tempat. Mungkin ucapannya pagi itu terlalu menyakiti Qiya, sehingga sulit untuk ia mendapat maaf dari perempuan itu.
Suara dering panggilan masuk dari bunda Yasmin membuat Hika buru-buru menjawab teleponnya.
"Hika, nanti kamu datang ke rumah, ya. Setelah kamu menikah sama Qiya kan, kalian belum pernah berkunjung. Bisa, ya?"
Hika terdiam sejenak, ucapan lembut bunda Yasmin membuatnya berpikir mungkin Qiya tidak mengadu perihal ucapannya yang menyakiti Qiya beberapa hari kemarin.
"Hika .. kamu bisa kan, nak?" ulang bunda Yasmin dari sebrang telepon, menyadarkan Hika dari lamunan.
"Iya, Bun. Bisa kok, bisa. Nanti aku coba bujuk Qiya dulu, ya," jawab Hika.
"Bujuk? Emang Qiya kenapa?"
__ADS_1
Hika menepuk jidatnya, ia tidak sadar ucapannya membuat Bunda Yasmin curiga.
"Enggak, bunda. Enggak kenapa-kenapa. Biasalah, aku belum bisa peka sama Qiya karena masih tahap perkenalan lebih dalam. Qiya jadi kesal sama aku," jawab Hika bohong.
"Oh .. begitu. Baguslah kalau kamu mencoba mengenal Qiya lebih dalam lagi, mudah-mudahan kamu bisa cepat membuka hati dan menerima Qiya sebagai istri kamu."
"Iya, bund."
"Ya udah, kalo gitu bunda tutup dulu teleponnya, ya. Jangan lupa nanti datang."
"Iya, bunda .. aku pasti datang sama Qiya."
"Iya, nak. Assalamu'alaikum .."
"Walaikumussalaam .."
Salam penutup menjadi akhir penutup sambungan telepon mereka. Hika mengantongi kembali ponselnya di saku celana. Kedua matanya kini kembali memandang ke arah perginya Qiya tadi.
"Aku harus bujuk Qiya dan mendapatkan maaf darinya," ucap Hika dengan mantap.
_Bersambung_
__ADS_1