Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Mulai Ketahuan


__ADS_3

Sesuai permintaan Hika tadi, ia harus pergi sementara Zahira datang. Tapi saat ia sudah di perjalanan tanpa tujuan, tiba-tiba saja Qiya kepikiran akan sesuatu.


"Tidak, Qiya! Kamu tidak boleh meninggalkan mas Hika bersama dengan perempuan yang bukan muhrim nya. Meski Zahira itu kekasih mas Hika, tetap saja aku tidak bisa membiarkan mereka terus berhubunga. Aku istrinya, aku berhak atas mas Hika, suamiku," gumamnya.


Kemudian Qiya meminta pada sang supir taksi untuk putar balik kembali ke rumahnya. Supir taksi itupun menurut.


***


"Assalamu'alaikum .."


Ucapan salam dari seseorang yang sedari tadi Hika tunggu pun akhirnya datang.


"Walaikumussalam .." jawab Hika sembari berjalan untuk membukakan pintu depan.


Muncul Zahira di balik pintu dengan senyumnya yang khas. Gigi gingsul yang di miliki oleh perempuan itu menambah pesona kecantikannya. Itu salah satu hal yang membuat Hika semakin jatuh hati padanya.


"Hika, ini aku bawakan sarapan buat kamu."


Zahira memberikan rantang dua susun pada Hika, dan di terima dengan ucapan penuh terima kasih.


"Makasih banyak, Za. Padahal gak usah repot-repot juga."


"Gak apa-apa, Ka."


"Ya udah kalau begitu, ayo masuk!" ajak Hika kemudian.


Zahira mengangguk kemudian mengikuti langkah Hika masuk ke dalam.


"Duduk, Za!"


"Makasih, Ka."


Zahira duduk di sofa panjang, sementara Hika duduk di sofa single. Pria itu membuka rantang dua susun pemberian Zahira barusan. Begitu di buka, isinya sayur lontong.


"Ini kamu yang masak?" tanya Hika dan mendapat anggukan dari Zahira.

__ADS_1


"Iya. Selama hampir dua tahun kita berhubungan, aku kan belum pernah masakin buat kamu. Sekarang, itung-itung belajar buat kita berumah tangga nanti."


Senyum Hika sedikit memudar, lantaran impian Zahira tidak bisa ia kabulkan untuk saat ini. Tapi, ia berusaha untuk tidak menunjukan sesuatu yang membuat Zahira akan curiga.


"Di makan, Ka!" pinta Zahira membuyarkan lamunan Hika seketika.


"I-iya, Za."


Hika meraih sendok yang tersedia di sana. Meski perutnya masih kenyang lantaran sudah sarapan tadi bersama Qiya, tapi ia harus memakan makanan pemberian dari perempuan terkasih. Ia tidak ingin membuat Zahira sampai kecewa.


Hika mulai menyendok sayur lontongnya, lalu ia masukan ke dalam mulut. Begitu sudah masuk, ia diam sebentar.


"Gimana, Ka? Enak, gak?" tanya Zahira tidak sabar mendengar pendapat Hika mengenai masakannya.


Jujur, sayur lontongnya memang sedikit asin, tapi Hika tidak akan mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak ingin melukai hati Zahira yang susah payah membuat itu untuknya.


"Enak, Za. Enak banget. Aku suka," pujinya.


"Alhamdulillaah .. Syukurlah kalau kamu suka."


"Hehehe ..."


Hika kembali menyendok sayur lontongnya. Ia tahan rasa asin itu beserta perutnya yang sudah kekenyangan.


"Habisin, Ka. Sayang, nanti mubazir."


Hika menganggukan kepalanya seraya terus memakan sayur lontong itu. Sampai akhirnya, sayur lontong tersebut pun habis, menyisakan sedikit kuahnya.


Mungkin ini saatnya Zahira mengatakan maksud beserta tujuannya datang ke sana.


"Ka, aku ingin bicara serius lagi sama kamu," ucap Zahira.


"Iya, Za. Bicara apa?"


"Ini soal pertanyaan yang sama, Ka. Abi minta aku segera menanyakan keputusannya sama kamu."

__ADS_1


Hika diam. Memang ia tidak memberikan keputusan untuk Zahira tentang keseriusan hubungannya. Bukan karena ia tidak serius, tapi pernikahannya dengan Qiya yang menjadi permasalahannya.


"Jadi gimana, Ka?"


Dari kejauhan, bi Iyam yang hendak membersihkan lantai ruang tamu menghentikan langkahnya kemudian bersembunyi di balik tembok begitu melihat Hika bersama Zahira.


"Loh, itu bukannya non Zahira?"


"Jadi Den Hika masih berhubungan sama non Zahira?"


"Pantesan, non Qiya tanya-tanya soal non Zahira tadi. Apa non Qiya udah tahu soal ini?"


"Ya Allah, kasihan sekali non Qiya. Kasihan non Zahira nya juga."


Bi Iyam tidak ingin berlama-lama berdiri di sana, takutnya Hika maupun Zahira akan melihat keberadaannya.


"Assalamu'alaikum .." salam dari seseorang membuat bi Iyam mengurungkan niatnya untuk pergi dari tempat berdirinya.


Dan begitu di lihat siapa yang datang, bi Iyam seketika membulatkan matanya.


"Walaikumussalaam .." jawab Hika dan Zahira secara bersamaan.


Qiya melangkah masuk ke dalam, hal tersebut membuat Hika bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Qiya.


"Ngapain kamu pulang? Aku kan udah bilang jangan pulang sebelum Zahira pergi!" seru Hika, tanpa ia sadari ucapannya justru membuat Zahira di buat bertanya-tanya.


Zahira ikut bangun dari tempat duduknya, menghampiri Hika dan juga perempuan yang tidak ia kenal.


"Ka, maksud kamu apa?" tanya Zahira.


Hika menoleh, ia terlihat kebingungan sekarang.


"Kenapa dia gak boleh pulang sebelum aku pergi, Ka? Maksud 'pulang' di sini apa? Dia siapa, Ka?"


Mulut Hika serasa di kunci, ingin bicara namun sulit. Ia bingung harus menjelaskan apa pada Zahira.

__ADS_1


_Bersambung_


__ADS_2