Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Ngidam


__ADS_3

"Maaf ya, niat kamu beri kejutan untuk Hika gagal karena bunda. Bunda pikir kamu sudah kasih tahu Hika soal kehamilan ini," ucap Bunda Yasmin begitu Hika dan Qiya pulang.


Saat ini bunda Yasmin sedang berada di rumah Hika, tiga bulan menit lalu beliau datang namun bi Iyam memberi tahu jika Hika dan Qiya sedang pergi untuk cek kandungan. Beliau pun memutuskan untuk menunggu di sana.


"Iya, bunda. Gak apa-apa. Lagipula, mas Hika gak marah, kok," jawab Qiya.


"Serius Hika gak marah?"


"Buat apa sih aku marah, Bun .. Mana bisa aku marah di saat aku mendapat kabar sebahagia ini," sahut Hika.


Bunda Yasmin mengulas senyum seraya mengusap bahu sang putra.


"Syukurlah kalau kamu sudah bersikap dewasa dan bijak dalam menyikapi sesuatu," ucap bunda Yasmin.


"Iya, Bun. Sebentar lagi kan aku akan jadi ayah dari anak aku."


Bunda Yasmin tersenyum, begitupula dengan Qiya yang merasa amat bahagia.


Ponsel Qiya tiba-tiba berdering, ia mendapati panggilan masuk dari sang ibu.


"Siapa?" tanya Hika.


"Ibu," jawab Qiya.


"Oh, ya udah angkat."


"Iya, mas."


Qiya pun menggeser ikon berwarna hijau di layar hp nya, kemudian menempelkan benda pipih tersebut ke dekat daun telinganya.


"Assalamu'alaikum, Bu .."


"Walaikumussalaam .. Nak, barusan ibu sudah kasih tahu ayahmu tentang kehamilan kamu, sayang. Reaksi ayah kamu bahagiaaaa sekali."


"Syukurlah kalau begitu, Bu."


"Oh iya, nanti sore ibu sama ayah rencana mau datang ke sana. Kamu mau ibu bawakan apa?"


Qiya terlihat berpikir sejenak. "Enggak usah repot-repot deh, Bu. Ibu sama ayah kalau mau ke sini, ke sini aja. Gak usah bawa apa-apa. Di sini juga lagi ada bunda."

__ADS_1


"Oh, ya? Bundanya Hika lagi di sana juga?"


"Iya, bu."


"Syukurlah. Oh ya, sekarang kamu sebut aja apa yang kamu mau sekarang, ibu sama ayah gak pernah merasa di repotkan. Ibu justru akan sedih kalau kamu menolak."


"Apa, ya?" Qiya berpikir lagi, kira-kira apa makanan yang enak. "Oh ya, aku lagi mau cilung nih, Bu. Terakhir makan itu pas masih sekolah. Gak apa-apa kan kalau aku minta itu?"


"Gak apa-apa, nanti ibu sama ayah cari di, ya."


"Yah, ngerepotin dong .."


"Enggak. Ini kan ibu yang mau belikan, bukan kamu yang minta."


"Makasih ya, Bu. Ibu sama ayah hati-hati nanti. Jangan ngebut-ngebut, bilangin sama ayah."


"Iya, kamu juga harus banyak istirahat, jangan sampai kecapean ya, nak," pesan Bu Zain.


"Iya, ibu."


"Ya sudah kalau begitu ibu tutup telepon nya, ya. Assalamu'alaikum .."


Panggilan telepon pun berakhir.


"Apa kata ibu?" tanya Hika begitu Qiya menyudahi panggilan teleponnya.


"Ibu sama ayah mau ke sini nanti sore," jawab Qiya.


"Oh, bagus dong kalau begitu," sahut bunda Yasmin.


"Iya, Bun."


"Terus kamu tadi sebut-sebut cilung?"


"Oh ... Ibu nanya, aku mau di bawain apa. Sekarang sih aku lagi mau cilung, terkahir aku makan pas masih duduk di bangku sekolah, udah lama banget."


"Oohh .."


"Itu tandanya kamu ngidam, Qi," kata bunda.

__ADS_1


Qiya mengerutkan alisnya. "Ngidam?"


"Iya, ngidam. Nah, sekarang apapun yang kamu mau, bilang aja. Jangan sungkan-sungkan! Buat kamu Hika, mulai sekarang kamu turuti semua keinginan istri kamu, ya."


"Kalo Qiya minta aneh-aneh?"


"Selama tidak melebihi batas wajar, kamu turuti aja. Kalau enggak, nanti bayi kalian bisa ngences."


Qiya dan Hika saling memandang.


"Ah itu mitos, Bun," ujar Hika tak percaya.


"Ya terserah kalian mau percaya atau enggak. Dulu waktu bunda hamil kamu, ada satu permintaan yang ayah kamu gak turuti."


"Terus aku ngences gak pas lahir?" tanya Hika.


"Iya, kan ayah gak turuti kemauan bunda."


Hika spontan menyeka mulutnya, sementara Qiya terkekeh begitu membayangkan suaminya ngences sampai sekarang.


"Terus itu sembuhnya gimana?" tanya Hika lagi penasaran.


"Ayah turuti kemauan ibu setelah kamu lahir, dan bukan lagi di kasih ke ibu, tapi ke kamunya," jelas bunda.


"Memangnya ibu mau apa?"


"Yang aneh-aneh pokoknya," jawab Bunda.


"Pantesan ayah gak turuti."


"Iya. Itu pelajaran buat kamu sekarang sebagai suami yang istrinya lagi hamil. Kamu harus sabar dalam menghadapi segala permintaan Qiya nanti. Turuti apapun keinginannya. Ingat pesan bunda."


"Iya, buuuun .."


"Oh iya, buat kamu juga ya, Qi. Kalau bisa ngidamnya jangan kayak bunda dulu, minta yang aneh-aneh terus sampai buat ayah Hika teruji kesabarannya."


"Iya, Bun. In syaa Allah," jawab Qiya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2