Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Ingin Rujak


__ADS_3

Tiga hari berikutnya, mual dan muntah Qiya terus berlanjut. Berulang kali Hika mengajak Qiya untuk pergi ke rumah sakit. Tapi wanita itu selalu saja menolak. Ia tega tega melihat istrinya seperti demikian. Apapun yang masuk ke dalam mulutnya, tidak sampai lima menit langsung di keluarkan.


"Gak usah khawatir, orang hamil emang begitu, Den. Mual sama muntah mah udah biasa. Jadi gak perlu takut apalagi panik," ujar bi Iyam.


"Beneran gitu, bi?" tanya Hika sedikit ragu.


"Iya, Den. Bibi juga begitu waktu hamil, apalagi kalau anak pertama. Masih mending non Qiya mau makan, bibi dulu gak mau makan nasi sampai enam bulan."


Hika terdiam sejenak. Pantas saja perjuangan wanita dalam mengandung itu sangatlah berat, ternyata kenyataannya lebih berat dari apa yang ia bayangkan. Apalagi melahirkan, ia tidak sanggup untuk membayangkannya.


"Tapi aku enggak tega bi lihatnya. Setiap makanan yang masuk langsung di keluarin gitu aja. Sementara tubuh Qiya perlu asupan yang banyak, dia kan sekarang berbadan dua. Ada bayi kami juga."


Bi Iyam menghela napas beriringan dengan ulasan senyum. Ia mengusap bahu Hika.


"Tenang aja ya, Den. Nanti juga mual dan muntah ya bakal hilang. Setelah itu, non Qiya pasti bakal doyan makan."


Hika menatap bi Iyam ragu. "Bibi gak bohong kan?"


Bi Iyam berdecak. "Buat apa coba bibi berbohong?"


Hika menghembuskan napas. Benar juga, apa untungnya bi Iyam berbohong.


"Iya, bi. Tapi kalau boleh tahu, itu mual dan muntah nya kapan hilangnya?"


"Sampai usia kandungan non Qiya tiga bulan atau empat bulanan."


"HAAAHH ..??" Hika terkejut mendengar jawaban bi Iyam. "Tiga sampai empat bulan, bi? Yang bener aja?"


Bi Iyam tersenyum. "Sabar ya, Den. Semuanya enggak mudah. Tapi percayalah, semua akan indah pada waktunya."


Hika tidak bisa berkata-kata. Tiga hari saja membuat Qiya sangat menderita. Apalagi tiga bulan? Ia tidak sanggup untuk membayangkan bagaimana berada di posisi Qiya.


"Ya udah bi, kalau begitu aku mau antar teh hangatnya dulu buat Qiya," pamit Hika.


"Iya, Den."

__ADS_1


Hika melipir pergi dengan membawa secangkir teh hangat untuk istrinya. Saat tiba di kamar, ia mendapati istrinya tengah terbaring di atas tempat tidur. Kelihatannya Qiya lemas sekali.


"Sayang .. aku bawain teh hangat buat kamu. Di minum dulu, ya."


Qiya membuka matanya yang semula terpejam. Kemudian ia bangun, dengan cepat Hika membantunya. Menyusun beberapa bantal untuk di jadikan sandaran.


"Makasih ya, mas," ucap Qiya usai meminum teh hangatnya.


"Iya," jawab Hika.


Qiya merasa beruntung sekali, memiliki suami yang baik seperti Hika. Meski pada awal pernikahannya ia harus mengalami cobaan yang tidak mudah. Tetapi ia sangat bersyukur, karena Tuhan begitu baik padanya.


"Oh ya, kamu mau makan apa sekarang? Ada yang kamu inginkan, gak?" tanya Hika setelah beberapa menit mereka terdiam.


"Tapi percuma, mas. Apa yang aku makan bakal di muntahin juga," keluh Qiya.


"Enggak apa-apa, sayang. Yang penting perut kamu jangan di biarin kosong."


"Iya, mas."


Qiya terlihat berpikir sejenak. Membayangkan makanan apa yang enak di makan saat dalam kondisi mual terus.


"Cilung mau lagi?" tawar Hika dan Qiya menggeleng. "Terus apa?"


"Aku lagi mau rujak, mas. Kayaknya enak, deh. Seger juga, siapa tahu mual aku hilang," pinta Qiya.


"Perut kamu kan kosong, Qi. Jangan makan rujak, ya. Nanti malah jadi sakit perut. Aku enggak mau ya kamu sampai kenapa-kenapa," tolak Hika.


"Tapi, mas. Kamu kan nawarin aku mau apa."


"Iya, tapi jangan rujak juga, ya. Makanan aja. Roti cokelat mau?"


Qiya menggeleng seraya mengerucutkan bibirnya.


"Sayang ... Jangan rujak, ya .."

__ADS_1


"Tapi, mas-"


"Qiii .."


Qiya cemberut. Katanya mau apa aja akan di belikan, tapi giliran ia mau, tidak boleh.


"Ya udah kalau enggak boleh."


Qiya sepertinya ngambek, bukannya tidak mau membelikan, hanya saja kesehatan Qiya dan bayinya jauh lebih penting.


Seketika ia ingat pesan bunda, untuk menuruti apapun kemauan Qiya. Ia menghembuskan napas pelan.


"Ya udah, boleh," ujar Hika.


Qiya menoleh dengan senyum sumringah. "Beneran kamu mau beliin?"


Hika mengangguk. "Iya."


Qiya terlihat sangat senang.


"Tapi dengan satu syarat," ujar pria itu seketika memudarkan senyum Qiya.


"Apa?" tanya Qiya kemudian.


"Sebelum makan rujak, makan roti dulu, ya."


Qiya pun mengangguk setuju. "Iya, mas."


"Ya udah, aku pergi dulu, ya," pamit Hika.


Pria itu hendak beranjak, namun Qiya mencegah dengan memeluknya. "Makasih ya, mas. Aku sayang sama kamu."


Hika tersenyum. "Iya, sayang. Sama-sama. Aku juga sayang sama kamu," balas Hika.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2