Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Takdir Baik


__ADS_3

Usai menjenguk sang ayah, kini Qiya ikut Hika ke rumah bunda Yasmin. Awalnya ia memilih untuk menginap semalam di rumah sang ibunda, tetapi begitu ibu Zainab tahu kalau mereka harus pergi ke rumah sang besan, beliau memintanya untuk datang saja. Lagipula, pak Zainudin sakit biasa.


"Jadi pak Zain sakit apa?" tanya bunda Yasmin begitu mereka sampai.


"Masuk angin, bunda," jawab Qiya.


"Oh .. Semoga lekas sembuh."


"Terima kasih, bunda," ucap Qiya atas doa yang baru saja di panjatkan bunda Yasmin.


"Ayah mana, Bun?" tanya Hika, lagi-lagi tidak menemukan sosok sang ayah.


"Ayah belum sampai, masih perjalanan pulang. Nanti kalian nginap di sini, untuk malam ini aja. Gimana?"


Qiya melirik ke arah Hika, pria itu menganggukan kepalanya, memberi kode pada Qiya untuk mengiyakan saja.


"Iya, bunda," jawab Qiya membuat bunda Yasmin senang.


"Oh ya, gimana kondisi Bu Zain sekarang?" tanya bunda Yasmin kemudian.


"Alhamdulillaah .. ibu baik, bunda."


"Syukurlah, bunda khawatir kondisi kesehatan Bu Zain terganggu usai transplantasi ginjal untuk bunda."


"Mudah-mudahan ibu selalu di beri kesehatan, begitupula dengan bunda," ucap Qiya di aminkan oleh bunda Yasmin dan juga Hika.


"Bunda pun berharap demikian, Qiya. Tapi rasa cemas itu tidak terlepas dari pikiran bunda. Bunda berharap hubungan kalian tetap baik-baik saja. Bunda akan sangat merasa bersalah, jika anak bunda ini bersikap kurang baik sama kamu," ungkap bunda Yasmin.


Qiya melirik ke arah Hika. Kemudian ia mengulas senyum. "Bunda jangan berpikiran seperti itu, mas Hika baik sama aku. Terima kasih sudah menikahkan kami, bunda," ucap Qiya tidak terlepas dari rasa bersyukurnya.


"Iya, bunda mengharapkan yang terbaik dari hubungan kalian."


Hika memalingkan wajahnya, jika membahas perihal sikapnya, ia kembali di hantui rasa bersalahnya. Akan tetapi sekarang ia sedang berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk Qiya, meski tidak mudah untuk melupakan Zahira, perempuan yang menetap di hatinya selama dua tahun.


***


"Aku bantu masak ya, bunda."


Bunda Yasmin sedikit kaget dengan kedatangan Qiya ke dapur secara tiba-tiba.


"Iya, boleh."


Qiya mulai mengiris beberapa siung bawang merah, bawang putih, serta cabai yang hendak di iris oleh bunda barusan.

__ADS_1


"Bunda, aku boleh tanya sesuatu sama bunda."


Bunda Yasmin menoleh seklias. "Boleh, tanya apa?"


Qiya terlihat berpikir sejenak. "Selama mas Hika berhubungan dengan mbak Zahira, mas Hika pernah bawa mbak Zahira ke rumah ini?"


Bunda Yasmin mengernyitkan dahinya. Kenapa tiba-tiba Qiya bertanya demikian. Jika beliau jawab, takutnya Qiya akan tersinggung. Namun, itu hanya perihal masa lalu yang sudah Hika tinggalkan.


"Sering, Zahira sering main ke sini," jawab Bunda Yasmin.


Qiya menarik napas, berusaha mengontrol diri agar terlihat biasa saja di depan bunda. Meski tidak bisa di pungkiri, hatinya merasa cemburu.


"Menurut bunda, mbak Zahira itu gimana?"


"Zahira baik, dia perempuan yang sopan, dia memiliki kepribadian yang bagus."


Lagi-lagi Qiya harus menahan sesuatu di hatinya.


"Bunda suka menantu seperti mbak Zahira?" tanya Qiya lagi.


Bunda Yasmin menghentikan aktivitasnya, beliau menatap Qiya dalam.


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Jangan bertanya hal itu lagi, ya .."


"Tapi bunda, mbak Zahira kan sudah dekat dengan bunda. Mbak Zahira ini perempuan baik-baik, lalu kenapa bunda pilih Qiya yang jadi menantu bunda?" Qiya meremas ujung kain kerudung instant nya.


Bunda Yasmin terdengar menghela napas, kemudian beliau meraih buah tangan Qiya dan di genggamannya.


"Karena bunda hanya ingin kamu yang jadi menantu bunda."


"Bukan sebagai balas budi, atapun hanya kasihan karena bunda tahu aku suka sama mas Hika kan?"


Bunda Yasmin terdiam. Beliau tidak bisa menjawab pertanyaan Qiya. Beliau tidak boleh mengatakan yang sebenarnya. Sebab memang beliau sudah suka dengan Qiya menjadi menantunya.


Bunda Yasmin mengulas senyum. "Bukan, sayang. Bunda memilih kamu, karena bunda yakin kalau kamu yang terbaik untuk anak Bunda, yaitu Hika."


"Terima kasih, bunda."


Bunda Yasmin membawa Qiya ke dalam pelukannya, mengusap punggung menantunya dengan lembut.


Dari kejauhan, Hika mengulas senyum begitu melihat keakraban antara Qiya dan bundanya.

__ADS_1


***


Hari-hari berikutnya, hubungan Qiya dan Hika kian membaik. Keduanya selalu menyempatkan diri untuk mengobrol berdua, guna mengenal diri pasangan lebih dalam dan lebih jauh lagi.


Hika di buat terkejut, saat mendengar ungkapan Qiya, bahwa perempuan itu menyukainya sejak tiga tahun lalu. Saat Hika menjadi seniornya di kampus.


Banyak cerita yang Qiya ceritakan pada Hika, laki-laki yang selama tiga tahun ia kagumi, kini menjadi suaminya. Rasa syukur tak henti-hentinya ia panjatkan pada Sang Yang Maha Kuasa, Dzat yang membolak-balikan hati manusia.


"Terus apa reaksi kamu waktu orang tua kamu meminta untuk menikah sama aku, laki-laki yang selama ini kamu kagumi?" tanya Jika penasaran.


"Campur aduk, mas. Aku senang, bahagia, tapi gak lupa untuk sadar diri," jawab Qiya.


"Apalagi aku tahu, kamu sudah memiliki kekasih. Aku merasa egois pada saat itu, tapi aku gak bisa nolak permintaan ibu, apalagi bunda Yasmin," imbuh Qiya.


"Lalu Rekasi kamu gimana, mas?" Qiya bertanya balik.


"Marah, kecewa sama keputusan bunda yang tiba-tiba. Tapi aku gak bisa ungkapin itu semua, aku gak bisa menolak permintaan bunda, sekalipun harus menikah dengan perempuan yang tidak aku kenal."


Ucapan Hika serasa menyayat hati, tapi tak apa, itu perasaan Hika sebelumnya. Mungkin sekarang perasaan suaminya sudah berubah.


"Kamu pasti kaget kan waktu pertama kali aku bersikap kasar sama kamu?"


Qiya mengangguk. "Aku bahkan gak nyangka kamu sekasar itu, mas."


"Itu sebuah luapan emosi aku yang tertahan. Maaf kalau sikap aku menyakiti hati kamu, aku harap kamu mengerti posisi aku saat itu."


Qiya mengangguk lagi. "Iya, mas. Bukan cuma kamu, mungkin laki-laki lain akan bersikap sama seperti kamu, bahkan lebih. Saat mereka ada di posisi kamu."


"Makasih ya udah mau ngerti. Kamu gak usah khawatir, sekarang aku sedang berusaha menjadi suami yang baik buat kamu. Perlahan aku mengikis rasa untuk Zahira, dan menumbuhkan rasa buat kamu. Bantu aku untuk memupuk rasa ini."


Qiya mengulas senyum, mendengar pernyataan Hika barusan membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Do'a do'a nya selama ini terjawab sudah.


"Itu pasti, mas."


Keduanya saling menatap dengan senyum yang terukir di bibir masing-masing.


"Makasih ya, mas, kamu udah beri aku celah untuk masuk ke hati kamu," ucap Qiya kemudian.


"Itu semua berkat usaha kamu sendiri," balas Hika.


Qiya tak henti-hentinya memuji nama Tuhan yang memberinya takdir baik dalam kehidupannya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2