
"Mas .. Mari kita tunaikan kewajiban kita sebagai istri," ucap Qiya seraya membungkukkan tubuhnya di depan Hika.
Hika menoleh ke kiri dan ke kanan, ia harus bisa pergi dari sana. Ia tidak boleh tergoda oleh Qiya. Baginya, Zahira lah yang perempuan pertama yang berhak menyentuhnya. Tapi seketika pikirannya goyah, saat tiba-tiba Qiya menyentuh bagian wajah lalu turun ke lehernya. Lembutnya sentuhan tangan Qiya menimbulkan desiran menggelikan di sekujur tubuh.
"Aku milik kamu, mas. Seutuhnya aku milik kamu," ucap Qiya bagai godaan.
Qiya membuka resleting depan gamisnya, menampakan bongkahan buah dada yang membuat Hika membulatkan kedua matanya. Tidak bisa Hika pungkiri, jika ia pria normal dan tentu saja melihat hal tersebut bisa membangkitkan gai rahnya.
"Qiya, Qiya, Qiya! Kamu apa-apaan sih, hah?" seru Hika sembari menahan sesuatu yang membuat tubuhnya kini terasa panas.
"Aku tahu kamu pasti mau, mas," jawab Qiya.
Perlahan Qiya membuka seluruh pakaiannya dan sudah tel lan jang bulat sekarang. Hika memalingkan wajahnya, tapi justru semakin menghindar ia semakin di buat tidak karuan.
Qiya mengambil tangan Hika lalu ia tempelkan dalam bongkahan buah dada yang membuat jantung Hika berdegup tidak karuan. Sebenarnya Qiya pun merasa gugup, tapi ini semua ia lakukan untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.
Hika menatap wajah Qiya, ia bisa merasakan betapa hangatnya bongkahan itu, bahkan ia tidak menyangka jika Qiya memiliki dada dengan ukuran sebesar itu.
__ADS_1
Sedetik kemudian, Hika mematikan lampu yang kontaknya terjangkau oleh tangannya.
***
Paginya, Hika marah sekali pada Qiya. Gara-gara Qiya semalam, ia merasa sudah mengkhianati Zahira. Bayangan semalam membuat Hika semakin benci pada Qiya.
Setelah bunda Yasmin berpamitan, barulah Hika meluapkan emosinya.
Hika menarik tangan Qiya lalu menjatuhkannya ke atas tempat tidur.
"Kamu pikir dengan kamu melakukan hal itu semua, aku bisa jatuh cinta sama kamu?" Hika menyunggingkan sudut bibirnya. "Aku malah ji jik sama kamu!"
Kalimat terakhir Hika berhasil membuat Qiya meneteskan air mata. Padahal sebelumnya ia sudah berjanji tidak akan meneteskan air matanya kecuali tangis kebahagiaan. Hanya saja, ucapan terlalu menyakitkan untuk ia dengar.
Qiya menghapus air matanya, ia bangkit berdiri berhadapan dengan Hika. Ia tidak boleh selemah itu, ia tidak boleh terlihat cengeng.
"Sebenci itu kamu sama aku, mas?"
__ADS_1
"Ya."
"Seji jik itu kamu sama aku?"
"Ya."
"Tapi kok bisa yah, aku masih cinta sama kamu, mas. Bisa-bisanya aku gak benci sama kamu padahal, sikap kamu selama ini sama aku itu sudah keterlaluan, mas. Aku benci kepalsuan, bunda Yasmin harus tahu ini."
"Silahkan! Silahkan kamu ceritakan yang sebenarnya sama bunda! Silahkan!"
Qiya tidak berkata apapun lagi, ia menatap suaminya dengan tatapan penuh kekecewaan. Ternyata apa yang semalam ia lakukan tidak membuat Hika jatuh cinta padanya, justru Hika semakin benci padanya.
Qiya pergi dari hadapan Hika, ia sudah ia tahan mendengar kata-kata yang di layangkan Hika untuknya. Terlalu menyakitkan dan begitu menyayat hati.
Hika menghembuskan napas kasar. Entah kenapa, ia merasa kalau apa yang di ucapkan nya barusan sangat keterlaluan. Ia merasa sudah sangat kasar terhadap Qiya. Padahal sebelumnya, pantang baginya untuk menyakiti hati perempuan. Terutama bundanya. Tapi karena ia sangat kecewa atas pernikahan yang terjadi, ia begitu membenci Qiya. Padahal selama ini Qiya tidak pernah membuat kesalahan. Qiya hanya berusaha menjadi istri yang baik untuknya.
_Bersambung_
__ADS_1