Qalqalah Pernikahan

Qalqalah Pernikahan
Kabar Baik


__ADS_3

"Usia kandungannya sudah memasuki empat Minggu pak, Bu. Alhamdulillaah .. janin nya juga sehat," kata Dokter saat Qiya di temani oleh Hika cek kandungan.


"Alhamdulillaah .." ucap Hika dan Qiya secara bersamaan.


"Jenis kelaminnya apa, Dok?" tanya Hika penasaran.


"Mohon maaf, pak. Untuk jenis kelaminnya belum terdeteksi."


"Memangnya harus berapa Minggu nunggu jenis kelaminnya terdeteksi, Dok?"


Baru Dokter tersebut akan menjawab, tetapi Qiya menyela. "Kita tunggu saat bayi kita lahir ya, mas. Agar jadi kejutan buat kita semua."


"Tapi-"


"Mas .."


Qiya meminta Hika agar tidak lagi bertanya mengenai jenis kelamin. Dengan Dokter memberi tahu kondisi janin mereka sehat saja sudah cukup membahagiakan.


"Iya," jawab Hika menurut, ia tidak lagi menanyakan soal jenis kelamin sang buah hati.


Usai cek kandungan, Qiya dan Hika memutuskan untuk langsung pulang. Qiya di bekali beberapa vitamin oleh Dokter tersebut agar kandungan nya tetap sehat. Dokter juga berpesan agar Qiya tidak melakukan aktivitas yang rentan di usia kehamilannya yang masih muda.


"Kamu inget pesan Dokter tadi? Jangan aktivitas yang berat-berat!" ucap Hika mengingatkan.


"Iya, mas. Aku dengar, kok. Aku juga pasti akan ingat. Tapi justru kalau tidak di bawa gerak, akan berpengaruh juga sama bayi kita, mas."

__ADS_1


"Kamu bisa olahraga, senam, atau apapun yang di perlukan untuk ibu hamil," saran Hika di angguki oleh Qiya.


"Iya, mas," jawab Qiya menurut.


"Oh ya, ibu sama ayah Zain sudah tahu kamu hamil?"


Qiya menggeleng. "Belum, mas. Aku cuma kasih tahu bunda aja waktu itu."


"Ya udah, nanti kamu jangan lupa kasih tahu kabar baik ini, ya. Pasti ibu sama ayah Zain juga ikut senang dengarnya."


"Pasti, mas."


Keduanya saling menatap dengan seulas senyum bahagia untuk beberapa saat. Sampai akhirnya pandangan Hika kembali fokus pada jalanan lantaran saat ini mereka sedang dalam perjalanan pulang.


"Ayah ... Yah .. Ayah .." panggil Bu Zainab sedikit berteriak, membuat suaminya yang semula tertidur jadi terbangun.


"Ada apa, Bu. Kenapa teriak-teriak?" tanya pak Zainudin dengab kedua mata yang belum terbuka sempurna.


Bu Zainab menghampiri suaminya yang berada di kursi ruang tamu.


"Ayah .. Qiya hamil."


Kedua mata pak Zain seketika terbuka dengan sempurna, beliau memastikan kembali apa yang barusan di sampaikan oleh istrinya, memastikan apakah beliau tidak salah dengar. Sebab alam mimpi dan nyata masih terasa samar akibat baru bangun tidur.


"Qiya hamil?"

__ADS_1


Bu Zain mengangguk semangat membenarkan pertanyaan suaminya. "Iya, yah. Qiya hamil. Sebentar lagi kita akan menimang cucu."


"Alhamdulillaah .." ucap pak Zain seraya menengadahkan kedua telepak tangannya ke udara, kemudian beliau usapkan pada wajah sebagai tanda rasa syukur.


"Ini beneran kan, Bu? Ayah gak mimpi kan?" tanya pak Zain memastikan lagi.


Bu Zain menyubit lengan suaminya.


"Aaww .. kenapa ibu malah nyubit?"


"Itu tandanya ayah gak mimpi. Ini beneran, ayah. Qiya beneran hamil cucu kita," ucap Bu Zain memperjelas.


"Iya, Bu, iya. Gimana kalau nanti sore kita kesana?" usul pak Zain, sudah tidak sabar untuk bertemu dengan putrinya yang saat ini tengah mengandung calon cucu mereka.


"Iya, yah. Nanti kita kesana. Ibu mau kasih tahu Qiya dulu kalau begitu."


"Iya, Bu. Bilang sama Qiya mau di bawain apa? Nanti kita belikan di jalan sekalian kita ke sana."


"Iya, ayah."


Bu Zain beranjak dari ruang tamu menuju kamar untuk mengambil hp nya. Memberi kabar pada Qiya bahwa mereka akan datang ke sana sore nanti.


"Alhamdulillaah Ya Allah .. Terima kasih sudah memberi kepercayaan pada putri kami dengan memberinya sebuah keturunan," ucap pak Zain di akhiri dengan mengusap wajahnya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2