
Lain halnya dengan Je yang mendapatkan tebaran cemoohan sejak pagi oleh satu sekolahan. Richard yang melihat gadis pujaannya diantar oleh pria lain tidak bisa berhenti untuk memikirkan semua itu dari tadi.
Dia bahkan melamun ketika menjalankan tugas. Hingga seorang siswa yang terluka di depannya tampak meringis kesakitan di saat Richard dengan kasar menekan-nekan luka di lutut menggunakan kapas. "Dok, pelan-pelan dong!"
Suara teriakan siswa di hadapannya segera membuat Richard tersadar dari lamunan. "Maaf, maaf." Tanpa banyak kata, pria tersebut langsung membalut luka dengan plester dan menyudahi perawatannya.
"Sudah selesai, lain kali hati-hati kalau bawa motor," ucap Richard sembari melepaskan sarung tangan dan melangkah ke meja kerjanya.
Namun, untuk sesaat pria tersebut mengernyitkan dahi di saat melihat seseorang dari kaca jendela ruangannya. "Bukankah itu pria pagi tadi," gumamnya pada diri sendiri di kala seorang pria yang sejak tadi mengganggu pikirannya sudah berada di tepi jalan, tetapi tak menggunakan mobil, melainkan sepeda motor yang cukup menarik perhatian.
"Apa yang dia lakukan di sini?" Tanpa membuang waktu, Richard bergegas mengemas barang-barangnya dan segera melangkah pergi ke bawah untuk menghampiri pria itu.
Sepanjang perjalanan langkahnya, sesuatu berkecamuk dalam benak Richard. Bagaimana pria itu mengenal Jenni, begitu pula sebaliknya. Padahal selama ini, gadis tersebut selalu menyendiri, belum selesai kecemburuannya pada Sam dan kawan-kawan kini malah ditambah lagi seorang saingan.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Richard tanpa basa-basi ketika menghampiri William.
Bukannya menjawab, pria itu malah menoleh ke kanan dan kiri seakan mencari seseorang, hingga sedetik kemudian, dia menunjuk dirinya sendiri. "Kau berbicara denganku?"
"Kau pikir masih ada orang lain di sini selain dirimu." Richard hanya bisa mendengus kesal melihat tingkah William yang menyebalkan. Dia pun menatap sinis ke arah Liam, bagaimana bisa seorang pria pagi dan siang tidak sibuk bekerja dan hanya menunggu kepulangan seorang gadis.
__ADS_1
"Oh." Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Liam karena perhatiannya teralihkan ketika melihat sosok yang dinanti sejak tadi tampak mulai berjalan keluar area sekolahan.
"Je!" teriak Liam sambil melambaikan tangan dan tersenyum ke arah Je yang berjalan sendirian.
Gadis itu sontak membelalakkan mata melihat dua orang pria yang menatap ke arahnya. Dia pun mendekati keduanya dengan santai. "Apa kalian saling kenal?"
"Tidak!" Kedua pria itu menjawab dengan serentak hingga membuat mereka saling berpandangan, sedangkan Je hanya bisa menggeleng kecil melihat tingkah keduanya yang tampak kekanak-kanakan.
"Je, aku ayo pulang! Aku antar." Liam menyodorkan helm hitam yang terletak di bagian belakang kepada Je. Namun, dengan cepat Richard menepisnya.
"Tidak! Je, ayo pulang sama aku. Aku antar," ucap Richard sambil meraih tangan Je hendak membawanya pergi, tetapi dengan sigap Liam menahan sebelah tangan gadis itu.
"Tidak! Dia pulang denganku!"
"Aku!"
"Aku!"
"Aku!"
__ADS_1
"Cukup!" Je berteriak dengan sangat keras karena merasa tangannya sudah hampir putus sebab ulah kedua pria itu. "Apa kalian gila, hah?" Dia menatap Liam dan Richard secara bergantian hingga mereka hanya bisa menunduk melihat Je menggerakkan tangannya yang sakit.
"Aku tidak akan pulang denganmu!" tunjuk Je kepada Richard yang membuat Liam seketika tersenyum mengejek kepada pria itu. "Atau pun denganmu!" tunjuk Je kepada Liam.
"Tapi—" Keduanya kembali kompak dalam berbicara, sayangnya dengan cepat dipotong oleh Je.
"Tidak ada tapi-tapian! Kalian sangat kompak mending jadian aja deh! Dasar pria gila!" Gadis itu mendengus kesal dan segera beranjak pergi karena melihat mobil Sam yang tampak bergerak perlahan. "Sam!"
Pria itu pun akhirnya menghentikan mobil tak beratap tersebut dan menatap ke arah Je. "Ada apa, Je?"
"Aku pulang denganmu!" Tanpa menunggu jawaban Je langsung menaiki mobil Sam. Dia meninggalkan kedua pria yang masih saling berdebat karena dirinya.
Sementara itu, Sam segera menyalakan mesin dan mobil melaju meninggalkan kawasan sekolah. "Kenapa tak pulang dengan mereka?" tanya Sam sambil sekilas melihat Je.
"Jangan banyak tanya! Mereka membuatku pusing." Je hanya bisa memijat ujung pangkal hidungnya sendiri.
To Be Continue...
Kasihan ya gess Mas Liam udah dateng ganteng-ganteng sengaja bawa motor biar nggak di kerjain Jessica lagi eh malah di ganggu sama Richard. Oops
__ADS_1