Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 50: Wanita Iblis


__ADS_3

Pagi itu seperti biasa Je dan Jenni hendak pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi Su Man To. Namun, baru membuka pintu rumah sewanya, Je sudah dikejutkan dengan keberadaan William yang berada di depan pintu. “Astaga!” Je yang terkejut langsung memegang dadanya. “Hei! Apa kau waras, Paman? Kenapa pagi-pagi sekali sudah ada di depan rumahku?” teriak Je dengan keras.


“Apa kau lupa, Baby? Kita ‘kan sudah resmi menjadi sepasang kekasih sejak semalam. Jadi, mulai saat ini, aku yang akan mengantarmu ke mana pun.” Liam tersenyum selebar mungkin.  Dia bahkan sudah bersiap sejak satu jam sebelumnya agar tiba di tempat Je dengan penampilan  sesempurna mungkin di hari pertama keduanya berkencan. 


Sementara itu, Je yang mendengar panggilan baru yang Liam sematkan padanya hanya bisa bergindik sambil mengunci pintu. "Aku akan ke rumah sakit, Paman. Apa kau tidak memiliki pekerjaan lain?" 


"Tidak. Kalau begitu ayo, Baby. Aku juga tidak sabar bertemu dengan ayah mertua," kata Liam penuh semangat.


Je hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah menjijikkan  Liam saat ini. Walaupun terkesan manis, tetapi tidak bagi Je yang sudah terbiasa muak dengan rayuan seperti itu. Meskipun dia sendiri tidak pernah berpacaran sebelumnya, sedangkan jiwa Jenni di samping Je mengernyitkan dahi hingga terlipat beberapa lapisan. Gadis itu, menuntut jawaban pada Je, sayangnya Je hanya mengedikkan bahu seolah tidak peduli dengan apa yang terjadi pagi ini. 


Mereka segera berangkat ke rumah sakit menggunakan mobil Liam. “Nah, makanlah, Baby. Kau pasti belum sarapan tadi.” Dia menyerahkan sebuah roti sandwich yang dibelinya tadi kepada Je sambil mengemudikan mobilnya. Sesekali pria itu tersenyum menatap Je di sela kegiatan. Rasa bahagia memiliki kekasih hati sungguh membuat hati Liam berbunga-bunga seketika. Seolah ladang kembang memenuhi hari-harinya kali ini. 


Di kursi belakang jiwa Jenni hanya bisa menatap kedua sejoli di depan sambil bersedekap. Dia bahkan melihat Jenni di depan dengan sorot tidak biasa. “Je, kau harus menjelaskan semua ini padaku nanti,’ ujar Jenni hanya bisa di dengar oleh Jessica.


“Apa yang perlu di jelaskan. Dia memiliki banyak informasi tentang musuh ayahmu. Jadi, kita harus memanfaatkannya semaksimal mungkin,” batin Je pada Jenni. 


Keduanya berkomunikasi tanpa diketahui oleh Liam karena Je sendiri asyik memakan roti yang dibelikan pria itu. “Lagi pula, kalau kita kembali ke tubuh masing-masing. Kau bisa memutuskannya kapan saja kalau memang kau tidak suka,” batin Je lagi.


“Hei! bisa-bisanya kau menerima sembarangan pria untuk menjadi kekasihku. Apa kau sedang main-main dengan hidupku, hah? Menyebalkan! Kau yang menerimanya, kenapa harus aku yang harus memutuskan,” bentak Jenni kelimpungan.


"Kalau begitu jadikan dia suamimu saja."

__ADS_1


"Dasar kejam!" Jenni yang merajuk lantas menghilang bagaikan tertiup angin begitu saja meninggalkan mobil tersebut.


Sementara itu, Jessica yang tidak lagi melihat Jenni hanya bisa mencebikkan bibirnya. “Dasar, arwah sensitif,” gumamnya lirih.


“Kau bilang apa, Baby?” tanya Liam mendengar gerutuan Je.


“Tidak. Bukan apa-apa. Apa kau juga mau, Paman?” tanya Je sambil menyodorkan roti di tangannya secara basi-basi. Namun, tanpa ragu  Liam langsung menggigit makanan yang sudah menjadi bekas bibir Je itu seketika.


“Enak,” ucap  Liam menyadarkan Je yang tercengang. 


Keduanya pun tiba di rumah sakit setelah beberapa saat, tetapi baru berjalan di lorong menuju ruangan Su Man To lagi-lagi Je harus menghela napas panjang karena di hadapannya ada Lary yang sedang menghadang Ju Min Ten  yang memaksa masuk. 


“Lary,” panggil Je hingga kedua orang itu menoleh secara bersamaan. 


“Hei! Apa hakmu melarangku bertemu suamiku? Aku ini masih istri Su Man To. Apa kau gila, menghadangku mengunjungi suamiku sendiri, hah?” bentak Ju Min en pada Je tanpa ragu-ragu. 


“Pulanglah. Kau boleh istirahat. Terima kasih sudah menjaga ayahku,” ucap Je pada Lary tanpa memedulikan keberadaan Ju Min Ten di sana.


Je hendak melangkah memasuki ruangan, tetapi diserobot lebih dulu oleh Ju Min Ten, sedangkan Liam harus segera pergi setelah mengantarnya tadi karena ada panggilan mendadak.


Melihat tingkah menyebalkan ibu tiri Jenni, Je hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bisa-bisa di usia sekarang dia baru bertemu dengan wanita seperti itu. Andai saja sejak dulu, dan Je di tubuhnya sendiri pasti sudah dia beri pelajaran tanpa perlu memikirkan risikonya.

__ADS_1


Ju Min Ten mulai mengeluarkan air mata buaya, dan melangkah memelas mendekati Su Man To. "Sayang, apa yang terjadi padamu? Kenapa bisa seperti ini?" tanyanya panik seolah sungguh mengkhawatirkan Su Man To. "Sayang, maaf aku baru datang. Sebenarnya sejak hari di mana kecelakaan itu terjadi aku sudah ingin mengunjungimu. Tapi Jenni malah melarangku masuk."


Je yang langsung di serang hanya bisa memutar bola matanya malas. "Sandiwara klasik," gumamnya sambil meraih buah di sana lantas duduk di sofa yang tersedia tanpa memedulikan obrolan keduanya.


"Kenapa kau di sini?" tanya Su Man To datar pada Ju Min Ten.


"Sayang, apa kau marah? Maafkan aku." Ju Min Ten berusaha lembut dengan meraih tangan suaminya.


Namun, Su Man To yang dulu bukanlah pria yang kini di hadapannya. Dia tidak perlu lagi bersandiwara hanya untuk mengelabui Ju Min Ten. "Pulanglah, dokter hanya mengizinkan satu orang menungguku. Biarkan Jenni saja di sini, kau 'kan memiliki banyak urusan," ucapnya beralasan.


"Tapi, Sayang." Ju Min Ten berusaha untuk tetap berada di sisi Su Man To. Sayangnya, pria itu juga bukan orang yang mudah untuk dihadapi jika sudah membuat keputusan.


"Nanti aku akan mengirimkan hadiah untukmu. Jangan lupa untuk membukanya! Kau pasti akan senang menerima semua itu," ucap Su Man To beralasan.


"Benarkah?" Binar kebahagiaan terpancar jelas di wajah Ju Min Ten. Biasanya Su Man To akan memberinya varang mewah jika berhubungan dengan hadiah.


Su Man To hanya mengangguk kecil. Sangat sulit baginya untuk tetap berada di ruangan yang sama dengan Ju Min Ten setelah mengetahui wanita itulah yang merencanakan hal buruk sejak awal hingga istri tercintanya meninggal dunia. Andai saja dia bisa memutar waktu, mungkin Su Man To akan memilih menjadi duda selamanya dibandingkan hidup bersama iblis yang mengerikan itu.


"Pulanglah, aku lelah," ujar Su Man To lagi langsung membuang wajah menatap ke arah lain.


"Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu. Akan aku pastikan menerima hadiahmu dengan senang hati. Terima kasih, Sayang." Ju Min Ten berusaha mencium pipi Su Man To. Namun, dengan cepat pria itu mengusap setelah kepergiannya.

__ADS_1


"Wanita iblis," batin Su Man To sambil mengepalkan kedua tangannya.


To Be Continue...


__ADS_2