
Di sebuah kediaman, seorang pria melangkah dengan amarah yang menggebu dalam dirinya. Seluruh rencana yang sudah dipersiapkan matang bertahun-tahun kini kacau hanya dalam semalam. Hasil peradilan berubah tanpa dia duga, begitu pula dengan bukti yang kini berbalik menyerang antek-anteknya.
"Sialan! Siapa yang berani ikut campur urusanku?" murka pria tersebut sambil melepaskan dasi di leher dengan kasar karena merasa napasnya tercekat seketika.
"Biar saya selidiki, Tuan," ujar seorang wanita yang mengikuti langkahnya di belakang.
"Su Man To benar-benar di luar dugaanku. Bisa-bisanya kita lengah sampai seperti ini." Dengan geram dia membuka pintu ruang kerja menggunakan kaki. "Su Man To, sialan, hah! Sia-sia sudah semua yang aku lakukan selama ini," teriaknya murka.
Dia membabi buta mengacak-acak meja kerjanya, tetapi sesaat setelah itu pria tersebut terdiam karena merasa ada sesuatu yang janggal saat ini. Dia pun mengangkat tangannya, mengisyaratkan agar wanita di belakangnya keluar dan segera menutup pintu.
Tanpa membuang waktu wanita tersebut memilih menurut, sedangkan sang pria meraih sebuah pistol dari bagian belakang tubuhnya. Dia bergerak perlahan, lantas melangkah dengan hati-hati menuju kursi kebesarannya yang kini membelakanginya. Namun, betapa terkejutnya pria itu ketika memutar kursi tersebut ternyata seorang gadis bertepuk tangan melihatnya.
"No–nona." Ahn Jay tak mampu berkata-kata. Napasnya seakan tercekat melihat gadis yang dengan berani masuk ke kandang lawan tanpa permisi.
Sayangnya, suara tepukan tangan Je lengkap dengan sorot tajam menghunus pada asisten sang ayah tak mereda sejak tadi. "Kau sungguh hebat, Tuan Ahn. Bahkan bisa menipu ayahku selama ini. Sungguh di luar ekspektasi ayahku. Dia pasti tidak akan mengira jika sesungguhnya kau adalah tokoh utama semua permasalahan ini."
Keduanya terdiam untuk sesaat. Sesaat kemudian Ahn Jay tertawa sinis. "Percuma juga menutupinya saat ini. Kau sudah tahu siapa diriku yang sebenarnya. Kalau saja Ayahmu itu tidak serakah dan menguasai perusahaan sendirian. Aku pasti tidak akan mengusiknya seperti ini." Ahn Jay menarik penutup geser senjata api tersebut dengan tangannya dan menodongkan ke Je seketika.
__ADS_1
Sayangnya, gadis tersebut hanya bergeming, bahkan masih mampu menyeringai mengejek padanya. "Apa kini kau ingin membunuhku secara terang-terangan? Kau hanyalah seorang pria pecundang yang tidak tahu terima kasih. Sudah jelas-jelas ayahku berbaik hati menerimamu dari jalanan. Tapi kau malah berkhianat dan mengikis lebih hanya untuk memenuhi ambisimu yang tak berkesudahan."
"Kau hanyalah bocah kemarin sore yang tidak tahu diri. Apa hakmu mengomentariku, hah? Aku sudah bersikap baik dengan membiarkanmu hidup dalam kebodohan. Tapi, kau malah mengacaukan rencanaku dan masih berani datang kemari!"
Bukannya takut, Je malah tertawa lebar untuk waktu yang cukup lama menanggapi ucapan Ahn Jay. "Aduh perutku sakit. Sebentar biarkan aku tertawa dulu! Apa kau sedang bermimpi dari gelandangan menjadi raja? Seharusnya kau nikmati hidupmu dengan baik, tidak usah mengharapkan apa yang bukan menjadi milikmu. Pasti kebahagiaan hidup akan menghampirimu. Tapi kau sendiri yang mencari masalahnya dengan mengacaukan keluargaku."
Hal tersebut sontak menyulut amarah dalam diri Ahn Jay. Dia segera mendekatkan diri pada sang gadis dan mencengkeram kuat kedua pipi mungil itu menggunakan tangan besarnya. "Kau pikir aku sedang main-main denganmu?"
Je terdiam menatap pria di depannya dengan tajam. "Bukan kau yang main-main. Tapi aku yang sedang bermain denganmu," ucapnya kembali menyeringai.
"Diam di tempat! Tempat ini sudah kami kepung," ujar salah seorang detektif pemimpin penyergapan diikuti Rey di belakangnya.
"Kalian yang mundur! Atau peluruku akan bersarang di kepalanya detik ini juga!" ancam Ahn Jay mencoba menjadikan Je sebagai perisainya dan perlahan mencekik leher gadis itu menggunakan salah satu lengannya.
"Kau hanyalah pecundang," ejek Je seolah tak puas menyulut amarah Ahn Jay sejak tadi.
"Diam! Kau seharusnya sadar posisimu saat ini. Apa kau pikir aku tidak akan tega mengambil nyawamu saat ini juga?" Kedua bola mata Ahn Jay hampir meloncat dari tempatnya. Dia sendiri tidak pernah membayangkan akan berada di situasi seperti ini. Padahal sebelumnya dia sudah bermain sangat rapi, tetapi bisa-bisa malah terjebak dalam permainan seorang bocah ingusan yang tak pernah dia perhitungkan.
__ADS_1
Tak ingin lama-lama dalam situasi sekarang. Je dengan segera mengambil alih. Dia meraih bagian belakang tubuh Ahn Jay di belakangnya dan membanting pria tersebut ke depan tanpa aba-aba, serta dengan mudahnya mengambil alih pistol pria tersebut dan menembak langsung di salah satu kakinya. "Kau terlalu banyak bicara, Paman," ujarnya setelah sepersekian detik berhasil membalikkan keadaan dengan mudahnya.
Semua detektif yang ada di sana hanya bisa tercengang menatap aksi Je yang memukau bagi mereka. Hal itu biasanya dilakukan oleh para senior, tetapi ini korbannya sendiri yang melumpuhkan penjahatnya.
"Kenapa kalian diam saja? Cepat tangkap dia!" ucap Je menyadarkan mereka semua dari lamunan, sedangkan Rey segera mendekati gadis tersebut.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Rey.
Je hanya mengangguk menanggapi, sedetik kemudian datanglah Liam dengan wajah berangnya. "Hei! Singkirkan tangan kotormu dari kekasihku!"
Keduanya pun terhenyak, dengan kedatangannya. Namun, tampaknya kemarahan Liam belum cukup di sana sehingga Je hanya bisa menyengir kuda.
"Apa senyum-senyum? Bukankah sudah aku katakan jika ingin melakukan sesuatu hubungi aku dulu? Kenapa bertindak sendirian? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padamu?" cerca Liam dengan banyak pertanyaan.
"Ini yang tidak aku suka darimu, Paman. Kau terlalu banyak berceloteh melarangku melakukan ini itu. Menyebalkan!" Tak ingin semakin pusing, Je melangkah pergi meninggalkan kedua pria tersebut di ruangan itu, sedangkan Ahn Jay sudah diamankan pihak berwajib dengan kondisi kaki yang terluka bersimbah darah.
To Be Continue....
__ADS_1