
"Kak Rey!" Saking girangnya, tanpa sadar Je malah menyapa terlebih dulu pria itu begitu saja dan seketika mendapatkan tatapan tajam dari Liam di sampingnya.
"Kau mengenalnya?" tanya Liam terkejut melihat antusias Je.
Menyadari kesalahannya Je hanya bisa memutar otak bagaimana caranya supaya Liam tidak curiga. Lagi pula Rey tidak mungkin mengenalinya saat ini, secara dia bukanlah Jessi yang dulu dengan wajah Jenni. "Emth, siapa yang tidak mengenal sosok Rey Gerald? Pengacara hebat di usia muda dengan ketampanan yang memikat banyak penggemar di setiap persidangan."
Je berdalih, Rey tertawa bangga, sedangkan Liam menatap tajam sahabatnya itu. Dia kembali meletakkan mangkuk ke atas nakas cukup keras hingga dentingannya pun mengejutkan Je maupun Rey. Kemelut api cemburu mengepul dengan jelas dari ubun-ubunnya layaknya sebuah hutan yang baru saja terbakar.
"Aku tidak tahu kalau dia seterkenal itu sampai kau pun bahkan mengenalnya," ucap Liam sambil mencebikkan bibir. Tidak ada kelembutan di nada bicaranya. Kecemburuan membuatnya buta dan lupa tujuan utama mendatangkan Rey ke rumahnya.
"Sudah, sudah. Jangan cemburu padaku! Aku bukan perusak hubungan orang seperti yang kau bayangkan. Jadi buang jauh-jauh pikiran kotormu itu. Ngomong-ngomong kenapa kau memintaku ke sini?" ujar Rey mendekati keduanya.
"Ya, kau memang masih pecinta janda seperti sebelumnya," gumam Je lirih mendapatkan tatapan tajam dari kedua pria itu.
"Apa? Kenapa kau bisa tahu selera Rey?" tanya Liam sedikit menyentak.
"Emth, bukankah sudah bisa terbaca dari wajahnya, Paman. Kak Rey 'kan pria normal yang tentunya lebih menyukai wanita dewasa yang berpengalaman. Tidak sepertimu yang malah menjerat gadis manis sepertiku," jawab Je ketus.
Liam hanya memicingkan mata mendengar alasan Je. Bukan kalimat sang kekasih yang membuatnya berpikiran lebih. Namun, panggilan 'kak' yang dengan mudahnya keluar dari mulut Je. Padahal keduanya baru bertemu saat ini.
__ADS_1
"Padahal usianya lebih tua dari aku. Tapi kau dengan mudahnya memanggil pria itu Kak, sedangkan aku yang kekasihmu masih kau panggil Paman. Dasar kejam," keluh Liam.
"Sudah jangan banyak protes. Paman, itu panggilan sayangku untukmu. Tidak ada pria lain yang aku panggil Paman seromantis itu. Lebih baik kita ke kembali ke pokok permasalahannya. Aku juga penasaran kenapa kau menyuruhnya kemari?" ujar Je bersemangat.
Rey merupakan sosok pengacara muda yang bisa diandalkan dan Je sangat tahu akan hal itu. Meskipun pria itu sebenarnya belum terlalu terkenal. Akan tetapi, hanya dengan begitu Je bisa meredakan amarah dalam diri Liam.
Liam yang melihat Je lantas menghela napas panjang. Pria tersebut lantas berdiri dan memberikan sebuah dokumen pada Rey. “Calon mertuaku mengalami masalah. Tapi kami mendapatkan bukti, jika sebenarnya bukan dia dalang sesungguhnya dari permasalahan tersebut dan hanya di fitnah oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Aku ingin nantinya kau menjadi pengacara pengganti. Tapi biarkan dulu kondisinya seperti ini untuk memancing induk dari pengkhianat itu secara langsung. Aku hanya ingin kau memahami situasinya, sehingga di saat kau mengambil alih mereka tidak pernah menduga hal itu sebelumnya.”
Rey hanya mengangguk sambil membaca setiap lembar demi lembar berkas yang diberikan Liam dengan seksama. “Siapa yang mendapatkan semua bukti ini. Pasti bukan perkara mudah menemukan bukti di tempat penyimpanan seperti ini tanpa diketahui pihak musuh.”
“Je yang menemukannya. Makanya nyawanya hampir melayang kemarin,” jawab Liam santai sambil melihat sang kekasih yang hanya memonyongkan bibirnya mendengar ucapan Liam.
“Kenapa? Jangan bilang kau jatuh cinta pada pandangan pertama karena melihat kekasihku!” tuduh Liam sinis.
“Sembarangan kalau bicara. Hanya saja panggilannya mirip dengan seseorang yang aku kenal. Sayangnya, dia masih terbaring koma di rumahnya. Entah kapan dia akan bangun dan membantuku mencari alasan untuk keluar dan mencari janda bahenol lagi.” Rey kembali membolak-balikkan kertas di tangannya dengan teliti. Untuk sesaat ketiganya terdiam dalam kebisuan dan pikiran masing-masing.
Je memikirkan dirinya sendiri di negara lain. “Jadi aku koma di sana. Belum mati dan tidak ada satu pun jiwa yang menempati tubuhku. Syukurlah, berarti aku hanya tinggal menyelesaikan semua ini dan kembali pulang,” batin Je merasa senang.
“Baiklah. Aku sudah melihat semua ini. Aku bawa dulu, nanti aku kabari lagi setelah semuanya siap. Bukankah sidang pertama juga belum digelar?’’ tanya Rey mulai memasukkan berkas itu ke dalam tasnya.
__ADS_1
“Belum. Tapi aku ingin bermain-main lebih dulu pada mereka. Bisakah kau membalikkan keadaan jika barang bukti yang tersedia di foto itu hangus?” ucap Je melihat Rey mulai beranjak dari posisinya.
“Hangus?” Sejenak Rey menggaruk dagunya yang tidak gatal. “Kau kau ingin menghanguskan tumpukan uang dan barang haram mereka seperti yang ada di foto ini bisa saja. Hanya saja kau juga harus melaporkan ke polisi kejadian itu tepat waktu, sehingga kita bisa menjebak mereka dengan tuduhan mencoba menghilangkan jejak barang bukti. Kalau kau ingin melakukan hal itu. Jangan lupa hubungi aku! Biar ku kirim orang yang bisa dipercaya dan tidak mudah disuap oleh mereka.”
Je hanya mengangguk patuh dan tidak banyak bertanya. “Terima kasih.”
“Kalau begitu aku permisi dulu. semoga lekas sembuh.” Rey lantas berbalik hendak melangkah pergi.
“Aku mau mengantarnya dulu,” ucap Liam pada Je yang hanya di tanggapi dengan anggukan.
Kedua pria lantas melangkah keluar ruangan. Sebuah pertanyaan mulai berkecamuk dalam pikiran Liam. Bagaimana Je dan Rey bisa memiliki pemikiran yang sama. Bahkan gadis itu tidak menanyakan keputusannya mengganti pengacara.
“Rey, apa kau yakin tidak pernah mengenal Je sebelumnya?” tanya Liam penasaran dan menghentikan langkah setibanya keduanya di depan pintu utama.
“Kalau Je kekasihmu itu. Aku jelas tidak mengenalnya. Bahkan ini pertemuan pertama kami. Tapi kau cukup pandai memilih kekasih, dia hampir mirip dengan adik sepupuku. Meskipun usia muda, tapi cukup cerdas dalam mengambil tindakan. Sayangnya adikku masih koma selama setahun ini akibat kecelakaan. Kalau begitu aku pergi dulu. Jangan terlalu banyak cemburu dengan hubungan pertamamu. Bisa-bisa nanti dia lari.” Rey hanya menepuk bahu Liam dua kali dan melangka pergi memasuki mobilnya.
Sementara itu, Liam hanya berdiri dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Entah mengapa rasa penasaran sepertinya belum terjawab dan dia sendiri bingung dengan apa yang terjadi padanya. “Koma satu tahun,” gumam Liam memilih mengabaikan semuanya dan berbaik kembali ke ruang tempat Je berada.
To Be Continue..
__ADS_1