Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 75: Pernikahan


__ADS_3

Hari pernikahan yang diharapkan kedua mempelai akhirnya tiba. Nicholas mengesampingkan egonya dan kembali merestui jalinan kasih kilat yang terjadi antara Willams serta Jessica. Sebagai orang tua, dia hanya bisa mengharapkan hak terbaik untuk sang putri. Berharap kisah rumah tangga mereka berjalan dengan baik seperti dia dan Jesslyn.


Pintu kamar terbuka, seorang pria berjas hitam masuk ke kamar putrinya untuk menjemput mempelai wanita. Dua orang wanita bergaun putih terpampang nyata di hadapannya, hingga dia pun menghentikan langkah sejenak, guna menikmati keindahan dua bidadari kesayangannya itu.


"Daddy? Apa aku tidak cantik?" tanya Jessica membuyarkan lamunan Nicholas.


Nicholas hanya membalas dengan tersenyum. Dia kembali melangkah ke depan dan berdiri tepat di hadapan sang putri. "Kau adalah pemeran utamanya hari ini, Sayang. Daddy sampai tidak rela harus menyerahkan putri cantikku ini pada pria lain."


"Apa sekarang aku sudah tua, Nich? Sampai-sampai aku tidak pernah lagi kau puji." kesal Jesslyn memecah keharuan saat itu.


Keluarga itu pun tertawa riang. Acara segera di mulai dan dalam beberapa saat ke depan Jessica akan mengucapkan janji suci.


Nicholas menggenggam tangan putrinya sejenak, menatap kulitnya sendiri yang semakin berkeriput dengan perasaan tak karuan. "Ternyata aku memang sudah tua," gumamnya menunduk menahan cairan hangat yang berkumpul di pelupuk mata. Seharusnya dia tidak sedih di hari bahagia sang putri, tetapi mau bagaimana lagi sulit sekali rasanya melepaskan putri tercinta pada pria yang baru dikenalnya itu.


"Daddy." Jessica segera memeluk sang ayah dengan erat. Sosok yang akan selalu dia jadikan nomor satu seumur hidup ini apa pun yang terjadi. Cinta pertama yang tak akan bisa tergantikan oleh siapa pun, tak pernah berkhianat, tidak pula berdusta apalagi berpura-pura untuk setiap kasih yang diberikannya. "Daddy akan selalu menjadi yang terbaik di hatiku."


"Daddy tahu hal itu." Sejenak mereka kembali terdiam, Nicholas membelai wajah putrinya yang kini berias make up tipis, tetapi tetap memancarkan kecantikan yang alami. "Putriku, setelah janji suci itu diucapkan. Kau akan bergelar seorang istri bagi pria yang kau cintai. Aku melepasmu dan membiarkannya membawamu ke mana pun dia mau. Di luar sana, kau adalah istrinya. Tapi, di rumah ini, apa pun yang terjadi. Kau tetaplah putri kesayanganku. Apapun yang terjadi, pintu rumah ini selalu terbuka lebar untukmu."


Jessica mengangguk paham, lagi-lagi setiap kata yang diucapkan Nicholas lebih manis dari madu yang baru saja di ambil dari sarangnya. "Aku menyayangimu, Dad."


"Daddy pun menyayangimu," ucap Nicholas memeluk putrinya.


"Mommy pun sama menyayangimu, Nak." Jesslyn ikut memeluk suami dan putrinya yang tengah dalam suasana haru itu.


Keluarga tersebut, saling melepaskan keharuan untuk sesaat. Hingga pembawa acara menyatakan dimulainya acara, Nicholas pun menekuk tangan setengah melingkar sebagai tempat Jessica menautkan pegangan. "Ayo kita temui pria pilihanmu!"

__ADS_1


Jessica berdiri dari posisinya, membawa sebuket bunga tangan yang lain dari biasanya. Bukan hanya terbuat dari bunga segar seperti mawar, peony, tulip, atau jenis bunga lainnya yang melambangkan keromantisan sebuah pernikahan, melainkan terbuat dari kartu judi yang di bentuk bunga dengan sedemikian dan bertabur berlian di atasnya.


Nicholas dan Jessica mulai melangkah. Di mana di ujung karpet putih itu, seorang pria sudah berdiri gugup. Detik demi detik menegangkan, sekali seumur hidup, dan tak akan terlupakan bagi setiap insan yang menyaksikan.


Alunan musik syahdu seakan tak terdengar di telinga Nicholas. Seolah hanya ada dia dan sang putri yang berjalan menuju sebuah jembatan penyambung tali pernikahan. Akankah pria di depan benar-benar menjaga putrinya? Hanya doa terbaik yang bisa Nicholas panjatkan untuk keduanya.


Willams mengulurkan tangan di saat Nicholas dan Jessica menghentikan langkah. Tangan tua Nicholas menyerahkan telapak tangan putrinya pada sosok pria muda di hadapan mereka. "Aku menitipkan putriku padamu, untuk seumur hidupmu."


"Terima kasih sudah memberikan kepercayaan padaku, Dad. Aku akan menjaganya, seperti halnya dirimu. Tidak akan kubiarkan dia terluka, meskipun hanya karena memotong kukunya."


Jawaban William menumbuhkan senyum di wajah Nicholas. Dia pun melepaskan tangan sang putri dan melangkah mundur untuk duduk bersama sang istri. "Kau sudah melakukan yang terbaik, Sayang."


Dua orang saling berhadapan, sebagai pemeran utama acara hari itu. Tamu undangan yang tak lain hanya berisikan anggota keluarga, menjadi saksi di mana sepasang pria dan wanita akan mengucapkan janji suci.


Seorang pendeta di antara keduanya berdiri membimbing mereka untuk berjanji atas nama Tuhan.


"Ya, saya."


"Bersediakah engkau menerima wanita di hadapanmu saat ini, Jessica Light sebagai istrimu?" ucap sang pendeta.


William menatap lurus kedua mata wanita di depannya. "Saya William Scorpion, bersedia setulus hati tanpa paksaan, apalagi taruhan, mengambil engkau Jessica Light, menjadi istriku. Untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan dan inilah janji setiaku yang sangat tulus. Dengan segala hal yang kumiliki sebagai jaminannya."


"Jessica Light," ucap Si Pendeta selanjutnya.


"Iya, saya."

__ADS_1


"Bersediakah engkau menerima pria di hadapanmu, William Scorpion sebagai suamimu?"


"Saya Jessica Light bersedia mengambil engkau William Scorpion, menjadi suamiku, untuk saling memiliki dan juga menjaga dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, dan pada waktu sehat maupun sakit. Untuk selalu saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita, sesuai dengan hukum Tuhan, dan inilah janji setiaku yang sangat tulus. Dengan segala hartamu sebagai jaminannya."


Jessica mengakhiri janji sucinya dengan senyum yang terlukis indah di wajah cantik itu. Sementara itu, pendeta tercengang dengan kalimat penutupnya dan beberapa tamu sontak menahan tawa. Namun, sang suami mengangguk atas apa yang dikatakan Jessica pada sang pendeta.


Sejenak pendeta itu mengambil napas. "Di hadapan Tuhan dan para saksi hari aku nyatakan engkau William Scorpion dan Jessica Light resmi menjadi sepasang suami istri."


William menyematkan sebuah cincin berlian yang cantik di jari manis tangan kanan Jessica, terlihat begitu serasi dengan kulit putihnya. Benda yang selama beberapa tahun ini tak bertuan karena hilangnya jiwa Jessica. Kini kembali pada sang pemilik sesungguhnya.


Begitu pula dengan Jessica, dia menyematkan sebuah cincin di jari manis tangan kanan William. Namun, bukan berasal dari emas atau berlian, melainkan sebuah bahan yang digunakan sebagai pembuat koin perjudian. Sungguh perbedaan bahan cincin yang cukup signifikan.


Tidak masalah dengan apa yang di berikan sang istri. Tanpa aba-aba William langsung mencium sang istri untuk pertama kali. Kedua pasangan dengan semerbak bunga yang beterbangan saling tenggelam dalam pangutan. Melepaskan segala perasaan yang selama ini terpendam.


Riuh tepuk tangan serta siulan mulai mengisi keramaian. Ditambah dengan lagu pernikahan yang mengalun memeriahkan. Kedua orang tua Jessica sampai menitihkan air mata, melihat putri tercinta mereka telah resmi berstatus seorang istri saat ini.


Apakah sebuah pernikahan selalu menjadi akhir sebuah cerita? Entahlah, mereka baru akan menjalani bahtera rumah tangga, tetapi penulisnya dengan tega memutuskan untuk menTAMATkan cerita.


Terima kasih pembaca setia Queen Of Cassino. Sengaja Novel ini ditulis dengan konflik ringan tanpa adegan ANUan karena agar tidak mencemari otak remaja yang membaca.


Sampai jumpa di Next Novel : ISTRI TAWANAN TUAN AROGAN


Berkisah tentang Nenek Laura dan Kakek Michael yang pasti tak kalah serunya. Terima kasih pembaca setia yang sudah bersedia menanti setiap episodenya.


Salam Sayang.

__ADS_1


Rissa Audy


__ADS_2