Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 51: Aku Pastikan Kau Menyesal!


__ADS_3

Ju Min Ten yang pulang berharap hadiah dari Su Man To segera datang dan membuatnya bahagia seperti sebelumnya. Pria itu selalu saja memberikan barang-barang mewah edisi terbatas yang disukainya. Namun, setibanya di rumah dia mengernyitkan dahi melihat mobil yang dikenalnya milik pengacara sang suami sudah terparkir di sana. "Apa yang kali ini disiapkan pria tua itu," gumamnya sambil melangkah ke dalam rumah.


"Selamat pagi, Nyonya," sapa sang pengacara tanpa basa-basi melihat kedatangan Ju Min Ten.


"Pagi, silakan duduk." Ju Min Ten pun duduk di kursi seberang pengacara. Pria itu tampak mengeluarkan sebuah dokumen yang membuat jantungnya seketika berdetak cepat saat itu juga.


"Jadi, kedatangan saya kemari karena perintah dari Tuan Su Man To sebelumnya. Beliau menggugat cerai istrinya yaitu Anda, Nyonya Ju Min Ten karena merasa sudah tidak ada lagi bisa dipertahankan dari pernikahan ini." Pengacara lantas menyerahkan berkas perceraian kepada Ju Min Ten. "Perceraian telah diurus tinggal menunggu Anda menanda tanganinya. Sebaiknya, Anda melakukan itu, karena ini adalah pesan dari Tuan Su Man To sendiri secara langsung."


"Tidak bisa begitu!" Ju Min Ten yang terkejut berdiri dari posisinya dengan wajah merah padam. "Apa maksudnya tidak ada yang perlu dipertahankan lagi? Kami bahkan baik-baik saja selama ini."


Melihat amarah dalam diri Ju Min Ten, Pengacara sedikit menyeringai. Dia lantas mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan memberikannya pada wanita di depannya dengan santai. "Mungkin kehidupan rumah tangga Anda baik-baik saja selama ini karena Tuan Su Man To sudah berbaik hati dan diam atas apa yang terjadi. Tapi bukan berarti dia tidak tahu apa yang Anda lakukan di belakangnya selama ini."


Ju Min Ten yang melihat isi amplop serasa lemas tidak bertulang. Dia terduduk dengan perasaan tak karuan melihat setiap lembar demi lembar di mana kebersamaannya bersama Mon Nyong terpampang jelas di setiap foto tersebut. "Ini? Bagaimana bisa?"

__ADS_1


"Nyonya, yang namanya bangkai mau Anda sembunyikan serapat apa pun pasti baunya akan menguar ke udara ketika habis masanya. Saran saya, sebelum Tuan Su Man To bertindak lebih jauh dalam membongkar kebusukan Anda, sebaiknya Anda segera menyetujui gugatan ini dan terimalah kompensasi yang Tuan berikan serta keluar dari rumah ini bersama putri Anda dengan tenang," ujar sang pengacara sedikit mengancam.


Ju Min Ten yang geram hanya bisa meremas foto di tangannya hingga tak lagi berbentuk. Sedetik kemudian, dia mengambil berkas gugatan tersebut dan membaca kompensasi yang didapatnya. "Apa maksudnya ini? Kenapa aku hanya mendapatkan sebuah villa di kawasan terpencil itu?" marahnya setelah membaca berkas tersebut. "Lalu bagaimana aku hidup jika dia hanya memberiku villa? Padahal akulah yang sudah menemani perjalanan bisnisnya dari dulu."


"Nyonya, apa yang Anda dapatkan, sudah termasuk keringanan terbaik yang bisa Tuan Su Man To berikan. Beliau juga berpesan, agar Anda segera meninggalkan rumah ini sebelum matahari terbit besok. Sebelum semuanya hangus sebaiknya Anda tanda tangani berkas itu secepat mungkin karena saya juga bukan orang yang sabar. Harap Anda memahami situasi. Saya akan kembali lagi besok untuk mengambil berkas tersebut. Permisi!" Tanpa memerhatikan Ju Min Ten yang menahan amarahnya kala itu. Sang Pengacara lantas pergi meninggalkan berkas perceraian di sana dan melangkah keluar begitu saja.


Ju Min Ten seketika murka dan melemparkan vas bunga di depannya ke lantai hingga hancur berkeping-keping. "Hah! Su Man To, bagaimana bisa kau menganggap ini sebagai hadiah?" teriaknya kesetanan dengan mata merah yang hampir saja keluar dari tempatnya.


Dia begitu murka dan memecahkan banyak barang-barang di rumah tersebut untuk melupakan amarahnya. Hingga sesaat kemudian, dering ponselnya menghentikan apa yang dilakukan wanita tersebut. "Ya," ucapnya setelah mengangkat panggilan.


"Dia memberiku surat cerai," jawab Ju Min Ten sambil mengusap dahinya yang merasa pusing akan tindakan tak terduga Su Man To.


"Bukan kah itu kabar baik? Kita tidak perlu repot-repot menyingkirkan pria itu nantinya."

__ADS_1


"Apanya yang baik? Aku hanya mendapatkan sebuah villa terpencil yang dia miliki. Bagaimana bisa kau menganggap itu hal baik?" bentak Ju Min Ten.


Seketika suara tawa terdengar begitu licik di seberang sana untuk sesaat. "Sayang, kenapa kau begitu panik? Lagi pula kita bisa merebutnya setelah semuanya di mulai. Su Man To juga tidak lama lagi akan bangkrut dan mendekam di penjara. Jadi sebaiknya kau menyetujui rencana bodohnya dan pergilah ke sisiku! Aku akan selalu ada untukmu."


Ju Min Ten terdiam untuk beberapa saat. Dia mencerna dengan seksama penjelasan kekasihnya itu dengan baik. Lagi pula, Su Man To adalah sosok yang tidak mungkin mengubah keputusan setelah apa yang terjadi. Lebih baik segera menyetujui perceraian itu daripada berakhir sebagai istri seorang narapidana. "Baiklah. Aku akan menurutimu. Nanti aku akan membawa Rose padamu. Jangan lupa siapkan tempat terbaik untuk kami!"


"Akan aku tunggu kedatangan kalian," ucap pria itu di akhir panggilan sebelum akhirnya memutuskan sambungan dengan kalimat mesra yang menjijikkan.


Ju Min Ten setidaknya bernapas lega. Dia dengan santainya menandatangani dokumen perceraian dan langsung pergi ke kamar untuk mengemas benda berharga miliknya. Emas, berlian, safir, dan apa pun itu yang memiliki nilai tinggi tentunya.


Di saat melihat isi dalam lemarinya sekilas Ju Min Ten terhenti karena sebuah kotak milik Su Man To yang tak pernah di sentuhnya. Perlahan wanita tersebut mengulurkan tangan dan memberanikan diri membuka isinya. Di mana ternyata terdapat foto pernikahan Su Man To dengan sang sang adik yang membuatnya geram. "Kenapa kau selalu saja lebih beruntung dariku?" kesalnya langsung melemparkan benda tersebut hingga hancur berantakan.


Sesaat setelah meluapkan amarahnya lagi. Dia melihat kalung berlian yang ditinggalkan sang adik dalam kotak tersebut. "Kau sudah tidak bisa memakainya. Biarkan aku menyimpannya untukmu," ucap Ju Min Ten bermonolog dan mengambil benda tersebut serta langsung memasukkan ke dalam kopernya tanpa ragu.

__ADS_1


Dia pun pergi dari rumah tersebut tanpa ragu dan meninggalkan pesan pada para asisten rumah tangganya. Dia membawa barang-barang Rose sekali dan mengambil mobil termahal di garasi sebagai alat transportasi seolah menikmati kebebasan dari keluar rumah tersebut. "Akan aku pastikan kau menyesal sudah melakukan semua ini padaku, Su Man To," ujar Ju Min Ten menatap untuk terakhir kali rumah yang selama hampir dua puluh tahun ini dia tempati.


To Be Continue...


__ADS_2