
Sambil mencari informasi sisi lain musuh-musuh sang ayah. Je dengan setia menemani Su Man To menjalani pengobatan dengan baik. Beruntungnya kelumpuhan yang dialami Su Man To hanya bersifat sementara dan bisa sembuh melalui terapi. Tinggal menunggu waktu serta usaha agar bisa kembali seperti sedia kala.
Jiwa Jenni yang melihat kedekatan Je dan sang ayah tidak bisa untuk menahan rasa harunya. Sang ayah berulang kali meminta maaf atas apa yang terjadi sebelumnya dan berharap Jenni bersedia memaafkannya. Sungguh sesuatu yang selalu Jenni impikan sejak dulu. Sayangnya dia tidak bisa membalas kalimat itu sendiri dan hanya bisa berkomunikasi melalui Jessica.
"Daddy, malam ini mungkin Lary yang akan menjagamu. Apa kau keberatan?" tanya Je sambil menyuapkan makanan pada Su Man To.
"Daddy tidak masalah, Nak. Apa kau memiliki urusan."
Je seketika mengangguk tanpa ragu. "Banyak yang harus aku cari. Informasi yang, Daddy dapatkan hanya secuil dan kita tidak jika ingin membasmi hama, setidaknya kita harus lebih licik dari mereka."
Su Man To membenarkan perkataan putrinya sambil menerima suapan dan tetap fokus melihat perubahan dalam diri sang putri. Ternyata Jennifer bukan hanya berubah secara fisik, tetapi juga sikapnya. Jika saja Su Man To mengajarkan hal itu pada sang putri sejak awal. Mungkin mereka tidak perlu terus tampak saling membenci dan bisa saling menguatkan.
"Oh iya, apa Daddy tahu pepatah lama mengatakan musuhmu mungkin berada di dekatmu. Jadi aku harap Daddy tidak membicarakan hal yang kita dapatkan pada siapa pun, termasuk Richard atau orang yang Daddy percaya. Bahkan aku sekalipun." Je dengan santai mengatakan hal itu. Karena memang semua orang saat ini patut untuk dicurigai.
Su Man To tentu saja menyetujui peringatan putrinya. Mengingat hanya sedikit informasi yang di dapatkannya saja nyawanya sudah hampir melayang. Apalagi kalau sampai bertindak ceroboh hingga membuat mereka sadar, mungkin saat ini hanya dia yang celaka, tetapi bisa jadi nantinya malah Jennifer yang menjadi korban selanjutnya dan Su Man To tidak akan membiarkan hal itu terjadi. "Daddy tahu, Nak."
__ADS_1
"Kalau begitu aku pergi dulu. Biarkan Lary masuk dan menjaga di sini nanti! Jangan sungkan kalau membutuhkan sesuatu!" Je berdiri untuk meletakkan bekas makan sang ayah setelah semuanya selesai dan mengambil tasnya serta berpamitan.
"Baiklah. Berhati-hatilah, jangan risaukan Daddy!" ujar Su Man To berusaha mengeluarkan senyumnya.
Nyatanya orang yang dianiaya selama ini malah membantunya membuka tirai pahit permasalahannya sejak dulu. Jika boleh memilih mungkin Su Man To sudah bunuh diri sejak dulu agar segera bertemu istri tercintanya. Hanya saja dia masih memiliki Jennifer yang tentunya butuh perlindungan. Meskipun dia hanya bisa melakukannya di balik sandiwara.
Je dan Jenni bergerak menuju casino setiap malam. Keduanya mencaritahu di mana kiranya Mar Jan maupun, Mon Nyong melakukan kegiatan ilegal ataupun transaksi lainnya. Kali ini keduanya pergi ke Scorpion milik Liam. Meskipun sudah lama Je tidak ke sana setelah terus-terusan diganggu oleh pria itu. Namun, dia tidak boleh melewatkan satu tempat pun kalau ingin mencari petunjuk.
Benar saja, belum sempat Je memesan minuman kedua pria itu tampak melangkah mendekat ke arahnya dengan sebuah senyuman menyebalkan. "Kau datang, Je? Apa ayah mertua sudah lebih baik."
Jenni dengan senang hati pergi mencari ke seluruh penjuru tempat seperti biasanya. Ternyata menjadi jiwa tanpa tubuh cukup menyenangkan ketika berguna layaknya mata-mata. Karena dia tidak perlu takut akan ketahuan pihak yang diincarnya. Atau menyamar sedemikian rupa demi mengelabui musuh. Bahkan bisa masuk kamar mandi pria tanpa malu akan ketahuan.
"Kenapa kau selalu saja acuh padaku, Je? Tidak bisakah sebagai seorang gadis kau sedikit saja bersikap manis? Apa menurutmu aku ini kurang tampan?" gerutu Liam dengan wajah memelasnya.
"Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main denganmu, Paman. Lagi pula kau bisa mengejarnya jika urusanku sudah selesai. Jadi, bersabarlah untuk saat ini sampai tempat kami kembali," ucap Je tanpa sadar.
__ADS_1
Kalimat ambigu Je berhasil membuat Liam mengernyitkan dahi. Mengapa Je bersikap seolah-olah bukan dialah yang sedang Liam goda. "Urusan apa maksudmu? Dia siapa? Tempat apa?" tanya Liam bingung.
Menyadari kesalahan dalam kalimatnya Jessica sedikit terhenyak. Dia lantas berdeham dan menyeruput minumannya serta berusaha santai kembali. "Bukan apa-apa. Aku hanya salah bicara. Ngomong-ngomong apa kau hanya memiliki satu casino ini, Paman?" tanya Je mengalihkan pembicaraan.
"Apa calon istriku sedang bertanya berapa kekayaan yang aku miliki saat ini?" Liam yang duduk di samping Je seketika mendekatkan wajahnya sambil tersenyum hingga jarak keduanya hanya tersisa beberapa senti saja.
"Sembarangan kalau bicara." Je menampik wajah Liam dengan tangannya dan membuang wajah ke arah lain. Entah apa yang terjadi, tetapi tiba-tiba saja dia merasakan hawa panas di pipinya begitu melihat ternyata Liam cukup mempesona di bawah gemerlap lampu di sana.
Liam tidak bisa menyembunyikan tawanya melihat ekspresi Je saat itu. Ingin sekali membawanya lari, tetapi bisa-bisa bukannya mendekat Je malah akan menjauh nantinya. "Kalau di negara ini aku memang baru memiliki satu tempat ini. Tapi, di Macau ada beberapa casino atas namaku yang pastinya lebih dari cukup jika kau ingin mahar besar atau pernikahan mewah nantinya. Katakan saja pernikahan seperti apa yang kau inginkan. Aku pasti akan mewujudkannya untukmu."
Je hanya mengangguk kecil menanggapi inti yang dia tangkap dari penjelasan Liam. Percuma saja menanggapinya dengan emosi. Liam selalu saja memiliki jawaban menyebalkan yang membuatnya kesal. Hingga sesaat kemudian, pandangan Je terhenti karena melihat sosok di depan Jenni di suatu sisi bangunan itu.
"Apa kau mengenal pria itu, Paman?" tanya Je tanpa mengalihkan pandangan dari sosok pria itu.
To Be Continue ...
__ADS_1