Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 66: Wanita Sundal


__ADS_3

Tiga tahun berlalu begitu cepat. Seorang wanita dengan jaket hitam dan helm yang diselipkan di lengan bergerak menuruni tangga kediaman. Setelah sebelumnya satu tahun mengalami koma, kini akhirnya dia sudah menyelesaikan pendidikannya. Namun, masih juga enggan mengambil alih usaha keluarga.


"Sore, Mom, Dad," sapa Jessica pada ibunya sambil mengecup pipi wanita paruh baya yang kini tengah duduk di samping suaminya itu.


"Sore, Sayang," jawab Nicholas lembut.


"Kau akan pergi lagi?" tanya Jessi menatap tajam putrinya.


"Tentu saja, Mom. Apalagi yang bisa dilakukan gadis manis sepertiku selain bersenang-senang. Bye, Mom, Dad aku pergi dulu," ucap Jessica berpamitan pada kedua orang tuanya.


"Hei, Jessica! Kau sudah bukan gadis remaja lagi. Apa gunanya mengikuti Mario sejak kecil jika kau tidak mau membantunya mengambil alih pekerjaan?" teriak Jessi menatap punggung putrinya yang semakin menjauh.


Jessica berhenti di ambang pintu dan berbalik melihat ibunya. "Aku ini 'kan putrimu, Mom. Prinsip kita sama dan, Mommy juga selalu menjadi panutanku. Jadi, aku tidak mau mengurus perusahaan itu sendiri. Mommy, tenang saja. Aku akan berbaik hati mencarikan mu menantu seperti Daddy yang bisa mengambil alih semuanya, sedangkan aku cukup menikmati hasilnya. Bukan begitu, Dad," ucap Jessica membela diri sambil mengedipkan salah satu matanya meminta dukungan sang ayah.


"Ya sudah. Pergilah, Sayang! Hati-hati di jalan," pesan Nicholas.


"Daddy, memang yang terbaik." Tak perlu waktu lama, deru suara motor besar meninggalkan garasi pun mulai terdengar untuk beberapa saat.

__ADS_1


Semenjak kecelakaan yang menimpanya, Jessica kini tidak diizinkan mengemudi lagi oleh sang ibu dan hanya diizinkan pergi bersama supir. Namun, wanita tersebut terus saja merengek, hingga akhirnya ayahnya pun memberikan keringan dengan mengizinkan Jessica bepergian menggunakan motor yang sudah dimodifikasi agar kecepatan tidak terlalu tinggi.


"Kau selalu saja memanjakkannya," geram Jessi bersedekap tangan merajuk pada sang suami.


"Biarlah, Sweety. Lagi pula putri kita sudah dewasa. Pemikirannya pun jauh dari yang kita bayangkan. Dia bisa kembali lagi ke dalam hidup kita pun seharusnya kita syukuri. Jangan membebaninya dengan masalah sepele."


Jesslyn terdiam jika suaminya sudah berkata seperti itu. Meskipun mulutnya pedas, nyatanya Jessilah orang yang paling terluka ketika harus melihat putrinya terbujur koma di atas ranjang selama satu tahun lamanya. Hal terberat yang pernah terjadi di keluarganya.


Di sisi lain, seperti biasanya Jessica mengendarai motor hanya untuk menikmati angin dan mengamati sekitar. Entah mengapa setelah bangun dari tidur panjang, dia merasa ada yang kurang di hidupnya. Jadi, gadis tersebut selalu menjelajahi tempat-tempat tertentu seorang diri demi memuaskan hati.


Cukup lama Jessica mengemudikan kuda besinya. Namun, sebuah adegan di mana seorang wanita disiksa di pinggir jalan tanpa seorang pun berniat menolong membuatnya menghentikan laju kendaraan.


Bahkan mereka tak segan-segan merobek pakaian wanita yang kini tubuhnya sudah penuh dengan luka lebam. Sementara itu, sang wanita hanya bisa menangis sesenggukan. "Nyonya, saya tidak melakukannya sungguh."


"Mana ada maling ngaku! Ambil semua yang melekat di tubuhnya dan jangan sisakan satu helai pun! Semua barangmu aku yang memberimu. Jadi, lebih baik kuberikan pada kucing di jalan daripada wanita tidak tahu diri sepertimu!"


Banyak orang yang menyaksikan kejadian tersebut, tetapi tidak ada satu pun yang berniat membantu dan malah merekam kejadian memalukan itu.

__ADS_1


Jessica dengan tenang menghirup napas dalam-dalam dan tanpa ragu turun dari motor, serta melemparkan helmnya tepat mengenai tangan seorang pria yang hendak merobek pakaian wanita itu.


"Kenapa kalian ini norak sekali?" Dia berjalan dengan tenang membelah kerumunan manusia. Semua mata tertuju padanya saat itu juga, sedangkan wanita penyiksa tampak murka dengan kehadirannya.


"Siapa kau? Kenapa menggangguku memberi hukuman pada pelakor ini?" Sinis wanita tersebut.


Jessica hanya menyeringai kecil, dia melepaskan jaket dan mengenakannya pada wanita yang teraniaya itu. "Perselingkuhan terjadi bukan hanya salah dari pihak wanita. Kau adalah wanita yang elegan, kenapa membuang waktu dengan hanya memberi pelajaran pada wanita yang menggoda suamimu?"


"Saya tidak melakukannya, Nona—"


"Diam kau! Jangan kira aku tidak tahu kau menggoda suamiku!" marah wanita di hadapan keduanya.


Jessica memberikan isyarat pada wanita yang kini dirangkulnya agar tenang dan menyerahkan semua padanya. Lagi pula wanita kaya yang semena-mena seperti itu harus diberi pelajaran. "Jika dia yang buruk rupa seperti ini saja berhasil menggoda suamimu. Kenapa tidak denganmu, Nyonya? Apa kecantikanmu kini sudah pudar hingga dia lebih memilih penggoda ini? Seharusnya sebelum menuduh seseorang kau berkacalah di air selokan! Lihat seperti apa dirimu hingga suamimu memilih wanita lain."


"Kau! Beraninya kau menghinaku—"


"Perselingkuhan tidak akan terjadi jika kau bisa menjaga mata suamimu. Aku sarankan kau juga menghajarnya karena mengkhianatimu. Karena pria bajingan, meskipun kau menjaganya seperti di penjara. Tetap saja akan mendua, walaupun wanita di depannya hanyalah itik buruk rupa, dia pasti akan tetap berpaling nantinya. Melihat dirimu yang seperti ini saja sukses membuatku muak, apalagi dia." Sinis Jessica lantas berbalik hendak membawa wanita itu pergi.

__ADS_1


"Hei! Beraninya kau! Kalian hajar dia! Jangan biarkan dua wanita sundal itu lolos!" Perintahnya pada kedua pengawal di sampingnya.


To Be Continue...


__ADS_2