
Hari berlalu begitu cepat. Su Man To kini sudah diizinkan pulang karena kondisi yang semakin baik. Hanya saja dia masih harus menggunakan kursi roda jika beraktivitas. Su Man To yang dibantu seorang perawat pergi ke kamarnya seketika terdiam di saat melihat sebuah bingkai yang begitu dikenalnya hancur berkeping-keping di atas lantai. Benda itu merupakan satu-satunya kenangan dari sang istri yang berhasil dia simpan tanpa diketahui Ju Min Ten karena benda lainnya sudah dimusnahkan oleh Ju Min Ten tanpa sepengetahuan maupun persetujuannya.
"Tinggalkan aku sendiri!" ucap Su Man To pada perawat yang membantunya.
Perawat tersebut lantas mengangguk lalu pergi begitu saja dia memang dibayar untuk mengurus Su Man To selama belum sembuh dan masih membutuhkan bantuan, tetapi tidak ikut campur dalam urusan pribadi majikannya.
Sementara itu, Su Man To yang ditinggalkan seorang diri di dalam kamar kembali merasakan sakit yang menusuk hati. Dia berusaha meraih pecahan bingkai tersebut dari kursi roda dengan susah payah. Sayangnya, tubuh pria tersebut belum kuat untuk hal itu sehingga dia pun terjatuh di lantai dan terluka karena beberapa pecahan kaca. Namun, tak mengurungkan niatnya untuk mengambil foto sang istri.
“Maafkan aku, Sayang.” Dalam rasa sakit hati yang mendera jiwa, tanpa terasa air mata Su Man To jatuh begitu saja. Dia yang sekian lama membeku, kini kembali sendu juga rindu. Penyesalan, ya hanya itu yang memenuhi hatinya setiap hari di saat melihat foto istrinya karena kata maaf tak lagi berbalas dan hanya meninggalkan kenangan tanpa jawaban di saat dia dalam kesendirian.
Hingga sesaat kemudian, Je yang datang langsung terkejut melihat kondisi kamar serta ayahnya saat ini.
“Daddy, apa yang terjadi?" tanya Je lantas membantu Su Man To duduk kembali di kursi roda di kala sang ayah terus memeluk foto istrinya dengan luka di tangannya. "Ya ampun, Dad tanganmu. Apa nenek sihir itu yang melakukan semua ini?" tanya Je memastikan lalu mencari kotak obat untuk membersihkan luka sang ayah.
Su Man To hanya bisa menggeleng kecil, dia lantas menatap sebuah kotak yang tergeletak di sudut ruang sambil membelalakkan mata dan segera meminta tolong pada putrinya. "Jenni, ambilkan Daddy kotak itu!"
Tanpa banyak tanya Je mengambil kotak yang dimaksud sang ayah. Sayangnya kosong tidak ada benda apa pun di sana ketiga diserahkan pada sang ayah. Tentu saja hal itu membuat Su Man To menghela napas. Berat bahkan satu-satunya kalung berharga milik sang istri yang dia siapkan untuk hadiah setelah melahirkan juga diambil Ju Min Ten tanpa sepengetahuannya lagi. Padahal untuk barang-barang sebelumnya, dia sudah berdiam diri dan membiarkannya berbuat sesuka hati.
"Tinggalkan Daddy sendiri, Je! Daddy ingin beristirahat, " pinta Su Man To dengan suara berat. Baru kali ini dia merasakan kesepian serta rindu akan istri pertamanya. Seandainya boleh memilih, mungkin seharusnya Su Man To berharap dia mati saja dalam kecelakaan yang menimpanya agar bisa segera berkumpul bersama istrinya.
"Apa, Daddy ingin tidur di ranjang?" tanya Je setelah selesai mengobati luka sang ayah.
"Tidak, biarkan Daddy seperti ini dulu!"
__ADS_1
Je yang melihat wajah sedih sang ayah tentu memahami perasaan pria tersebut dia lantas berbalik dan berpesan sebelum meninggalkan ruangan. "Panggillah perawat jika membutuhkan sesuatu, Dad!" ucapnya sebelum menutup pintu. "Apa menurutmu yang hilang di sana?" tanya Je pada Jenni yang sebenarnya juga di sampingnya sejak tadi.
"Kalung ibuku. Beberapa hari setelah kita keluar dari rumah ini, aku sering melihat di mana Daddy sering berbicara pada foto itu sambil memegang sebuah kalung di saat wanita itu tidak ada. Aku bisa melihat kesedihan yang mendalam di saat Daddy bercerita pada dua benda itu sendirian," jawab Jenni. Dia bahkan baru mengetahui semua itu setelah menjadi jiwa tanpa raga. Sebelumnya, hanya ayahnya sosok kejam yang dia tahu.
Jessica lantas memanggil para pelayan di rumahnya dan mencari tahu apa saja yang dilakukan Ju Min Ten sebelum meninggalkan rumah. Para pelayan pun menceritakan apa yang terjadi sebelumnya dan apa saja yang dibawa serta dirusak Ju Min Ten sebelum meninggalkan tempat ini.
Je yang mendengarkan cerita mereka hanya bisa mengepalkan tangan dengan kuat dan merasa geram pada wanita yang tidak tahu malu itu. "Seharusnya dia sadar diri sebelum bertindak!" murka Je lantas keluar menuju garasi dan membawa sebuah mobil bersamanya.
"Je, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Jenni yang panik melihat kecepatan Jessica dalam mengemudi.
"Memberikan mereka pelajaran kecil!" jawab Je singkat lantas menghubungi seseorang melalui ponselnya. "Temukan di mana tempat tinggal mantan ibu tiriku sekarang!" ucapnya tanpa basa-basi setelah orang di seberang menerima panggilan.
"Baby, mana aku tahu?" Suara Liam yang terdengar dari pengeras suara membuat Jenni membelalakkan mata. Jessica memang pandai memanfaatkan orang demi kepentingannya.
“Hei! Kau memang wanita yang patut diacungi jempol, Je. Selamanya aku akan menjadikanmu panutan,” puji Jenni bersungguh-sungguh sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.
Dia sendiri tidak pernah membayangkan sebelumnya, jika seorang Je bisa setega itu dalam menjalani hubungan bersama Liam. Biasanya perempuan adalah orang yang paling manis dalam suatu kisah percintaan, hingga mereka juga lah yang paling menderita pada akhirnya. Namun, sepertinya kali ini Liam yang tidak beruntung karena memilih gadis seliar Jessica, bahkan bisa mengancam pria itu dengan satu kalimat demi mendapatkan apa yang dia mau.
“Jangan jadi bodoh jika berurusan dengan pria! Sebisa mungkin manfaatkan apa yang mereka miliki dan jangan sampai membuatmu rugi!,” ujar Je mengangkat sebelah bibirnya sedikit ke atas sambil fokus mengemudi.
Tak butuh waktu lama, Liam kembali menghubunginya. “Dia ada di villa milik selingkuhannya! Sudah aku kirimkan alamatnya padamu. Apa terjadi sesuatu?” tanya Liam khawatir.
“Tidak. Terima kasih kalau begitu.” Ketika Je hendak mematikan sambungan Liam dengan cepat berbicara.
__ADS_1
“Berterima kasihlah dengan cara yang benar, Baby!”
“Apa yang kau inginkan?”
“Mari makan malam bersama! Aku akan menjemputmu nanti malam," ajak Liam.
“Baiklah.” Tanpa banyak berpikir Je menyetujui hal itu dan tak membuang waktu dia kembali menutup sambungan telepon dan membaca pesan dari Liam berisikan alamat Ju Min Ten saat Ini.
Dengan kecepatan tinggi Jessica mengemudikan mobilnya. Hingga membuat Jenni yang hanya berupa jiwa pun ikut kelabakan. “Je, aku belum mempunyai SIM. Hati-hati kalau mengemudi. Bisa-bisa kau di tahan polisi nanti," ujarnya memperingatkan.
“Mereka bahkan belum bisa menandingi kecepatanku. Tenang saja!” jawab Je santai.
“Oh, Tuhan. Kau memang gila jika sudah memegang kemudi, Je.”
“Terima kasih atas pujianmu.”
Dengan kecepatan tinggi, tak butuh waktu lama keduanya pun tiba di sebuah villa mewah tempat tinggal Ju Min Ten. Tanpa permisi Je langsung menabrak pagar besi villa itu begitu saja hingga terpelanting cukup jauh dan menyebabkan kekacauan kecil. Bahkan body mobil depan yang digunakannya kini juga ikut ringsek menjadi kprban karena ulah Je.
Tanpa mengurangi kecepatan, Je langsung membuat keributan di pelataran villa tersebut. Dia men-drifting mobilnya hingga bergerak berputar menyebabkan asap tebal dan bekas kehitaman akibat gesekan ban yang membentuk melingkar. Di tambah suara knalpot bising juga klakson yang dibunyikan Je membuat penghuni villa itu tak tahan lagi untuk melihat siapa yang berani mengganggu aktivitas mereka.
Mereka langsung keluar demi menghentikan kerusuhan yang ditimbulkan oleh orang tak dikenal dalam mobil itu. “Hei! Apa maksudmu membuat kericuhan di rumah orang lain, hah?” teriak seorang pria yang cukup Je kenal.
To Be Continue...
__ADS_1