Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 64: Maaf


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu begitu cepat. Namun, ada perasaan aneh yang bersarang dalam diri William. Meskipun sang kekasih berada di sampingnya, tetapi hati seolah terbawa pergi begitu saja tanpa diminta. Entah ke mana angin membawanya pergi.


Namun, Liam tetap mencoba bertahan dengan hubungan itu. Apakah benar cintanya sedangkal itu dan hanya sebatas rasa penasaran. Benarkah semua itu hanyalah sementara? Entahlah, Liam sendiri pun tidak tahu jawabannya karena rasa yang sangat berbeda. Di mana tidak ada lagi debaran membahagiakan saat dia bersama Je.


Bahkan sifat Je pun seolah berubah sejak kecelakaan itu. Kata-katanya terlalu lembut, sedangkan Liam terbiasa dengan kalimat-kalimat pedas yang keluar dari mulut gadis itu. 


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu, Kak?" tanya Jenni yang saat itu tengah memakan makanannya.


"Tidak, bukan apa-apa," jawab Liam berat dan memandang Je seolah tengah berhadapan dengan orang lain. 


Setelah kecelakaan Je memang memanggil Liam kakak. Selain gadis itu mengalami patah kaki, tetapi dia juga harus kehilangan seluruh memori dalam otaknya. Dengan kata lain, Je mengalami amnesia bahkan hingga saat ini. Namun, William tidak pernah jauh dari sisinya dan setia menemani gadis tersebut setiap harinya. Meskipun rasanya begitu kosong. 


"Kak."

__ADS_1


"Hmm?" Liam mendongakkan kepala memandang gadis yang tengah mengaduk es krim di depannya itu hingga mencair. 


"Benarkah kita ini sepasang kekasih? Kenapa aku tidak ingat bagaimana kita jadian?" tanya Jenni menunduk malu. Sebenarnya itulah jugalah yang mengganjal di hatinya berbulan-bulan ini. Meskipun dia menerima perlakuan baik William, tetapi ada yang salah dengan hatinya. 


Dua orang yang berstatus pasangan, tetapi sama-sama merasakan kehampaan, akhirnya saling bersitatap dalam diam. Liam seolah kelu dan tak mampu menjawab, sedangkan Jenni seakan enggan, tetapi itulah sesuatu yang mengganjal dalam hatinya terlalu lama. Hingga akhirnya dia pun tak mampu lagi memendam rasa penasarannya. 


"Kenapa kau menanyakan hal itu? Apa terjadi sesuatu?" 


Jenni hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia merasa enggan untuk mengatakan perasaan kosongnya kepada Liam karena pria tersebut sangat baik semenjak dia membuka mata. Namun, mengapa seolah tidak ada cinta di antara mereka. Apakah semua ini hanyalah cinta sepihak dari William? Tapi kenapa pria itu juga tidak terlihat bahagia? 


"Katakan apa yang mengganjal di hatimu? Aku tidak akan keberatan," ujar Liam lembut. 


"Sebenarnya … emth, aku bingung bagaimana harus menjelaskan, Kak," ucap Je ragu.

__ADS_1


"Katakan saja apa yang ada di pikiran dan hatimu saat ini! Aku baik-baik saja." Liam sendiri cukup penasaran dengan apa yang dirasakan Jenni. Meskipun gadis itu mengalami amnesia, tetapi kata dokter hal itu tidak mungkin mengubah kepribadiannya. Namun, gadis di depannya seolah berubah drastis, tetapi dokter hanya menanggapi jika itu mungkin efek karena merasa rendah diri akan kondisinya saat ini.


"Sebenarnya, akhir-akhir ini aku sering memimpikan seorang gadis," jawab Je lesu.


"Gadis? Maksudnya?" Kerutan di dahi Liam berlapis-lapis. Rasa penasaran sekaligus berdebar kembali menyatu dalam dirinya. Entahlah, dia hanya bisa berharap apa yang dipikirkan tidaklah nyata.


"Gadis itu sangat berani. Dia sosok hebat yang mengubahku menjadi lebih baik. Dalam mimpiku, dia adalah panutan. Tapi, tiba-tiba saja dia pergi meninggalkanku dengan alasan ingin berjudi. Lucu 'kan? Mana ada gadis yang suka berjudi?" Jenni tertawa kecil mengingat kembali mimpinya akhir-akhir ini.


"A–apa kau tidak suka berjudi?" tanya Michael semakin berdebar.


Jenni menggeleng kecil. "Tapi, Kak. Dia sangat mempesona ketika berjudi. Tapi di mana aku pernah melihatnya, ya? Perasaan aku tidak memiliki teman wanita seperti itu?"


"Bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Liam terus terang akhirnya.

__ADS_1


Jenni mengangkat kepalanya, pandangan keduanya saling terkunci untuk beberapa saat. Mungkinkah ini saatnya bagi Jenni untuk jujur. "Maaf."


To Be Continue..


__ADS_2