
Liam yang saat itu berada di apartemen di kejutkan dengan berita penangkapan calon mertuanya yang disiarkan melalui berbagai saluran. Dia pun segera menghubungi Je, tetapi tampaknya gadis itu tengah berada dalam kesulitan dan membuatnya semakin cemas.
"Kau sudah berjanji ingat! Atau aku akan menghantuimu kalau sampai kau ingkar!" Ancam Je begitu saja tanpa sadar.
Liam geram dan langsung meraih kunci mobil di sampingnya tanpa banyak basa-basi. "Hei! Jangan harap aku akan membantumu kalau kau berani meninggalkanku! Sekarang katakan bagaimana kondisimu dan di mana kau saat ini!" bentak Liam sambil berjalan dengan penuh kekhawatiran menuju tempat parkir.
"Paman, aku tidak tahu sekarang di mana. Tapi, ada yang menyabotase mobilku, remku blong dan ada tiga mobil lainnya mengikutiku dari belakang. Jadi ingat apa yang aku katakan kalau sampai terjadi sesuatu." Suara Je yang begitu keras, membuat Liam seketika mematung serta melebarkan mata hingga membulat sempurna. Hal terburuk jika seorang mengalami rem blong tentu saja kecelakaan maut atau pun tunggal. Namun, hasilnya sama-sama di pengemudi pasti akan terluka. Di tambah ketiga mobil yang mengikutinya pasti sudah berencana matang untuk membunuh gadis itu dan tidak akan membiarkannya lolos.
"Katakan apa yang ada di sekitarmu, Bodoh! Dan jangan berani-berani meninggalkan wasiat padaku! Atau aku akan membiarkan ayahmu di penjara seumur hidup!" Liam yang kalang kabut karena khawatir berteriak cukup keras dan mulai menyalakan mobilnya.
Dua orang dengan kondisi yang sama-sama khawatir di tempat berbeda saling berkomunikasi melalui sambungan telepon. Je sengaja tidak mematikannya dan membiarkan Liam berbicara sebanyak mungkin. Bisa saja ajal memang tak dapat dia hindari kali ini, sehingga gadis itu tak ingin mati dalam kesepian. Namun, tampaknya dia harus segera mengakhirinya karena dia sudah harus beraksi sekali lagi demi pertaruhan hidupnya.
__ADS_1
"Aku melihat pantai, Paman. Jangan lupakan aku!" Tanpa menunggu jawaban Je langsung mematikan sambungan telepon begitu saja.
"Sial!" Liam mengumpat kesal dan semakin dalam menekankan kakinya. Kendaraan melaju sangat cepat, padahal dia tak pernah melakukannya sebelumnya. Namun, kekhawatiran akan keselamatan Je, membuat pria itu bertindak nekat dengan mengemudi ugal-ugalan di jalan menuju pantai sambil menghubungi anak buahnya agar segera menyusul ke lokasi.
Di sisi lain, Je yang merasa sudah berada di titik aman dan sepi mulai mengembuskan napas panjang berulang kali sebelum memulai aksi. “Baiklah kita mulai semuanya. Jangan salahkan aku jika membasmi kalian lebih dari apa yang kalian bisa duga! Kalau aku masih hidup, aku pastikan kalian akan mati!”
Dengan kecepatan seperti itu, meskipun Je bisa berhenti secara perlahan dengan susah payah, mereka pastinya akan menyergap dengan segera dan tidak membiarkannya hidup meskipun dalam kondisi terluka parah sekalipun. Je yang menyadari pertaruhan hidupnya langsung memindah tuas gigi ke posisi reserve dengan segera.
Mobil bergerak mundur dengan kecepatan tinggi. Pihak lawan di belakang cukup panik dengan tindakannya yang tidak terduga sebelumnya. Namun, terlambat sebelum sempat menghindar mobil Je sudah terlebih dulu mendorong salah satu mobil musuh di belakangnya secara mundur hingga kendaraan itu pun bergerak cukup jauh ke belakang dan berputar-putar menabrak pembatas jalan, sedangkan Je tanpa banyak kata dengan segera mengubah kembali tuas giginya ke depan dan mendorong kembali salah satu mobil lawan dan berakhir dengan menabrak tebing tinggi di depan karena jalan yang sedikit berkelok.
Beruntung Tuhan masih memberikan keselamatan pada Je, meskipun dia harus terpental beberapa meter akibat tekanan ledakan sebelumnya, tetapi dia masih bernapas dan hidup saat itu. Padahal dia sudah berusaha berlari sejauh mungkin meskipun dengan tertatih-tatih, sayangnya tetap saja dia terluka parah dan masih harus berusaha menutupinya.
__ADS_1
Belum sempat Je bernapas lega. Dia sudah harus kembali di hadapkan dengan situasi buruk kembali. Karena sesaat kemudian, satu mobil yang tersisa berhenti tepat di depan Je. Gadis itu hanya bisa mengumpat kesal dengan apa yang dialaminya kali ini. "Sialan aku lupa masih ada satu lagi," ujarnya bermonolog sambil mengatur napas sejenak. "Tuhan, aku mohon jangan biarkan aku mati hari ini," batin Je yang tergeletak di atas aspal sambil menatap langit.
Sebuah tepuk tangan terdengar begitu menggelegar seolah atraksi menakjubkan baru saja selesai di tampilkan. Seorang wanita berlipstik merah darah seolah baru saja memakan bayi hidup-hidup melangkah dengan hak tinggi dan rambut panjang yang terikat di belakang. "Tidak menyangka putri dari seorang Su Man To begitu cerdik dalam mengatur strategi. Ternyata benar, dia menyembunyikan kucing liar di balik penampilannya selama ini. Menakjubkan! Bahkan kami harus kehilangan banyak anggota hanya untuk memberi pelajaran gadis sepertimu," puji wanita itu melangkah maju sedikit sambil menatap lekat Je saat itu.
Dengan susah payah Je mencoba berdiri dengan tegap dan bersikap seolah dia baik-baik saja, padahal rasa sakit jelas merasuk dalam dirinya dan bisa tumbang kapan pun. Entah dia mampu bertarung atau tidak kali ini, tetapi dia tidak boleh memerlihatkan kelemahan di depan lawan yang sudah mematik api amarah dalam dirinya. Bahkan seringai iblis tidak pudar dari wajahnya yang penuh dengan luka. "Orang yang mengirimmu pasti sangat menganggapku spesial sampai-sampai mengirim banyak kecoa untukku. Tapi maaf, aku bukanlah kucing liar, tapi iblis kecil yang pastinya tidak akan membiarkan rencana kalian berjalan dengan mudah. Kita lihat saja siapa yang akhirnya masih bisa berdiri nanti. Kau atau aku!" tatapan Je yang tak menunjukkan sedikit pun keraguan mampu menggoyahnya pertahanan lawan.
Wanita itu tampak geram dengan setiap kalimat yang keluar dari mulut Je. Dia mengepalkan tangan hingga buku jarinya memutih karena amarah yang membuncah mendengar setiap kata menyepelekan Je. "Kau memang gadis tengik yang tidak tahu diri! Jangan harap nyawamu masih melekat dalam dirimu hari ini! Kita lihat saja apa kau masih bisa berkata sombong seperti itu nanti!" Wanita tersebut berbalik menatap dua orang pria di belakangnya. "Bunuh dia dan jangan sampai ada yang tersisa!"
"Baik, Bos," jawab kedua anak buah itu serentak.
Wanita itu pun hanya menunggu dengan duduk santai di bagian depan mobil, sedangkan kedua anak buahnya mulai melangkah hendak mendekati Je. Sayangnya, belum satu langkah mereka mendekat suara tembakan lagi-lagi menggelegar mengganggu pertarungan yang bahkan belum di mulai itu.
__ADS_1
"Beraninya kalian mengganggu wanitaku!"
To Be Continue..