Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 44: Bisa Kembali


__ADS_3

Mar Jan dan Mon Nyong meninggalkan rumah sakit dengan wajah kesal. Keduanya kembali bergerak menuju tempat lain. Di dalam mobil Mar Jan tak henti-hentinya berceloteh sejak tadi. 


"Gadis sialan! Berani-beraninya dia mengancamku!" umpat Mar sambil mengendurkan dasi di leher. "Aku kira dia masih gadis ingusan yang hanya bisa menangis dan menunduk ketika melihat orang! Nyatanya Su Man To menyembunyikan kucing liar yang harus dibasmi secepatnya!" 


"Bukankah selama ini Su Man To selalu membenci putri kandungnya sendiri, Tuan. Dia bahkan tak pernah mendidiknya, jadi bagaimana bisa Jenni berubah menjadi pemberani," tanya Mon sambil mengemudikan mobil. 


"Sejak awal dia tidak membencinya," ucap Mar Jan dengan geram sambil mengepalkan tangan menatap keluar kaca mobil dengan sorot tajam. "Dia hanya mengecoh kita agar tidak mengusik anak kandungnya."


Sebuah seringai iblis terlukis di wajah pria itu. Tanpa mereka sadari apa yang keduanya bicarakan didengar langsung oleh jiwa Jenni yang duduk di samping Mar Jan. Gadis itu, tampak berubah menggelap, dia bahkan mengeluarkan asap hitam tebal yang mengubah dirinya seperti hantu pendendam. 


Kenyataan ternyata sang ayah menjauh bahkan begitu membencinya hanya karena mereka membuat Jenni gelap mata. Hanya dengan mengendalikan pikiran Jenni, tiba-tiba saja Mon Nyong kehilanganan kendali mobil. 

__ADS_1


"Apa kau gila, hah?" teriak Mar Jan di saat mobil terombang-ambing ke sana kemari. 


"Tuan, remnya blong." Mon berusaha mengendalikan kemudi juga rem di kaki, sayangnya pedal gas terus menekan ke bawah bahkan tanpa dia injak hingga kedua orang itu tampak begitu panik di dalamnya. 


Mobil melaju dengan cepat dan tak seimbang. Mar Jan hanya bisa membiarkan dirinya terbentur ke kanan dan kiri. Namun, Mon sama sekali tak bisa mengendalikan laju kendaraannya. Bahkan persneling di sampingnya bergerak sendiri dan membuatnya seketika membelalakkan mata. 


Akan tetapi, sesaat kemudian sebuah asap putih membawa keluar jiwa Jenni yang menghitam. Hingga akhirnya mobil pun berhenti karena menabrak sebuah pohon dan menyebabkan kedua pria tersebut terluka, tetapi tak sampai tewas. 


"Kau bisa melihatku?" tanya Jenni seolah tak percaya ada orang lain yang bisa melihatnya kecuali Jessica. "Apa kau juga hanya berupa jiwa? Apa kau setan?" 


"Kau yang setan! Kenapa berusaha membunuh mereka? Apa kau tidak ingin kembali ke tubuhmu dan ingin menjadi arwah gentayangan selamanya?" 

__ADS_1


"Kau tahu hal itu? Sungguh tahu semuanya?" Berulang kali Jenni memegang kedua bahu pria tersebut karena masih tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. 


"Jelas aku tahu karena selama ini akulah yang mengawasi kalian. Ingat! Tugasmu saat ini hanyalah membantu gadis itu meraih keadilan untukmu juga Ayahmu. Bukan untuk bertindak bodoh dengan membunuh manusia di saat kau hanyalah sebuah arwah. Pelajari apa yang Jessi lakukan selama ini dengan baik, dan jika saatnya tiba kalian akan kembali ke tubuh masing-masing. Tapi kalau kau bertindak bodoh lagi, jangan harap bisa kembali! Kau bahkan akan menjadi hantu gentayangan selamanya." Setelah mengingatkan semua itu pada Jenni, pria tersebut seketika menghilang layaknya debu yang beterbangan tertiup angin. 


Jenni mencerna kembali kata-kata pria yang tak dikenalnya tersebut. "Aku masih bisa menjadi manusia," ujar Jenni dengan bahagia. 


"Sialan!" teriakan Mar Jan yang melangkah keluar mobil dengan terhuyung dan luka di dahi membuyarkan lamunan Jenni dari pria tadi. 


"Aku harus membantu Jessi mengawasi kalian," gumamnya yang langsung melangkah mendekati pria tersebut. 


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2