
Apa yang baru saja terjadi pada Su Man To membuat Je sedikit curiga jika kecelakaan sebelumnya juga bukanlah suatu kebetulan. Beruntungnya sang ayah masih bisa diselamatkan dengan jiwa Jenni yang terisak sejak tadi.
Je dan Liam masih sama-sama terdiam di ruang perawatan Su Man To setelah pria tersebut selesai ditangani oleh tim medis. Entah apa yang membuat Je berulang kali mengerutkan dahi. 'Apa kau mengenal mereka?' tanya Je melalui batin untuk berkomunikasi pada Jenni.
Namun, gadis itu hanya menggeleng. "Setahuku ayah tak pernah memiliki musuh karena dia hanya tahu bekerja setiap waktu."
Je pun lantas merogoh ponsel di sakunya untuk menghubungi Lary agar segera kemari. Dia harus menyelidiki semua ini, tetapi tak mungkin meninggalkan Su Man To seorang diri setelah kejadian tadi. Lagipula Lary sudah memiliki banyak karyawan yang bekerja mengurus Gym dan pria tersebut memang berteman baik dengan Je semenjak bekerja sama.
"Apa kau ingin pergi?" tanya Liam setelah mengetahui Je menghubungi Lary untuk menjaga sang ayah.
"Aku harus mencari tahu semua ini. Tidak mungkin kecelakaan ayah hanyalah sebuah kebetulan. Pasti ada konspirasi di balik kejadian itu. Apalagi mereka berniat menculiknya yang bahkan entah kapan akan sadar," ujar Je mengutarakan spekulasinya pada Liam.
__ADS_1
Liam hanya bisa tersenyum kecil mendengar kalimat Je. Tidak ada kata selain bertambah kagum dengan pemikiran gadis di samping tersebut yang semakin membuatnya terpesona akan pola pikir panjangnya. "Mau aku bantu?"
"Nanti saja kalau memang terdesak." Je sesekali mengusap kasar wajahnya. Setelah sekian lama hidup dalam kedamaian. Nyatanya semua itu tak bertahan lama karena dia harus kembali berhadapan dengan masalah. Apalagi tampaknya semua ini bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh.
"Berikan ponselmu!" Tanpa menunggu jawaban dari Je. Liam langsung saja merebut ponsel yang masih digenggam gadis itu dan menekan nomor teleponnya. "Hubungi aku kalau kau rindu."
Kalimat bercanda Liam, sontak mendapatkan lirikan tajam dari Je. "Dasar, Paman Gila." Dilihatnya nama yang tercantum di ponsel tersebut membuat Je mendengus kesal karenanya. Dia segera mengubah dari 'Calon Suami' menjadi 'Si Tua Gila'.
"Makanya carilah janda girang yang butuh belaian di luar sana. Aku yakin mereka tak akan kejam padamu bahkan bersedia melepaskan pakaian dengan suka rela tanpa kau minta," ujar Je dengan nada datar.
"Apa aku terlihat seperti pria yang kekurangan wanita? Aku hanya menyukaimu, jadi untuk apa mencari yang lain. Bikin repot saja." Liam landas mendekatkan diri di telinga Je dan mulai berbisik. "Takut nantinya kau cemburu."
__ADS_1
"Terserah apa katamu!" Je lantas berdiri dari posisinya dan mengabaikan apa yang diucapkan Liam baru saja. 'Aku akan pulang mencari sesuatu. Panggil lagi namaku jika terjadi sesuatu, temanku sebentar lagi datang,' batin Je pada Jenni.
"Berhati-hatilah," jawab Jenni
Sedetik kemudian, pintu ruangan sungguh dibuka menampakkan seorang pria matang bertubuh kekar. "Je."
"Kau jaga ayahku! Aku ada urusan sebentar. Jangan sampai lengah apalagi meninggalkannya seorang diri. Meskipun hanya untuk kencing. Aku pergi dulu!" pesannya pada Lary.
"Je, aku ikut!" Liam segera menyusul gadis tersebut keluar ruangan. Meninggalkan Lary yang menjaga Su Man To seorang diri dengan jiwa Jenni di sampingnya.
__ADS_1
To Be Continue...