Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 43: Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Di dalam ruang perawatan Su Man To. Je dan Jenni sama-sama membaca berkas-berkas yang tadi dibawa Jessica. Keduanya meneliti dengan seksama informasi yang tersedia di sana. 


Berulang kali keduanya terdiam sambil mengerutkan dahi juga menautkan alis saat mengetahui kebenaran yang tertera di sana. Mereka dibuat tidak percaya dengan apa yang tertulis dilengkapi perbandinganya.


Jenni dan Je saling berpandangan satu sama lain, mereka kembali membolak-balikkan serta memperhatikan dengan teliti kertas yang ada di tangan masing-masing.


"Sepertinya aku sudah mengerti apa yang terjadi. Ada konspirasi  besar di balik semua kecelakaan ini!" Je sontak meremas kertas di tangannya hingga tak lagi berupa. 


Jenni juga memperlihatkan apa yang dia temukan pada berkas di tangannya. "Lalu, kita harus melakukan apa? Membalas dendam pada mereka?" tanya Jenni. 


"Menghancurkan apa yang seharusnya tak pernah ada," ucap Je dengan sorot tajam, tetapi sesaat kemudian suara ketukan pintu dari luar menyebabkan mereka buru-buru memasukkan semua berkas itu kembali ke tasnya. 

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Je. 


"Nona, ada orang dari perusahaan ingin menjenguk Tuan."


"Suruh mereka masuk!"


Dua orang pria paruh baya seumuran dengan Su Man To dengan setelan jas lengkap tampak melangkah dengan arogan memasuki ruangan. Je hanya memicingkan mata menatap curiga ke arah keduanya.


"Nona, Jenni perkenalkan. Saya Direktur Keuangan Mar Jan, dan ini asisten saya Mon Yong." Mar Jan mengulurkan tangannya pada Je, tetapi gadis itu tak menyambutnya sama sekali. 


Keduanya sontak membelalakkan mata melihat keberanian putri Su Man To yang langsung bertanya menohok pada mereka. Rasanya bukan seperti berbicara pada gadis tujuh belas tahun, melainkan orang seusianya. "Ekhem, tentu saja tidak, Nona," ucap Mar Jan sambil tertawa hambar ketika menjawab Je. "Kami kemari karena sungguh mengkhawatirkan Tuan Su Man To. Apa jadinya perusahaan jika tidak ada dia? Iya, kan?" 

__ADS_1


"Iya, Tuan," sahut asistennya di belakang. 


"Kalau kalian ingin memastikan Ayahku sudah mati. Maaf, sepertinya aku harus mengecewakan kalian. Tapi jika kalian hendak memastikan  dia bungkam. Maka akan aku pastikan kalian menyesal telah berani mengusiknya!" Je terus menatap tajam kepada keduanya. Dia bahkan tidak khawatir membuat kedua orang di depannya tersinggung. "Silakan kembali dan tak perlu datang lagi! Karena kehadiran kalian tidak disambut di sini." Tanpa basa-basi Je mengarahkan tangan ke pintu masuk yang tadi mereka lewati.


Mar Jan hanya bisa mengepalkan tangan dengan kuat. Dia tidak menyangka jika putri Su Man To yang tak berguna bahkan berani menyinggungnya sedemikian rupa. Padahal Mar Jan sudah cukup berpura-pura ramah sejak memasuki ruangan. "Kau akan menyesal telah mengatakan semua itu!" ancam Mar Jan sambil menunjuk jarinya tepat di antara kedua mata Je. "Ayo kita pergi!" 


Tanpa membuang waktu, kedua orang itu pun melenggang pergi dengan raut wajah kesal dan amarah yang memuncak. Mereka merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang gadis ingusan yang kini menjelma menjadi kucing liar. 


Sementara itu, Je di dalam ruangan lantas kembali memanggil Jenni. "Kau ikuti dia dan beritahu semuanya padaku nanti!" 


"Baiklah, aku titip Ayahku padamu," ucap Jenni sebelum pergi meninggalkan Je seorang diri.

__ADS_1


"Lihat saja nanti! Aku akan membuat kalian menyesal sudah berurusan dengan Jessica Light!" ujar Je pada dirinya sendiri. 


To Be Continue...


__ADS_2