
Kondisi jalan yang sepi membuat suasana pertarungan cukup menegangkan. Tidak perlu tertunda karena kendaraan yang melintas, atau nenek-nenek yang menyeberang jalan. Mereka sungguh berniat mencelakai Je dan Liam demi mendapatkan benda itu. Beruntungnya kedua orang tersebut bisa beladiri dengan baik.
"Berani menyentuh barangku, jangan salahkan aku mengambil nyawamu, Paman!" ujar Je tegas setelah melepaskan tongkat bisbol di kepala seorang pria.
Dia kembali melangkah menuju mobil untuk mengambil tongkat bisbol yang menjadi senjatanya, tetapi tiba-tiba saja sebuah peluru melesat ketika tangan Je terulur hendak meraih benda tersebut.
"Je, awas!" teriak Liam di kejauhan melihat seorang pria menodongkan pistol ke arah gadis itu.
__ADS_1
"Shittt!" umpat Je, di saat timah panas tersebut terpelanting di besi tongkat, beruntungnya tidak mengenai Je. "Untung tongkat bisbolmu mahal!" balas Je tanpa melihat ke arah Liam dan tak lagi berniat mengambil benda tersebut.
Gadis itu lantas memasuki mobil tanpa membuang waktu dan melihat siapa yang berani menyerang dari belakang. Rupanya salah seorang pria yang baru saja keluar dari mobil di belakangnya, mungkin dia adalah pemimpin mereka sehingga keluar di bagian akhir, sedangkan tiga pria lainnya masih bertarung melawan Liam dengan tangan kosong.
Tanpa memedulikan kondisi mobil yang mulai menerima hujaman peluru dari pria tersebut. Je langsung menyalakan mesin dan bergerak mundur hingga menabrak kendaraan lawan. "Ringsek, ringsek deh. Untung bukan mobil Jessi Tua," gerutu Je sambil mengubah persneling di tangannya dan bergerak cepat seolah hendak menabrak Liam yang masih bertarung.
Dengan mudah gadis tersebut menggerakkan bagian belakang mobil menyebabkan gerakan setengah melingkar layaknya tongkat bisbol terayun hendak memukul bolanya. Hal itu sontak membuat para lawan Liam menyingkir sejenak karena asap putih yang mulai mengepul akibat gesekan ban dan aspal. Akan tetapi, tepat saat kendaraan berhenti pintu samping kemudi pun terbuka. "Cepat masuk!" teriak Je.
__ADS_1
Hanya berjarak helaian rambut, pria tersebut langsung menghentikan hujan tembakannya di mobil yang dikemudikan Je dan langsung melompat naik ke bagian atas kendaraannya sendiri dengan panik, di saat gadis itu hendak menabraknya. Dia bahkan sampai terjengkang karena gesekan body kedua mobil tersebut.
"Gadis sialan! Cepat kejar!" teriak pria itu pada ketiga anak buahnya yang tersisa.
Mereka pun langsung mendekat menuju mobil di bawah kaki pemimpinnya tersebut karena salah satu kendaraannya sudah ringsek. Sementara itu, hanya tersisa satu mobil dengan kondisi sama-sama penyok. "Gadis sialan! Lihat bagaimana caraku memberimu pelajaran! Cepat kejar!" Pria itu tampak murka dan anak buahnya lantas segera bergerak menyusul Je.
Dalam hatinya mengumpat kesal. Sebagai pembunuh bayaran dia awalnya mengerahkan banyak pasukan agar gadis itu menyerah karena awalnya yang mereka risaukan hanyalah Liam. Sang titisan pejudi kelas kalajengking yang bertindak layaknya seorang mafia, meskipun dia bukan pemimpin mafia.
__ADS_1
Namun, nyatanya gadis yang menjadi targetnya malah bertindak lebih brutal. Bahkan sangat licin layaknya ikan lele sebelum di goreng. Sungguh sangat rugi kalau sampai dia tidak mendapatkan gadis itu dan benda yang dibawanya. Bisa-bisa kelompok mereka rugi besar karena separuh pembayaran akan hilang, sedangkan kerugian dari pihaknya saja sudah tidak bisa dibayangkan lagi.
To Be Continue...