Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 59: Penghancuran Bukti


__ADS_3

Seperti yang disarankan Rey, setelah Je sembuh dia segera melancarkan aksinya untuk menjebak Mar Jan beserta antek-anteknya. Namun, kali ini dia tidak sendirian karena ada Liam yang mengawasi, sedangkan Rey sendiri juga sudah bersiap dengan relasinya nanti.


Je dan Liam menyelinap layaknya tikus, mereka menebarkan bahan peledak ringan dan juga bahan kimia yang mudah terbakar di beberapa tempat.


"Kau yakin ingin melakukan semua ini, Baby?" tanya Liam memastikan.


"Tentu saja. Mereka pantas terbakar bersama keserakahannya," jawab Je yakin.


Perlahan Je meninggalkan beberapa bahan peledak di setiap sudut gudang penyimpanan tersebut. Sebuah seringai terlukis di wajah cantiknya di saat melihat segerombolan pria yang tengah berpesta menikmati air surga sebelum menjelang ajalnya.


"Ayahku bahkan belum ditetapkan sebagai terdakwa. Tapi sepertinya mereka sudah merayakan semua. Jangan terlalu menganggap remeh musuhmu jika tidak ingin jatuh ke kubangan neraka," gumam Je yang berdiri di bagian atas bangunan dan segera melemparkan korek api tepat di tengah-tengah orang yang berpesta pora.


"Diam di tempat! Tempat ini sudah kami kepung!" Suara teriakan seseorang dari luar seiring dengan api yang menyambar gelas minuman keras. Kobaran api seketika menyebar menyebabkan peminumnya di sana panik dan berhamburan.


Namun, tak cukup di sana semua itu karena Je kembali menyulut sumbu utama dari rencana. Dia berdiri dengan santai menyaksikan api yang merambat ke posisi tempat di mana tangki bahan kimia sudah tersedia.

__ADS_1


"Awas!" Liam segera menarik tangan Je melangkah pergi melarikan diri sebelum ada yang mengetahui, sedangkan rencana penghancurannya berjalan lancar dengan suara ledakan beruntun dari dalam gudang yang membakar seluruh isi di dalamnya. "Apa kau gila sudah melakukan semua itu dan tidak melarikan diri," teriak Liam kesal setelah mereka berhasil lolos.


"Cih, kau terlalu berisik! Menyesal aku menuruti untuk membawamu kemari, mengganggu kesenanganku saja." Je mendengus, dia melangkah pergi mencari tempat yang lebih tinggi untuk menyaksikan maha karya pertamanya dalam memberikan peringatan pada musuh.


Sementara itu, Rey dan anggotanya yang memang hanya berniat menggertak di awal hanya bisa menunggu di luar dan memastikan tidak ada orang yang keluar dari gudang tersebut. Api menjalar dengan cepat memakan seisi gudang. Beberapa truk pemadam kebakaran baru datang setelah satu jam karena lokasi yang jauh dari pemukiman.


Je tersenyum puas menyaksikan semua itu terbakar hangus, hanya menyisakan abu dan puing-puing bangunan yang menghitam. Dia pun percaya Rey akan menyelesaikan segalanya nanti. "Ayo pulang, Paman!" ajaknya pada Liam karena hari juga sudah mulai pagi.


"Kau yakin tidak ingin melihat cara kerja Rey, Baby?"


"Cih, mulutmu dengan mudah menyebutnya Kakak, sedangkan aku selalu kau panggil Paman. Menyebalkan!" Liam yang kesal melangkah mendahului Je.


Gadis tersebut hanya mengerutkan dahi dengan tingkah Liam. "Kenapa dia harus marah?" gumamnya. "Auwh."Je sedikit meringis ketika tidak sengaja terkilir.


Namun, dengan cepat Liam kembali padanya dan menunjukkan kekhawatirannya pada sang kekasih. "Kenapa? Apa lukamu kambuh lagi? Mana yang sakit?" tanyanya beruntun.

__ADS_1


"Kakiku kesleo," ucap Je mengerucutkan bibir.


"Dasar ceroboh!" Tanpa membuang waktu Liam langsung menggendong Je di punggungnya. Bahkan dia tidak menawarkan atau meminta izin pada gadis itu terlebih dahulu.


Mobil mereka terparkir cukup jauh, langkah Liam dengan Je di punggungnya seirama sinar kekuningan cahaya yang mulai menampakkan pesonanya. Kudua tangan Je melingkar di leher Liam. "Paman, apa kau akan melupakanku setelah selesai dengan rasa penasaranmu?"


"Kau ini bicara apa?" Bukan menanggapi dengan serius, Liam berhenti sejenak untuk membenarkan posisi Je yang tadinya mulai turun.


"Bukankah kau hanya penasaran padaku?"


"Berhentilah merengek yang tidak-tidak! Karena aku akan menjadikanmu istriku setelah kau lulus nanti."


Tidak ada senyuman yang melengkung di bibir Je. "Iya, kau akan menikahi Jenni dan aku akan pergi ke kehidupanku sendiri," batin Je mengeratkan tangan, tetapi mengucapkan hal berbeda di mulutnya. "Siapa juga yang mau menikahi pria tua sepertimu?"


To Be Continue...

__ADS_1


__ADS_2