Queen Of Casino

Queen Of Casino
Bab 49: Deal


__ADS_3

"Apa kau mengenalnya, Paman?" Je bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok Mon Nyong yang tampak bermain dengan seorang wanita. Meskipun hanya terlihat punggungnya, tetapi entah mengapa Je merasa seperti mengenal sosok itu. 


Liam lantas melihat arah pandang Je. Di mana sorotnya menatap Mon Nyong yang saat itu tengah memangku seorang wanita, seperti biasanya. Tidak tahu apa tujuannya pria itu selalu saja bermain di kasino miliknya. Padahal jelas-jelas mereka tidak pernah menang dalam permainan. “Ah, dia? Salah satu orang tidak  penting yang hanya suka bermain-main denganku?” 


“Kau bekerja sama dengannya?” tanya Je dengan tatapan curiga membuat Liam seketika tertawa lebar. 


“Gadis kecil, apa kau tidak salah menuduhku bekerja sama dengannya?”


“Kenapa?” Je menatap Liam tanpa mengendurkan niatnya untuk mengintimidasi pria itu. Dia hanya tidak ingin melewatkan satu kesempatan pun dalam memperoleh informasi. Lagi pula, dia juga belum lama mengenal Liam. Jadi bisa saja kedua adalah sekutu yang patut untuk dicurigai. 


Liam menengadahkan tangannya pada Kare yang berada tepat di sampingnya. Dia menghentikan tawa dan mengubah ekspresi menjadi serius, sama halnya dengan Je saat ini. 


“Tapi, King?” Kare yang paham maksud tuannya berniat menolak. Meskipun menyukai Je, tetapi semua itu merupakan privasi bisnis. Bagaimana jika ternyata Je juga membocorkan hal yang tidak sepatutnya. 


“Cepat berikan atau pergilah tanpa kepala malam ini juga!” Kare bergeming. Dia terdiam dan tidak menunjukkan ekspresi ketakutan sedikit pun. Hal itu tentu saja membuat Je di samping Liam menyeringai. 


Liam yang melihat ekspresi mengejek Je hanya bisa menghela napas berat. “Percayalah padaku!”


Akhirnya Kare pun menyerah dan menyerahkan apa yang diinginkan tuannya dengan berat hati. Benda berisikan informasi lengkap tentang Mon Nyong dan Mar Jan tampak jelas tertulis di sana. Mereka bukan hanya diam-diam mengganggu bisnis Liam, tetapi juga memprovokasi kebanyakan pelanggan VIP agar berpindah bermain ke sebuah tempat yang mereka bilang lebih menyenangkan. 


Tidak hanya itu, bersama dengan beberapa mata-matanya, Mon Nyong menjual narkoba secara diam-diam di wilayah Liam, karena banyaknya pelanggan di sana. 

__ADS_1


Je yang membaca semua informasi yang diberikan Liam seketika berubah ekspresi. “Kau membiarkan mereka berbuat semena-mena di tempatmu?”


Liam hanya bisa menggeleng kecil. “Mereka hanyalah sekelompok ikan teri yang mengacaukan bisnisku. Tapi masih ada satu ikan buntal di belakang yang harus aku tangkap terlebih dulu.”


“Ikan buntal?” Kali ini Je terdiam sambil kembali menatap sosok Mon Nyong di kejauhan. Ternyata Liam juga tahu, jika mereka tidak bekerja sendirian dan hanya merupakan orang suruhan. Kalau sampai bertindak gegabah, bisa-bisa ikan buntal itu akan melarikan diri kapan saja. 


“Kau tahu siapa ikan buntal itu, Paman?” tanya Je lagi. 


“Tidak. Dia terlalu licin dan cukup pandai menyembunyikan diri. Tapi salah satu anak buahku mengatakan jika sebenarnya dia adalah orang yang berasal dari negara ini. Pergerakannya sangat hati-hati. Jadi, aku juga menyelidikinya dengan hati-hati pula. Kenapa kau begitu penasaran, Je?”  Liam memicingkan mata menatap Je. Kilat cemburu tergambar jelas di wajahnya di saat wanita yang disukainya menanyakan tentang pria lain.


“Bukan apa-apa. Hanya saja sepertinya mereka sosok yang cukup menarik,” ujar je dengan anggukan kecil pembuat Liam mencebik. 


“Apanya yang menarik. Jangan sampai kau berurusan dengan mereka! Apalagi mengambill resiko sendirian. Meskipun aku tahu kau gadis yang tangguh dan pemberani. Tapi mereka bukan orang mudah untuk di hadapi. Aku dengar di dunia bawah dia cukup ditakuti karena berhasil membuat pengusaha kecil bangkrut hanya dalam sekejap mata. Karena itulah dia menjadi serakah dan mulai menyerang pengusaha besar. Tentunya melalui orang dalam.”


 Liam semakin merapatkan diri hingga tidak berjarak pada Je. “Aku serius, memperingatkanmu. Jangan sampai kau mengusik mereka sendirian, tanpa aku!” ucapnya dengan sorot tajam menatap gadis di depannya dan menekankan setiap kalimatnya dengan tegas. “Lagi pula tidak semudah itu mereka bisa membuatku bangkrut. Lebih mudah menambahkan kekayaan daripada menjadi miskin. Apa kau berniat membantu aku menghabiskan uang?” 


“Akan aku pikirkan kembali.” Je berdiri dari posisinya dengan perasaan canggung hendak melangkah pergi, tetapi mengurungkan niatnya. “Tapi, Paman. Bisakah kau juga memberiku setiap informasi yang kau dapatkan tentang mereka?”


“Itu semua tergantung dirimu," jawab Liam santai sambil menyesap minumannya.


“Maksudmu?” Kali ini Je menatap sedikit curiga pada pria di depannya. Entah mengapa sepertinya Liam berniat menggodanya lagi dengan trik licik.

__ADS_1


“Apa yang akan aku dapatkan jika berbagi informasi denganmu?” ucapnya semakin menggoda Je.


“Kau!” tunjuk Je geram tepat di depan wajah Liam. “Menyebalkan! Katakan apa yang kau inginkan?” bentak Je  yang akhirnya karena kesal.


“Berkencanlah denganku. Maka setiap informasi yang kamu inginkan pasti akan kau dapatkan," ujar Liam dengan senyum bangga.


“Menyebalkan!” Je yang kesal latas berbalik melangkah menjauh, tetapi sedetik kemudian dia berhenti dan mengangkat salah satu tangannya sekilas menatap Liam. “Deal.” 


Tanpa memerhatikan ekspresi Liam lebih jauh. Dia langsung melangkah pergi meninggalkan tempat itu menuju mobil. Apa masalahnya berkencan dengan Liam, meskipun usianya dan Je terpaut cukup banyak, tetapi tampaknya pria itu bukanlah orang yang berbahaya yang akan menyakitinya. Lagi pula, kalau sampai Je kembali ke tubuhnya, Liam akan menjadi kekasih Jennifer dan tak perlu repot-repot baginya untuk  mengakhiri semua itu. 


Di sisi lain, Liam yang mendengar jawaban Je seketika membeku di tempatnya. Dia seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Kare, apa aku tidak salah dengar barusan?" 


"Tidak, King. Selamat, setelah sekian tahun menyendiri akhirnya Anda memiliki kekasih untuk pertama kali." Kare turut bahagia atas apa yang dialami Tuannya. Namun, berbeda dengan Liam yang masih belum juga memercayai hal ini.


Liam menggelengkan kepalanya dengan cepat sambil berulang kali menepuk pipi. "Apa ini nyata? Je baru saja menerimaku begitu saja?" 


"Iya, King."


"Oh, Thanks God. Kau memberiku anugerah setelah sekian lama." Dia lantas berbalik menatap asistennya di sampingnya dengan wajah seolah baru sadar dari kenyataan. "Kenapa kau tidak menyadarkan aku dari tadi, hah? Harusnya aku mengantarkan kekasihku pulang di hari pertama kami jadian. Ah, sial! Apa yang kau tahu tentang percintaan, lagi pula kau juga seorang single yang abadi." Kesal Liam langsung pergi meninggalkan sang asisten yang hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat tingkah sang tuan.


"Cinta memang membuat orang jadi gila, bagaimana bisa King mengatakan hal seperti itu?" ujar Kare bermonolog keheranan, padahal mereka sama-sama jomlo sebelumnya. Akan tetapi, bisa-bisa William mengejeknya setelah seorang wanita baru menerima cintanya beberapa menit yang lalu. Sungguh sebuah perubahan yang terlalu signifikan bagi seorang William Scorpion. "Dia juga berubah menjadi semakin menyebalkan. Aku sumpahkan Nona Je membatalkan niatnya menjadi kekasihmu, King," ujar Kare sebal.

__ADS_1


TO BE CONTINUE...


__ADS_2